
" Halo, Nona Felicie, saya Elbert asistennya Tuan Elbert. Maaf atas kelancangan saya karena telah berani menghubungi nona, tapi saya terpaksa melakukannya karena cuma nona yang bisa memberi semangat pada Tuan Elbert !" ujar Jhon.
" Hah, apa yang terjadi dengan Elbert ? Apa El, sakit ? " tanya Felicie khawatir.
Ia memang belum mengetahui berita mengenai Elbert, karena ia terlalu sibuk dengan kuliahnya jadi gak punya waktu untuk melihat berita - berita gosip di handphone ataupun di televisi.
Jhon menarik nafas lega begitu mendengar omongan Felicie. Berarti dia belum mengetahui berita itu.
" Bisa di katakan begitu, nona ... Tuan Elbert begitu merindukan nona, tapi karena masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan jadi belum sempat menghubungi nona Felicie. Jadi karena merasa bersalah pada nona, membuat Tuan Elbert kehilangan semangatnya. Ia jadi takut menelfon nona !" ujar Jhon terpaksa berbohong.
" Oh, benarkah, sekarang Elbert nya mana ? Tolong berikan handphone padanya biar saya bicara dengannya !" ucap Felicie yang merasa terharu mendengarnya.
Ia juga sudah sangat merindukan Elbert. Tapi sebagai wanita ia hanya bisa menunggu Elbert yang menghubunginya terlebih dulu.
Apalagi ia takut jika menghubungi Elbert akan menganggu pekerjaannya.
Jhon tersenyum lebar ketika mendengar perkataan Felicie. Wanita ini terdengar khawatir pada keadaan Elbert.
" Ya, sebentar nona Felicie. Saya akan memberikan handphone ini pada Tuan Elbert !" ujar Jhon semangat sembari keluar dari dalam kamar mandi.
Jhon sengaja menghidupkan speaker handphonenya agar Elbert bisa mendengar suara Felicie.
" Halo, nona Felicie ... Ini Tuan Elbert nya !" ujar Jhon.
" Mana El ... handphonenya udah sama Elbert ?" ucap Felicie.
Elbert yang sedari tadi hanya menatap lantai langsung menengadahkan kepalanya begitu mendengar suara Felicie, wanita yang sangat di rindukannya.
Ia seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Felicie menanyakannya tanpa nada marah sama sekali.
Jhon segera memberikan handphone nya pada Elbert agar bisa berbicara dengan Felicie.
Ia berharap semoga Felicie bisa mengembalikan semangat dan kepercayaan diri Elbert lagi.
" Ini ... Ini beneran kamu, Felicie ?" tanya Elbert gugup.
" Iya, kenapa suaraku berubah, ya ? " ucap Felicie.
" Gak, masih tetap sama !" ujar Elbert sembari memandang ke arah Jhon dengan tatapan bingung.
" Oh, kamu kenapa El ? Asisten kamu bilang kalau kamu sedang sakit ? Kamu sakit apa ? Aku gak papa kog, kalau kamu belum bisa menghubungi aku karena kamu sibuk. Aku juga lagi sibuk kuliah, kog ... ! " ujar Felicie panjang dan terdengar cemas.
Elbert menitikkan air matanya. Ia sangat bahagia bisa mendengar suara gadis kecilnya ini lagi. Ternyata gadisnya belum mengetahui berita mengenai dirinya.
" Felicie, aku sakit karena sangat merindukanmu. Apa kamu juga rindu denganku ? " ucap Elbert.
Felicie gugup saat Elbert menanyakan hal ini padanya. Ia juga rindu pada Elbert, bahkan merasa sangat kehilangan, sosok Elbert yang selalu setia mendampinginya.
" Hmm ... aku juga kangen sama kamu ! Kapan kamu datang ke sini ?" akhirnya Felicie memutuskan untuk jujur. Ia harus jujur dengan perasaannya. Apalagi ia sudah sangat yakin kalau ia juga mencintai Elbert.
Elbert langsung bangkit dari duduknya begitu mendengar jawaban dari Felicie. Ia sangat bahagia karena pada akhirnya Felicie bisa merindukannya juga.
" Felicie ... terima kasih sudah merindukan aku ! Aku bahagia mendengarnya. " ujar Elbert semangat.
" Hmm ... jadi kapan kamu datang kesini, El ... ?" Felicie mengulang kembali pertanyaannya.
