
Felicie tenggelam dalam kesibukan setiap harinya. Ia memutuskan untuk mengambil lembur di butik agar ia tidak terlalu memikirkan Elbert. Karena kinerjanya yang bagus pemilik butik mengangkatnya jadi karyawan tetap bukan sebagai pegawai magang lagi. Selain ia mendapatkan upah yang lumayan, ilmunya juga bertambah.
Sekarang Felicie lagi belajar menjahit, agar ia bukan hanya bisa mendesign sebuah pakaian tapi ia bisa juga menuang ide - idenya secara langsung.
Dave memandang Felicie dengan tatapan iba saat melihatnya pulang dengan wajah kelelahan. Dave dengan setia selalu menunggu Felicie pulang dari tempat nya bekerja.
Meskipun sebenarnya Felicie telah menolak Dave untuk menjemputnya sepulang kerja, tapi ia tetap melakukannya. Ia tidak tega melihat Felicie pulang menggunakan sepeda. Karena sejak kemarin Felicie memutuskan untuk tidak menggunakan mobil yang di - tinggalkan oleh Elbert.
Felicie sebenarnya bisa saja membeli sebuah mobil buat dirinya, tapi ia merasa belum terlalu membutuhkannya jika hanya untuk pergi ke kampus dan ke tempat kerjanya. Apalagi ia hanya sementara tinggal di negara ini. Maka ia lebih memilih membeli sepeda.
Apalagi beberapa hari ini, ia merasa ada yang mengawasi kegiatannya mulai dari berangkat kuliah hingga tempat kerjanya dan Felicie yakin kalau itu pasti anak buah tunangan Elbert. Kalau tidak untuk apa orang itu terus mengikuti kegiatan yang ia lakukan. Mungkin tunangannya tidak ingin Felicie menggunakan fasilitas darinya, dan khawatir kalau Felicie berusaha untuk mendekati Elbert lagi.
" Feli ... !" panggil Dave.
" Hai, Dave ... !" sahut Felicie berusaha tersenyum di tengah wajah lelahnya.
Dave lalu menghampiri Felicie, lalu menepuk bahunya dengan pelan.
" Feli, tidak bisakah kamu mendengarkan permintaanku sebagai sahabatmu ?" tanya Dave sembari menatap wajah Felicie.
Felicie tersenyum tipis. Ia tahu maksud dari perkataan yang di lontarkan Dave. Pasti lagi - lagi ia akan meminta Felicie untuk tidak mengambil lembur setiap hari.
" Sorry, Dave ... bukan aku tidak ingin mendengarkan kamu tapi aku senang melakukan ini. Semakin banyak lembur, semakin banyak ilmu yang aku dapat di butik itu. " ucap Felicie.
" Tapi, Felicie ... kamu bisa sakit kalau terus begini !" ujar Dave dengan lembut.
" Hmm ... jangan khawatir, Dave ! Aku tidak apa - apa. Lagi pula aku harus kerja keras karena aku sangat menyukai bidang ini. Aku juga ingin bisa segera membuat pakaian ku sendiri. " ucap Felicie dengan mata lelah.
" Ayo, masuk ke mobil, Feli ... kamu pasti ingin cepat sampai ke apartment kan ?" ujar Dave sembari membuka pintu mobil melihat wajah Felicie yang lelah.
" Hmm ... " sahut Felicie singkat kemudian masuk ke dalam mobil Dave.
Dave perlahan mulai menjalankan mobilnya. Ia melirik kearah Felicie yang menyandarkan tubuhnya ke jok mobil dengan mata terpejam.
Melihat ini Dave benar - benar ingin merengkuhnya kedalam pelukannya agar semua beban yang ada di hati Felicie bisa segera hilang.
__ADS_1
" Feli, aku tahu kamu melakukan semua ini agar kamu bisa melupakan Elbert. Tapi gak begini juga caranya. Kamu menyiksa dirimu sendiri. Bukankah kamu bisa cari cara lain ! Pria seperti dia tidak pantas membuat kamu bersedih ! " tanpa sadar Dave mengatakan nya dengan nada sedikit keras, karena ia terlalu mencemaskan keadaan Felicie yang sudah seperti robot.
Dari pagi kuliah, terus kerja hingga malam hari. Sesampainya di rumah bukannya istirahat, ia malah belajar menjahit lagi, agar bisa cepat mahir.
Felicie terdiam dan tidak menjawab perkataan Dave. Ia lalu menengadahkan kepalanya ke - atas agar air matanya tidak sampai keluar.
Entah kenapa, walaupun Felicie sudah berulang kali mengatakan pada dirinya untuk melupakan Elbert dan berusaha bersikap tegar di depan Dave, Airin dan Devan tapi tetap saja ia gak bisa membohongi hatinya.
Untuk saat ini ia masih sulit untuk melupakan rasa cintanya pada Elbert, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga.
Felicie sadar kalau ia terlalu bodoh. Bahkan sampai detik ini Elbert tidak ada berniat menghubungi dan menjelaskannya pada Felicie. Mungkin ia memang tidak berarti apapun buat Elbert.
