Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 83


__ADS_3

Devan mengirimkan pesan pada Airin agar sedikit menjauh dari Elbert dan Felicie. Ia ingin menyampaikan sesuatu pada Airin agar rencananya berhasil.


Setelah Devan menyampaikan apa yang ia inginkan, mereka kembali


bergabung dengan Felicie dan Elbert.


" Feli, karena ini malam pertama Lo berada disini, gue dan Devan akan menemani elo. Kami akan nginap disini juga. " ucap Airin.


" Hah, gue gak papa kog, udah biasa juga tidur sendiri. Nanti


ngerepotin elo berdua. " ujar Felicie.


" Gak ... pokoknya gue dan Devan akan tidur di apartment Lo.


Elo gak boleh nolak. " ucap Airin sambil cemberut.


" Rin, apartment gue gak senyaman apartment Lo. Nanti elo gak bisa tidur. " kata Felicie.


Elbert melihat kearah Devan dengan tatapan minta penjelasan. Tapi Devan hanya tersenyum tipis


dan memberi isyarat agar Elbert melihat apa yang terjadi.


" Gue yang penting ada kasur, pasti langsung tidur. Lagi pula


siapa yang bilang kalau apartment Lo gak nyaman. Semua perabotan yang ada disini udah yang terbaik. Bedanya apartment gue cuma lebih luas aja. Tapi kalau masalah kenyamanan sama aja. Jadi gue gak terima alasan penolakan dari elo. " ujar Airin ngotot.


Felicie tahu, Airin kalau sudah menginginkan sesuatu ia pasti akan berkeras. Sebagai anak tunggal ia terbiasa di manja oleh kedua orang tuanya. Jadi, meskipun ia lembut tapi sedikit keras kepala.


" Hmm ... baiklah. " sahut Felicie sembari menghela nafas pelan.


" Gitu, dong ... jadi nanti kita bisa


ngobrol sepuasnya. " ujar Airin senang.


" Rin ... gue akan kuliah di kampus yang sama dengan Lo dan Devan. Tiap hari juga bakalan jumpa. Jadi, alasan elo gak masuk akal !" Felicie memandang Airin dengan tajam.


" Satu kampus bukan berarti tiap hari bisa ketemu, Felicie ... elo kan harus mengulang pelajaran yang tertinggal. Nah, jam kuliah kita pasti banyak yang gak sama. Jadi sebelum elo dapat jadwal kuliah, kita harus merayakan kedatangan elo dan Elbert hari ini. " Airin mencari alasan yang tepat.


Devan menahan senyum mendengar perkataan Airin. Tunangannya ini memang cerdik.


" Ya udah ... terserah Lo aja.


Gue lagi malas debat. Sekarang sebaiknya elo tunjukkan tempat - tempat yang penting disini, biar gue gak susah nanti kalau perlu sesuatu. Gue gak mungkin terus


minta ditemani sama elo berdua." ujar Felicie.


" Ye, siapa juga yang mau nemani elo tiap hari. Elbert kan ada, biar itu jadi tugasnya. " sahut Airin santai.


Mendengar hal ini Felicie cuma bisa melotot ke arah Airin. Sedangkan Airin hanya menanggapi dengan tersenyum lebar, meskipun ia tahu kalau Felicie pasti sedang kesal padanya saat ini.


" Felicie, karena kami menginap, berarti Elbert bisa tidur disini juga." ujar Devan.


" Maksud Lo ... ?" tanya Felicie dengan dahi berkerut.


" Lo kan gak sendiri, ada kami.


Berarti Elbert bisa nginap bareng disini. " ucap Devan.


Felicie terdiam, ia gak bisa menemukan alasan yang tepat untuk melarang Elbert.

__ADS_1


Sekarang ia tahu kenapa Airin meminta padanya untuk tidur


di apartmentnya. Ternyata supaya


Elbert bisa ikutan bareng mereka.


Sebenarnya Felicie juga kasihan melihat Elbert harus menginap


di hotel, karena ia juga pasti lelah setelah perjalanan mereka. Tapi karena situasinya gak memungkinkan. Terpaksa Felicie harus bersikap seperti tadi.


" Ya ... " akhirnya Felicie mengizinkan.


Airin langsung memeluk Felicie karena senang rencananya dengan Devan berhasil.


" Gue tahu, pasti ini rencana elo dan Devan kan ?" bisik Felicie ditelinga Airin.


" Pintar ... tebakan Lo benar, hehehe ." balas Airin tertawa.


" Awas Lo nanti !" sungut Felicie.


" Devan tuh marahin, dia yang merencanakan. Gue sebagai tunangan yang baik harus setuju, dong ... " ujar Airin tanpa merasa bersalah.


Elbert tersenyum bahagia setelah mendapat izin dari Felicie untuk ikut tidur di apartment nya.


Sebenarnya ia lelah, karena selama di pesawat El gak bisa tidur.


" Hmm ... sama aja elo berdua. " ucap Felicie.


" El, bawa koper kamu, biar aku temani ke kamar. Kamu pasti ingin mandi dan istirahatkan ?" ujar Devan.


Elbert melihat Felicie meminta


" Ya, ikuti Devan aja, El ... " ucap Felicie pasrah.


