
Felicie yang baru saja terbangun dari tidurnya, memandang kamar
yang ditempatinya. Dalam hitungan hari, ia tidak akan tinggal
disini lagi. Nanti sore ia akan ke sanggar lagi. Anak didiknya sudah kembali sekolah. Sebelum ia pergi meninggalkan negara ini, Felicie harus mencari pengganti
untuk melatih anak - anak itu.
Tapi karena pagi ini, ia sudah tidak bekerja, Felicie memutuskan tidak pergi keluar dan menikmati kesendiriannya.
Dengan senyum cerah di bibirnya,
Felicie bangkit dari tempat tidur.
Ia meregangkan tubuh sejenak dengan mengulang setiap gerakan bela diri yang dikuasainya. Felicie sangat bersyukur, karena Papanya mendidik untuk menjadi wanita
tangguh. Jika waktu itu ia menolak dan tidak mau belajar
bela diri, mungkin kejadian buruk
akan menimpanya saat bersama
Aaron.
Setelah keringat keluar
dari tubuhnya, Felicie beranjak
ke dapur. Dengan cekatan, ia
mengeluarkan beberapa bahan
dari kulkas. Ia ingin membuat
masakan untuk sarapan pagi.
Setelah terlebih dulu membuat coklat hangat kesukaannya.
Kali ini, ia hanya membuat omelet dan nasi goreng kampung.
Felicie heran juga, kenapa kulkas
terisi penuh. Setau nya Aaron sejak kejadian itu berada di rumah
sakit. Jadi siapa yang belanja ini semua ? Apa memang benar kata
Aaron, ia memiliki art yang tugasnya belanja dan membersihkan apartment. Tetapi
kenapa selama Felicie berada
disini, belum pernah sekalipun ia
bertemu.
Ketika lagi asik memasak makanan yang ia buat, terdengar suara ponselnya berdering.
Kening Felicie berkerut, siapa yang menghubunginya sepagi ini ?
Tapi ketika melihat nama Tika yang tertera di ponselnya, Felicie pun dengan semangat mengangkatnya.
" Halo, Feli ... ? " suara Tika.
" Ya, mbak ... ada apa ? Semalam
Feli telfon, tapi kata Ibu mbak lagi di luar. Sibuk ya, pengusaha online kita ... hehehe." Felicie langsung
mengoceh panjang.
" Hehehehe ... Alhamdulillah, Feli.
Sekarang mbak mau ketempat kamu, bolehkan ? Kirim dong, alamatnya ... sekalian Ibu ada buat makanan untuk kamu." ujar Tika.
" Boleh, dong mbak ... ini alamat Feli." Feli lalu memberitahukan
alamat apartment nya.
" Suami kamu ada di rumah ?"
tanya Tika segan.
" Gak ada, mbak ... Feli sendirian. Mbak, santai aja.
Eh, tapi mbak ... Ibu kog bisa masak tanpa ketahuan nenek lampir itu ? " tanya Felicie heran
setelah menjawab pertanyaan Tika.
" Nenek lampir itu lagi pergi keluar. Gak tau, tuh kemana ... tumben aja dia bisa bangun pagi."
kata Tika cengengesan.
" Oh, pantesan ... Ya, udah buruan mbak kesini, dong ... Feli udah lama gak ngerasain masakan Ibu."
" Ya, ini mbak lagi nunggu taksi buat pergi ke tempat kamu."
" Feli belum mandi, nih mbak ... gak papakan ?".
" Gak papa lah ... kamu tetap adik
mbak yang cantik walaupun gak mandi seharian. Taksi, mbak udah datang nih ... mbak tutup dulu teleponnya ya ... nanti kita ngobrol banyak di apartment kamu."
" Okey, mbak ... hati - hati."
Baru saja Felicie menutup sambungan teleponnya dari Tika,
terdengar ponselnya kembali berdering. Ia tersenyum kecil,
ketika melihat nama Elbert di sana.
" Pagi, gadis kecilku. " sapa Elbert lembut begitu Felicie mengangkat panggilan darinya.
" Pagi, El ... " sahutnya singkat.
" Udah sarapan belum ? Aku udah di depan apartment, nih ... " ujar Elbert tersenyum membayangkan
Felicie pasti terkejut dengan
surprise yang diberikannya.
" Hah, jangan becanda deh ... " kata Felicie gak percaya.
" Dengerin nih, ya ... " Elbert lalu
__ADS_1
menekan bel yang ada di depan
pintu apartment Aaron.
Felicie yang mendengar suara bel
berbunyi, langsung gugup.
Elbert beneran sudah berada
di depan apartment nya.
