
Felicie merasakan sakit di kepalanya begitu dia bangun tidur. Rasanya ia malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur tapi karena tenggorokkannya terasa sangat kering membuatnya harus bangkit.
Perlahan ia berjalan menuju dapur, lalu menuangkan air kedalam gelas, dan dengan cepat ia meminumnya sampai habis.
Setelah air membasahi kerongkongannya Felicie kembali menuju kamarnya. Ia benar – benar hanya ingin di kamar seharian ini tanpa melakukan aktiitas apapun.
Ia ingin istirahat yang banyak agar besok ia bisa jauh lebih baik. Namun baru saja ia hendak merebahkan dirinya kembali ke kasur, terdengar suara deringan dari handphonenya.
Felicie tidak memperdulikan bunyi dering itu hingga akhirnya panggilan itu terhenti sendiri. Tapi bunyi itu kembali lagi berbunyi dan kali ini si penelepon tampaknya tidak menyerah. Ia terus menghubungi Felicie tanpa henti hingga membuat Felicie akhirnya menggapai handphonenya yang ada di dalam tasnya.
Felicie dengan malas melihat layar handphone, ternyata Airin yang sedari tadi meneleponnya. Ia lalu menggeser tombol jawab dengan setengah hati, karena ia tidak ingin Airin tahu kalau ia baru saja selesai menangis dan itu karena Elbert.
“ Halo ... Felicie ! Lo kemana aja, kenapa gue telepon dari tadi lo gak angkat ?” suara Airin yang cempreng memenuhi telinganya.
“ Hmm ... gue baru pulang magang terus ketiduran. Ada apa, Rin ... ?” ucap Felicie berbohong.
“ Oh, lo tidur ... gue kirain lo kenapa – napa ! “ ujar Airin menarik nafas lega.
“ Memangnya apa yang bisa terjadi sama gue ! “ tanya Felicie datar.
“Ah, enggak apa – apa ! Soalnya gue lihat toko lo gak buka.” ujar Airin sengaja berbohong.
“ Udah, lo Cuma mau ngomong itu ajakan. Gue mau tidur lagi !” ucap Felicie ingin segera memutuskan obrolan mereka karena ia gak ingin Airin tahu kalau suasana hatinya sedang gak baik – baik saja sekarang.
“ Eh, tunggu Feli ... sebenarnya Gue dan Devan mau nyampaikan sesuatu sama lo hari ini. Tapi sayangnya harus tertunda, orang tua gue kebetulan ada urusan di sini jadi mereka ngajak kami untuk makan malam di luar. Mama juga ngajak lo ... ! Lo, bisa kan ... ?” tanya Airin setelah mejelaskan alasannya menelepon Felicie.
Felicie menghela nafas berat mendengar omongan Airin. Ia tidak mungkin bisa ikut bergabung dengan Airin dan kedua orang tuanya dalam keadaan mata yang masih bengkak seperti ini. Tapi ia harus memberi alasan yang tepat untuk menolaknya agar Airin tidak kecewa dan merasa curiga.
“ Hmm ... sorry, Rin .... gue gak bisa keluar hari ini. Sampaikan aja salam dari gue buat tante dan om." ucap Felicie.
“Hah , kenapa gak bisa ? Padahal mama pengen banget ketemu dengan lo , Feli ... !” ujar Airin dengan nada kecewa.
“ Maaf banget, ya Rin ... gak tau kenapa, kepala gue sejak magang tadi sakit banget. Makanya gue langsung tidur gitu nyampe di apartment. Sebenarnya waktu lo menghubungi handphone gue berulangkali gue udah mau lanjut tidur lagi. Tapi karena lo gak berhenti juga, jadinya gue angkat.” ucap Felicie jujur, karena ia memang beneran sakit kepala.
“ Lo, sakit .... apa gue dan Devan ketempat lo dulu baru pergi, ya ... ?” tanya Airin khawatir.