Elbert seketika terdiam mendengar Felicie mengulang kembali pertanyaannya tadi. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Felicie.
Ia kembali teringat akan kejadian yang menimpanya. Meski ia kini tahu, dari omongan Felicie, ia pasti belum melihat ataupun mendengar berita mengenai Elbert.
Tapi bagaimana sikap Felicie pada Elbert jika sudah mengetahui semuanya. Apakah ia masih bisa tetap bersikap seperti saat ini.
" Felicie ... apakah jika kamu mendengar berita buruk tentangku, kamu akan percaya ?" tanya Elbert dengan perasaan cemas sembari menunggu jawaban Felicie.
" Hmm ... aku gak mengerti apa maksud dari pertanyaan kamu, El ?" jawab Felicie dengan wajah bingung.
Elbert menghela nafas panjang begitu mendengar perkataan Felicie.
__ADS_1
" Felicie ... kamu akan percaya padaku, kan ? Aku tidak akan mungkin melakukan hal buruk, apalagi sesuatu yang akan menyakiti kamu ! Kamu pasti tahu kalau aku sangat mencintai kamu selama ini. Jadi, apapun yang nanti kamu dengar dan lihat, aku mohon tetaplah percaya denganku. " ujar Elbert terdengar putus asa.
" El, sebenarnya ada apa ? Kenapa dari suaramu aku merasa kamu sedang dalam keadaan tidak baik ! " ucap Felicie mulai khawatir.
Ia merasa Elbert sedang menyimpan sebuah beban yang begitu besar.
Rasanya Elbert ingin segera berlari menghampiri Felicie dan memeluknya dengan erat, agar tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka, saat mendengar nada khawatir di suara Felicie.
Elbert benar - benar mengutuk dirinya. Andai saja ia tidak begitu bodoh dan dengan mudahnya terperangkap dalam perangkap yang di buat Claire, mungkin Felicie dan dirinya akan jadi pasangan yang paling berbahagia di muka bumi ini.
" Elbert, kenapa kamu malah diam ? Apakah ada hal buruk yang sedang menimpamu ?" tanya Felicie semakin cemas.
Begitu mendengar pertanyaan yang di lontarkan Felicie, Elbert merasa semakin tidak berdaya. Ia hanya diam memandangi handphone di tangannya. Elbert terlalu pengecut, karena tidak berani menjelaskan hal yang sebenarnya pada Felicie.
Jhon yang melihat nya hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Ia tahu Elbert sangat terpukul saat ini. Jhon menutup speaker handphone agar Felicie tidak bisa mendengar pembicaraan nya dengan Elbert.
" El, kamu harus kuat ! Kenapa kamu jadi lemah seperti ini ? Apa kamu tidak bisa mendengar kalau Felicie sangat mencemaskan dirimu. Itu berarti dia sudah mencintai kamu ! Felicie sudah menerima cintamu, El ... ! Sadar, El ... atau kamu memang mau kehilangan Felicie lagi !" bentak Jhon dengan suara keras agar bisa menyadarkan Elbert yang hanya diam membisu.
Sementara itu, Felicie yang mendengar Elbert tidak bersuara sama sekali, merasa ada yang tidak beres.
Ia yakin, tebakannya tadi pasti benar, kalau sudah terjadi hal yang buruk pada Elbert. Elbert yang biasanya, suka bercanda dan menggodanya jika sedang bicara dengannya mendadak sikapnya berubah.
Sedari tadi Felicie bisa merasakan kalau Elbert tidak dalam keadaan yang baik. Suaranya kelihatan tidak bersemangat.
" Tidak, aku tidak mau kehilangan Felicie lagi !" gumam Elbert dengan suara serak.
" Jika kamu tidak ingin kehilangannya, katakan sesuatu. Jangan cuma bisa diam.
Felicie sedang menunggumu !" ujar Jhon sembari menepuk bahu Elbert.
Elbert langsung tersadar begitu mendengar perkataan Jhon.
" Felicie, kamu masih di sana ?" tanya Elbert.
" Ya, aku masih disini ! Katakan apa yang terjadi padamu, El ... aku yakin kamu tidak dalam keadaan baik - baik saja. " ucap Felicie begitu mendengar suara Elbert kembali.
" Felicie, sebelumnya aku minta maaf ! " ucap Elbert.
