
Felicie sudah berjanji pada dirinya untuk tidak larut dalam kesedihan.
Ia tahu untuk melupakan seseorang mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi orang itu sudah sangat berarti dalam kehidupannya beberapa bulan ini. Ia memang butuh waktu tetapi ia juga harus realistis, cinta tidak dapat di paksakan. Elbert sudah memilih pasangan hidup buatnya. Mungkin Elbert bukanlah pria yang terbaik untuknya. Jalannya masih panjang, apalagi usianya juga masih muda, banyak yang harus ia raih dalam hidup ini.
Walaupun tak bisa ia pungkiri hatinya masih terluka atas ketidakjujuran Elbert. Tapi ia berusaha untuk tidak terlalu terpuruk lagi seperti kemarin. Meski ia juga tidak tau kapan luka dihatinya ini akan sembuh. Tapi ia berharap semoga dengan berjalannya waktu ia akan lebih membaik dan perlahan bisa melupakan rasa cintanya pada Elbert.
Felicie menghela nafas lega setelah berhasil melewati mata kuliahnya dengan lancar dan ia baru menyadari bahwa kini ia hanya tinggal sendiri di dalam kelasnya. Mungkin karena ia tadi melamun hingga gak sadar akan hal ini.
Felicie lalu berjalan keluar dari dalam kelasnya. Ia ingat hari ini, Airin dan Devan ingin mengatakan sesuatu padanya. Walaupun ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Airin padanya. Pasti mengenai Elbert.
Ia sudah meyakinkan dirinya untuk terlihat baik - baik saja di depan mereka.
Tanpa berniat membuang waktu, ia segera menuju tempat mobilnya terparkir. Sebenarnya ia enggan menggunakan mobil ini karena akan selalu mengingatkannya tentang Elbert. Tetapi ia berusaha untuk mengenyampingkan perasaan itu karena ia juga membutuhkan mobil itu untuk transportasi nya selama kuliah disini.
Felicie buru - buru menjalankan mobil menuju cafe tempat ia janjian dengan teman - temannya.
Ia ingin segera menuntaskan pembicaraan mereka agar bisa segera pergi ketempat magangnya. Felicie menyukai tempat itu.
Ia melihat mobil Devan dan Dave sudah terparkir di depan cafe. Ia menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan keras. Ia ingin semua masalahnya bisa ikut terbuang dengan melakukan itu.
Ia melihat wajahnya sejenak di kaca spion sebelum memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Ia tidak ingin Airin bisa melihat jejak tangis sisa semalam di wajahnya.
Setelah melihat tidak ada yang aneh di wajahnya, Felicie lalu memutuskan untuk keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam cafe. Ia melihat Airin melambaikan tangannya seraya memanggil namanya.
" Feli ... buruan ! " ujar Airin gak sabar.
Felicie tersenyum tipis seraya menghampiri mereka. Ia bisa melihat Dave sedang menatap wajahnya dengan serius. Mungkin Dave ingin melihat apakah ia masih bersedih atau sudah lebih baik dari kemarin.
" Ada apa, Rin ... langsung aja Lo mau cerita apa ke gue ? Gue gak bisa lama, ... mau buru - buru ke - butik ! " ucap Felicie.
" Iya, duduk dulu !" ujar Airin seraya menatap sedih ke arah Felicie.
Felicie pun duduk di sebelah Dave yang terus saja menatapnya.
" Udah buruan ! Apa yang mau lo kasi tahu ke gue ?" ucap Felicie pura - pura gak tahu.
Airin dan Devan terlihat saling melirik mendengar perkataan Felicie. Mereka menghela nafas pelan.
__ADS_1
Sedangkan Dave begitu kagum melihat Felicie yang sudah terlihat jauh lebih tenang dan bisa menutupi perasaan sedihnya. Padahal ia melihat sendiri bagaimana semalam Felicie begitu terluka.