" Aduh, gue belum mandi lagi ? "
gumam Felicie bingung.
Dengan terpaksa, Felicie membukakan pintu apartment.
Gak mungkin juga, dia membiarkan Elbert berdiri diluar menunggunya mandi.
Wajah Felicie merona karena malu, begitu pintu terbuka Elbert
berdiri sudah dalam keadaan rapi dan wangi.
" Kamu ngapain sih, datang sepagi ini. Aku belum mandi, nih ..." protes Felicie karena malu.
" Hehehe ... abis kangen sama
gadis kecil kesayanganku. Karena semalam kamu bilang baru sore
pergi keluar. Jadi aku memutuskan buat menemani kamu dari pagi ini hingga sore nanti. Gak usah khawatir, gak mandi pun kamu tetap cantik."
ucap Elbert menjelaskan kedatangannya, masih tetap berdiri di luar karena Felicie belum
menyuruhnya masuk.
Felicie berusaha menutupi perasaan yang merasa senang karena perkataan Elbert.
" Feli, aku boleh masuk gak, nih .. ?" Elbert menggoda Felicie.
" Eh, ya ... boleh. Maaf, aku masih terkejut aja karena kamu datang
sepagi ini." ucap Felicie gugup lalu
menggeser tubuhnya yang menghalangi pintu.
Elbert melangkah masuk dan menunggu Felicie yang masih tetap berdiri di dekat pintu apartment.
" Pintunya aku biarkan aja terbuka, ya ... biar gak terjadi fitnah karena kita cuma berduaan di apartment ini. Aku gak mau hal ini jadi alasan buat Aaron menunda proses perceraian kami." kata Felicie setelah bisa menguasai perasaannya.
" Ya, biarkan saja terbuka. Jadi
si brengsek itu gak punya kesempatan untuk mencari kesalahan kamu." sahut Elbert.
Felicie hanya menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Elbert.
" Kamu mau minum apa, El ... biar aku buatkan ? " tanya Felicie setelah melihat Elbert hanya berdiri tanpa menduduki sofa. Sementara itu Elbert memperhatikan setiap ruangan yang ada di apartment Aaron.
" Kamar kamu yang mana, Feli ..?"
tanya Elbert tanpa menjawab pertanyaan Felicie karena tak bisa menutupi perasaan cemburunya membayangkan
Felicie dan Aaron hanya berduaan
Felicie yang melihat wajah Elbert
berubah langsung menghampiri.
" Aku tidur di kamar yang itu, kenapa El ... ? ".
" Gak papa, aku cuma ingin tahu aja. Terus Aaron kamarnya yang mana ? ". tanya Elbert lagi.
" Yang ujung sebelah kamarku."
Felicie menjawab jujur.
" Hmm ... dia gak pernah mencoba mengganggu kamu kan ? " Elbert tahu sebenarnya pertanyaan nya tidak pantas, karena bagaimanapun
Aaron dan Felicie pasangan suami isteri yang sah, walau mereka membuat kontrak perjanjian pernikahan. Tapi Elbert sebagai pria, tahu bagaimana seorang sikap pria dewasa jika tinggal serumah dengan seorang
gadis. Walaupun ia sudah menerima jika Aaron sudah mengambil haknya sebagai suami, ia tetap akan menerima
Felicie.
Felicie yang mendengar pertanyaan Elbert menahan gejolak didalam hatinya. Ia berusaha menutupi agar jangan
sampai Elbert mengetahui kejadian yang menimpanya.
Dengan pelan ia menghela nafas,
untuk membuang rasa khawatir di hatinya.
" Tidak, El ... " sahut Felicie singkat.
Elbert melihat mata Felicie, ia mencoba mencari hal yang di sembunyikan Felicie. Tapi El tidak
ingin mendesaknya. Ia ingin Felicie sendiri yang cerita padanya.
" Hmm ... ya sudahlah. Kamu lagi masak buat sarapan ya ? " Elbert
mengalihkan pembicaraan agar
tidak terlalu serius.
" Iya, tapi jadi terhenti karena kamu datang."
" Oh, ini aku bawa sarapan buat kita. Kamu gak usah masak. "
" Tanggung El, udah di siapin juga semua, biar aku masak bentar ya.
Kamu duduk aja dulu. Oh, ya kamu mau minum apa ? " ujar Felicie, karena semuanya memang sudah
siap.
" Baiklah .... Terserah apa yang ada aja. " Elbert mengalah mendengar omongan Felicie.
" Kamu tunggu di meja makan aja, yuk ... biar aku buatkan coklat hangat buat kamu." ajak Felicie.
" Okey ... " Elbert mengikuti Felicie menuju meja makan.
