Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 23


__ADS_3

Elbert memandangi wajah Felicie yang masih menganggapnya seperti gak ada di dekatnya.


Rasanya ingin sekali Elbert menarik Felicie ke dalam pelukannya lalu mengatakan kalau dia adalah gadis kecil yang selama ini di carinya. Tapi untuk saat ini itu tidak mungkin, ia gak ingin Felicie membencinya jika berbuat sesuka hati.


" Felicie, kita jadi nonton kan ? biar aku beli tiketnya ... " tanya Zico menghentikan suasana hening.


" Jadi, tapi biar gue beli sendiri aja. " sahut Felicie bangkit dari kursinya, lalu membayar makanannya di kasir.


" Gak, biar gue aja yang beli." tolak Zico cepat, menyusul Felicie.


Felicie gak perduli dengan omongan Zico, ia berjalan meninggalkan mereka bertiga.


Elbert terpaku sejenak melihat Felicie pergi. Baru setelah sadar ia


segera melangkah dengan cepat, di susul Zico dan Tommy.


Setelah Felicie membeli tiket untuk dirinya sendiri, ia pun masuk ke auditorium satu. Ia tidak mengacuhkan keberadaan tiga pria yang menatapnya.


Zico pun buru - buru membeli tiket untuknya dan Tommy, ia ingin segera menyusul Felicie kedalam.


Elbert juga dengan sikap gak mau kalahnya, membeli tiket yang sama dengan mereka.


Dengan cepat mereka mencari keberadaan Felicie, dan segera berebutan duduk di samping Felicie setelah berhasil menemukannya. Zico dan Elbert masing - masing dapat tempat duduk di samping Felicie. Sedangkan Tommy mengalah, ia


duduk di sebelah Zico.


Felicie tak menggubris kehadiran mereka. Dengan cuek ia memakan popcorn sambil menatap layar bioskop yang baru saja memulai film Thor.


Wajah Felicie yang cantik tampak serius melihat kearah layar.


Elbert dan Zico hanya diam sambil menatap wajah Felicie yang terlihat serius menonton.


Mereka tak berniat mengganggu -


nya. Felicie benar - benar seperti berada di dunia nya sendiri.


Padahal tanpa mereka sadari, Felicie terkadang melirik dengan sudut matanya sesekali.


Terutama pada Elbert, dia melirik dengan mata kesal.


Tidak terasa sudah satu jam lima puluh sembilan menit, hingga film yang mereka tonton pun selesai.


Walau sebenarnya yang menikmati film hanya Felicie dan Tommy, sedang Elbert dan Zico hanya memandang wajah Felicie saja.


Felicie pun bangkit setelah film berakhir, begitu juga dengan tiga pria dewasa di dekatnya.


" Feli ... Lo, gak mau kemana -

__ADS_1


mana lagi kan ... gue antar pulang ya ? " Elbert menghadang langkah Felicie.


Felicie tidak menjawab ucapan Elbert, ia hanya menatap datar dan meneruskan langkahnya setelah menggeser badannya ke samping.


" Gara - gara Lo, nih ... ngapain sih, Lo ikutan nonton ? " Zico menatap gak bersahabat pada Elbert dan setengah berlari menyusul Felicie.


Tommy hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kedua


pria di depannya ini.


Felicie buru - buru masuk ke dalam lift, agar bisa menghindar dari mereka. Elbert dan Zico yang melihat ini, segera turun melalui eskalator agar bisa cepat menyusulnya.


Begitu tiba di lantai bawah, Felicie segera naik ke sebuah taksi yang baru selesai mengantarkan penumpang. Ia merasa lega melihat Elbert dan Zico tidak berhasil menyusulnya.


Elbert dan Zico menatap nanar kepergian Felicie. Mereka terlambat sedikit, saat mereka sampai Felicie sudah masuk ke dalam taksi. Dengan perasaan kesal Elbert menuju tempat parkir,


ia akan mengejar Felicie.


Sedangkan Zico terlihat pasrah, ia gak yakin bisa mengejar taksi yang membawa Felicie pergi. Apalagi tadi mereka memarkirkan mobil di lantai empat. Itu berarti ia harus naik kembali.


Aaron yang saat ini sedang berada di private jet, hanya diam tak menanggapi omelan Giselle.


Pikirannya tertuju pada pria yang duduk di sebelah Felicie tadi.


Ia seperti pernah melihat wajahnya tapi lupa dimana.


" Honey, kamu gak dengar apa yang ku omongin ya ? " tanya Giselle kesal karena Aaron sama sekali tidak menanggapinya.


" Maaf, sayang ... sebaiknya kamu tidur biar gak lelah. Perjalanan kita masih panjang." sahut Aaron.


" Gak, aku belum lelah. Tadi aku nanya, apa gak sebaiknya kita nikah siri aja dulu, pestanya nanti aja gak papa." Felicie mengulang kembali perkataannya.


Aaron langsung terbelalak mendengar omongan Giselle. Nikah siri, gimana dia bisa melakukannya saat ini. Ia gak berani mengambil resiko, kalau sampai ketahuan Daddy bisa gagal semuanya.


