
" Apa kabarmu nak ? Daddy pikir kamu gak akan mau datang ketempat Daddy lagi, setelah pisah dengan Aaron." ucap Tuan William tersenyum.
" Felicie baik dad ... gak mungkinlah dad, Daddy sudah begitu baik dengan Felicie.
Felicie akan tetap datang ke mansion, jika ada waktu dan
selama Daddy gak keberatan."
jawab Felicie.
" Terima kasih, nak ... tentu saja
Daddy gak akan pernah keberatan. Kamu tahukan, bagi Daddy kamu adalah anak perempuan Daddy. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu." balas
William dengan wajah serius.
" Baiklah, dad ... Terima kasih
untuk semuanya. Semoga Daddy
selalu sehat dan baik - baik saja.
Maafkan, Felicie atas semua
kesalahan yang pernah Felicie
lakukan." ucap Felicie dengan
lembut.
" Hei, kamu gak pernah melakukan kesalahan. Anak Daddy yang telah
banyak melakukan kesalahan pada kamu, nak. Jadi yang seharusnya minta maaf itu Daddy dan Aaron, bukan kamu."
tegas William.
" Felicie juga ada kesalahan, dad ... untuk itulah Felicie minta maaf." Felicie berkata seperti ini
karena ia merasa juga melakukan
kesalahan karena telah setuju
dengan menandatangani kontrak pernikahan dengan Aaron, di belakang Tuan William.
Padahal Tuan William saat itu
berharap Felicie dan Aaron bisa saling mencintai, meski dengan perlahan. Karena Tuan William sadar ia telah memaksa mereka
berdua untuk menikah.
Tapi tanpa sepengetahuannya,
mereka berdua malah dari sebelum pernikahan itu di mulai sudah membuat batas dan aturan atas hubungan mereka. Jadi, apa yang di harapkan Tuan William itu tidak akan mungkin terjadi.
Meskipun sekarang Felicie tahu, ternyata Aaron mencintainya.
Itu semua sudah gak berarti sama
sekali.
Dahi William sedikit berkerut mendengar perkataan Felicie.
Kesalahan apa yang sudah di lakukan Felicie. Kenapa ia tetap bersikeras mengatakan ada melakukan kesalahan.
Hmm ... sudahlah. Mungkin karena mereka berpisah, jadi Felicie merasa bersalah padanya, William berpikir seperti ini.
" Sudahlah, nak ... Daddy sudah memaafkan kesalahan kamu."
kata William akhirnya.
" Terima kasih dad, terima kasih ..." ujar Felicie dengan wajah
senang.
" Ya, sayang ... Daddy juga.
Hmm ... jadi sekarang, apa rencana mu ke depan selain memimpin perusahaan Papamu ?"
tanya William.
" Kuliah, dad ... Felicie ingin melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda." jawab Felicie jujur.
" Oh, baguslah ... kamu memang harus melanjutkan pendidikan
agar bisa menerapkan ilmu yang kamu dapat di perusahaan." ujar
William setuju dengan keputusan
Felicie.
Tapi William tidak mengetahui jika yang di maksud Felicie dengan
melanjutkan kuliahnya adalah
dengan kuliah di luar negeri.
" Iya, dad ... hmm, dad, apa boleh Felicie melihat Vera
di kamarnya ?" tanya Felicie dengan sedikit cemas karena takut gak di izinkan.
" Kamu melihatnya untuk apa, nak ... dia pasti akan mencoba menyakiti hati kamu dengan
kata - katanya. Karena saat ini ia sedang hamil. Pasti dia akan sengaja merendahkan kamu, karena dia telah berhasil hamil anak Aaron, sedangkan kamu tidak. Dia itu gak akan pernah berubah. Walau Aaron menyiksa
nya dengan mengurungnya, berkata - kata kasar, bahkan terkadang mengikatnya di tempat tidur karena suka melukai pelayan yang mengantarkan makanan ke dalam kamar. Dia akan tetap sama, jahat dan licik." kata William panjang demi melarang
Felicie menemui Vera.
Felicie terkejut mendengar kalau
Vera sedang hamil saat ini dan
kemungkinan itu anaknya Aaron.