“ Jangan, deh ... lo dan Devan kan mau pergi sama om dan tante. Bentar lagi gue juga bakalan sembuh kalau udah istirahat yang cukup. “ Felicie gak mungkin mengizinkan Airin datang ke - apartment dan melihat kondisinya sekarang yang jelas sekali terlihat kalau ia sedang tidak baik – baik saja.
“ Hmm ... Ya, udah deh kalau gitu ! Lo cepat sembuh ya ... !” ujar Airin.
“ Iya, Rin ... Makasih ! Salam ya, buat tante dan om.” Jawab Felicie dengan cepat.
“ Okey, Tapi besok sepulang elo magang, kita harus ketemu. Ada hal penting yang mau gue sampaikan sama lo !” ujar Airin lagi.
Kening Felicie berkerut mendengar perkataan Airin. Sejak awal dia menelepon Felicie, dia berkata ingin menyampaikan hal penting. Tapi memangnya hal penting apa yang ingin Airin katakann padanya.
“ Jangan – jangan ... ? Apa Airin dan Devan sudah melihat juga berita mengenai Elbert ? Apa memang itu yang ingin di katakan Airin padanya ? “ gumam felicie pelan.
“ Lo ngomong apa, feli ... ?” tanya Airin yang mendengar Felicie menggumamkan sesuatu yang tidak begitu jelas.
“ Hah, Gak ada, gue cuma ngomong Okey ... ! Besok kita ketemu di cafe dekat kampus aja, ya ... tapi pulang kuliah aja, Rin.” bohong Felicie.
“ Loh, kog, pulang kuliah ? Pulang lo magang, biar waktunya panjang buat kita ngobrol. “ ujar Airin mengingatkan Felicie.
“Hmm ... udah, besok aja sekalian gue ngasi tahu lo sesuatu.” ucap Felicie berusaha agar suaranya terdengar ceria.
“ Okey, deh ... kalau gitu gue tutup ya teleponnya. Udah, sekarang Lo istirahat , biar cepat sembuh ! “ ujar Airin perhatian.
"Hmm ... " sahut Felicie singkat sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Airin.
Setelah Airin memutuskan panggilan teleponnya Felicie baru bisa bernafas dengan lega.
Ia hanya nggak ingin Airin jadi tidak bisa bersenang – senang dengan orang tuanya jika ia sampai mengetahui keadaan Felicie yang sebenarnya.
“ Ingat Felicie ! Mulai besok kamu harus baik – baik saja ... ! “ gumamnya pelan sembari membaringkan tubuhnya kembali ketempat tidurnya.
Tapi lagi – lagi istirahatnya terganggu. Kali ini suara bell apartmentnya yang berbunyi.
“ Siapa yang datang ke - apartment ? Airin dan Devan gak mungkin, mereka pasti lagi bersiap – siap untuk pergi dengan kedua orang tuanya. Apa, jangan – jangan, Elbert yang datang untuk menjelaskan masalah itu padaku ?” Felicie buru- buru bangkit dari tempat tidurnya setelah memikirkan hal ini.
Felicie segera merapikan wajah dan rambutnya yang berantakan. Ia berusaha menutupi matanya yang bengkak dengan concealer agar tidak terlalu kelihatan.
__ADS_1
Ia segera keluar dari kamarnya setelah yakin kalau sekarang ia sudah terlihat lebih baik.
Felicie berdiri sejenak di depan pintu apartmentnya untuk meredakan dadanya yang bergemuruh.
Ia bahkan tidak melihat siapa yang datang dari kamera yang ada di apartmentnya, karena dalam pikirannya felicie berharap kalau Elbert yang mengunjunginya.
Felicie lalu meraih gagang pintu dan segera membukanya. Tapi ia sangat terkejut begitu melihat bahwa bukan Elbert yang datang melainkan Dave.
