Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 130


__ADS_3

Sudah empat hari Aaron dan Tommy berada di kota B tapi waktunya untuk melihat Felicie hanya sedikit. Hal ini di karenakan kesibukan yang harus ia kerjakan di perusahaan Tuan William yang ada di negara A.


Aaron hanya bisa melihat Felicie sejenak di butik miliknya. Itupun hanya dari luar saja. Padahal ia sudah mengatakan pada Leon, anak buah Daddy nya agar mereka bisa menyamar dan masuk sebagai pembeli di butik Felicie.


Ia ingin melihat wajah Felicie yang begitu di rindukannya dari jarak dekat. Tapi Leon tidak mengizinkan karena Tuan William melarangnya.


" Apa lagi ! " bentak Aaron kesal melihat Leon yang masuk ke - ruangan nya.


" Maaf Tuan, sore ini kita akan mengadakan rapat di perusahaan Tuan Elbert. Tuan William ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan beliau. " ujar Leon bersikap sabar dalam menghadapi sifat Aaron yang pemarah.


Mendengar nama Elbert di - sebutkan oleh Leon membuat Aaron dan Tommy saling berpandangan. Ada rasa ingin tahu yang mendadak keluar dari pikiran mereka berdua.


Aaron dan Tommy sangat penasaran bagaimana mungkin Elbert bisa menikah dengan wanita lain sedangkan saat di Indonesia mereka melihat Elbert selalu mendampingi Felicie kemanapun ia pergi. Apalagi mereka bisa melihat ada tatapan penuh cinta di mata Elbert untuk Felicie. Tapi kenapa ia justru menikahi wanita yang bernama Claire itu. Lalu bagaimana dengan Felicie. Apakah ia terluka dengan kejadian ini atau bersikap biasa saja.


" Hmm ... jam berapa kita pergi ke perusahaan nya ?" tanya Aaron dengan wajah datar.


" Kami sudah membuat janji pada pukul empat sore, Tuan. Tuan Elbert hanya punya waktu luang di jam itu. " jawab Leon.


" Hmm ... berikan berkas yang menyangkut kerja sama dengan perusahaan Elbert !" perintah Aaron.


" Sudah saya letakkan di meja Tuan. Berkas yang terpisah dari yang lain. " jelas Leon.


Aaron melirik berkas yang di - maksudkan oleh Leon. Ia lalu meraihnya dan membaca semua yang tertulis di berkas itu dengan serius.


" Sekarang kamu keluar. Saya ingin bicara berdua dengan Tommy. Nanti kamu kembali jika sudah tiba waktunya untuk pergi !" ucap Aaron dengan nada tegas.


" Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dan akan menunggu di - ruangan saya. " sahut Leon dengan hormat.


" Hmm ... " sahut Aaron singkat tanpa melihat ke arah Leon.


Perlahan Leon keluar dari ruangan Aaron.


" Tom, bagaimana menurut kamu ? Apakah kita harus pergi kesana ?" tanya Aaron begitu sudah tidak melihat Leon lagi.


" Menurutku, kita memang sudah seharusnya pergi kesana, Ron. Selain ini mengenai kerja sama yang diinginkan oleh Tuan William. Kita juga bisa menanyakan langsung pada Elbert mengenai hubungannya dan Felicie yang sebenarnya." ujar Tommy dengan serius.


" Hmm ... apakah menurutmu kita bisa melakukan itu. Aku yakin dia tidak akan mau menjawab pertanyaan kita nanti. " ucap Aaron belum yakin.

__ADS_1


" Tidak masalah jika Elbert tidak ingin menjawabnya. Tapi minimal kita bisa melihat secara langsung perubahan di wajahnya jikalau dia berbohong ataupun berusaha menutupi perasaannya pada Felicie." ujar Tommy datar.


" Tapi dari yang gue lihat selama beberapa hari kita berada di sini, wajah Felicie tidak terlihat bersedih atau kehilangan dalam kasus menikahnya Elbert. Ia bersikap biasa saja. Apakah mungkin memang Felicie tidak menyukai Elbert dan tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya ?" tanya Aaron ragu sembari menatap serius wajah Tommy.


" Hmm ... kalau masalah itu gue sendiri juga tidak tahu. Bukankah gadis kecil itu sudah terbiasa menutupi perasaannya dengan sikap acuh dan dinginnya selama ini. " sahut Tommy.


