Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 125


__ADS_3

Felicie dengan berat hati terpaksa berkumpul dengan rekan - rekan kerjanya hari ini, karena Niken tiba - tiba menghubunginya dan mengatakan kalau mereka ingin mengajaknya untuk nongkrong di - sebuah cafe baru yang lagi di gemari oleh masyarakat di kota ini. Baru setelah itu mereka melihat butik Felicie.


Padahal hari ini ia ingin sekali istirahat dan mengurung diri di kamar, mengingat hari ini adalah pernikahan dari Elbert dan Claire.


Pasti masyarakat akan lebih heboh dan antusias untuk menyaksikannya di bandingkan saat acara tunangan mereka waktu itu.


Meski ia sudah berusaha untuk tidak memikirkannya tapi tetap saja kini ada perasaan hampa di hatinya. Kali ini ia harus benar - benar mengikhlaskan cinta pertamanya di kubur untuk selama - lamanya di dasar hati paling dalam agar tidak ada yang mengetahuinya. Apalagi ia tidak ingin menyimpan rasa cinta pada pria yang sudah berstatus sebagai suami dari wanita lain. Syukurnya ia belum terlalu dalam mencintai pria itu.


Felicie memutus lamunannya, begitu melihat sudah waktunya ia keluar dari apartment karena Niken dan yang lain pasti sudah menunggu nya di parkiran.


Felicie buru - buru berjalan keluar dari gedung apartment nya.


" Feli, di sini ... !" panggil Sarah sembari melambaikan tangan melihat Felicie celingukan mencari mobil yang di bawa Niken.


" Ya ... " sahut Felicie singkat dan bergegas berjalan menuju mobil.


" Maaf, ya kak ... lama nunggu Feli ?" tanya Felicie gak enak sembari memaksakan senyum di wajahnya.


" Kami juga baru nyampe, Feli ... ! Udah, buruan masuk. Nanti kita gak kebagian tempat duduk di cafe itu !" ujar Niken.


Felicie pun masuk dan duduk di belakang bersama Debby dan Anne.


" Tenang, aku udah reservasi kemarin, begitu tahu kalau kita mau nongkrong di sana biar kita kebagian tempat duduknya. " sahut Sarah sembari tersenyum lebar.


" Keren kamu, Sarah ... kenapa kita gak kepikiran, ya ... ! Apalagi hari ini libur pasti ramai banget pengunjungnya." kata Debby mengacungkan kedua jempol nya ke arah Sarah yang duduk di - depan.


Sarah membalas dengan kedipan mata genit pada Debby.


" Btw, kog bisa mendadak hari ini ngumpulnya kak ? Feli kirain Minggu depan. Soalnya baru semalam kita ketemu di butik nyonya Megan. " tanya Felicie heran.


" Oh, karena beberapa Minggu ke depan kami gak bisa, Feli. Kemarin begitu kamu pulang dari butik, kami di panggil buat rapat sama nyonya Megan. Pesanan bulan ini lagi banyak - banyaknya. Terutama design yang kamu buat.


Jadi, mumpung semua hari ini pada bisa, kami mutusin aja buat kumpul." Niken menerangkan sambil tetap fokus menyetir mobil.


" Oh gitu ... " sahut Felicie sembari menganggukkan kepala.


" Iya, Fel ... kami bakalan lembur selama seminggu ini buat ngejar target yang udah di tetapkan oleh nyonya Megan. " ujar Niken lagi.


"Oh ya, Fel ... kenapa di butik kamu gak di buat design seperti yang kamu kerjakan di butik nyonya Megan. Jangan hanya khusus buat remaja dan wanita muda aja, tapi buat juga gaun pesta. Kakak jamin, pasti banyak yang beli di butik kamu." ujar Sarah memberikan masukan.


" Iya, Feli ... Sarah benar, tuh !" sahut Debby dan Anne bersamaan.


" Design yang kamu buat itu unik dan punya ciri khas sendiri. Kami aja gak bisa buat kaya gitu. Makanya begitu design kamu di keluarkan banyak yang langsung pesan. " ucap Sarah dengan wajah serius.