Tentu saja Felicie tahu sikap Vera yang angkuh. Dia pasti akan sangat senang karena bisa menghina Felicie yang pernah jadi istrinya Aaron tapi gak berhasil mengandung anaknya.
Tapi yang ia tidak tahu, kalau Felicie masih tetap bisa mempertahankan kehormatannya
sampai detik ini, meski Aaron pernah berusaha mengambilnya.
" Tidak apa - apa dad, hal itu gak akan menganggu Felicie sama sekali. Tadi Tante Sisca datang dan ingin ikut masuk melihat Vera, tapi gak di izinkan. Jadi biar Felicie aja yang mewakilinya. Lagi pula ini yang pertama dan terakhir Felicie akan melihatnya."
kata Felicie mengandung arti.
" Baiklah, Daddy mengizinkan kamu. Jika dia berbuat hal yang
aneh atau mau menyakiti kamu,
kamu panggil aja pelayan yang berdiri di luar, mereka akan segera membantu kamu." ujar Tuan William memberikan izinnya.
" Kalau masalah itu, Daddy jangan khawatir, Felicie bisa dan sudah terbiasa mengatasi Vera
dan keluarganya saat mereka ingin berlaku kasar pada Felicie dulu." jawab Felicie yakin dengan
__ADS_1
tersenyum kecil.
William menganggukkan kepalanya lalu menatap dengan perasaan iba pada Felicie.
Setelah mendapatkan izin dari
William, Felicie segera berjalan
bersama seorang pelayan untuk
mengantarkan ia menuju kamar
Vera.
Ternyata Vera berada di kamar yang berada di lantai atas tetapi bukan kamar yang di gunakan Aaron dengan Felicie saat baru menikah dan masih tinggal
di mansion.
Di depan pintu kamar Vera sudah berdiri dua orang pelayan yang bertugas menjaga pintu kamarnya.
Begitu tiba di sana, terdengar umpatan dan tangisan yang keluar dari mulut Vera.
Sembari menangis Vera meminta
untuk diizinkan keluar dari mansion ini. Ia ingin pulang kerumahnya. Tapi karena tidak
mendapatkan tanggapan sedikitpun, ia lalu mengumpat
dengan menggunakan kata - kata
kasar.
Setelah pintu di buka oleh pelayan
yang bertugas membukanya, Felicie pun masuk dan melihat
Vera sedang duduk meringkuk
di lantai. Ia terlihat sangat berbeda dengan tampilan Vera yang biasanya selalu memakai full make up, dan mengenakan pakaian bagus.
Sementara Vera begitu melihat
pintu kamarnya terbuka dan ternyata Felicie yang masuk langsung bangkit dan menghampiri lalu berniat menamparnya. Tapi seperti biasa, dengan cepat Felicie menangkap
tangan Vera dan menghempaskan dengan keras. Hal ini membuat Vera melangkah mundur, menjauh dari tempat Felicie berdiri.
Barulah Felicie melihat dengan jelas. Wajah Vera sangat menyedihkan ketika bangkit, matanya terlihat bengkak karena
terlalu sering menangis.
Rambutnya juga berantakan, karena Vera jarang menyisirnya,
sehabis mandi. Ia sudah tidak perduli dengan penampilannya,
karena yang ia inginkan hanyalah pulang kerumah dan bisa berkumpul kembali bersama mamanya.
Awalnya Vera masih berharap, Aaron akan berubah sikapnya
pada Vera, dan bisa menerima dan mencintainya setelah tahu ia hamil. Tetapi sikap Aaron malah semakin mengerikan.
Ia sengaja menyuruh Vera untuk
membersihkan lantai mansion
sendirian dengan menggunakan
tangannya tanpa boleh memakai alat bantu.
Belum lagi ia harus mencuci
di garasi mansion ini dan pekerjaan - pekerjaan lain yang
sangat melelahkan. Rasa sakitnya
kian bertambah jika Aaron menyebutkan nama Felicie dan memakinya dengan kasar, karena
Aaron menyalahkan Vera atas
kepergian Felicie dari sisinya.
Terpikir akan penderitaan yang
di hadapinya sejak menikah dan tinggal di mansion ini, membuat Vera ingin melampiaskan amarahnya pada Felicie.
