
Felicie melihat dirinya di cermin.
Hari ini adalah sidang pertama
perceraiannya dengan Aaron.
Sebenarnya ia agak gugup. Karena ini baru pertama kalinya,
berada di dalam ruang sidang.
Tapi membayangkan ia akan
di temani Tika dan Elbert, hatinya
sedikit lebih tenang.
Apalagi pengacara yang di tunjuk oleh Elbert untuk mendampinginya adalah seorang
pengacara handal. Walaupun hal ini tidak begitu perlu, menurutnya. Karena dari awal Felicie dan Aaron sudah sepakat untuk
bercerai tanpa harus membahas
hal - hal yang tidak penting.
Tapi Elbert mengatakan ini sangat penting agar bisa menjaga kemungkinan dari hal yang terburuk. Bisa saja tiba - tiba Aaron berubah pikiran untuk. tidak menceraikannya dan membatalkan gugatannya. Meskipun ini gak mungkin, karena jika gugatan ingin dicabut harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari Fekicie. Tapi dengan kekuasaan Tuan William hal ini bisa saja terjadi.
Namun Felicie yakin,
Aaron tidak akan melakukannya.
Karena ia sudah berjanji di depan
Tuan William. Justru yang ia khawatirkan kehadiran Tuan William. Felicie tidak ingin, Tuan William nanti berpikiran buruk padanya jika melihat ia datang
bersama Elbert.
" Ah, tapi biarlah, Daddy pasti mengerti, karena sebentar lagi
statusku bukan istrinya Aaron lagi. Apalagi Aaron sendiri sudah
memiliki istri lain dan hal ini
memperkuat alasannya didepan
Tuan William untuk meminta cerai." gumam Felicie.
Setelah Fekicie meyakinkan hati
dan dirinya agar tidak gugup, ia
segera melangkahkan kakinya
keluar apartment. Ia melarang
Elbert untuk naik keatas agar
tidak membuat pandangan buruk
bagi orang lain. Karena bagaimanapun saat ini statusnya
masih istri Aaron. Sedangkan Tika
langsung pergi ke pengadilan.
Karena tadi ia harus pergi
ke pengiriman terlebih dulu baru
pergi ke pengadilan. Jika harus ke apartment Felicie lagi, bisa lebih lama. Ia tidak ingin,
Felicie jadi terlambat karena harus menunggu kedatangannya.
Elbert mengembangkan senyumnya begitu melihat kehadiran Felicie. Hari ini ia terlihat lebih anggun dan dewasa. Karena ia menggunakan pakaian yang lebih formal dibandingkan
pakaian yang ia kenakan setiap hari . Matanya terlihat tidak berkedip melihat Felicie.
Kira - kira seperti ini, pakaian yang
Felicie kenakan ... 😘
" Kenapa, aku terlihat aneh ya dengan pakaian seperti ini ? " tanya Felicie merasa khawatir melihat Elbert yang hanya menatapnya tanpa berkedip.
Elbert langsung tersadar begitu mendengar suara Felicie.
" Tidak, justru kamu terlihat lebih
cantik dan dewasa." ucap Elbert
tak berhenti mengagumi Felicie.
" Kamu gak bohong kan ? Soalnya aku memang sengaja memakai
pakaian seperti ini agar tidak terlihat seperti anak - anak. Nanti Pak Hakim nya gak percaya lagi kalau aku yang akan sidang hari ini. Jika melihat aku datang cuma pakai jeans dan kaos, seperti biasa." ujar Felicie masih belum percaya.
" Aku gak bohong sayang, kamu
sangat cantik dan jadi lebih terlihat dewasa mengenakan ini." kata Elbert menggoda Felicie.
Mendengar kalimat yang dikatakan Elbert membuat Felicie
menjadi tersipu. Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, ia
segera masuk ke dalam mobil
Elbert.
__ADS_1
Elbert tertawa kecil melihat wajah Felicie yang berubah merah karena perkataannya. Ia pun segera masuk ke mobil lalu pergi agar mereka jangan sampai terlambat datang ke pengadilan.
Elbert berusaha bersikap tenang,
walaupun ia sebenarnya khawatir.
Ia takut jika Aaron berubah pikiran
untuk tidak menceraikan Felicie.
Padahal Elbert sudah tidak sabar menunggu perceraian mereka.
