
" Apa ... ? Memang Elbert itu b**i***n ... ! Kenapa juga harus kamu yang buat gaun pernikahan buat calon isterinya." ujar Dave dengan wajah marah, setelah Felicie selesai menceritakan semua sebab ia harus bekerja dari apartment nya.
" Bukan dia yang mau, Dave tapi mama dan calon isterinya yang minta aku membuat gaun untuknya." tanpa sadar Felicie membela Elbert.
" Kamu masih membela pria itu, Feli ... ! Walaupun dia sudah nyakitin dan bohongin kamu !" tanya Dave dengan tatapan gak percaya.
" Bukan Dave, aku tidak membela nya tapi memang itu kebenarannya. Nyonya Megan sendiri yang mengatakan padaku kalau mama dan wanita itu yang menghubunginya !" bantah Felicie.
" Hmm ... baiklah ! Jadi mulai sekarang kamu bekerja di apartment ?" tanya Dave berusaha meredakan emosi nya.
" Ya, itu kebijakan yang di ambil Nyonya Megan agar aku tidak perlu menerima permintaan mereka." ucap Felicie.
" Baguslah ... keputusan yang kamu ambil sudah benar. Kamu tidak perlu menerimanya. " ujar Dave lega.
" Ya, aku tidak mau berurusan dengan siapapun yang menyangkut pria itu !" ucap Felicie tidak ingin menyebutkan nama Elbert lagi.
" Benar, Feli ... bukan aku bermaksud untuk menghasut mu tapi memang sebaiknya kamu menjauh jika menyangkut pria b**n***k itu ! Aku tidak ingin nanti kamu malah di salahkan oleh calon isterinya jika gaun yang di mintanya tidak sesuai dengan keinginannya." ujar Dave menatap lembut ke arah Felicie.
" Ya, itu juga yang jadi salah - satu alasan aku menolaknya, selain aku tidak ingin ketemu dengannya lagi." ucap Felicie dengan jujur seraya menekan perasaan nya yang masih terluka karena perbuatan Elbert.
Ia memang sudah berusaha dengan sangat keras untuk menghapus Elbert dari ingatannya. Ia juga sudah mulai membiasakan dirinya tanpa harus mengingatnya lagi dan menyembunyikan luka hatinya agar tidak terlihat oleh Dave, Airin dan Devan.
Felicie kembali bersikap seperti awal ia belum mengenal Elbert. Ia juga sudah jauh lebih tegar dan tidak pernah menitikkan air mata lagi. Tapi tetap saja saat ia sendiri di apartment, bayangan Elbert melintas di pikirannya. Karena jejak Elbert tertinggal di situ. Terutama di kamar yang pernah di tempati olehnya.
" Hmm ... aku senang kamu bisa bersikap seperti ini. Ambillah keputusan yang bisa membuat kamu bahagia, Feli ... ! Kamu berhak untuk itu. " ujar Dave seraya menggenggam tangan Felicie.
Felicie tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman Dave, meskipun terkadang ia merasa risih.
Ia tidak ingin Dave semakin memiliki harapan yang besar padanya. Untuk saat ini ia tidak bisa menerima pria manapun yang ingin mendekatinya. Termasuk juga Dave.
Felicie tidak ingin menyakiti hati Dave. Dia pria yang baik. Tanpa protes sedikitpun ia mendengar semua keluh - kesah Felicie. Ia dengan sabar menemani Felicie di saat Felicie masih terpuruk. Ia selalu berusaha membuat Felicie agar bisa tertawa dengan menceritakan banyak lelucon.
Andai saja hati bisa seperti tangan, di bolak - balik dengan mudah, mungkin Felicie bisa membuka hatinya dengan cepat buat Dave. Tapi sayangnya tidak.
Bahkan Dave tidak pernah menyinggung tentang perasaannya pada Felicie. Ia memposisikan dirinya tetap sebagai sahabat buah Felicie.
Ini yang membuat Felicie tidak tega untuk memintanya menjauh darinya.
