
" Kamu tadi muntah ? " tanya Aaron pada Vera begitu Giselle dan Vera sampai di apartment.
Ia tadi di beritahu Doni ketika mereka masih di mall.
" Iya ... maaf kami jadi lama pulangnya karena aku. Sebelum ke toilet mendadak aku pengen banget beli mukena, jadi aku pergi membelinya dulu. " ujar Vera takut.
" Hmm ... sekarang gimana ? Masih mual ... ? " tanya Aaron agak terkejut mendengar Vera ngidam mukena.
" Udah lumayan. "
" Sekarang, ada yang kamu inginkan lagi ? Oh, ya ... Kamu gak mual juga, Giselle ?".
" Tidak ada. " jawab Vera singkat.
Ia merasa heran dengan sikap Aaron yang menanyakan keinginannya.
" Syukurnya sampai hari ini aku belum merasakan seperti yang
dialami dia. " jawab Giselle senang karena perhatian Aaron.
" Ya, sudah ... kalau begitu kita besok periksa ke dokter, biar tahu kondisi kehamilan kalian berdua."
" Beneran besok kamu mau nemani periksa ke dokter kandungan, Ron ... ?" tanya Giselle
gak percaya.
" Ya, besok sore kita pergi." ujar Aaron.
" Makasih, Ron ... Oya, tadi aku udah jual beberapa perhiasan.
Nanti uangnya bisa kamu pakai buat memulai sebuah usaha." ucap Giselle, kemudian mengambil uang hasil penjualan perhiasannya dari dalam tas dan memberikannya pada Aaron.
Aaron terdiam saat Giselle memberikan uang padanya. Ia sama sekali gak menyangka Giselle beneran mau menjual
perhiasannya demi membantu
Aaron.
" Apa Giselle benar mau berubah
demi aku ?" batin Aaron.
Sedangkan Vera melihat dengan mata terkejut ketika melihat Giselle menyerahkan uang yang begitu banyak pada Aaron.
Berarti memang benar kalau Aaron sekarang tidak memiliki apa - apa lagi. Tapi bagaimana bisa ? Masa kekayaannya yang banyak itu di berikan semua pada Felicie ? Sementara waktu itu, Tuan William cuma menyuruh memberikan sebagian aja.
Lalu sisanya kemana ? Masa Aaron jatuh miskin begini, sih ?
Semua pertanyaan ini memenuhi isi kepala Vera.
" Ron ... nanti jika uangnya masih
belum cukup untuk kamu buka usaha, aku akan menjual sisa perhiasan ku lagi. Sedangkan yang ada di tabungan, buat biaya persalinan dan kebutuhan kita sehari - hari. " ujar Giselle sembari tersenyum menatap Aaron yang masih tetap gak bisa percaya dengan perubahan Giselle.
" Kamu beneran rela menjual semua perhiasan kamu untuk
modal usahaku ?" tanya Aaron
untuk meyakinkan dirinya.
" Ya, beneran lah ... masa bercanda. Ini jugakan demi masa depan kita. Aku sadar, karena kesalahanku, kamu harus melepaskan jabatan dan kekayaan. Selama ini kamu sudah memberikan yang terbaik untuk aku. Jadi, sekarang gantian ... aku yang akan melakukan apapun
demi kamu. " ucap Giselle serius.
" Gila ... jadi Aaron benar - benar
gak punya apa - apa lagi sekarang ? Wah, kalau begini ngapain juga aku bertahan dengannya." kata Vera dalam hati.
" Baiklah, aku akan menggunakan
uang ini untuk membuka usaha dan kita akan memulai semuanya dari awal lagi. "
" Ya, aku yakin kamu bisa berhasil.
Aku akan selalu mendukungmu, seperti yang kamu lakukan padaku."
" Hmm ... sepertinya aku harus bersabar lebih lama untuk bertahan dengan Aaron. Jika ia berhasil membuka usaha baru, pasti dia akan kaya lagi. " batin Vera.
" Baiklah ... Hmm ... mulai hari ini aku akan membagi waktu untuk kalian berdua. Tiga hari bersama
Vera dan tiga hari dengan kamu.
__ADS_1
Sisa satu hari, aku sendirian.
Jadi, malam ini Vera akan tidur
di kamarku. " ucap Aaron sembari menghela nafas berat.
Vera langsung terkejut mendengar perkataan Aaron. Ia gak percaya kalau Aaron mengizinkannya tidur di kamar yang sama dengannya.
" Benarkah ?" tanya Vera ragu.
" Ya ... Bagaimanapun juga kau sekarang isteri ku." jawab Aaron
datar.
" Terima kasih ... " Vera langsung memeluk Aaron dengan perasaan senang.
Giselle yang melihat ini berusaha
tabah. Ia harus menerima kenyataan ini, Aaron bukan hanya miliknya sendiri, melainkan suami Vera juga. Giselle sudah senang,
melihat perubahan Aaron yang sudah mulai menerima nya kembali. Meski, ia harus berbagi suami dengan Vera.
