Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 56


__ADS_3

" El , sebaiknya kamu langsung pulang. Aku ingin istirahat hari ini."


ujar Felicie begitu mereka telah sampai di apartment.


" Baiklah ... aku mengerti.


Aku pulang." jawab Elbert lembut.


" Hmm ... hati - hati. Makasih udah


menemani aku." ucap Felicie.


" Okey, selamat istirahat gadis kecilku." ujar Elbert lirih.


Tika yang seperti angin, ada tapi seakan tak terlihat di antara mereka hanya bisa menghela nafas dengan pelan.


Ia tahu saat ini, Felicie pasti masih shock karena perlakuan


Aaron tadi. Aaron sangat berbeda


dari biasanya.


Ya, memang Felicie memang tadi sedikit terkejut atas sikap dan ucapan Aaron. Tapi bukan berarti dia menyuruh Elbert pulang karena ingin memikirkan Aaron.


Felicie memang beneran mau


istirahat. Ia sangat merasa lelah atas semua yang terjadi hari ini.


Lagi pula ia harus menyiapkan


diri dan mentalnya nanti, untuk


segera bersiap pergi jauh.


Felicie juga harus ke apartment miliknya. Semua barang - barang penting miliknya ada di sana dan ia harus mempersiapkan nya. Agar jika nanti tiba waktunya, Felicie tinggal pergi saja.


Jika tadi ia mengijinkan Elbert masuk, mungkin mereka akan ngobrol sampai sore. Pasti Felicie tidak akan bisa pergi ke sana.


Sementara perceraiannya tinggal sebentar lagi. Karena Aaron dengan kuasa yang di miliki oleh Tuan William meminta pada Hakim untuk mempercepat proses perceraian mereka.


" Hati - hati Elbert ... " ucap Tika akhirnya setelah melihat Elbert kembali masuk ke dalam mobil.


" Thanks ... " sahut El lalu membawa mobilnya berlalu dari hadapan mereka.


" Ayo, kita masuk Felicie ... " ajak Tika yang melihat Feli masih melamun melihat kepergian Elbert.


" Ya mbak ... " sahut Felicie pelan.


Sementara itu Giselle yang mengikuti Felicie hingga ke apartment Aaron segera keluar dari mobil. Ia sudah tidak bisa


menahan lagi rasa marah dan penasarannya pada wanita satu ini. Sepertinya Felicie bukan lawan yang bisa dipandang dengan remeh, selain Tuan William menyukainya. Giselle juga tadi melihat ada kesedihan di mata Aaron saat melepas pelukan dari tubuh Felicie. Bergegas ia berjalan setelah melihat Felicie sudah masuk ke lobby apartment. Ia berencana akan ikut masuk


ke apartment Aaron yang di tempati oleh Felicie.


Ia berjalan di belakang Felicie dan


Tika. Agar tidak ketauan ia naik


lift yang berbeda dari mereka.


Bahkan Giselle tak perduli, walau


ia tahu Felicie pernah membuat tangannya sakit karena ia menghempaskan tangan Giselle


dengan sangat kuat saat berada


di rumah sakit.


" Mbak, ngerasa gak kalau kita diikuti ? " tanya Felicie, yang tahu mereka sedang diikuti sejak dari parkiran tadi.


" Hah, yang benar Felicie ... ?" ujar Tika terkejut.


" Hmm ... seorang wanita bercadar. Tapi untuk apa dia mengikuti kita, ya ... ?".


" Mungkin kamu salah. Bisa saja


dia penghuni apartment ini juga."


" Kayanya gak mbak, penghuni apartment gak ada yang pake pakaian seperti itu." bantah Felicie.


" Aduh, kamu jangan menakuti


mbak, dong ... " ujar Tika cemas.


" Gak papa mbak ... biarin aja dia ngikuti kita. Felicie mau tahu apa yang diinginkannya dari kita." kata


Felicie cuek.


