
Felicie berusaha konsentrasinya tidak terganggu dengan perkataan Elbert kemarin.
Perasaanya masih tetap saja gak enak. Ia masih kepikiran dengan mimpi dan kata - kata Elbert. Walaupun sedikit sulit tapi ia berusaha agar tetap beraktivitas seperti biasa. Kuliah, lalu melanjutkan usaha yang di titipkan Elbert padanya.
Selain itu ia juga mulai magang hari ini, pada seorang designer di sebuah butik yang lumayan terkenal di kota tempatnya tinggal. Apalagi ia di berikan dispensasi karena masih kuliah Felicie boleh datang siang harinya. Rasanya sayang, bakatnya yang bisa mendesign pakaian di biarkan begitu saja.
Apalagi awalnya ia memang ingin kuliah jurusan design di Paris.
Dave melihat Felicie dengan tatapan iba dari kejauhan. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Felicie saat melihat berita mengenai Elbert.
Walaupun ada rasa senang juga dalam hatinya, karena itu berarti dia memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan hatinya Felicie, setelah apa yang di lakukan Elbert. Tapi ia segera menghalau pikirannya itu. Saat ini yang paling penting baginya adalah menghibur Felicie, agar jangan bersedih.
Meski Felicie tidak terlalu memperlihatkan rasa sukanya pada Elbert, tapi Dave tahu kalau sebenarnya Felicie juga menyukai Elbert.
Dave yang sedang melamun sembari terus menatap Felicie terkejut begitu bahunya di tepuk oleh seseorang.
" Hmm ... berarti kau juga sudah melihat berita itu ! " ujar Devan dengan nada prihatin. Sementara Airin berdiri di sampingnya dan menatap Felicie dengan mata berkaca - kaca.
Ia nggak menyangka Felicie akan mengalami hal seperti ini lagi.
Padahal ia sudah sangat yakin kalau Elbert adalah pria yang cocok buat Felicie dan mencintainya dengan tulus. Tapi ternyata dugaannya salah.
Namun meskipun begitu ia masih belum merasa yakin kalau berita itu sepenuhnya benar, sebelum Elbert memberikan konfirmasi di media.
" Ya, apakah Felicie sudah melihatnya juga ?" Devan balik bertanya pada mereka.
" Kami belum tahu !" ujar Devan sembari menggelengkan kepalanya, karena sejak Felicie membawa kendaraan sendiri ke kampus, mereka hanya ketemu saat pulang kuliah saja. Selebihnya Felicie sibuk mengurus tokonya hingga malam hari. Jadi waktu mereka bertemu dan ngobrol hanya sedikit.
" Aku nggak habis pikir kenapa Elbert tega melakukan hal ini ! Padahal ia terlihat begitu mencintai Felicie. Kalau tahu begini jadinya, dari awal aku tidak akan pernah mendukungnya !" ujar Airin dengan wajah marah.
" Hmm ... sudahlah, Rin. Kita masih belum tahu, apakah berita itu benar atau hanya sekedar gosip saja !" ujar Devan berusaha menenangkan Airin.
" Apanya yang nggak benar ! Udah jelas - jelas itu wajahnya Elbert ! Dia sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah ! Tapi dengan beraninya dia masih mendekati dan membohongi Felicie ! " ujar Airin.
" Lagi pula dari awal dia udah gak jujur pada Felicie tentang siapa dirinya. Dia hanya mengatakan punya usaha kecil. Tapi ternyata dia adalah pengusaha besar dan terkenal di negara ini ! Apa dia takut kalau Felicie akan mencari kesempatan untuk memanfaatkan kekayaannya jika tahu, dia orang punya banyak uang !" sambung Airin begitu geram ketika mengatakan hal ini.
Kemudian Airin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Felicie yang sedang duduk di bangku taman kampus.
Dave dan Devan menghela nafas dengan berat setelah mendengar perkataan Airin, sembari mengikuti langkahnya untuk menghampiri Felicie yang masih terlihat asyik menggambar sesuatu di sebuah buku.
" Hey, Feli ... kamu jadi magang hari ini ?" tanya Dave langsung begitu sudah berdiri di dekat Felicie lalu meneliti wajah Felicie dengan serius. Begitu juga dengan Airin dan Devan.
Ia ingin mencari sesuatu di sana, tapi Dave tidak menemukan apa yang sedang ia cari.
" Hmm ... berarti Feli belum melihat berita itu ? " batin Dave sembari melihat Felicie dengan tatapan iba.
" Hei, kog, kalian bisa barengan keluarnya ? Eh, kamu tadi nanya apa, Dave ... ?" tanya Felicie heran menatap ketiganya
" Ya ... Sepertinya Felicie belum mengetahui berita mengenai Elbert ! Baguslah !" gumam Dave dalam hati dengan perasaan lega.
" Oh, kamu jadi magangnya ?" Dave mengulang pertanyaannya.