" Maaf, kenapa kamu harus minta maaf ? Kamu gak punya salah padaku !" kata Felicie dengan perasaan yang mendadak gak nyaman.
Ia kembali teringat , memang sejak pagi tadi gak tahu karena apa, hatinya merasa gelisah.
Apalagi saat ia tidur siang, Felicie harus terbangun karena bermimpi hal yang aneh.
Dalam mimpinya, Felicie melihat Elbert hanya berdiri tanpa suara dan menatapnya dengan tatapan sedih. Lalu perlahan pergi menjauh darinya, setelah sebuah tangan seseorang memaksanya untuk pergi. Tapi sayangnya, Felicie tidak bisa melihat wajah yang mengajak Elbert pergi.
" Felicie ... bisakah kamu berjanji untuk tetap percaya padaku meski nanti kamu mendengar ataupun melihat berita buruk tentang aku ! Aku mohon, kamu percaya ... aku tidak akan mungkin melakukan itu ! Dalam hidupku, aku hanya pernah mencintai seorang wanita yaitu kamu, gadis kecil kesayangan ku. Aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu ! Jadi, aku mohon, berjanjilah jika aku belum bisa kembali dalam waktu dekat ini kamu akan tetap menungguku, meskipun mungkin keputusanku nanti akan membuat kamu membenciku !" ucap Elbert panjang dengan hati penuh beban.
Felicie berusaha meredakan hatinya yang berdebar keras. Ia tidak mengerti, apakah hatinya berdebar karena mendengar kata - kata cinta dari Elbert atau karena hal lain yang sudah membuatnya gelisah sejak tadi.
" El, aku tahu dan aku percaya kamu mencintaiku. Masalah hal buruk yang kamu katakan, aku gak mau memikirkannya karena hal itu belum terjadi dan aku harap jangan sampai terjadi. Kamu barusan bilang untuk menunggu kamu karena belum tentu bisa kembali ke kota ini dalam waktu dekat. Jika memang kamu gak bisa kembali ke kota ini, kamu jangan khawatir. Aku gak papa, El ... aku mengerti ! Kamu tidak perlu memaksakan dirimu. Kamu sudah terlalu lama menemani aku, El ....Jadi sekarang waktunya bagi kamu untuk serius mengurus pekerjaan dan perusahaan mu. Kamu gak usah mengkhawatirkan aku, aku akan baik - baik saja ! " ucap Felicie dengan mata berkaca - kaca.
Meskipun mulut Felicie berkata seperti itu, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau ia merasa sedih.
" Aku minta maaf sama kamu. Karena aku, kamu meninggalkan rumah dan pekerjaan kamu !" ujar Felicie lagi.
Elbert dan Jhon tidak bisa berkata - kata mendengar perkataan Felicie yang malah menyalahkan dirinya, tanpa tahu apa yang sudah terjadi.
Jhon jadi bertambah kagum dengan kepribadian Felicie. Ia mandiri dan tidak mau bergantung dengan orang lain. Di usia yang masih begitu muda, ia sudah berpikiran layaknya orang dewasa. Elbert benar - benar tidak salah pilih dan sangat beruntung bila bersamanya.
" Maafkan aku, Felicie ... ! Ingatlah, aku akan selalu mencintaimu !" ucap Elbert lalu menutup telepon, karena ia sudah tidak sanggup lagi mendengar suara Felicie.
Felicie masih menaruh handphone di telinganya, walaupun ia tahu Elbert sudah mengakhirinya.
Hati Felicie terasa kosong dan seperti ada yang berbisik di telinganya kalau ini adalah hari terakhir ia bisa berbicara dengan Elbert.
Tidak berbeda jauh dengan Felicie , Elbert kini duduk dengan wajah menyedihkan. Tangannya terkepal erat. Matanya memerah karena menahan tangis dan amarah. Semua masalah yang terjadi karena kesalahannya. Hingga harus membuat hati wanita yang di cintai nya terluka.
__ADS_1
" Jhon ... hubungi kediaman wanita j****g itu ! katakan aku ingin bertemu dan membahas pertunangan kami !" ucap Elbert dingin.
" Apa ? Kamu tidak salah bicara, El ....? " ujar Jhon begitu terkejut mendengar keputusan yang di ambil oleh Elbert.
" Tidak, aku serius ! Hubungi keluarganya dan katakan aku ingin menentukan tanggal pertunangan kami ! " ucap Elbert dengan wajah merah menahan rasa marah di hatinya.