" Iya, Fel ... apa yang di katakan Sarah itu benar banget. Setiap design yang kamu buat begitu menarik. Itu sudah jadi ciri khas dari kamu. Jadi sayang kalau gak di lanjutkan. Kamu bisa buat brand sendiri untuk gaun pesta tanpa di gabung dengan pakaian yang ada di butik kamu. " ujar Niken.


" Hmm ... Felicie belum terpikir kearah sana kak. Felicie masih fokus dengan design yang Felicie buat sekarang. Lagi pula, Felicie


suka malas kalau berhubungan dengan orang - orang kaya di luar itu. Banyak banget keinginan dan protesnya. Dari pada jadi beban, mendingan ngerjain yang Felicie sukai aja. " kata Felicie dengan wajah datar, karena teringat akan peristiwa Claire yang mengancam menutup butik nyonya Megan, hanya karena ingin minta di buatkan gaun pengantin buatnya.


" Iya, juga sih ... kadang kakak juga malas kalau udah berhubungan dengan mereka. Banyak banget maunya." ujar Sarah memajukan bibirnya karena teringat pernah di marahi seorang istri p*j*bat, hanya disebabkan masalah sepele.


" Memang begitulah resiko kalau kita belum terlalu mempunyai nama. Tapi beda kalau nama kita udah sebesar designer - designer ngetop itu. Mau kita buat model gimanapun, tetap aja bagus di nilai oleh mereka dan langsung habis terjual. Intinya kita harus sabar dan terus belajar, agar karya kita bisa di hargai dan di sukai oleh semua orang. Tapi kalau kakak boleh ngasi saran, nanti jika kamu udah punya waktu yang lebih luang, kamu bisa mencoba membuat gaun - gaun pesta yang bagus dan berkelas. Kamu lihat, sejak design kamu banyak peminatnya, omset nyonya Megan dan butiknya makin di kenal banyak orang. Sayang, bakat kamu " ujar Niken bijak.


" Hmm ... iya, kak. Makasih buat sarannya. Nanti coba Felicie pikirkan lagi. " sahut Felicie dengan senyum tipis berusaha menghargai saran yang diberikan oleh Niken.


" Ya, sama - sama Fel ! " sahut Niken kemudian mencari tempat parkir. Mereka sudah tiba di cafe yang mereka tuju. Tapi sayangnya parkiran udah penuh. Padahal mereka sengaja berangkat lebih cepat agar dapat tempat parkir.


" Huh, udah penuh aja tempat parkirnya. Untung Sarah udah reservasi buat kita. Kalau gak, bakalan gak dapat meja kita !" omel Debby.


" Udah, kalian turun duluan. Biar gak jauh jalannya. Aku cari tempat parkir dulu. " suruh Niken sembari menghentikan mobilnya di depan pintu masuk cafe.


" Oke, boss ... hehehe. sahut Debby cepat dengan wajah senang karena ia tidak harus berjalan jauh.


Felicie, Sarah, Debby dan Anne pun keluar dari mobil Niken. Lalu masuk ke dalam cafe. Sementara Niken masih mencari tempat parkir buat mobilnya.


" G*l* ... penuh banget. Cafe ini benar - benar banyak peminatnya."


ujar Debby begitu mereka masuk kedalam cafe.

__ADS_1


Semua meja sudah terisi dengan pengunjung. Bahkan hingga lantai atas.


Cafe De' Brown ini terdiri dari dua lantai. Cafe di buat dengan design yang sangat bagus dan elegant.


Jadi, bukan hanya anak muda aja yang bisa nongkrong disini, tapi orang tua juga. Selain itu, menu yang disediakan juga beragam dan yang pasti katanya enak.


" Sar ... meja kita di mana ? " tanya Anne.


" Sepertinya di lantai atas, karena aku lihat meja di lantai ini udah terisi semua. " sahut Sarah.


" Oh ... iya kayanya. " ujar Anne sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah Sarah menyebutkan nama nya pada pelayan cafe yang mendatangi mereka, mereka pun di bawa ke lantai atas dan di antar ke meja yang sudah ia pesan.


" Oh, ya nona ... nanti ada teman saya satu lagi, namanya Niken. Dia masih cari tempat buat parkir mobilnya. Nanti tolong di antarkan kesini, ya ... !" ujar Sarah.


" Baik, nona Sarah !" jawab pelayan cafe dengan sopan, lalu beranjak pergi.


