
Perlahan tangisan Felicie mulai reda. Belaian tangan Elbert di punggungnya membuat ia jadi merasa lebih tenang. Dulu papa sering melakukan hal ini, jika Felicie menangis karena teringat pada mama nya. Ia kemudian tersadar kalau sekarang ia berada di dalam pelukan Elbert. Felicie melepaskan diri dari pelukan El.
Ia mendadak merasa malu karena melihat kemeja El basah oleh air matanya.
" Maaf, aku membuat kemeja mu jadi kotor." kata Felicie lirih.
Elbert melihat mata Feli yang bengkak karena menangis segera bangkit tanpa menjawab perkataan Feli. Ia pergi menemui manajer untuk meminta es batu buat mengompres mata bengkak Felicie.
Feli yang melihat El pergi meninggalkan nya sendiri di ruangan ini berpikir kalau El marah pada nya. Karena kemeja putih Elbert jadi basah dan kotor.
Tapi begitu ia melihat El kembali dengan membawa sebuah mangkuk kaca yang berisikan es batu, ia langsung merasa terharu.
Apalagi, El langsung mengompres
mata Feli yang bengkak.
Wajah El yang begitu dekat jaraknya dengan wajah Feli, membuat jantung nya berdetak keras. Muka Felicie mendadak memerah. Ia gak mengerti apa yang sedang di alami nya sekarang. Kenapa ia bisa seperti ini. Namun begitu, ia malah tidak melarang apa yang di lakukan Elbert.
Elbert yang mengompres ke dua mata Feli dengan lembut melihat wajah Felicie memerah. Tapi ia bersikap seakan - akan tidak mengetahuinya agar Feli tidak merasa malu.
Ia sangat senang dengan kedekatan mereka berdua sekarang. Elbert yakin, dengan perlahan ia akan bisa menyentuh hati Felicie yang penuh dengan luka. Jika itu benar terjadi, El akan segera membawa Felicie pergi dari negara ini.
Ia tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti Felicie lagi. Bahkan Aaron sekalipun. Ia akan membuat Aaron segera menceraikan Felicie. Elbert tidak perduli jika Felicie sudah tidak virgin lagi. Ia mengerti, status Felicie sekarang adalah isteri Aaron. Ia hanya menyesali kenapa begitu terlambat menemukan Feli.
Jika ia lebih cepat , Feli gak akan mengalami semua hal pahit dalam hidupnya.
" El ... terima kasih. " ujar Felicie lirih setelah Elbert selesai mengompres mata bengkaknya
" Maukah kamu pergi denganku ke London dan tinggalkan tempat ini, Feli. Aku ingin bisa selalu menjagamu. " Elbert bertanya serius, setelah menganggukkan kepalanya terlebih dahulu pada Felicie.
" Mak ... maksud kamu ? " suara Feli terdengar gugup.
" Aku ingin kamu sekarang ikut bersamaku pergi ke London. Tinggalkan semua hal yang menyakitimu.
Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu. " Elbert sudah gak berniat mundur sama sekali. Ia hanya ingin Felicie menjadi miliknya.
Felicie terdiam mendengar perkataan Elbert. Ia gak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia memang ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi ia masih harus menunggu waktu selama dua bulan lebih. Setelah Aaron menceraikannya, ia baru akan bebas. Sebaliknya, jika Felicie yang pergi meninggalkan Aaron, dia harus mengganti rugi dengan jumlah uang yang sangat besar.
Felicie tidak ingin melakukan itu.
Ia mau pergi dengan tenang, tanpa ada masalah yang mengikutinya.
" Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu, El ... masih ada hal penting yang harus aku selesaikan ." Felicie menghela nafas dengan berat setelah mengatakan ini.
" Hmm ... apakah itu karena masalah Aaron, suami kontrakmu ? " Elbert menatap dengan lembut ke dalam manik mata Felicie.
__ADS_1
Lagi - lagi Felicie terkejut. Bagaimana mungkin, Elbert bisa mengetahui kalau ia sudah menikah dengan Aaron. Bahkan ia juga tahu kalau pernikahan mereka hanya sebatas kontrak.
" Kamu gak usah bingung, Feli ...
aku kan sudah bilang sama kamu,
aku mengetahui semua tentang dirimu. Maaf, begitu aku tahu kamu adalah gadis kecilku, aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki semua tentang kehidupan yang kamu jalani.