" Ntar, ya ... aku masak dulu.
__ADS_1
Kamu kalau udah lapar banget, makan aja duluan." kata Felicie setelah menaruh gelas yang berisi coklat hangat dan piring di meja.
" Gak, nanti aja bareng kamu." sahut Elbert sambil memperhatikan Felicie yang terlihat sibuk di dapur.
" Okey ... " sahut Felicie.
Setelah Felicie selesai membuat
masakannya, ia segera menaruh
omelet dan nasi goreng kampung di meja makan.
Felicie juga meletakkan beberapa piring, karena ia yakin sebentar lagi Tika akan sampai kesini.
Felicie yang berkeringat karena memasak, menggulung rambutnya sehingga Elbert bisa melihat leher putihnya yang mulus. Ini membuat jantung Elbert bergetar. Untung saja semalam Felicie tidur tidak memakai celana pendek dan tank top. Kalau tidak pasti akan membuat Elbert lebih gelisah
dari pada sekarang.
" Hei, kog malah melamun. Sini sarapan yang kamu beli biar aku taruh di piring. " Felicie menegur Elbert yang terlihat melamun.
" Eh, iya nih ... " jawab Elbert gugup lalu memberikan pada Felicie. Ternyata Elbert membawa Pie buah, macaron dan salad.
" Wah , banyak banget kamu mau buat aku gendut ya El ... " Felicie pura - pura cemberut.
" Hehehe ... gak lah. Kita makan masakan yang kamu buat aja.
Ini simpan aja di kulkas." ujar Elbert tertawa melihat wajah cemberut Felicie.
" Okey, tapi aku mau cicipi pie buah kamu dulu, ah .. " ujar Felicie
lalu mencomot pie yang menarik seleranya.
Elbert ikut melakukan hal yang seperti Felicie lakukan. Bahkan ia
mengambil lebih banyak daripada Felicie.
Melihat hal ini, Felicie langsung tertawa lebar. Ternyata sikap Elbert menyenangkan, tidak seperti dugaannya waktu awal mereka ketemu.
" Kelihatannya omelette dan nasi goreng ku gak laku, nih ... " ujar Felicie pura - pura.
" Ya, gak lah ... Ini aku mau makan. " sahut Elbert buru - buru
mengambil nasi goreng dan omelet ke piringnya lalu memasukkan dengan suapan besar ke mulutnya.
" Hahaha ... santai aja, El ... gak usah buru - buru gitu. Aku tadi cuma bercanda aja, kog ... " Felicie tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Elbert.
" Aku tahu, tapi sumpah enak banget nasi goreng dan omelet nya." sahut Elbert terus menikmati makanan yang disediakan Felicie.
" Hmm ... biasa aja. Itu cuma masakan rumahan. Aku kira kamu
gak suka, karena selera kamu kan makanan western ." ujar Felicie
senang melihat Elbert terlihat
lahap saat makan nasi goreng buatannya.
" Bukan karena itu, masalahnya
di rumahku gak pernah ada tersedia makanan seperti ini.
Jadi aku terbiasa memakan masakan western." kata Elbert
menjelaskan.
" Oh, memangnya art di rumah kamu gak tahu masakan ini ? "
tanya Felicie heran.
" Sepertinya gak, soalnya dia hanya tahu masakan luar saja. " kata Elbert karena memang benar.
Chef di mansion nya hanya
membuat masakan dari luar saja.
" Hmm ... kalau kamu suka, nanti akan aku buatkan makanan lain
khas Indonesia. Kamu mau ? "
tanya Felicie sambil menikmati makanannya.
" Mau dong, mau banget." sahut Elbert semangat.
" Okey, deh ... " ucap Felicie senang.
" Selesai makan, aku mandi dulu ya, El ... gak enak, gerah banget." kata Felicie.
" Ntar aja, kan udah aku bilang
kamu itu tetap cantik walaupun gak mandi."
" Eh, gak mau, aku udah kegerahan. " ujar Felicie merenggut.
" Hehehe ... Iya, deh. " sahut Elbert
gemas melihat wajah Felicie.
Mereka pun menikmati makanan
yang disajikan Felicie dengan
tenang sambil sesekali bersenda
gurau.
**********************************
Dukung Mommy terus ya sayang - sayangku .... 😍😘😘
Jangan lupa like, koment yang positif, tekan tombol Favoritnya,
juga Vote dan Hadiahnya ... biar
Mommy lebih semangat menulisnya ... 😘😘😘🥰
Buat yang udah setia membaca dan memberi dukungannya, semoga kalian selalu sehat dan diberi rezeki yang melimpah ....
__ADS_1
Aamiin.