" Kamu ini, gimana kalau dia ******* ? " tanya Rina khawatir.


" Gak mungkinlah. Sebelum bisa masuk ke apartment kan kita di periksa di lobby, terlebih dulu." ujar Felicie.


" Iya, ya ... benar juga kamu Feli."


Jawab Tika baru merasa tenang.


" Udah, mbak santai aja."


Tika menganggukkan kepalanya


menyetujui ucapan Felicie.


Begitu keluar dari lift, Felicie menyenggol Tika. Karena ia juga melihat wanita bercadar itu juga keluar dari lift yang berbeda.


" Itu dia mbak ... " bisik Felicie.


" Oh .... " Tika lalu melihat yang


di maksud oleh Felicie.


Felicie dan Tika berjalan menuju


apartment nya. Mereka bertingkah


seakan - akan tidak tahu kalau


lagi di ikuti.


Giselle yang merasa senang karena berhasil mengikuti Felicie


tanpa ketahuan sama sekali, segera menahan pintu apartment


begitu Felicie ingin menutupnya.


" Hei, siapa kamu ?" tanya Felicie


pura - pura terkejut sambil membiarkan Giselle berhasil menahan pintu itu.


" Minggir Lo ... " dengan kasar Giselle menolak Felicie saat berhasil masuk ke apartment.


" Hei, kamu siapa ? Kenapa seenaknya saja masuk ke apartment orang ! " ujar Tika juga berakting, ia juga gak mau kalah dengan Felicie.


" Diam Lo berdua. Harusnya gue yang nanya Lo berdua. Kenapa


Lo bisa ada di apartment suami


gue, Aaron !!! " bentak Giselle gak sabar.


" Hah, Aaron ... suami ? Oh, jadi lo


isteri Aaron juga. Kalau gitu sama dong. " sahut Felicie dingin.


" Si****n Lo ... dasar perempuan mur****. Seenaknya aja ngaku - ngaku isterinya Aaron. !!" ucap Giselle dengan gak tahu malu.


Padahal jelas sekali siapa yang


murahan disini.


" Hehehe ... sepertinya gue tau deh siapa Lo !!! " kata Felicie dengan tertawa datar.


Giselle lumayan terkejut ketika


mendengar Felicie tahu siapa dirinya. Padahal ia sudah menyamar dengan serapi mungkin.


" Udah, buka aja cadar Lo itu.


Gak boleh mempermainkan agama. Kalo Lo masih suka


berpakaian seksi, pakai aja.


Lagian percuma juga Lo berpakaian seperti ini. Gue udah tahu juga siapa Lo ... " ujar Felicie


dingin lalu duduk di sofa bersama


Tika yang memperhatikan dengan seksama.


Karena Giselle merasa, penyamarannya sudah terbongkar. Ia pun membuka cadar dan pakaiannya.


Ternyata di balik gamis longgar yang di pakainya, Giselle memakai


baju kebanggaannya.


Dress mini dengan model terbuka


di bagian d***.


" Siapa Felicie ... ? " bisik Tika,


karena ia memang belum pernah


bertemu dengan Giselle.

__ADS_1


" Giselle, kekasihnya Aaron.


Tapi sekarang udah jadi istrinya juga." jelas Felicie sambil berbisik juga.


Tika pun mengerti sekarang. Ternyata wanita yang memakai baju kurang bahan ini yang membuat Aaron menikahi Felicie


dengan kontrak pernikahan itu.


" Nah, gini lebih bagus. Jadi elo


gak munafik. Masa masih gemar


pakai baju kebuka malah nyamar pakai cadar. Gak baik itu, dosa ...!!! " ucap Felicie terkekeh


pelan.


" Diam Lo ... gak usah banyak ngomong !" bentak Giselle kasar.


" Eh, harusnya kalau mau bertamu


kerumah orang itu , bicaranya baik - baik, sopan atau jangan - jangan Lo gak terbiasa bersikap sopan ya ... ?" Felicie sengaja


merendahkan Giselle.