* * *
Sementara itu Aaron sudah lebih dulu tiba di pengadilan bersama dengan Tommy dan Zico. Tapi mereka masih menunggu di dalam mobil, agar kehadiran mereka tidak jadi perhatian sebagian orang yang ada
di pengadilan. Meskipun sebenarnya mereka bisa saja masuk dari jalur khusus yang di sediakan untuk orang - orang seperti mereka. Sedangkan Tuan William tidak bisa ikut datang karena harus menghadiri rapat
di perusahaan.
Perceraian Aaron dan Felicie dilakukan secara tertutup, agar tidak ada pihak luar yang mengetahuinya. Karena Tuan William tidak ingin, status Felicie sebagai seorang wanita yang akan menjadi seorang j**** di usia yang masih sangat muda diketahui khalayak umum.
Lagi pula sebelum ini tidak ada yang tahu tentang pernikahan Aaron dan Felicie.
" Gimana Zi ... apa semua berkas untuk hari ini sudah beres ? " tanya Aaron dengan perasaan
gelisah, karena sampai detik ini
Felicie juga belum datang.
Ia ingin memanfaatkan waktu sidang ini untuk bisa melihat wajah Felicie, yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini. Setelah pertemuan mereka terakhir di rumah sakit, Aaron belum ada bertemu dengannya lagi. Karena setelah beberapa kali persidangan, status mereka sudah tidak sama lagi. Felicie bukanlah isterinya lagi.
" Tentu saja sudah. Kenapa kamu sudah gak sabar berpisah dengan
Felicie ?" tanya Zico meledek Aaron.
" Bukankah justru Lo yang sudah gak sabar dengan perceraian kami, Zi ... ? " ujar Aaron dengan datar.
Tommy yang melihat sikap kedua sahabatnya sudah mulai agak
memanas, berusaha menengahi.
" Santai, bro ... mungkin Felicie lagi di jalan. Sebaiknya kita turun dan tunggu di dalam aja." ujar Tommy.
" Tidak, kita tetap di sini." bantah
Aaron cepat. Ia menolak karena ingin begitu Felicie sampai, ia bisa langsung melihatnya dari dekat dengan
sepuasnya.
" Hmm ... baiklah." sahut Tommy
mengerti.
Tidak lama Felicie dan Elbert pun tiba. Mobil Elbert tepat di parkir
Begitu melihat Felicie keluar dari
mobil bersama Elbert, membuat Aaron terkesima karena Felicie terlihat sangat berbeda, ia kelihatan sangat cantik dan terlihat jauh lebih dewasa dengan penampilannya. Tapi sekaligus merasa kesal, karena Elbert yang saat ini bersamanya. Zico juga sama dengannya. Wajah Zico berubah ditekuk.
" Kenapa lo berdua, cemburu ... hehehe." ujar Tommy menggoda dua sahabatnya.
" Diam Lo .. !!! " bentak Aaron dan
Zico bersamaan dengan emosi.
" Hahaha ... kompak Lo berdua, ya. Btw, ngapain juga elo pada
marah. Lo, Ron ... bakal jadi mantan suami. Nah, Lo Zi ... pacar juga bukan. Jadi kenapa juga kalian harus emosi. Bukankah Felicie berhak untuk
memilih siapa yang bisa dekat
dengannya." ujar Tommy berusaha
menyadarkan mereka.
Aaron dan Zico terdiam mendengar perkataan Tommy.
Walaupun mereka tahu, apa yang dikatakan Tommy benar, tapi tetap saja mereka gak bisa menerima.
" Gue mau turun. Kalau Lo berdua
masih ingin disini, silahkan ..." Tommy langsung keluar dari mobil setelah mengatakan hal ini.
" Si** ... " umpat Aaron dan Zico,
lalu ikut keluar dari dalam mobil.
Felicie melihat Tika sudah menunggunya bersama Pengacara yang akan mendampinginya hari ini.
" Maaf, Pak Pengacara ... saya
membuat anda menunggu." ujar
Felicie gak enak.
Sedangkan dengan Tika mereka saling berpelukan sejenak.
" Tidak apa - apa, saya juga baru saja datang. Tapi gimana nih, El ...
apa gue kelihatan tua banget sampai nona cantik ini harus memanggil dengan sebutan bapak. Apa gue udah kaya bapak -
bapak. ? " ujar Pengacara yang bernama Boy memasang wajah
pura - pura bersedih.