" Feli ... maaf ! aku tidak bermaksud bicara keras dengan kamu tapi aku gak ingin kamu jadi berubah seperti ini hanya karena laki - laki pecundang itu ! " ujar Dave menyesal karena melihat Felicie hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.
" Sudahlah, aku gak papa ! Aku sudah berulang kali mengatakan pada kamu, Dave aku tidak pernah memikirkan pria itu ! Semua yang aku lakukan murni karena ingin menggunakan waktuku dengan baik. Lagi pula besok hari libur, jadi aku bisa istirahat seharian." ucap Felicie dengan nada datar.
Dave menarik nafas panjang mendengar perkataan Felicie yang selalu saja mencoba berdalih dia baik - baik saja. Padahal meski Felicie berusaha menyembunyikannya, Dave bisa merasakan kalau Felicie sedang menahan rasa sakitnya.
Andai saja Felicie mau membuka hati buat Dave ia berjanji akan memberikan kebahagiaan yang pantas Felicie dapatkan.
Hal ini membuat Dave semakin ingin melindunginya dari semua orang yang ingin menyakitinya. Terutama Elbert !
" Baiklah, kalau begitu kita pulang, ya ... kamu langsung istirahat begitu sampai di apartment. Besok rencananya Airin dan Devan ingin mengajak kita untuk berjalan - jalan. Kamu bisa kan ?" ujar Dave mengalah, ia tidak ingin membuat Felicie semakin tertekan.
" Hmm ... " sahut Felicie sembari menutup matanya.
Kalau saja ia bisa bicara jujur, tubuhnya memang sangat lelah. Bahkan ia sangat kelelahan. Padahal dulu, ia bekerja di dua tempat yang berbeda, harus naik angkutan umum dan mengerjakan semuanya sendiri. Belum lagi harus menghadapi sikap Aaron dan keluarga om nya yang memuakkan. Tapi kenapa dulu ia tidak merasa kelelahan.
Namun mengapa sekarang ia jadi gampang lelah. Mungkinkah karena ia melakukannya hanya demi melupakan Elbert.
Felicie yang larut dalam pikirannya tidak menyadari kalau mobil Dave sudah berhenti sejak tadi.
Dave menghela nafas berat melihat Felicie yang masih tetap bersandar di jok mobilnya dengan kedua matanya yang terpejam.
" Feli ... kita sudah sampai !" ujar Dave pelan sambil menyentuh bahu Felicie.
__ADS_1
Tapi Felicie tetap tak bergeming. Dave melihat wajah Felicie dari dekat dan ia baru menyadari kalau Felicie sudah tertidur. Melihat ini, Dave hanya bisa menatapnya dengan tatapan lembut.
" Kamu bahkan belum sempat makan malam, Felicie !" ucap Dave lirih.
Perlahan Dave keluar dari mobil dan tanpa membangunkan Felicie, ia lalu mengangkat tubuhnya.
Wajah cantik Felicie yang berada dalam gendongannya membuat jantung Dave berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ingin rasanya Dave men***m b***r Felicie yang begitu menggodanya. Untung saja Dave masih bisa menahan pikiran tidak warasnya itu.
Dave tidak ingin Felicie jadi membencinya dan berpikir kalau ia mencoba mengambil kesempatan pada saat ia tertidur.
Meski Dave agak kesulitan membuka pintu apartment karena kedua tangannya menggendong tubuh Felicie, tapi akhirnya ia berhasil masuk. Untung saja Felicie menaruh kartu akses masuknya di dalam tas.
Jika tidak mungkin ia terpaksa membawa Felicie menginap di apartment Airin dan Devan.
Setelah meletakkan tubuh Felicie di tempat tidur dan Felicie masih tetap tidur dengan nyenyak, Dave baru bisa menarik nafas lega. Ia kemudian menaruh tas Felicie di atas nakas dan berniat untuk pulang.
Tapi saat ia hendak keluar dari kamar, terdengar suara Felicie yang merintih seperti sedang bermimpi buruk membuat kaki Dave tidak jadi melangkah.
Dave lalu kembali mendekat ke - tempat tidur Felicie dan menggenggam tangannya agar ia bisa merasa tenang.
Dave tersenyum tipis setelah melihat Felicie akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.
Dave memandangi wajah Felicie yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Wajah dinginnya yang biasa ia perlihatkan berganti jadi wajah yang menggemaskan.
Karena tak ingin Felicie bermimpi buruk lagi, Ia memutuskan untuk tetap berada di apartment Felicie dan menemaninya.
Sebenarnya kalau ingin menuruti hatinya Dave ingin tidur di - samping Felicie tapi ia tidak ingin Felicie marah ketika besok terbangun dan melihat dirinya tidur di kamarnya.
" Selamat malam my sweet heart ." ujar Dave lembut kemudian melangkah keluar dan merebahkan dirinya di sofa yang terletak di ruang tamu.
Tidak butuh lama, Dave pun mulai memejamkan matanya.
**********************************
__ADS_1