" B*******k lo ja**** ... Lo itu yang


gak ada sopannya. Masih kecil aja


udah jadi pelakor. Gatel Lo ... !!!


Aaron itu kekasih gue, suami gue.


Kenapa Lo merebut dia ?" umpat


Giselle dengan wajah yang sangat emosi.


" Hello ... gak salah Lo ngomong.


Gini ya biar gue ingatin sama lo,


mana tau Lo udah pikun. Tapi gue maklum kog, usia Lo kan jauh lebih tua di banding gue.


Lo nikah dengan Aaron saat statusnya masih suami sah gue.


Gue menikah dengan Aaron sah di mata Agama dan Negara.


Juga di restui oleh Daddy, eh ... Tuan William.


Nah, Lo ... udah dinikahi secara siri, gak dapat restu lagi. Jadi siapa yang pelakor di antara kita ?" Felicie dengan nada dingin sengaja merendahkan Giselle


biar lebih tahu diri.


Tika tertawa keras mendengar perkataan Felicie yang santai tapi sangat mengena.


" Ma**** .... dasar gak tau diri." maki Tika dalam hati.


Wajah Giselle langsung memerah menahan marah, mendengar hinaan Felicie terhadapnya.


Ia tidak menyangka ternyata gadis


kecil ini mulutnya pedas juga.


Bahkan ia tidak terpancing dengan ucapan Giselle yang sudah memakinya dengan kata - kata kasar. Felicie bukan lawan


yang mudah. Tidak seperti Vera,


isteri Aaron yang lain.


" Oh, ya ... karena Lo tahu kalau gue isterinya Aaron, berarti Lo tahu juga dong isteri Aaron lainnya ? Nah, kalian itu baru sama ... sama - sama pelakor.


Lo merebut Aaron dari gue, lalu


Vera merebutnya dari lo ... !!! " ujar Felicie lagi.


Giselle terkejut, ternyata Felicie


juga tahu kalau Aaron memiliki


isteri lain selain mereka berdua.


" Sebelum gue mengusir lo dari sini, gue masih berbaik hati untuk


menanyakan kepentingan Lo datang menemui gue ?"


ujar Felicie menatap Giselle dengan dingin.


Giselle terkesiap mendengar ucapan Felicie. Iya, kenapa ia bisa


sampai lupa tujuannya kemari.


Untung gadis ini mengingatkan hal ini.


" Sejak kapan Lo nikah dengan Aaron ? " tanya Giselle sinis.


Giselle menatap tajam mendengar jawaban Felicie.


" Apa Lo tahu kalau Aaron memiliki kekasih dan sangat mencintainya hingga bersedia menunggu gue pulang, bahkan langsung menikahi gue meskipun sudah menikah dengan Lo ... !!" tanya Giselle dengan senyum mengejek pada Felicie, karena merasa menang dan ia yakin Felicie tidak bisa membantahnya kali ini.


Felicie mengingat kembali pernikahan awalnya dengan Aaron. Memang karena menunggu kepulangan Giselle,


kekasihnya ... membuat Aaron


melakukan perjanjian kontrak itu dengannya. Tapi ia tidak mau


membuat Giselle senang jika


membenarkan perkataannya.


" Hehehe ... jika Aaron memang sangat mencintai lo seperti yang


elo bilang ... pasti dia akan menunggu Lo pulang. Tapi Aaron


malah menikah dengan gue.


Ini berarti cinta Aaron tidak sebesar yang Lo pikirkan." ucap


Felicie memandang remeh pada Giselle.


" S***** Lo .... Aaron sangat mencintai gue. Pasti lo yang


menggodanya atau malah menjebak seperti Vera .. !!! " tuduh


Giselle dengan memandang sinis


pada Felicie.


Tika hampir saja memaki Giselle


dengan kasar jika tidak di cegah


oleh Felicie. Ia terpaksa diam


kembali mendengarkan apa yang akan di katakan Felicie untuk


membalas Giselle.