Ia terdiam di depan pintu untuk beberapa saat menyesali kebodohannya karena masih mengharapkan Elbert datang padanya.
“ Felicie ... kamu baik – baik saja ?” tanya Dae dengan nada khawatir melihat Felicie yang hanya diam seperti patung.
“ Felicie ... !” ucap Dave lagi menyentuh tangan Felicie untuk membuatnya sadar.
“ Hah ... apa ?” ucap Felicie terkejut.
“ Kamu baik – baik saja, kan ... ? “ Dave mengulang kembali pertanyaannya.
“ Oh, ya ... aku baik – baik saja, cuma kepalaku agak pusing sedikit ! Ada apa kamu datang ke - apartment ku, Dave ?” ucap Felicie berusaha menutupi perasaan sedihnya.
“ Oh, tadi di kampus aku, Airin dan Devan janjian mau ketemu sama kamu. Tapi karena aku lihat kalian gak ada di toko, jadi aku datang kesini.” ujar Dave menjelaskan pada Felicie.
“ Hmm ... Airin dan Devan pergi dengan orang tuanya. Tapi kenapa kalian harus janjian buat ketemu denganku. “ tanya Felicie heran.
“ Aku gak boleh masuk nih ... ?” tanya Dave mengalihkan pembicaraan sembari memperhatikan wajah Felicie yang terlihat pucat meskipun sudah berusaha ia tutupi.
Ia yakin kalau Felicie tidak dalam keadaan baik – baik saja.
“ Oh, maaf, bukannya aku gak ngizinin kamu masuk tapi kamu datang saat aku baru aja pengen istirahat, Dave ! Besok aja, ya ... kita ngobrolnya.” ucap Felicie ingin segera menyudahinya.
Dave yang mendengar perkataan Felicie tidak mengindahkannya sama sekali. Ia tahu ada yang sedang di sembunyikan oleh Felicie. Dave kemudian menerobos masuk ke dalam apartment Felicie.
“ Dave ... apa yang kamu lakukan ?” ucap Felicie menatapnya dengan perasaan kesal.
“ Hehehe ... aku haus, Feli. Minta minum dong ... ! Masa kamu tega biarin aku mati kehausan !”ujar Dave tertawa kecil sembari memasang ekspresi memelas.
“ Huff ... sebentar !” ucap Felicie lalu berjalan kearah dapur.
“Nih ... !” ucap Felicie menaruh gelas ke meja.
“ Thanks, Feli ... !” Dave meraih gelas dan meminumnya segera.
“ Ya ... “ sahut Felicie.
“ Bagaimana kabar Elbert ? Apa dia sudah menghubungi kamu ?” tanya Dave berusaha memancing Felicie. Ia ingin melihat apakah Felicie sudah mengetahui tentang berita itu atau belum.
Felicie berusaha menahan dadanya yang kembali terasa sesak mendengar Dave menyebutkan nama Elbert.
“ Hmm ... kemarin dia ada menghubungiku. “ jawab Felicie lirih berusaha untuk meredakan rasa sakit di hatinya jika mengingat Elbert yang tidak berani berkata jujur padanya.
“ Apa dia mengatakan sesuatu padamu ?” tanya Dave terkejut.
Dave gak menyangka kalau Elbert berani menghubungi Felicie setelah apa yang ia lakukan terhadap Felicie. Tapi, jika Elbert memang sudah memberitahu Felicie kemarin nggak mungkin tadi pagi waktu di kampus ia kelihatan baik – baik saja.
Felicie menghela nafas dengan kasar mendengar pertanyaan Dave.
“ Hmm ... kami hanya mengobrol seperti biasanya. Dave, maaf ... bisakah kamu pulang saja ! Aku beneran lelah dan ingin istirahat. “ ucap Felicie berusaha menahan air mata yang sudah mendesak keluar dari kedua matanya.
Dave tidak mengacuhkan permintaan Felicie, ia bangkit dari tempat duduknya lalu duduk di dekat Felicie.