" Kita tunggu Niken datang baru mesan menunya, ya ... " kata Sarah.


" Okey ... !" sahut Felicie serentak dengan Debby dan Anne.


" Eh, mereka kog serius banget pada lihat tv itu, sih ?"tanya Anne dengan dahi berkerut, karena melihat pengunjung cafe pada fokus menatap televisi besar yang di sediakan pihak cafe.


" Oh, hampir aja aku lupa. Hari ini kan pernikahan sayangku Elbert di siarkan di televisi. Pantas aja mereka semua pada serius gitu wajahnya. Ayo, kita lihat juga ! Aku udah gak sabar pengen lihat wajah tampan Elbert. " ujar Debby dengan wajah sumringah menepuk jidatnya karena ia hampir melupakan hari penting yang sudah ia tunggu - tunggu sejak kemarin.


" Oh, iya, ya ... aku juga kog bisa lupa. " sahut Anne lalu mulai mengikuti Debby, melihat ke arah televisi.


" Kalian berdua nih ya, orang yang nikah, kog kalian berdua yang heboh. Lagian kamu, Deb ... kaya kenal aja sama Elbert !" ujar Sarah dengan wajah malas. Tapi meskipun begitu ia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Debby dan Anne. Sarah mulai melihat tv besar di depan mereka.


" Biarin, gak kenal juga. Aku cuma pengen lihat wajah sayangku yang tampan itu. Biar nanti malam aku bisa tidur nyenyak ... hahaha. " sahut Debby sembari tertawa lepas.


Sementara itu Felicie mencoba bersikap biasa begitu mendengar topik obrolan mereka. Ia berusaha untuk tidak ikut melihat tv, seperti yang mereka bertiga lakukan.


Meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan perasaan cintanya pada Elbert. Tapi tetap saja, hatinya terasa nyeri mendengar pernikahan mereka yang di nantikan oleh semua masyarakat di negara ini.


Bahkan Felicie bisa melihat, kalau semua mata yang ada di cafe ini begitu serius menatap ke arah tv.


" Huss ... jangan ribut. Bentar lagi acara nya mau di mulai." ujar Debby serius tanpa menoleh ke arah Niken.


" Acara apa sih, Fel ... ?" tanya Niken yang juga lupa mengenai pernikahan yang paling di nantikan oleh semua masyarakat hari ini. Sarah menatap Felicie yang sedang berusaha tetap terlihat bersikap biasa sembari mengernyitkan dahinya, karena Debby dan yang lain masih tetap fokus melihat tv.


" Hmm ... kata kak Debby hari ini pernikahan Tuan Elbert, kak ... ! " jawab Felicie berusaha tetap bersikap tenang.


" Oh, pantes ! Tadi di lantai satu pun pada heboh. " ujar Niken baru teringat akan peristiwa fenomenal ini.


Felicie memaksakan senyum di bibirnya mendengar perkataan Niken.


" Loh, kog kalian belum pada pesan, sih ?" tanya Niken melihat meja mereka yang masih kosong.


" Tadi, kami nungguin kak Niken, baru mesan menunya barengan." ucap Felicie lagi, karena baik Sarah maupun Debby dan Anne tidak ada yang menjawab pertanyaan Niken. Mereka masih serius menatap layar tv yang sedang menayangkan acara pernikahan Elbert dan Claire.


" Woi, pesan dulu ... aku udah lapar nih. Tadi karena buru - buru gak sempat sarapan. " Niken menepuk bahu Sarah dan Anne yang duduk di dekatnya.


" Hah, Oya ... aku juga udah mulai lapar. Gara - gara Debby, aku jadi ikutan bodoh !" ujar Sarah kesal.


" Ya udah, kita pesan aja dulu. Debby bakalan kenyang dia kalau udah melihat wajah Elbert."sahut Anne.


Felicie bisa bernafas dengan lega, saat pelayan mendatangi mereka dan mulai mencatat menu yang mereka inginkan.


" Nona, tolong minumannya di antarkan duluan, ya ... saya haus banget. " ucap Felicie. Ia memang butuh minuman itu sekarang. Kerongkongannya benar - benar terasa kering. Walau ia berusaha tidak perduli dan gak melihat ke arah layar tv, tapi ia bisa mendengar suara riuh yang menggema dari mereka yang begitu semangat menyaksikan siaran langsung pernikahan itu.