" Hmm ... apa Lo beneran belum melihat berita di internet ataupun media lainnya ? " tanya Airin.
" Belum ... ! Gue kan udah bilang ke Lo kalau gue belum punya waktu melihat begituan." ucap Felicie berbohong.
Airin terlihat sangat tertekan karena hal ini. Sebenarnya ia gak tega mengatakan berita tentang Elbert pada Felicie tapi ia gak ingin sahabatnya harus dibohongi dan menunggu pria yang tidak bertanggung - jawab itu.
" Hei, Lo jadi cerita apa gak ? Kalau gak gue cabut, nih ... !" ucap Felicie sengaja karena ia ingin buru - buru pergi dari tempat ini karena ia takut hatinya jadi lemah kembali kalau mendengar tentang Elbert.
" Jadi ....Jadi Feli ! Tapi janji dulu sama gue kalau Lo akan kuat dan tetap baik - baik aja setelah mendengar cerita yang mau gue sampaikan sama Lo !" ujar Airin menatap mata Felicie.
Sementara Devan melihat Felicie dengan tatapan iba. Ia gak menyangka kalau sahabat terbaiknya ini harus mengalami hal itu. Padahal ia sudah begitu yakin kalau Elbert benar - benar mencintai Felicie. Tapi ternyata benar kita tidak akan tahu sifat seseorang kalau baru sebentar mengenalnya.
" Hmm ... ribet amat, sih ! Ya, udah gue janji ! Mau cerita apa Lo ?" ucap Felicie berusaha menekan perasaan sesak di dadanya.
" Elbert ... dia sudah punya tunangan. Dia tertangkap kamera sedang berduaan dengan tunangannya itu di sebuah kamar hotel. " Airin menghentikan omongannya melihat reaksi Felicie.
Airin heran melihat wajah Felicie terlihat biasa saja bahkan terkesan lebih dingin dari biasanya.
Devan juga gak menyangka kalau reaksi Felicie biasa aja.
Airin lalu melanjutkan omongannya. Ia mengatakan semua kejadian yang ia lihat di - berita sampai selesai. Tapi ia begitu terkejut melihat tanggapan Felicie yang biasa saja. Bahkan ia gak melihat wajah Felicie berubah sedikitpun. Ia masih sama seperti tadi, dingin.
" Lo, gak papa kan Feli ?" tanya Airin dengan nada khawatir.
" Hmm ... memang gue harus gimana ? Ya, gue gak papa ! Wajar Elbert tunangan. Dia bukan siapa - siapa gue. Kami hanya berteman selama ini." ucap Felicie datar.
Padahal Felicie sedang menahan perasaan sedihnya yang kembali memenuhi hatinya.
" Gak bisa kaya gitu, Feli ... Elbert sudah berkhianat ! Dia sudah bilang pada gue dan Devan kalau dia mencintai kamu dan akan menjagamu selamanya. Tapi kenapa dia malah melakukan hal menjijikkan itu !" ujar Airin gak terima. Ia yang emosi melihat Elbert mengecewakan Felicie seperti ini.
" Rin ... mungkin waktu itu Elbert hanya terbiasa dengan gue. Jadi dia terbawa perasaan dan lupa kalau sudah punya tunangan. Lagi pula gue gak pernah membalas perasaannya. Wajar saja kalau dia melanjutkan hubungannya dengan tunangannya. " ucap Felicie berusaha tersenyum.
" Tapi Feli ... Elbert bilang dengan yakin sama gue kalau dia sudah cinta sama Lo dari dulu." ujar Airin tetap gak terima dengan perbuatan Elbert.
" Hmm ... udah, Lo tenang ya ... ! Gue gak papa, kog ... ! " ucap Felicie.
__ADS_1
" Feli ... Lo gak usah bohong sama gue. Lo juga udah suka kan sama Elbert ?" Airin masih mencecar Felicie dengan pertanyaannya.