“ Feli ... kamu bisa cerita padaku. Aku tahu kamu pasti sedang ada masalah. Aku siap untuk jadi pendengar yang baik.” ujar Dave dengan lembut sembari menatap wajah Felicie dari jarak yang begitu dekat.
Kini Dave bisa melihat dengan jelas, meskipun Felicie sudah berusaha menutupinya dengan make up tapi masih tetap kelihatan matanya yang bengkak, seperti baru selesai menangis,
Sekarang ia yakin Felicie pasti sudah melihat berita mengenai Elbert. Ia berusaha sabar dan menunggu Felicie untuk berbicara, tapi Felicie hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Dave. Mulutnya seakan terkunci.
“ Baiklah, jika kamu gak mau cerita biarkan aku coba menebaknya. Apakah masalah yang sedang kamu hadapi menyangkut Elbert ?” tanya Dave langsung karena melihat Felicie tetap tidak bergeming.
Felicie terlihat bereaksi saat Dave kembali menyebut nama Elbert. Ia berusaha bersikap tegar dan tidak mau mengeluarkan air mata lagi, tapi kenapa begitu sulit. Padahal ia sudah meyakinkan dirinya untuk melupakan Elbert. Apakah karena ini pertama kalinya ia mencintai seorang pria.
“ Dave, Elbert .... !” Felicie gak sanggup melanjutkan perkataannya karena ia sudah tidak mampu lagi menahan air matanya yang sudah mendesak keluar.
__ADS_1
Felicie sendiri gak habis pikir kenapa ia bisa jadi selemah ini hanya karena Elbert. Ia yang terbiasa mengatasi semua masalahnya sendiri, kenapa bisa jadi rapuh seperti ini. Ia gak mau begini. Ia sudah mencoba untuk kuat, tapi kenapa ia hancur hanya karena Dave menanyakan tentang Elbert.
Dave langsung menarik badan Felicie ke dalam pelukannya begitu ia melihat Felicie menangis.
Ia tidak perduli jika setelah ini Felicie marah atas sikap lancangnya. Ia hanya ingin memberikan rasa aman pada Felicie.
Dave tahu perasaan Felicie sangat hancur. Padahal baru dua minggu yang lalu, Felicie cerita pada Dave kalau ia merindukan Elbert. Tapi justru di saat ia merindukan Elbert Felicie harus mengetahui berita tentang pertunangan Elbert dan wanita itu.
Seharusnya Dave senang dengan pertunangan Elbert karena itu berarti ia akan memiliki kesempatan untuk meraih hati Felicie. Tapi melihat wajahnya yang sedih dan terluka, Dave merelakan dirinya jadi pendengar dan tempat pelampiasan Felicie.
" Menangis lah sepuasnya Feli ... jika dengan menangis membuat kamu jadi merasa jauh lebih baik.
Tumpahkan semua rasa sedih dan marah di hatimu. Ada aku disini yang akan mendengarkan semua keluh - kesah mu." ujar Dave sembari mengelus bahu Felicie dengan lembut agar bisa membuatnya tenang.
Air mata Felicie semakin deras keluar membasahi wajahnya. Ia benar - benar sudah gak bisa menahan semua perasaan sedih di hatinya. Ia bahkan sudah tidak perduli meski harus terlihat rapuh di depan Dave. Sikap dinginnya yang selama ini ia perlihatkan
di depan semua orang sama sekali tidak terlihat lagi.
" Maaf, Dave ... aku sudah membuat pakaian mu basah !" ucap Felicie dengan suara serak setelah puas menangis seraya menarik tubuhnya dari pelukan Dave.
" Tidak apa - apa, Feli ! Apa kamu sudah lebih tenang sekarang ?" ujar Dave seraya menatap wajah Felicie.
" Hmm ... Terima kasih !" ucap Felicie lirih.