Rasanya ingin sekali Felicie bangkit dari kursinya dan beranjak pergi dari cafe ini. Tapi jika ia melakukan itu pasti Niken dan yang lainnya akan heran melihat sikapnya. Jadi, dengan sangat berat Felicie berusaha tetap bertahan di ruangan ini meskipun hatinya mendadak terasa sakit kembali. Untung saja pelayanan di cafe ini sangat baik, minuman yang di pesannya sudah di antar ke meja. Felicie segera meraih gelas dan meminumnya. Parasaannya sedikit lega ketika susu coklat hangat itu membasahi kerongkongannya.


" Sah ... !" kata - kata itu terdengar dan menggema di kepala Felicie.


Tanpa bisa ia cegah, Felicie pun melihat ke arah layar besar yang memperlihatkan wajah kedua pengantin yang sedang berbahagia, karena setelah kata - kata tadi, artinya Elbert dan Claire sudah resmi jadi sepasang suami isteri.


Begitu juga dengan Niken dan yang lain. Mereka langsung melihat ke arah layar yang sedang di lihat oleh Felicie.

__ADS_1


" Wah, ganteng banget sayangku Elbert. Senyumnya itu membuat aku rela gak makan seminggu !" ujar Debby begitu semangat saat melihat wajah Elbert yang memang begitu tampan.


" Huh, akhirnya wanita sombong itu jadi istrinya Elbert. Pasti setelah ini sikapnya akan semakin semena - mena !" gumam Sarah dengan wajah gak senang.


" Iya, kamu benar, Sar ! Belum jadi istrinya aja sikapnya udah kaya gitu. Gimana sekarang udah sah !" sahut Niken menimpali.


" Tapi, mau bagaimanapun sikap wanita itu, saat ini ia menjadi pemenangnya diantara wanita lain nya. Dia wanita yang paling beruntung karena sudah menjadi isteri dari pria yang paling diinginkan semua wanita di negara ini. Bahkan mungkin wanita di negara lain, mengingat Elbert adalah seorang pengusaha sukses dan sangat kaya." ujar Anne sembari mendengus.


" Hmm ... kamu benar Anne !" sahut Niken dan Sarah acuh, karena mereka tidak menyukai Claire yang pernah mengancam menutup butik tempat mereka bekerja.


Wajah Claire begitu bahagia saat Elbert telah selesai mengikrarkan janji suci pernikahan mereka. Sekarang dia sudah menjadi istri sah dari seorang Elbert Marshall.


Berbanding terbalik dengan Elbert, ia terlihat menahan amarah meskipun ia harus memaksakan senyumnya agar Claire tidak menaruh curiga. Pada akhirnya dia harus menikah dengan wanita yang paling ia benci dan harus mengorbankan hati dan perasaan wanita yang sangat dicintainya, Felicie.


Padahal seumur hidupnya ia selalu memimpikan untuk menikah dengan Felicie, wanita yang akan menemaninya hingga ajal memisahkan mereka.


Tapi karena kesalahannya, akhirnya ia harus kehilangan semua itu dan malah terjebak dalam pernikahan memuakkan ini.


Apalagi ia harus bersikap seakan - akan ia menikmati pernikahan ini agar Claire yakin padanya jadi Elbert bisa dengan cepat menemukan bukti itu. Lalu ia bisa segera mengakhiri pernikahan menjijikkan ini.


Elbert menutupi perasaan sakit di dadanya, membayangkan Felicie melihat langsung tayangan pernikahan ini.


Felicie yang masih menatap layar besar itu bisa melihat wajah keduanya yang terlihat bahagia. Hatinya terasa sakit kembali melihat wajah Elbert yang tersenyum. Tiba - tiba kepalanya terasa kosong. Semuanya mendadak terlihat kabur di matanya. Ternyata meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tegar, tapi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Tetap saja ada rasa perih yang menghujam jantungnya.


Felicie menengadahkan wajahnya ke atas untuk mencegah butir - butir air mata yang tiba - tiba mendesak ingin keluar.


" Fel, kamu kenapa dek ?" tanya Niken yang melihat sikap Felicie yang aneh. Terlebih lagi ia melihat wajah Felicie yang berubah pucat.