" Hahaha ... Lo jangan bercanda, Rin ... ! Gue akui memang gue nyaman dengan adanya Elbert tapi bukan berarti gue suka dengan dia. Lo, kan tahu tujuan gue datang ke sini buat belajar biar bisa cepat selesai dan kembali ketanah air. Lagi pula gue masih belum ingin menjalin hubungan dengan seorang pria setelah gue berpisah dengan Aaron. Gue masih ingin menjalani kehidupan gue yang bebas tanpa ada ikatan dengan siapapun." Felicie dengan lancar berbohong agar Airin percaya dengan perkataannya kalau ia tidak menyukai Elbert.
Dave hanya bisa diam mendengar semua kebohongan yang dikatakan Felicie. Sekarang Dave mengerti kalau Felicie benar - benar terluka. Ia hanya berusaha agar terlihat baik supaya mereka tidak curiga kalau ia sedang menyimpan perasaan nya yang hancur karena Elbert.
Tapi yang tidak Dave mengerti siapa Aaron yang dikatakan Felicie tadi ? Ternyata ada rahasia lain di kehidupan Felicie yang belum ia ketahui.
Airin langsung terdiam mendengar perkataan Felicie. Ia tidak tahu harus berkata apa - apa lagi. Walaupun Felicie berusaha menyangkal semua tapi ia baru menyadari kalau sebenarnya Felicie berusaha menutupi perasaan sedihnya. Airin kini bisa melihat dari mata Felicie yang dingin tapi terlihat kosong.
" Baiklah ! gue akan bersikap seakan gue gak tahu kalau hati Lo sedang terluka. Gue dan Devan akan membuat Lo melupakan rasa sakit yang di buat oleh Elbert !" batin Airin.
" Feli ... aku tahu kamu wanita yang kuat. Jadi tetaplah seperti itu ! Okey ... !" ujar Devan yang diam sedari tadi. Ia tahu dan bisa melihat di balik sikap Felicie yang berusaha terlihat baik - baik saja, ia menyembunyikan kesedihannya di balik sikap dinginnya.
" Hee ... Okey ! Lo udah selesaikan, Rin ... ? Gak ada yang mau di sampaikan lagi sama gue. Kalau iya, gue mau buru - buru pergi magang. " ucap Felicie.
" Hmm ... ya. Sudah gak ada lagi yang mau gue sampaikan sama Lo." ujar Airin dengan nada prihatin.
" Okey, kalau gitu ... gue pergi ya !" ucap Felicie seraya bangkit dari tempat duduknya.
Devan dan Airin hanya bisa menganggukkan kepala mereka tanpa berniat menahan Felicie. Mereka tahu mungkin dengan banyak kesibukan Felicie bisa melupakan sedikit kesedihannya.
" Tunggu Feli ... kita bareng aja keluarnya. Aku mau sekalian pulang ke rumah. " ujar Dave ikut bangkit.
Felicie tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala.
" Bye Dev, Rin ... !" ujar Dave singkat.
" Bye ... !" sahut mereka berdua.
Felicie dan Dave kemudian berjalan bersama keluar dari cafe, tanpa ada yang berniat untuk bicara. Dave sengaja membiarkan keheningan yang terjadi agar Felicie bisa lebih menenangkan perasaannya.
" Dave, gue duluan ya !" ucap Felicie setelah berdiri di dekat mobilnya.
" Feli ... keep strong, okey !" ujar Dave sembari tersenyum memberi semangat sebelum Felicie menjalankan mobil meninggalkannya.
" Okey ... bye !" ucap Felicie melambaikan tangan kemudian mulai menjauh dari Dave yang masih terus berdiri melihat hingga mobil Felicie hilang dari pandangannya.
__ADS_1
" Aku akan menemanimu dan membuatmu sembuh dari luka yang di sebabkan oleh Elbert !" gumam Dave lirih lalu ia pun memacu mobilnya meninggalkan cafe.
**********************************