" Emang Lo udah tua kalau dibandingkan Felicie." jawab Elbert cuek.
__ADS_1
" S*****n lo, bro ... usia kita cuma beda setahun kali. Kenapa elo gak di panggil bapak juga." ujar
Leo protes.
" Itu karena muka Lo kelihatan lebih tua dibandingkan umur Lo."
kata Elbert datar.
" Maaf, Pak ... bukan karena bapak
kelihatan tua, Pak Leo masih muda kog, tapi tidak mungkin saya memanggil bapak
dengan nama saja seperti dengan El ... itu karena saya menghormati profesi bapak, sebagai pengacara saya." ucap Felicie dengan perasaan bersalah.
" Wah, Lo dengar itu El ... gue masih muda kata nona Felicie yang cantik ini. Berarti gue masih
pantas jika ingin bersamanya."
Leo sengaja menggoda Elbert.
" Jangan pernah berharap !
Tunangan lo mau di kemanakan ?"
sahut Elbert dengan wajah dingin.
" Hahahaha ... nona Felicie lihat itu. Wajah pria ini sangat dingin dan datar. Jangan sampai nona
tertarik dengannya. Walaupun saya tahu pria es ini sangat mencintai anda. " Leo semakin
menggoda Elbert, karena ia tahu
Elbert sangat mencintai Felicie.
" Hahahaha .... " Felicie dan Tika
tertawa kecil saat mendengar omongan Leo.
Sedangkan Elbert hanya menatap Leo dengan kesal.
Aaron yang sudah berada di belakang mereka, saat mendengar percakapan mereka
merasa sangat cemburu.
Rasanya ingin sekali ia menarik
tubuh Felicie kedalam pelukannya dan tidak akan pernah melepaskan Felicie untuk selamanya.
" Sabar bro ... Lo harus ikhlas melepasnya. Bukankah Lo ingin
menebus kesalahan yang sudah
elo lakukan pada Felicie. Jadi jika
Lo ingin mendapatkan maaf dan
simpati darinya, Lo harus belajar
merelakan ia bahagia dengan orang lain. Tapi jika Felicie memang di takdirkan jadi jodoh
lo oleh Allah, mau dia pergi kemanapun kalian pasti akan bersatu kembali." kata Tommy bijak.
Aaron langsung menyadari kesalahannya begitu mendengar perkataan Tommy. Ya, ia harus belajar mengikhlaskan Felicie.
Bukankah semua ini bisa terjadi
karena perbuatannya.
Ia menghela nafas dengan kasar, dan belajar untuk jadi manusia yang lebih dewasa dan sabar.
Tapi Zico tentu saja tidak bisa menerima omongan Tommy.
Ia akan terus berusaha akan menjadikan Felicie miliknya setelah Aaron dan Felicie resmi
bercerai. Hal ini membuat Zico
tanpa sadar terus melihat ke arah Felicie dan Tika.
Tika yang melihat Zico menatap mereka, langsung melototkan matanya pada Zico dengan perasaan tidak senang.
" Nih, orang ... udah tahu adik gue gak suka sama dia. Masih aja maksain. Aaron aja yang jelas - jelas suaminya kayanya udah rela melepaskan Felicie. Lah, dia yang
gak punya hubungan apa - apa,
sok - sokan marah." batin Tika kesal.
Melihat Tika melotot padanya membuat Zico terpaksa mengalihkan perhatiannya dari mereka.
**********************************
Terima kasih atas semua dukungan yang telah kalian berikan pada karya Mommy.
Love you All .... 🙏🙏😘😘😍
Tapi jangan pernah berhenti, ya untuk memberikan dukungan kalian. Jadi terus baca episode selanjutnya, selanjutnya, selanjutnya, hingga cerita selesai.
Mommy membutuhkan like,
koment positif, hadiah dan vote yang banyak dari kalian ... 😘😍😍
Maafkan jika masih banyak kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat ... 🙏🙏
Semoga kita semua selalu sehat agar bisa tetap beraktivitas dan berkarya dan diberikan rezeki
yang melimpah oleh Allah.
Aamiin .....🙏😘
__ADS_1