" Sorry, sayangnya gue gak semurah kalian berdua, Lo dan Vera. Gue gak perlu menjebak dan menggoda Aaron melainkan Tuan William sendiri yang meminta gue jadi isterinya Aaron. Karena dia tahu, Lo gak pantes buat Aaron.


Lo cuma mau harta dan kekayaan anaknya saja. Bukan karena cinta.


Oh, ya ... gue heran kenapa Lo berani kembali setelah di usir pergi oleh Daddy, padahal Lo udah di beri uang yang sangat banyak,


atau jangan - jangan uang Lo sudah habis karena bersenang -


senang dengan selingkuhan Lo .. !!! " ucap Felicie pedas.


Wajah Giselle berubah pucat mendengar perkataan Felicie.


Kenapa ia bisa tahu semua tentang dirinya.


" Lo jangan heran, gue tahu semua tentang Lo karena Daddy sudah


menceritakan semuanya sama gue. Bahkan tentang Lo jadi simpanan orang tua, gue juga tahu. Sayang, Aaron terlalu bodoh waktu itu. Ia tidak mau mendengar perkataan Daddy.


Tapi sekarang gue yakin, ia mulai


pintar karena Aaron tidak ingin


lagi bertentangan dengan Daddy nya. " ujar Felicie melihat Giselle dengan tatapan setajam be***i.


" Apa maksud Lo ? " tanya Giselle


cemas karena perkataan Felicie.


"Kenapa Lo mulai takut kalau Aaron meninggalkan Lo ?


Apalagi Vera, isterinya Aaron sekarang tinggal di mansion, itu


berarti selain gue ... Daddy juga


merestuinya." Felicie sengaja semakin menakuti Giselle.


Padahal ia tertawa keras dalam hati setelah mengatakan hal ini.


Giselle semakin cemas mendengar yang diucapkan Felicie. Benar apa yang di katakan nya, kedudukannya semakin terancam sekarang. Ia pikir, dengan pernikahan Aaron dan Vera, Giselle akan aman karena Tuan William tidak akan lagi


mencurigai pernikahannya dengan


Aaron. Tapi jika William semakin suka dengan Vera, bisa saja membuat Aaron menceraikannya


karena gak ingin bermasalah lagi dengan Daddynya.

__ADS_1


" Diam Lo ... !!! Aaron tidak akan mungkin menceraikan gue. Dia sangat mencintai gue. Lo atau pun Vera, wanita j****g itu gak


akan ada yang bisa menggantikan gue di hati Aaron. Buktinya Lo sekarang akan di ceraikan Aaron." bantah Giselle dengan yakin.


" Ops, sorry ... bukan Aaron yang


menceraikan gue tapi gue yang


minta di ceraikan di depan Tuan


William. Saat Aaron ketahuan


menikah lagi dengan Vera. " bantah Felicie santai.


" Hahaha ... gak usah ngeles Lo.


Lo malukan sama gue karena


di ceraikan Aaron !! " ejek Giselle.


" Hmm ... karena Lo udah mengikuti gue sejak tadi. Berarti


Lo lihat dong ketika Aaron meminta bicara berdua dan memeluk gue ? " kata Felicie membalas ejekan Giselle.


" S*****n Lo ... itu tidak berarti apapun. Mungkin dia hanya kasihan sama Lo."


" Hahahaha .... kenapa Lo gak bisa


menerima kenyataan kalau Aaron


bersedih pisah dengan gue ?".


" Br*****k lo ... Aaron gak akan


sedih, malah dia senang karena


sekarang kami tinggal menyingkirkan Vera. "


" Lo memang jago mengarang sesuatu, kenapa Lo gak jadi


penulis naskah atau novel aja biar dapat uang dari pada jadi simpanan orang tua."


" Ba****t lo, Felicie ... !!! ".


" Hmm ... karena urusan kita sudah selesai, gue persilahkan Lo


keluar dari apartment gue."