" Hei, j****g kecil ... untuk apa kamu datang kesini. Kamu bukan
isterinya Aaron lagi atau kamu
berharap bisa kembali bersamanya. Jangan bermimpi,
Aaron adalah suamiku dan sekarang dia sangat mencintaiku ... apalagi aku sudah mengandung anaknya. Suamiku
jadi semakin menyayangi dan
bertambah perhatian padaku. Oh, aku tahu ... kamu datang
pasti karena iri, karena aku bisa hamil anak Aaron sedangkan
kamu tidak. Iyakan, aku benar ...
kamu pasti lagi iri sekarang."
kata Vera panjang dan angkuh lalu memandang remeh pada Felicie.
Mendengar semua yang di katakan Vera, Felicie hanya bersikap dingin dan datar. Ia sudah menduganya.
" Hey, j****g kenapa kamu diam,
jawab dong ... atau jangan - jangan kamu sedih ya karena gak bisa hamil anak Aaron ... hahaha."
ujar Vera dengan tertawa besar.
Belum lagi, Vera menyelesaikan tawanya tiba - tiba sebuah tangan
menampar pipinya dengan sangat keras.
" Lo yang j****g mu****n, bukan Felicie. Jika sekali lagi lo berani mengatakan hal ini, gue akan merobek mulut Lo yang
kotor itu !" ancam Aaron dengan
wajah yang sangat menyeramkan.
" Aa ... Aaron, kamu datang ?
Aku minta maaf ... aku gak bermaksud seperti itu pada Felicie. Tadi aku hanya menggodanya saja." bohong Vera dengan gugup, karena takut melihat kemarahan di mata Aaron.
Felicie hanya menarik sudut kecil di bibirnya mendengar jawaban Vera.
Tapi ia gak menyangka, kenapa Aaron tiba - tiba bisa datang ke mansion saat ia sedang mengunjungi Tuan William.
" Menggoda kata Lo ... jangan bohong ! Elo pasti sengaja !
Sejak tadi aku sudah berada di luar mendengarkan semua perkataan bohong Lo yang menjijikkan itu. Hahahaha ... sejak kapan gue mencintai Lo.
__ADS_1
Udah gak waras Lo ya ... ?
Yang benar gue semakin jijik dan
muak melihat Lo. Kalau gak karena Lo sedang hamil saat ini, dan gue masih harus menunggu hingga bayi itu lahir agar gue bisa tahu itu anak siapa. Gue akan
membuang Lo ke jalanan saat ini juga. Mengerti gak Lo ... !!!" bentak Aaron dengan kata - kata kasar tanpa perasaan.
Mendengar omongan Aaron yang sangat menyakitkan membuat Vera kembali menangis.
" Fei, maafkan aku ... apa j**** g
ini menyakiti kamu ?" tanya Aaron
dengan lembut sembari mendekat dan melihat wajah Felicie dengan khawatir.
Felicie menghela nafas pelan melihat Aaron yang memperhatikan dirinya.
" Tidak, gue gak papa. Vera gak akan bisa menyakiti gue. Lo pasti tahu, karena pernah merasakan
tendangan gue. " jawab Felicie
dingin.
Aaron kecil mendengar jawaban yang di berikan Fekicie.
Ia masih ingat saat ia harus mendekam di rumah sakit karena
pukulan dan tendangan Felicie.
" Kamu udah lama di sini ? Udah makan ... ? Kamu sehat ... kamu .... ? " begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Aaron pada Felicie, karena ia begitu senang bisa melihat dan berdekatan seperti ini dengan Felicie. Ia berteriak keras karena bahagia , ketika Daddy tadi menghubunginya dan memberitahu kalau Felicie sedang berada di mansion. Makanya segera ia buru - buru datang kesini.
Felicie sangat heran melihat sikap Aaron yang begitu berbeda
dengan yang biasa di lakukan nya
dulu.
" Apa memang benar dia mencintaiku ? Ah, tapi ngapain juga aku harus perduli." bantah Felicie cepat karena sempat memikirkan perasaan Aaron dalam hatinya.
" Oh ya Vera, sebelum gue pergi dari sini ... gue mau mengatakan sesuatu sama Lo. Sebenarnya gue
berbaik hati melihat keadaan Lo karena selain elo lagi hamil juga karena gue kasihan melihat Ibu Lo tadi datang ingin menjenguk keadaan elo tapi gak diizinkan masuk sama Daddy, jadi gue berbaik hati mewakili nya.