" Jadi, Dave ... !" sahut Feli singkat.
" Elo, gak lelah apa ? Pagi kuliah, pulang kuliah langsung magang. Terus sorenya jaga toko !" ujar Airin kemudian duduk di sebelah Felicie berusaha bersikap biasa agar Felicie gak curiga.
" Hmm ... enggaklah. Dari pada bengong di rumah, mendingan gue ada aktivitas lain." ucap Felicie berusaha bersikap santai.
" Tapi waktu kita makin sedikit, dong buat ketemuannya ... hehehe! " Dave sengaja bercanda.
" Hee ... ya, kamu cari aktivitas lain juga, dong ! Setahun lagi kamu kan udah mau selesai. " kata Felicie.
" Benar juga kata kamu, Feli ... ini aja mata kuliahku tinggal sedikit." ujar Dave menyetujui omongan Felicie.
__ADS_1
" Hmm ... kenapa kamu gak magang di perusahan orang tua kamu aja, Dave ... lumayan kan, jadi begitu tamat kuliah, kamu udah nggak kesulitan menjalankannya." ucap Felicie memberi saran.
" Justru aku gak suka kalau harus nerusin perusahaan Daddy. Aku malah ingin buka usaha sendiri, nantinya. Gimana kalau kita buka usaha bersama ? "ujar Dave tiba - tiba, karena mendapatkan sebuah ide yang bagus.
" Oh ... hehehe ! Aku masih lama selesai kuliah nya. Baru juga semester awal. Sayang, kalau kamu harus buang waktu buat nungguin aku !" ucap Felicie tertawa kecil.
" Feli ... ada hal penting yang mau gue sampaikan sama Lo !" ujar Airin tiba - tiba saja.
Mendadak Airin berubah pikiran. Bagaimanapun Felicie harus mengetahui kebenaran mengenai Elbert agar ia tidak terlalu terluka.
Dave dan Devan berusaha menutupi perasaan terkejut mereka saat mendengar omongan Airin.
" Gak bisa, ntar aja ... gue mau buru - buru pergi ke butik ! Hari ini hari pertama gue ... jadi gak boleh sampai telat !" ucap Felicie lalu bangkit dari tempat duduknya.
Dave dan Devan langsung lega mendengar jawaban Felicie. Bagaimana pun saat ini bukan waktu yang tepat buat memberitahu Felicie mengenai berita yang menyakitkan itu.
" Tapi ini penting banget, Feli ... !
Apa Lo belakangan ini ada ngeliat berita di televisi atau di internet ?" tanya Airin menatap wajah Felicie, dengan tatapan iba.
" Gak lah ... gak sempat gue ! Lo, kan tahu sendiri, kalau udah nyampe apartment yang paling penting buat gue adalah tidur. " ucap Felicie.
" Jadi Lo belum lihat berita tentang .... !" perkataan Airin langsung di potong oleh Dave.
" Udah, katanya takut telat, tapi kog masih berdiri disini ! " ujar Dave.
" Eh, iya ... gara - gara Lo, nih Rin ... Udah, gue pergi ya ! Bye ... " ucap Felicie sembari bergegas menuju mobilnya di parkir meninggalkan mereka bertiga, yang terus menatapnya dengan pandangan yang penuh makna.
Setelah Felicie pergi dari kampus, Dave pun langsung menegur Airin.
" Rin ... sebaiknya kamu jangan sampaikan berita itu dulu pada Felicie ! " ujar Dave.
" Enggak, kamu dan Devan salah. Kalau menurutku malah lebih baik kalau Felicie segera mengetahuinya sebelum perasaannya terlalu dalam pada Elbert. Aku gak mau sahabat ku terluka lagi !" ujar Airin gak setuju.
" Kapan waktu yang tepat menurut kalian ! Apa sampai Elbert menikah dengan wanita itu ! Justru nanti Felicie akan lebih sakit jika melihat hal ini !" bantah Airin dengan wajah kesal.
Devan dan Dave terdiam begitu mendengar omongan Airin. Mereka tidak berkata - kata lagi. Apa yang di katakan Airin benar.
Justru akan lebih sakit jika Felicie melihat berita tentang pernikahan mereka di bandingkan berita yang sedang beredar sekarang.
" Pokoknya hari ini juga, begitu dia selesai magang , kita bertiga akan memberitahu Felicie ! " ujar Airin dengan tegas.
Dave dan Devan hanya bisa menganggukkan kepala dan menyetujui omongan Airin.
Felicie yang baru saja sampai di butik, segera mendatangi seorang wanita yang berdiri di lobby sembari melihat dengan antusias handphone di tangannya.
" Maaf, nona ... apa saya bisa ketemu dengan Nyonya Megan Smith ?" ucap Felicie dengan sopan.
Wanita itu pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Felicie dengan seksama.
" Hmm ... kamu ada keperluan apa ingin menemui Nyonya Megan ? " tanyanya kemudian.