" Ya ... sekarang sebaiknya kita makan malam dulu baru istirahat.
Tadi aku sudah membeli makanan buat kita. " ujar Aaron melepas pelukan Vera.
" Kamu membelikan makanan buat kita, Ron ... ?" tanya Giselle
dengan mata berbinar.
" Hmm ... aku yakin kalian tadi gak sempat makan di mall. " ujar Aaron.
" Iya, karena tadi kelamaan menunggu Vera keluar dari toilet
jadinya gak sempat makan." ucap
Giselle dengan suara lembut.
" Kalian juga makan ... !" perintah
Aaron pada Doni dan Dian.
" Baik ... " jawab mereka serempak .
" Sabar, Giselle ... tiga hari kemudian Aaron akan bersama kamu. " ucap Giselle dalam hati.
" Makan yang banyak agar kandungan kalian sehat. " kata
Aaron.
" Iya ... " jawab Vera dan Giselle
bersamaan.
Mereka kemudian mulai makan dengan tenang. Tapi tiba - tiba, Vera merasa mual saat ia sedang mengunyah makanannya.
" Hoek ... Hoek, maaf ." ujar Vera melihat Aaron dengan perasaan takut , lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Aaron menghentikan makannya lalu ia berjalan menghampiri Vera.
Giselle jadi gak selera makan begitu melihat Aaron menyusul Vera. Rasa laparnya yang sudah ditahannya sejak tadi mendadak hilang.
" Kamu mau muntah lagi ? " tanya Aaron.
" Iya, maaf ... sudah menganggu
waktu kamu makan. " ujar Vera memuntahkan makanan yang
di makannya.
" Tidak apa - apa. Apa perut kamu
sakit ?" tanya Aaron berusaha
memberikan perhatian pada Vera.
" Iya, rasanya seperti isi perutku
mau keluar semua. " jawab Vera
pelan.
__ADS_1
" Hmm ... apa kamu tahu cara
menghentikannya ?" tanya Aaron yang memang gak mengerti cara mengatasi rasa mual yang
di rasakan Vera.
" Kalau boleh, aku ingin istirahat
aja. Aku gak selera makan. Mulutku pahit banget. " ucap Vera
dengan wajah pucat.
" Apa kamu tidak lapar ? Kamu sudah memuntahkan semua makanan yang kamu makan tadi." kata Aaron gak setuju.
" Maaf, tapi aku beneran gak selera dan badanku lemas banget." ucap Vera yang beneran lemas kali ini akibat muntah tadi.
" Baiklah ... aku akan mengantarmu ke kamar. Kamu tunggu disini sebentar, aku mau bilang ke Giselle dulu." ujar Aaron.
Vera menatap Aaron dengan perasaan yang tidak bisa ia lukis kan dengan kata - kata.
Ternyata ada untungnya juga ia
mengalami mual ini. Aaron jadi
lebih perhatian padanya.
Sikapnya yang kasar selama
di mansion pada Vera sudah tidak terlihat lagi.
" Ya ... " jawab Vera.
Aaron berjalan kembali menuju meja makan. Ia menghela nafas kasar melihat Giselle tidak melanjutkan makannya.
" Kenapa kamu gak menyelesaikan makannya ?" tanya
Aaron.
" Seleraku sudah hilang, mau langsung tidur saja. " jawab Giselle sedih.
" Hmm ... baiklah. Ayo, kita sekalian naik aja. Vera juga mau langsung tidur. "
Giselle menekan rasa sakit
di hatinya mendengar perkataan
Aaron yang terlihat mengkhawatirkan Vera.
" Ron ... apa boleh kita tidur bertiga saja ? Anakku ingin tidur dengan Daddy nya juga. " kata
Giselle dengan wajah berharap.
" Maaf, Giselle ... itu tidak mungkin. Kalian berdua sedang hamil, jadi harus tidur dengan nyaman. Tapi, nanti setelah Vera
tertidur, aku bisa ke kamar kamu."
" Kamu janji akan datang
ke kamarku ?" .
" Ya ... sekarang ayo kita istirahat."
" Baiklah."
" Doni, Dian ... kalian lanjutkan aja makannya. Aku mau istirahat."
" Baik ... !" sahut mereka singkat.
Giselle mencoba memegang lengan Aaron dan saat Aaron tidak menolaknya, Giselle segera menggandeng Aaron dan berjalan menghampiri Vera
yang sedang menunggu kedatangan Aaron.
Vera mendengus kesal saat melihat Aaron datang bersama
Giselle. Apalagi mereka jalan sambil gandengan.
" Ayo ... " ajak Aaron pada Vera sembari melepaskan tangan Giselle yang menggandengnya.
Meski cemburu karena melihat
perhatian Aaron pada Vera. Ia berusaha menerimanya.
__ADS_1
**********************************