" Tapi, El ... bukankah kamu tadi menyuruh Felicie untuk menunggu kamu ! Kenapa sekarang kamu malah memutuskan untuk bertunangan dengan wanita 🦊 itu ! " ujar Jhon tidak mengerti apa yang di pikirkan Elbert.
" Hmm ... ikuti saja kata - kataku ! Aku punya alasan sendiri !" ucap Elbert menatap Jhon dengan sorot mata tajam.
" Apa maksud kamu, El ... Jika kamu melakukan ini akan membuat Felicie menderita dan percaya bahwa semua berita itu benar !" ujar Jhon menentang keinginan Elbert.
" Lebih baik Felicie menderita sekarang dari pada dia harus menderita selamanya. Karena wanita j****g itu tidak akan pernah berhenti menganggu ku dan Felicie sebelum aku mau bertunangan dengannya ! " ucap Elbert.
Sebenarnya Elbert sudah mengambil keputusan ini sejak tadi ia berbicara dengan Felicie.
Saat ia minta Felicie untuk tidak membencinya karena harus mengambil keputusan yang ia sendiri tidak menyukainya.
Tapi Elbert terpaksa harus melakukannya. Karena Elbert yakin, hanya dengan inilah ia bisa membuktikan bahwa Claire telah menjebaknya. Elbert tahu, wanita j****g itu begitu terobsesi padanya.
Jika ia mendapatkan sedikit perhatian dari Elbert, pasti akan lebih mudah mencari bukti - bukti yang sudah ia hilangkan.
" Kamu yakin, El ... ?" tanya Jhon dengan dahi berkerut.
" Ya, aku ingin kau membantuku untuk menemukan bukti dari wanita s*****n itu ! " ucap Elbert dengan suara keras.
" Maksud kamu, El ... ?" tanya Jhon belum paham.
" Hmm ... jika aku tidak bertunangan dengannya. Dia pasti akan terus sembunyi dan menghindar dariku. Ini akan mempersulit kita untuk menemukan bukti - bukti yang sudah ia hilangkan. Beda, jika kami sudah bertunangan, ia akan merasa lebih aman dan yakin kalau aku tidak akan mencari lagi semua bukti - bukti kejahatannya, karena aku sudah menerima keinginannya. " ucap Elbert dengan wajah begitu dingin.
" Oh, Baiklah ... aku mengerti !" ujar Jhon sembari menganggukkan kepalanya setelah tahu kalau Elbert menerima pertunangan ini bukan karena ia menyerah tapi melainkan karena ingin menjebak Claire.
" Aku akan menghancurkan wanita j****g itu dengan tanganku sendiri ! Hingga dia menyesal karena berani menjebak ku. Rasa sakit di hati ku dan Felicie saat ini akan ku balas berlipat - lipat padanya !" ucap Elbert dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Claire sudah membangunkan sisi mengerikan di dalam diri Elbert yang sudah lama tertidur sejak bertemu dengan Felicie.
Ia kembali jadi sosok seperti saat Jhon pertama kali mengenalnya.
Tatapannya sedingin es dan tidak ada rasa empati sama sekali di sorot matanya itu.
" Kita pulang !" ucap Elbert setelah selesai menjelaskan maksudnya pada Jhon.
" Apa kita tidak menunggu Mark ?" tanya Jhon.
" Tidak ! Aku ingin beristirahat sejenak sebelum memulai perburuan ku !" ucap Elbert datar.
Jhon hanya bisa menghela nafas dengan berat melihat hal ini. Claire benar - benar salah besar.
Ia tengah menggali makamnya sendiri, dengan berani mengusik kehidupan Elbert yang sudah tenang.
" Baiklah ... aku akan memberitahu Mark kalau kita akan pulang ke mansion !" ujar Jhon.
" Hmm .... !" sahut Elbert kemudian berjalan keluar dari kamar yang membuatnya harus terpisah dari Felicie.
**********************************
Selamat membaca ... 😍
Semoga kalian menyukai setiap episode yang Mommy buat.
Jangan lupa like, vote dan koment yang positif. Jangan pernah bosan ya, sayangku 😍
Buat yang sudah setia dengan terus memberikan dukungannya,
Mommy ucapkan Terima Kasih ... 🙏🙏😘
Love You All ❤️❤️❤️
__ADS_1