" Kamu benar ! Gadis kecil itu terlalu pintar menutupi perasaannya. Sehingga tidak seorangpun yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Ia terlalu pintar. Hingga kita tidak menyadari kalau ia sudah merencanakan untuk pergi jauh dan kuliah disini begitu urusannya denganku selesai. " Aaron menyetujui perkataan Tommy.


" Ya, Felicie sangat pintar. Dia wanita muda yang mengetahui apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Felicie tidak mudah di intimidasi oleh siapapun." ujar Tommy dengan nada kagum.


Aaron memicingkan sebelah matanya mendengar nada dan wajah kagum Tommy saat memuji kepintaran Felicie. Hatinya terasa kesal. Cemburu kembali menyelimuti hatinya. Ia tidak suka jika ada pria lain yang mengagumi Felicie, meskipun itu Tommy sahabatnya sendiri.


" Heh, kenapa, cemburu ? Sadar, Ron ... Lo gak berhak cemburu. Ingat masalah Lo dengan kedua wanita jala** yang saat ini masih berstatus istri Lo itu belum Lo selesaikan. Kalau gue wajar, gue masih belum terikat dengan wanita manapun. Tapi meski begitu gue sadar diri. Gue lebih baik mengalah, karena gue tahu Zico dan Lo sama - sama menyukai Felicie. Gue lebih baik cari wanita lain buat pasangan gue !" cibir Tommy dengan wajah mengejek Aaron.


Aaron terdiam mendengar omongan Tommy yang menyindirnya. Ia memang benar - benar pria yang tidak tahu diri.


Ia masih saja berharap mendapatkan cinta Felicie yang sudah jelas tidak mencintainya. Padahal ia bahkan bisa melihat mata Felicie yang menatapnya dengan perasaan jijik dan benci ketika Felicie mendapatinya tidur dengan wanita jala** yang pernah di bawanya ke apartment dan saat ia ketahuan menikahi Vera dan Giselle. Belum lagi saat Aaron berusaha melecehkan Felicie.


Aaron bisa dengan jelas melihat tatapan benci di kedua bola mata indah milik Felicie. Meski akhirnya ia sudah mendapatkan maaf dari Felicie ketika mereka resmi bercerai.


Harusnya ia tetap konsisten dengan janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya. Ia akan bahagia jika melihat Felicie bahagia dan tidak akan pernah memaksakan perasaan cintanya pada Felicie.


Jika Aaron dan Felicie memang berjodoh, mau terpisah bagaimanapun pasti kelak akan kembali bersatu. Tapi jika hal ini tidak bisa terjadi, Daddy nya juga tidak akan kecewa. Ia akan tetap menganggap Felicie anaknya dan ia menyuruh Aaron untuk bisa menganggap Felicie sebagai adiknya dan berusaha mengikhlaskan perasaan cintanya yang sekarang begitu besar terhadap Felicie. Buat daddy nya yang paling penting adalah membuat Felicie bahagia dan tidak merasa terbebani oleh apapun.


" Hey, kenapa Lo melamun ? Lo pasti lagi - lagi menyesalkan melepaskan Felicie ! " ejek Tommy.


" Tom, Lo itu teman gue. Kenapa sih, terus mengejek perasaan gue. Gue udah pernah bilang sama Lo bahkan beberapa kali. Gue memang sangat menyesal dengan kebodohan yang pernah gue lakukan terhadap Felicie dan pernikahan kami. Tapi sekarang perasaan gue beneran tulus sama dia. Gue sangat mencintai nya. Tapi gue juga sadar diri. Cinta tidak bisa di paksakan. Begitu juga dengan rasa cinta Zico pada Felicie. Zico juga gak berhak memaksakan perasaannya pada Felicie. Dari yang gue lihat, Felicie juga tidak pernah menanggapi perhatian Zico. Biarkan Felicie menentukan siapa yang nanti jadi pemilik hatinya. Gue akan bahagia jika dia juga bahagia. Tidak perduli dengan siapa akhirnya Felicie melabuhkan hatinya. Gue akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Gue cuma pengen melihatnya dari kejauhan dan memastikan dia baik - baik saja." ucap Aaron dengan wajah tidak semangat.


Melihat wajah Aaron yang berubah sedih membuat Tommy menyesali kata - kata kasar yang di ucapkannya. Ia tahu saat ini Aaron pasti sangat terpukul. Bukankah sebagai sahabat dari Aaron dan Zico ia harus bersikap netral. Tidak memihak siapapun. Biarkan takdir yang menentukan.