" Saya Felicie ... saya seorang siswa baru buat magang di butik ini !" ujar Felicie menjelaskan.
" Oh, kamu Felicie Harsaka ! " tanya wanita itu.
" Ya, nona ... saya Felicie Harsaka." jawab Felicie tersenyum tipis.
" Kalau begitu mari ikuti saya !" ujar wanita yang bernama Jenny, peranakan Korea - Amerika.
" Baik ... !" sahut Felicie sembari menganggukkan kepalanya.
Jenny lalu berjalan yang di ikuti oleh Felicie. Felicie berusaha menutupi perasaan kagumnya saat melihat begitu banyak gaun yang indah dan elegan di pajang
__ADS_1
di dalam butik ini. Mereka berdua kemudian menaiki lift menuju lantai tiga.
" Kamu tunggu di luar sebentar ! Saya akan memberitahu nyonya Megan." ujar Jenny setelah mereka sampai di depan ruangan nyonya Megan sembari mengetuk pintu.
" Baiklah !" ucap Felicie.
Felicie berdiri menunggu di luar ruangan sembari memperhatikan sekitarnya.
" Kamu di suruh masuk ! " ujar Jenny setelah berbicara pada nyonya Megan.
" Baik, terima kasih !" ucap Felicie.
Felicie mengetuk pintu terlebih dahulu, dan setelah mendengar suara yang ada di dalam ruangan mempersilahkan dirinya untuk masuk, Felicie pun segera membuka pintu itu.
Felicie sangat takjub begitu melihat betapa cantiknya wanita yang ada di hadapannya sekarang. Ia terlihat anggun dan sangat berkelas. Walaupun usianya tidak lagi muda, sekitar empat puluh tahunan lebih tapi jejak kecantikannya masih terlihat dengan jelas.
" Silahkan duduk !" ujar Nyonya Megan dengan senyum ramah di bibirnya begitu melihat Felicie.
" Baik, terima kasih nyonya !" ucap Felicie sopan sembari tersenyum.
" Hmm ... usia kamu masih sangat muda tapi saya bisa melihat dan sangat yakin dari design yang kamu berikan sebagai resume kepada saya, bahwa kamu suatu saat akan jadi seorang designer yang hebat !" ujar Nyonya Megan.
Hati Felicie tentu saja sangat senang mendengar pujian ini. Ia sebenarnya memang sangat menginginkan menjadi seorang designer handal tapi karena rasa tanggung jawabnya pada perusahaan almarhum Papa nya, ia lebih memilih mengambil jurusan ekonomi dan bisinis.
" Terima kasih, nyonya ....!" ucap Felicie.
" Hmm ... selamat datang dan selamat bergabung di butik ini ! Semoga kamu bisa memberikan karya yang terbaik selama kamu magang di tempat saya ! " ujar Nyonya Megan sembari mengulurkan tangannya pada Felicie.
" Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah nyonya berikan pada saya. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar nyonya tidak kecewa karena telah menerima saya di butik ini !" ucap Felicie membalas uluran tangan nyonya Megan.
" Hmm ... baiklah, sekarang kamu sudah bisa langsung bekerja. Kamu temui wanita yang mengantarkanmu tadi kesini. Dia akan menunjukkan ruangan buat kamu !" ujar Nyonya Megan.
" Baik, Nyonya Megan ... terima kasih. Kalau begitu saya permisi !" ucap Felicie sembari menundukkan kepalanya sedikit sebelum keluar dari ruangan nyonya Megan yang ternyata begitu baik.
Megan menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Felicie.
Felicie mencari wanita yang telah membantunya tadi. Ia tersenyum lega saat menemukannya.
" Maaf, nona ... nyonya Megan meminta nona untuk ... !" belum lagi Felicie menyelesaikan perkataannya sudah di potong oleh Jenny.
" Mari, ikuti saya ! " ujar Jenny.
Felicie menganggukkan kepalanya dan mulai mengikuti langkah Jenny. Mereka turun ke lantai dua.
Ternyata ia bergabung dengan beberapa orang lainnya.
Suasana yang tadinya agak lumayan riuh, mendadak hening begitu melihat keberadaan Jenny dan Felicie. Mereka memperhatikan wajah Felicie dengan seksama.
" Ini Felicie, mulai hari ini dia akan magang di butik ini. Jadi, kalian harus bersikap baik dan bekerja sama dengannya. " ujar Jenny dengan wajah serius.
" Baik, nona Jenny ... !" jawab mereka serempak.
" Ini meja buat kamu ! " ujar Jenny,
setelah Felicie selesai mengenalkan dirinya pada semua
nya.
" Baik, terima kasih nona ." ucap Felicie tetap semangat meskipun
di ruangan ini ia tidak sendiri.
Jenny lalu pergi meninggalkan Felicie yang memulai aktivitas barunya.
__ADS_1
**********************************