" Felicie ... aku tahu kamu wanita yang kuat ! Aku yakin kamu bisa mengatasi semua masalah yang sedang kamu hadapi sekarang. Jika pun kamu belum mampu ada aku disini yang akan membantumu untuk bangkit. " ujar Dave berusaha memberi semangat buatnya.
" Ya, Terima kasih Dave ... !" ucap Felicie berusaha menyunggingkan senyum di wajahnya.
Dave sengaja tidak menanyakan penyebab Felicie menangis, karena ia sudah tahu masalahnya.
Lagi pula ia dapat melihat kalau Felicie tidak ingin membahasnya sama sekali. Mungkin ia ingin memendamnya sendiri untuk saat ini.
" Dave ... aku cengeng ya ! Kamu pasti gak menyangka aku bisa selemah ini kan ? " ucap Felicie dengan nada gak percaya diri.
" Itu wajar, Feli ... setiap manusia terkadang ada sisi lemahnya. Apalagi pada saat kita belum bisa mengatasi masalah yang kita punya. Tapi yakinlah, dengan berjalannya waktu kita pasti bisa mengatasi dan keluar dari masalah itu ! Terutama kamu ... dari awal kita ketemu, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat dan mandiri. Jadi, jangan karena masalah kecil kamu menjadi lemah dan gak percaya diri. Kamu harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa ! " ujar Dave panjang.
" Hmm ... Ya, kamu benar ! Aku pasti bisa. Terima kasih sekali lagi, Dave ... !" ucap Felicie lirih.
" Hei ... sudah berapa kali kamu mengucapkan terima kasih padaku. Aku ini temanmu, jadi wajar saja kalau aku memberi semangat pada kamu. Jadi, jangan merasa terbebani. Okey, ... !! " ujar Dave sambil tersenyum.
Felicie menganggukkan kepalanya dan berusaha membalas senyuman Dave dengan tulus.
Ia bersyukur memiliki teman yang baik dan pengertian seperti Dave.
" Dave ... Ini sudah malam dan aku sudah tidak apa - apa sekarang, kamu sebaiknya pulang. " ucap Felicie.
" Wah, padahal aku pikir kamu mau minta aku menginap disini biar kamu ada teman yang menemani buat malam ini ... hehehe." canda Dave.
" Hee ... gak usah ! Aku bisa sendiri. " ucap Felicie sembari nyengir.
" Oh, Okey deh kalau begitu ... aku pulang sekarang, ya ! " ujar Dave sembari bangkit dari sofa.
" Terima kasih ... !" lagi - lagi Felicie mengucapkan kata itu pada saat Dave ingin keluar dari apartment nya.
" Kamu ya ... !" ujar Dave sambil menjawil hidung Felicie dengan gemas.
" Hee ... sorry !" ucap Felicie tersenyum kecil lalu menarik tangan Dave.
" Ya, udah ... Bye ! Selamat istirahat, Feli ... !" ujar Dave sebelum melangkahkan kakinya.
" Bye ... selamat istirahat juga, Dave !" balas Felicie.
Setelah melemparkan senyum lebarnya pada Felicie, Dave pun berjalan pergi menjauh dari apartment Felicie.
Felicie melihat kepergian Dave hingga sudah tidak terlihat lagi, baru setelah itu ia mengunci pintu apartment nya dan berjalan kembali menuju kamar tidur.
Ia lelah, karena sudah seharian menangis dan saat ini yang paling ia butuhkan adalah istirahat .
" Feli ... besok ketika kamu bangun, kamu tidak boleh menangis lagi ! Bersedih boleh, tapi jangan terlalu lama. Kamu harus kuat ! Okey ... !" ucap Felicie pada dirinya sendiri sebelum tidur.
Setelah memberikan semangat buat dirinya, Felicie menarik nafas lega lalu menarik selimut agar ia merasa hangat.
__ADS_1
**********************************