" Thanks Feli ... " ujar Elbert tersenyum.


Felicie balas tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Elbert lalu mengikuti langkah Devan menuju kamar dengan membawa kopernya.


" Feli, Lo gak kasihan lihat Elbert ?


Dia udah bela - belain ikut elo sampai kesini. Harusnya elo bisa


membuka hati buat dia. " ujar Airin setelah Devan dan Elbert pergi.


" Rin, jangan mulai lagi deh ... gue juga tahu. Elbert itu pria yang baik. " ucap Felicie.


" Terus kenapa elo harus mikir buat menerima cintanya ?".


" Udah gue bilang kan sama elo, selain status gue sekarang, gue juga masih ingin fokus kuliah dulu. "


" Basi ... itu cuma alasan elo aja.


Perkara masa Iddah, itu bukan masalah besar. Dia pasti mau menunggu kalau cuma beberapa bulan. Sedangkan dia udah tahunan nungguin Lo. Kalau urusan kuliah, elo bisa lihat gue sama Devan, kami masih tetap kuliah meski udah tunangan. Kami juga tahu batasan meski tinggal


di apartment yang sama. Lagi pula, gue lebih nyaman karena ada yang jagain." ujar Airin mencoba merubah keputusan Felicie.


" Gue tahu ... Tapi gue bukan Lo.

__ADS_1


Gue udah terbiasa mengatasi semua masalah sendirian. Lagi pula, gue ingin merasakan hidup bebas setelah sekian lama." jawab Felicie memberikan alasannya.


" Ya, gue ngerti. Gue tahu elo itu hebat dalam hal apapun. Tapi itu bukan berarti elo gak butuh kehadiran seorang pria buat melindungi elo. Apalagi zaman sekarang udah sulit menemukan seorang pria yang setia dan baik kaya Elbert. Jangan sampai elo nyesal kalau tiba - tiba ada yang suka sama Elbert terus karena dia gak dapat kepastian dari Lo, dia akhirnya menerima wanita lain. "


ucap Airin mengingatkan Felicie.


Felicie merenung setelah mendengar omongan Airin. Entah kenapa, hatinya jadi gak terima saat mendengar kalau Elbert bersama wanita lain.


Felicie benar - benar kesal saat memikirkannya.


" Lo pikirin deh omongan gue. Gue sebagai sahabat, ingin Lo juga merasakan kebahagiaan seperti yang gue rasakan sekarang. Karena elo ngenalin gue sama Devan, akhirnya gue menemukan pria yang baik dan mencintai gue.


Jadi, gue ingin kita sama - sama bahagia, bukan cuma gue aja, Felicie ... !" ujar Airin dengan tulus.


Felicie merasa terharu dengan keinginan Airin. Dibalik sifatnya yang manja dan keras - kepalanya, Airin ternyata begitu perduli dengan kebahagiaan Felicie.


" Please, Felicie ... dengarkan omongan gue. Coba tanya hati Lo,


apa benar kalau elo gak punya perasaan pada Elbert ? Kalau menurut gue, sebenarnya tanpa Lo sadari elo itu udah suka dengan dia tapi hati Lo masih menyangkalnya. Kalau gak, mana


mungkin elo mau terbang jauh kemari berdua dengan Elbert.


Gue tahu sifat Lo, elo gak akan biarin pria dekat dan ada


di samping elo, jika elo gak respek sama dia. " ujar Airin lagi.


Felicie diam dan tak menyangkal semua perkataan Airin. Ia mencoba memikirkan perasaanya pada Elbert belakangan ini. Felicie sadar, ia memang merasa nyaman dan tenang jika ada Elbert yang mendampinginya. Bahkan saat Elbert berkata akan ikut pergi dengannya kesini, Felicie sangat senang.


"Apa benar aku udah jatuh cinta dengan Elbert ?" ujar Felicie dalam hatinya.


" Gak usah bingung dengan perasaan Lo ke Elbert karena elo bisa menemukan jawabannya, dengan bertanya sama hati elo yang paling terdalam. Okey ... !"


kata Airin.


" Hmm ... kog mereka lama


Coba elo lihat, Rin ... !" Felicie mengalihkan pembicaraan agar Airin berhenti membicarakan masalah perasaannya.


" Ya, udah ... kita barengan aja melihat mereka. Inikan apartment Lo !" sahut Airin mengerti.


Felicie menganggukkan kepalanya


menyetujui perkataan Airin.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju kamar yang di tempati Devan dan Elbert.


Tapi begitu Airin membuka pintu, mereka berdua menahan tawa karena melihat Elbert dan Devan sedang tertidur nyenyak di kasur.


Airin kembali menutup pintu kamar dengan pelan agar mereka


gak terbangun.


" Lo lihat sendirikan, sebenarnya Elbert lelah tapi dia berusaha menahannya. "


" Ya ... Lo benar. Mumpung mereka tidur mendingan kita ke kamar aja. " ajak Felicie.


" Ayuk ... gue juga pengen rebahan biar nanti seharian kita kuat jalannya." ujar Airin.


Felicie dan Airin akhirnya masuk kekamar sembari menunggu Elbert dan Devan bangun.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2