Meskipun sekarang Aaron masih bersama kedua wanita jala** yang di benci Tommy, belum tentu kedepannya. Bukankah Aaron pernah mengatakan padanya kalau ia akan segera menyelesaikan semua permasalahannya dengan kedua wanita licik itu jika ia sudah mendapatkan semua bukti kejahatan mereka. Seharusnya Tommy bersabar hingga kedua bayi yang di kandung keduanya lahir ke dunia dan bukan malah menghakimi dan mengejek Aaron dengan mengatakan kalau Aaron bersikap plin - plan dalam mengambil keputusan. Biar Aaron bisa mendapatkan bukti melalui test DNA kalau kedua bayi itu bukan miliknya.


Ini malah Tommy jelas - jelas memihak Zico. Hanya karena ia membenci sikap Aaron yang masih terus mempertahankan pernikahannya.


Bukankah sekarang yang paling menderita sekarang ini adalah Aaron. Saat ia sudah benar - benar berubah dan mencintai Felicie, tapi ia harus kehilangannya dan mengikhlaskan gadis itu pergi dari sisinya. Walau ia juga tahu kalau Felicie tidak mencintai Aaron. Tapi bukan berarti dengan berjalannya waktu cinta itu bisa hadir di hati Felicie jika melihat kesungguhan cinta dari Aaron. Aaron hanya tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan nya pada Felicie. Saat dia baru menyadari perasaannya, justru masalah yang di buat kedua wanita itu mengikat langkahnya.


" Maafkan gue, Ron. Gue sudah bersikap kasar belakangan ini dengan Lo. Gue salah. Gue lupa kalau disini Lo yang paling bersedih, karena harus melepaskan wanita yang Lo cintai dan melihatnya bersama pria lain disaat perasaan Lo begitu dalam mencintainya. " akhirnya Tommy mengungkapkan penyesalannya.

__ADS_1


" Hmm ... gak papa, Tom. Gue memang pantas di benci. Baik di benci sama Felicie, Daddy dan kalian berdua. Gue yang salah selama ini. Lo dan Zico sahabat terbaik. Lo berdua terus mengingatkan gue tapi dengan sikap gue yang keras - kepala dan arrogant nya, tidak pernah mau mendengarkan. Bahkan gue berani menentang Daddy gue.


Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat. Gue baru menyadari setelah gue harus kehilangan Felicie. Wanita terbaik yang telah di pilihkan oleh Daddy buat gue." Aaron terlihat sesak saat mengatakan hal ini.


" Maaf, Ron. Gue beneran minta maaf sama Lo. " Tommy semakin menyesali sikapnya ketika melihat wajah Aaron yang penuh beban.


Berarti selama ini, Aaron juga berusaha menutupi semua yang ia rasakan dari mereka.


" Lo tahu, Tom ... selama ini gue berusaha melupakan Felicie dan tidak berusaha untuk mencari kabar mengenai Felicie. Itu semua gue lakukan biar gue bisa melupakannya. Tapi tetap saja tidak bisa. Gue malah semakin tersiksa dengan perasaan cinta ini. Bukannya hilang malah semakin besar. Belum lagi gue harus berpura - pura bersikap perhatian pada kedua wanita jala** itu karena gue gak bisa bersikap terlalu kasar pada mereka agar keduanya tidak curiga kalau gue sedang menyelidiki mereka dan mengumpulkan bukti - bukti kecurangan yang telah mereka lakukan. Gue terpaksa melakukan itu supaya mereka gak kabur dari apartment gue. Jika itu sampai terjadi, usaha yang telah gue lakukan selama beberapa bulan ini akan gagal dan sia - sia. Lo gak tahukan kalau selama ini gue selalu memberikan mereka obat tidur di minuman mereka saat keduanya minta gue untuk bermalam dengan mereka secara bergiliran. Sejak gue menikahi keduanya, gue gak pernah menyentuh mereka sedikitpun. Gue harus pintar memainkan peran gue di depan kedua wanita 🦊 itu agar mereka tetap percaya dan yakin dengan perhatian yang gue berikan. Meski terkadang gue juga bersikap acuh pada mereka karena jujur gue jijik melihat mereka." kata Aaron dengan nada dingin.