Felicie hanya diam, tak menjawab pertanyaan Niken. Ia masih berusaha agar air matanya jangan sampai jatuh. Ia tidak ingin mereka mengetahui kalau ia sedang menutupi hatinya yang hancur. Ia kemudian menghirup udara dengan rakus agar bisa melegakan hatinya, lalu menghempaskannya dengan kuat. Ia berharap beban yang sedang di rasakannya saat ini ikut pergi menjauh.


" Feli ... kamu bodoh ! Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak menangis dan memikirkan pria itu lagi ! Ingat hidupmu lebih berharga ! Kamu harus jadi wanita yang kuat dan sukses agar tidak ada lagi pria atau siapapun yang bisa menyakiti kamu lagi !" suara ini berteriak di kepala Felicie dengan kencang.


" Feli ... !" Niken menggoyang bahu Felicie dengan wajah cemas karena tidak mendapat tanggapan darinya.


Mendengar suara Niken membuat Sarah, Anne dan Debby ikut menatap wajah Felicie.


" Ya, kenapa kak ?" sahut Felicie dengan senyum kecil di sudut bibirnya setelah bisa menguasai dirinya kembali.


" Tadi wajah kamu pucat banget ! " ujar Niken masih menatap dengan khawatir.


" Iya, kamu kenapa Feli ?" tanya Sarah gak kalah cemas.


Sementara Anne dan Debby menganggukkan kepala mendukung perkataan kedua temannya.


" Ah, kak Niken salah lihat kali. Feli, gak kenapa - napa. Tadi hanya sedang terpesona aja melihat kemewahan pernikahan Tuan Elbert dan istrinya. Gaun pengantinnya sangat indah. Feli jadi ingin suatu saat bisa membuat gaun pengantin yang indah buat teman - teman Felicie." jawab Felicie sengaja berbohong.


" Kamu beneran gak papa ? Kamu gak bohong ?" tanya Niken masih belum yakin.


" Iya kak ... lagian ngapain juga Felicie bohong sama kakak. " kata Felicie dengan wajah serius agar lebih meyakinkan mereka.


" Tapi tadi kamu ... " Niken belum menyelesaikan perkataannya, suara handphone Felicie berbunyi.


" Bentar kak ... !" ucap Felicie lalu menjawab panggilan masuk di handphonenya yang ternyata dari pemasok kain yang sedang ia butuhkan.


" Ya, baiklah ... saya akan segera kesana !" ucap Felicie serius ketika menjawab suara yang bicara dengannya, lalu segera menutup panggilan itu setelah ia selesai berbicara.


" Siapa Feli ?" tanya Sarah penasaran.


" Supplier kain kak ... mereka mau ketemu Felicie sekarang juga. Maaf, kayanya hari ini Felicie gak bisa ngumpul bareng kalian semua. Mungkin setelah kalian gak sibuk lagi, kita bisa atur jadwal buat ngumpul lagi. " ucap Felicie sembari bangkit dari tempat duduknya.


" Yah, batal deh kita ke butiknya kamu, Feli ... !" ujar Anne yang sudah berangan - angan ingin membeli beberapa pakaian di butik Felicie.


" Tenang aja, kak ... nanti Felicie kirim foto pakaian yang ada di butik saat ini. Nanti kalau ada yang kakak suka akan Felicie sisihkan. Hari ini biar Feli yang traktir ya ... kebetulan ada rezeki. " Felicie lalu menaruh beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar makanan dan minuman yang mereka pesan.


" Aduh, kami jadi gak enak nih, Feli . Mana makanan kamu belum datang lagi." ujar Sarah.


" Gak papa, kak ... udah ya, Feli pergi sekarang. Takutnya mereka gak sabar nungguin. Bye ... " kata Felicie kemudian berjalan menjauh dari mereka berempat.


" Makasih deh kalau gitu, Feli ... " ujar Niken dan yang lain secara bersamaan sembari menatap kepergian Felicie.

__ADS_1


Felicie berjalan dengan langkah lebar. Ia ingin segera keluar dari cafe ini. Mungkin dengan pergi cafe, perasaannya akan jadi jauh lebih baik, karena ia gak harus melihat dan mendengar lagi mengenai pernikahan Elbert.


**********************************


__ADS_2