Aku bahkan tahu kamu terpaksa melakukan pernikahan ini demi menyelamatkan perusahaan dan rumah orang tua kamu agar tidak di ambil oleh William. William berharap kalian bisa saling mencintai akhirnya, karena ia tidak ingin anaknya yang bodoh itu Aaron menikahi kekasihnya yang bernama Giselle. Tapi ia tidak tahu, kalau Aaron melakukan pernikahan kontrak denganmu di belakangnya. Bahkan sekarang pun Aaron sedang bersama Giselle di Paris. Jadi biarkan aku membantu untuk melepaskan mu dari genggaman tangan Aaron. " Elbert tidak menutupi sedikitpun pada Felicie.
" Maaf, aku tidak bisa. Perjanjian ku dengan pria itu hanya tinggal sebentar lagi. Aku tidak mungkin bisa pergi dengan kamu sebelum kontrakku habis. Aku malah senang, jika saat ini Aaron sedang bersama kekasihnya. Mungkin dengan begini, ia malah lebih cepat bercerai dengan aku. " Felicie dengan pelan menolak ajakan Elbert.
" Tapi bagaimana jika dalam masa waktu dua bulan ini, tiba - tiba pria brengsek itu jatuh cinta denganmu atau malah kamu yang jatuh cinta dengannya. Lalu dia tidak mau menceraikan kamu. Bagaimana jika itu terjadi, Feli ... ? " Elbert gak bisa membiarkan Felicie tetap berada di dekat Aaron.
Ia tahu pria itu bajingan. Dia bilang mencintai kekasihnya, tapi setelah Giselle pergi, ia malah tidur dengan banyak wanita walaupun alasannya karena kecewa atas kepergian Giselle.
" Aku gak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku paling nggak suka dengan seorang pria yang dengan mudahnya tidur bersama dengan seorang wanita. Apalagi ia sudah punya kekasih. Pria seperti itu, aku paling membencinya." Felicie berkata dengan sangat yakin, terlebih ia teringat dengan kelakuan Aaron yang kepergok dengannya membawa wanita bayaran ke apartment.
" Kamu beneran yakin, Feli... ?
Apakah tidak sebaiknya kamu ikut pergi denganku saja ? " tanya Elbert berusaha membujuk Felicie.
" Yakin ... aku sangat yakin.
Aku hanya menunggu waktu sesuai kontrak, lalu setelah itu aku bebas pergi kemana pun.
Begitu juga dengan pria itu.
Bahkan setelah selesai menikah, ia pernah membawa wanita ke apartment untuk tidur dengannya.
Tidak lama, ia pergi dengan kekasihnya selama dua Minggu.
Mungkin dia besok malam baru sampai di sini. Aku hanya harus bersabar menunggu waktu yang kami sepakati untuk bercerai." dengan panjang Felicie memberi penjelasan pada Elbert.
Hati Felicie kini jauh lebih tenang, setelah mengatakan semua hal ini pada Elbert. Padahal ia tidak pernah terbuka seperti ini pada orang lain. Apakah mungkin karena ia bisa melihat dengan langsung bahwa Elbert adalah pria yang tulus dan benar - benar perduli padanya. Apalagi ia mendengar kalau Elbert sudah begitu lama mencari keberadaannya. Apakah Felicie mulai merasa nyaman dengan perhatian Elbert ? Ia sendiri belum tahu jawabannya.
" Baiklah, aku akan menunggu kamu. Hingga akhirnya kamu mendapatkan kebebasan kembali.
Saat itu tiba maukah kamu ikut denganku. Aku tahu, kamu pasti tidak yakin dengan hal yang akan kukatakan sekarang tapi aku minta kamu mendengarnya.
Apapun nanti jawaban yang kamu berikan, aku akan selalu berada di sisi mu. Aku gak ingin kehilangan kamu lagi, Feli. Maukah kamu mendengar apa yang ingin ku utarakan ? " kali ini Elbert menatap Felicie dengan wajah serius.
" Hmm ... baiklah. Aku bersedia mendengar apa yang ingin kamu katakan. " Felicie berusaha menenangkan gemuruh di dadanya begitu mendengar kata - kata Elbert. Sepertinya ia sudah bisa menduga apa yang akan di utarakan Elbert tapi ia tidak berani membayangkan nya.
" Aku mencintai kamu dari dulu hingga sekarang. Perasaanku tidak pernah berubah. Bahkan saat kakek mencoba menjodohkan aku dengan wanita pilihannya, aku menolak karena aku yakin suatu hari aku akan bisa menemukan gadis kecil yang sudah mencuri perhatianku, sejak pertama aku bertemu denganmu.
__ADS_1
Aku tidak ingin berlama - lama lagi memendam perasaan ini.
Sekarang aku lega, karena sudah mengutarakan perasaanku. Aku tidak akan memaksa kamu untuk menerima perasaan cintaku. Tapi jika kamu menolak atau belum bisa menjawab nya, tolong ijinkan aku tetap bisa berada di dekat kamu, Feli ... " wajah Elbert terlihat sangat lembut saat mengutarakan perasaannya. Sikap nya yang dingin seakan hilang entah kemana, jika di depan Felicie.