" Bagaimana honey, kamu setuju kan dengan usul dariku ? Kita menikah siri dulu, baru setelah Daddy mu memberikan semuanya sama kamu kita bisa memberitahukan pada nya, mengenai pernikahan kita. Jadi Daddy kamu udah gak bisa berbuat apapun lagi." kalo ini Giselle mengeluarkan suara manjanya.


" Kenapa kamu jadi gak sabar gini, sih ... aku kan sudah bilang kita harus menunggu. Gak lama cuma dua bulan lebih aja." Aaron mulai kesal dengan paksaan dari Giselle.


" Apa bedanya sih , menikah sekarang atau dua bulan lagi. Jika kita bisa menutupinya dengan baik, aku yakin Daddy kamu gak akan tahu atau kamu memang gak niat menikah denganku. Jika memang benar, sebaiknya kita putus aja. Aku gak mau kepulangan ku hanya sia - sia aja.


Aku sudah mengorbankan karierku agar bisa bersama kamu." Giselle mengeluarkan ancaman nya. Ia yakin Aaron gak akan mau berpisah dari nya.


Aaron memijat keningnya. Ia mendadak pusing mendengarkan ancaman Giselle. Ia tentu saja gak mau harus berpisah lagi dengan Giselle, kekasih yang dicintainya.


Tapi ia juga gak ingin hanya karena menikah dengan Giselle, ia harus kehilangan semuanya. Terlebih lagi, Daddy nya pasti sangat membencinya jika tahu ia menikahi Giselle. Selama ini, Daddy nya tidak pernah menyukai Giselle. Belum lagi dengan pernikahan kontrak nya. Ia sendiri yang membuat akan menceraikan Felicie setelah tiga bulan. Tapi ini, belum juga sebulan ... masa Aaron harus menceraikan nya. Bisa saja memang dia bercerai diam - diam ... tapi kalau Daddy nya tahu bagaimana ?


Aaron benar - benar bingung harus mengambil keputusan seperti apa saat ini.

__ADS_1


Apa harus mengikuti kata Giselle, mereka nikah diam - diam aja.


Tapi jika menikah dengan Giselle sekarang, pasti ia menuntut Aaron setiap hari untuk pulang ke apartment nya. Sedangkan itu gak mungkin. Pasti mata - mata Daddy nya akan curiga jika ia gak pernah pulang lagi ke apartment tempat Felicie berada.


" Okey, kamu gak bisa jawab.


Berarti kita memang harus selesai sampai di sini. Aku gak mau hidup dalam ketidak pastian. Setelah pesawat ini mendarat, sebaiknya kamu gak usah menemui ku lagi." Giselle mengancam dengan wajah marah.


Aaron yang mendengar Giselle benar - benar serius akan meninggalkan nya, merasa gak terima.


" Kamu jangan begini, sayang ...


Aku gak mau kita putus. Sabar, ya ... dua bulan kan gak lama. " Aaron berusaha membujuk Giselle.


Giselle menahan seringainya.


Ia tahu pasti Aaron akan mengabulkan permintaannya jika terus mengancamnya.


" Gak ... aku gak butuh janji kamu.


Jika kamu benar gak mau putus denganku, begitu kita sampai kamu harus segera menikahi ku.


Jika tidak aku akan segera pergi seperti dulu." kali ini Giselle memasang wajah sedih.


Aaron yang melihat wajah Giselle yang sedih menjadi kacau. Ia tidak


pernah ingin membuat Giselle pergi jauh lagi dari nya.


" Baiklah, kita akan menikah siri, seperti yang kamu inginkan. Tapi aku minta tolong sama kamu, jangan ada yang sampai tahu pernikahan kita. Sebelum dua bulan lebih, ini selesai ... aku gak akan bisa tinggal di tempat yang sama dengan kamu. Aku harus tetap pulang ke mansion Daddy.


Apa kamu bisa, sayang ? " akhirnya Aaron yang bingung mengambil keputusan ini.


Giselle hampir saja berteriak karena kesenangan mendengar perkataan Aaron yang akhirnya setuju menikahinya. Ia akhirnya berhasil menjadi istri dari seorang pria kaya seperti Aaron. Giselle akan segera hamil agar tidak ada penolakan lagi dari Tuan William. Tapi ia harus berpura - pura sedih dulu agar Aaron semakin merasa bersalah padanya.


" Baiklah, aku gak akan menahan mu di apartment ku ... tapi bisa kan kamu setiap selesai kerja pulang ke tempat aku dulu walau cuma sebentar baru pulang ke mansion." Giselle berkata lirih dengan mata berkaca - kaca.


" Ya, sayang ... aku akan ke tempat kamu dulu baru pulang.


Tapi janji ya ... kamu jangan menahan ku ... Aku tetap harus pulang." Aaron menyetujui permintaan Giselle. Ia lalu meraih badan Giselle dan memeluknya.


Ia gak tega melihat Giselle yang bersedih.


Aaron telah melupakan maksudnya untuk pulang secepatnya hari ini. Ia kembali jatuh dalam pelukan Giselle.


Dia benar - benar melupakan jika ia sudah menikah dengan Felicie.


Sekarang , ia hanya ingin menghibur dan membahagiakan Giselle saja.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2