" Hahaha ... jangan mimpi lo.


Ini apartment Aaron dan akan jadi milik gue suatu hari. Jangan pernah Lo berharap mendapatkan


hartanya Aaron sedikitpun dalam


perceraian kalian. Gue akan melarang Aaron, biar Lo pergi tanpa dapat apapun."


" Oh, terserah Lo aja deh, mau


ngomong apa. Gue capek, mau istirahat. Sebaiknya lo segera keluar. "


" Tidak, gue mau tetap di sini.


Nanti Lo bawa lagi harta Aaron


yang ada di apartment ini."


" Okey, karena Lo gak bisa di suruh keluar dengan baik - baik, maka jangan salahkan gue kalau bersikap kasar sama lo."


" Gue gak takut sama lo !!! ".


" Okey ... !!! " dengan santai Felicie


menghampiri Giselle.


Giselle tetap keras kepala, ia bertahan duduk di kursi yang sejak tadi di dudukinya.


Tanpa basa - basi, Felicie memegang tangan giselle dengan kuat dan mengangkat badan Giselle dari kursi. Lalu setelah itu,


Felicie menarik badan Giselle


keluar dari apartment dengan


paksa.


Giselle berusaha melepaskan diri


dari tangan Felicie yang mencengkramnya dengan kuat.


Tapi walau bagaimanapun ia mencobanya tetap saja ia tidak


bisa melepaskan diri dari Felicie.


Bahkan sekarang ia sudah berada di luar apartment.


Giselle menggedor pintu apartment dengan keras dan sengaja berteriak menimbulkan kegaduhan agar Felicie malu lalu membuka pintu apartment nya dan ternyata rencananya berhasil.


Felicie kembali membuka pintunya. Tapi rupanya bukan karena ingin menyuruhnya masuk


kembali, melainkan untuk membungkam mulut Gisele dengan sebuah tamparan yang keras. Hingga Giselle pun terdiam dan menahan kesakitan nya.


" Lo pergi atau gue akan buat lo lebih parah dari ini !! " kata Felicie


dengan dingin.


Giselle mulai merasa takut, dengan ancaman Felicie.


Ia tidak ingin tangannya di pelintir


seperti waktu itu. Sedangkan


wajah dan bibirnya masih sangat sakit akibat tamparan dari Felicie.


Tanpa berani membantah lagi,


Giselle melangkah pergi dengan


perasaan kesal di hatinya.


" Huff ...." Felicie menghembuskan


nafasnya dengan berat setelah


kepergian Giselle.


" Bagus Felicie, wanita seperti Giselle itu memang wajib di hajar.


Kalau tidak, ia akan semakin berbuat sesuka hatinya." ucap


Tika mengelus rambut Felicie


dengan sayang.


" Iya, mbak ... Mbak, kita pulang


kerumah aja. Felicie lagi malas


di apartment." ajak Felicie.


" Tapi kamu mau istirahat ? ".


" Nanti aja mbak, sekalian di rumah."


" Okey, deh kalau gitu."


Felicie dan Tika pun keluar dari apartment lalu pergi dengan menuju rumahnya menggunakan


taksi online.


**********************************


Lagi ada waktu lebih, jadi hari ini


bisa Up lagi ....


Semoga kalian suka.😘😘


Oya, Selamat Hari Kemerdekaan


buat Negeriku yang Tercinta ...😍😍😘 ...


17 Agustus tahun 45,


Itulah hari Kemerdekaan kita.


Hari Merdeka, Nusa dan Bangsa.


Hari lahirnya Bangsa Indonesia


Merdeka ...


Sekali Merdeka, Tetap Merdeka.


Selama Hayat masih di kandung badan.


Kita tetap setia, tetap sedia.


Mempertahankan Indonesia.


Kita tetap setia, tetap sedia.


Membela Negara kita.

__ADS_1


Merdeka .... !!!


__ADS_2