Felicie yang sudah menduga hal yang di katakan Elbert, hanya bisa
menggigit bibirnya. Ia belum tahu harus menjawab apa pada Elbert.
Di satu sisi, ia sudah merencanakan hidupnya ke depan jika sudah berpisah dengan Aaron. Ia akan pergi menyusul ke dua temannya yang kuliah di Amerika. Lalu akan kuliah bersama - sama di sana. Felicie yang awalnya ingin mengambil jurusan desaign di kota Paris, tempat kelahiran mamanya terpaksa membatalkan niatnya, agar jika ia pergi, Pamannya tidak akan mudah menebaknya. Karena selama ini mereka sekeluarga sudah mengetahui niat Felicie untuk kuliah di sana.
Kini ia lebih memilih mengambil jurusan bisnis agar bisa mengelola dengan baik perusahaan peninggalan papanya.
" Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, Feli ... aku tahu kamu pasti terkejut dengan pernyataan dari ku. Aku akan menunggu hingga kamu siap untuk memberi jawaban. Namun selagi aku menunggu jawaban dari kamu, ijinkan aku untuk tetap bisa menjadi sahabat dekatmu.
Bisa kan, Feli ... ? " Elbert sangat dewasa saat mengatakan hal ini.
Ia tahu kalau tidak bisa bersikap egois. Walaupun ia sangat mencintai Felicie, ia tidak akan mendesak untuk menerima perasaannya. Elbert akan sabar menunggu keputusan yang akan di buat Felicie. Baik itu menolak atau menerima cintanya.
Meski ia sangat berharap, cintanya bisa di terima oleh Felicie, El sudah menyiapkan dirinya untuk menerima hal terburuk yang akan terjadi.
Felicie yang sudah gelisah sejak tadi, saat Elbert mengutarakan cintanya kini sudah mulai tenang melihat sikap yang di perlihatkan El. Ia tidak memaksa Felicie untuk menjawabnya sekarang. Ia hanya ingin tetap berteman dekat dengan Felicie. Hal ini tidak terlalu sulit untuk di lakukan. Felicie juga merasa senang, karena dengan adanya El yang sudah mengetahui tentang statusnya .. ia tidak perlu merasa khawatir lagi, untuk menutupi nya jika sedang bersama El. Lagian ia juga memang membutuhkan seorang teman, agar ia bisa sedikit membagi masalahnya.
" Baiklah ... walaupun aku memang belum bisa memberi jawaban dari pertanyaan kamu.
Tapi aku bisa mengijinkan keinginan kamu untuk tetap berada di dekatku. Saat ini aku hanya mengijinkan status kita sebagai sahabat, walaupun aku tidak tahu ke depannya. Bisa saja terjadi hal yang kamu inginkan atau pun sebaliknya. Jadi, bisakah kamu sabar untuk semua ini ? " ujar Felicie lega setelah mengatakan ini.
" Baik, aku berjanji akan selalu berada di sisimu baik itu sebagai teman ataupun kekasih jika kamu menerima perasaanku. Aku tidak akan berubah. Aku akan mendukung apapun keputusan yang nanti kamu berikan." Elbert berkata dengan tulus.
" Terima kasih, sudah memahami keinginanku." Felicie kini mulai mengembangkan senyuman di depan Elbert.
Elbert terpaku dan menjerit senang dalam hati ketika Felicie melihat Felicie tersenyum padanya. Selama ini walaupun mereka sudah berteman, Felicie tetap bertahan dengan wajah dinginnya. Tapi ia sekarang sudah mulai tersenyum pada El. Elbert berharap ini adalah awal yang baik untuk dirinya.
" Aku yang harus berterima kasih pada kamu, Feli ... Terima kasih sudah menerimaku menjadi sahabatmu. " Elbert berkata kini dengan senyum di bibirnya.
Felicie juga membalas senyuman itu, membuat wajahnya semakin terlihat cantik.
" Ayo ... sepertinya kita sudah cukup berbicara ... sebaiknya kita mulai makan, perutku sudah teriak dari tadi. " canda Elbert agar suasana semakin mencair.
" Baik, aku juga lapar, nih ... " balas Felicie cepat.
Mereka saling menatap satu sama lain, sebelum memulai menyantap makanan yang sudah di hidangkan di meja mereka.
Elbert senang melihat perubahan di diri Felicie walau baru sedikit.
Tapi ia juga suka melihat wajah dingin nya, hal itu malah membuat Felicie semakin misterius dan gak gampang di dekati oleh pria lain.
__ADS_1
**********************************