" Terus - terang, Tom ... gue juga udah muak menjalani hari - hari yang berlalu bersama kedua jala** itu. Tapi gue harus bersabar karena tinggal sedikit lagi. Sebenarnya gue udah pernah memberikan kisi - kisi pada Daddy dan Lo, kenapa gue harus tetap mempertahankan pernikahan dengan mereka. Tapi kalian tidak menangkap apa yang gue katakan dengan benar. Gue hanya gak mau nama Daddy tercemar dan rusak jika gue langsung menceraikan kedua jala** itu. Mereka pasti akan mengatakan pada dunia kalau gue tidak bertanggung - jawab atas kehamilan mereka. Mereka akan mengambil kesempatan itu untuk meminta kekayaan Daddy gue sebagai kompensasi meninggalkan mereka dalam keadaan hamil. Tapi itu tidak akan terjadi. Bahkan Lo tahukan gue membuka cafe itu dengan menjual semua perhiasan Giselle. Gue sengaja mengambil kembali apa yang sudah ia dapatkan dari gue. Gue gak ikhlas jala** itu menikmati semua pemberian dari gue. Kini hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi. Setelah gue berhasil membuktikan semuanya, gue akan segera membuang mereka ke jalanan tanpa membawa apapun. " Aaron melanjutkan perkataannya dengan wajah mengeras karena sudah terlalu lama ia menahan emosinya.


Tommy langsung terhenyak mendengar semua perkataan Aaron. Ia merasa sangat bodoh selama ini. Kenapa ia tidak bisa menyadari kalau Aaron berusaha mengatasi masalahnya sendirian. Sementara ia bukannya membantu malah semakin menyudutkannya dengan kata - kata kasar yang seharusnya tidak ia ucapkan. Tommy merasa kalau ia benar - benar sahabat yang buruk buat Aaron.


" Maaf ... !" hanya itu kata - kata yang bisa keluar dari mulut Tommy. Padahal begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan. Tapi mulutnya seakan terkunci.


" Hmm ... gak papa. Gue ngerti kog, atas semua sikap dan omongan yang elo tunjukkan ke gue. Gue yang memang sengaja menyembunyikan dari kalian semua. Gue hanya ingin menunjukkan pada Felicie, jika suatu saat dia kembali kalau gue bukanlah pria baji**an seperti yang ia pikirkan. Gue ingin jika memang suatu hari ada kesempatan untuk mengejar cintanya lagi, gue udah terlepas dari semua masa lalu gue yang menjijikkan. Jadi Felicie bisa memberi kesempatan walau rasanya gak akan mungkin terjadi." ucap Aaron sembari menghela nafas dengan berat.


Tommy menatap Aaron dengan tatapan iba begitu mendengar perkataan Aaron yang sangat jelas terdengar nada tertekan dan tidak yakin.


Tommy pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kursi Aaron.


" Bro, gue gak tahu ke depannya akan terjadi apa pada kisah cinta Lo dengan Felicie. Tapi sungguh dengan segenap hati gue, gue akan mendoakan Lo agar bisa bersama kembali dengan Felicie, wanita yang Lo cintai. Tapi jikapun kalian memang tidak di takdirkan untuk bersama, gue harap Felicie bersedia menerima Lo jadi sahabatnya. " ujar Tommy dengan tulus sembari menepuk bahu Aaron pelan.


" Thanks, Tom. Itu juga yang jadi harapan gue selama ini. Gue gak berani memimpikan hal yang berlebihan. Gue udah cukup bahagia jika Felicie mau menerima gue sebagai sahabatnya atau saudaranya seperti keinginan Daddy. " sahut Aaron tersenyum tipis.


" Ya, sudah ... sekarang Lo harus lebih semangat. Sementara ini Lo harus bersabar. Ini waktunya kita mempelajari berkas kerja sama yang coba di tawarkan Daddy Lo pada Elbert. Kita harus berusaha keras agar kerja sama ini bisa berhasil di laksanakan. Agar Tuan William bangga dengan Lo." ujar Tommy sengaja mengalihkan pembicaraan mereka agar Aaron tidak larut dalam kesedihannya.


" Ya, Lo benar. Gue harus berhasil." ucap Aaron dengan wajah yang mulai cerah.


" Mantap. Itu baru Aaron, sahabat gue !" ujar Tommy tersenyum lebar.


Lalu keduanya mempelajari berkas yang di berikan Leon dengan semangat. Mereka sudah bertekad membawa keberhasilan buat perusahaan.


Bagi Aaron ini adalah langkah awal agar Daddy nya kembali percaya dan merasa bangga terhadapnya.


Sedangkan Tommy, ia yakin jika mereka berhasil kali ini maka Tuan William akan kembali percaya pada Aaron sahabatnya.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2