Satu lagi, Lo gak usah khawatir gue bakalan iri sama elo karena sekarang Lo hamil dan jadi isteri Aaron karena gue gak akan mau mengambil suami orang. Lagi pula gue gak akan mungkin bisa hamil karena sampai detik ini gue masih bisa menjaga kehormatan gue sebagai wanita.
Lo ngertikan maksud gue, gue gak akan menyerahkan kesucian gue
segampang itu. Apalagi dengan pria yang terpaksa menikah dengan gue. Harusnya yang elo khawatirkan itu isteri suami Lo yang lain, karena gue yakin dia juga sedang hamil kaya Lo. Bukankah kalian berdua berhubungan di waktu yang sama.
Jadi, gue ucapkan selamat atas
kehamilan Lo, semoga Lo selalu sehat, begitu juga anak yang ada
dalam kandungan elo dan semoga seperti kata elo tadi sama gue, bahwa suami Lo sangat mencintai Lo.
Hmm ... Okey, gue udah selesai gue pamit, sekarang." ujar Felicie sangat panjang sambil berpamitan.
Vera tertegun mendengar semua yang di katakan Felicie. Ternyata
ia belum pernah melakukan hubungan itu dengan Aaron.
Pantas saja, ia tidak perduli dengan perceraiannya.
Felicie juga benar, harusnya yang
ia khawatirkan itu Giselle, karena
dia terlihat licik. Lagi pula dia adalah kekasih Aaron. Jelas Aaron akan lebih memilihnya
di bandingkan Vera, yang menjebaknya. Apalagi jika dia hamil. Pasti Aaron akan sangat senang dan menyayangi anaknya dengan Giselle dari pada anak
yang sedang di kandungnya.
Sedangkan Aaron hanya bisa terdiam dan menahan rasa sakit di hatinya. Dari perkataan Felicie tadi, jelas sekali ia tidak mencintai Aaron. Felicie tidak cemburu sedikitpun. Bahkan ia mendoakan agar Aaron bisa mencintai Vera.
" Apakah memang aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bisa bersama Felicie ? "
batin Aaron, tanpa menyadari jika
Felicie sudah keluar dari kamar
Vera.
Felicie segera turun kembali ke lantai bawah dan menemui Tuan William dan akan berpamitan. Karena setelah ini,
ia akan pergi selama beberapa tahun demi mengejar impiannya.
" Kamu sudah selesai menemui
Vera ? " tanya William sembari melihat ke atas, karena ia tidak
melihat Aaron turun bersama
Felicie.
" Sudah, dad ... Felicie pamit mau pergi. Semoga Daddy selalu sehat
dan baik - baik saja." ujar Felicie
kemudian memeluk Tuan William.
Tuan William agak terkejut karena Felicie memeluknya, tapi ia membalas pelukannya dengan perasaan haru dan bahagia,
karena berarti Felicie menyayangi
dirinya juga.
" Terima kasih, sayang atas doanya, kamu juga ya ... " ucap Tuan William.
Felicie segera menghapus air matanya yang mendadak turun karena merasa sedih, di karenakan ia harus berbohong atas kepergiannya.
" Makasih, dad ... Felicie pergi ya."
ucap Felicie sembari melepaskan pelukannya.
" Baiklah, hati - hati nak. " jawab Tuan William lembut mengelus rambut Felicie.
Sementara matanya sesekali melihat ke arah lantai atas menunggu kedatangan Aaron. Tapi tetap saja anaknya yang bodoh itu belum juga turun.
Felicie segera bergegas keluar,
dan mulai melangkah menuju
motor yang ia parkir kan di halaman, lalu setelah menghidupkan mesinnya, Felicie pun menjalankan motornya dengan cepat karena ia tidak ingin bertemu kembali dengan Aaron.
**********************************
Selamat Membaca ... 😘
Semoga kalian semua menyukainya, dan tunggu episode selanjutnya.😍
Jangan lupa Like, koment, favorit❤️ , vote dan hadiahnya.
__ADS_1
Buat yang sudah mendukung, Mommy ucapkan terima kasih.🙏🙏😘
Love You All ❤️❤️❤️