__ADS_1
" Feli ... kamu jadi pindah dari apartment ini ?" tanya Dave memecah kesunyian yang menghampiri mereka sesaat.
" Ya, aku ingin menjual apartment ini. Apakah kamu sudah menemukan apartment untuk ku ?" tanya Felicie menatap Dave serius.
" Sudah, apartment nya lebih dekat dengan kampus kita. Hanya beberapa menit dengan berjalan kaki. Bagaimana, apa kamu mau melihatnya dulu ?" tanya Dave sedikit gugup melihat Felicie menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.
" Hmm ... tentu saja. Sebaiknya sekarang juga kita melihatnya. Aku ingin segera pindah dari apartment ini !" ucap Felicie sembari memandang setiap bagian yang ada di apartment nya dengan tatapan yang sulit di - artikan.
Felicie ingin secepatnya meninggalkan semua kenangan tentang Elbert. Ia tidak ingin semua kenangan bersama Elbert di apartment ini terus menghantuinya. Ia benar - benar ingin lepas dari semua itu.
" Airin dan Devan sudah tahu kamu mau pindah dari apartment ini. Bagaimana tanggapan mereka ?" tanya Dave.
" Hmm ... sudah. Bahkan mereka menawarkan aku untuk pindah ke apartment mereka tapi aku menolaknya. Aku gak mau kehadiranku malah jadi menganggu mereka. "
" Ya, kamu benar Feli ... meskipun Airin dan Devan sahabat dekat kamu tapi bagaimanapun mereka adalah sepasang kekasih."
" Hmm ... ya, sudah kita berangkat sekarang untuk melihat apartment yang kamu katakan itu. Jika aku suka, aku bisa segera pindah. "
" Okey ... kita pergi !" sahut Dave semangat.
Tanpa sepengetahuan Felicie, Dave sudah berencana untuk ikut pindah ke apartment yang ingin di lihat Felicie. Ia berharap semoga Felicie suka dengan pilihannya. Meskipun ia harus menggunakan seribu alasan pada orang tuanya agar diizinkan buat tinggal sendiri. Tapi akhirnya mereka setuju.
Setelah Felicie duduk dengan nyaman di mobilnya, Dave pun mulai menjalankan mobilnya.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di apartment yang ingin Dave perlihatkan pada Felicie.
Dave dan Felicie berjalan menuju lobby dan menemui petugas properti yang sudah terlebih dulu di hubungi Dave sebelum mereka tiba di sini. Lalu Dave dan Felicie di bawa menuju lantai dua puluh lima di tower A.
Dari awal Felicie masuk dan menginjakkan kakinya di lobby, ia langsung suka melihat nya. Walaupun sebenarnya fasilitasnya hampir sama dengan apartment yang di tempati nya selama ini.
Setelah mereka berdua di bawa berkeliling akhirnya Felicie dan
Dave lalu di bawa petugas apartment menuju unit 14 dan begitu mereka sampai di unit tesebut ia segera membuka pintunya dengan akses kode khusus. Sistem keamanannya lebih canggih dari apartment Felicie. Mungkin karena harganya lebih mahal dan lebih dekat dengan kampus. Jadi mereka sengaja menyiapkan fasilitas yang terbaik.
Mata Felicie langsung terbelalak saat melihat apartment ini. Ia langsung jatuh hati ketika melihatnya. Nuansa cat perpaduan warna abu - abu dan hitam menampilkan warna maskulin. Sangat jarang apartemen di beri warna seperti ini.
Apartment ini juga memiliki dua kamar, sama seperti miliknya. Tapi disini ruang tamunya lebih luas. Begitu juga dengan dapur dan ruang makannya. Bahkan ada disediakan ruang pantry juga.
__ADS_1
Sekarang Felicie sudah tidak sabar untuk melihat kamar utamanya. Ia seketika terdiam ketika melihat kamar ini. Sungguh, ia sangat menyukainya. Cahaya matahari bisa langsung menembus kamar jika pagi hari.
Ia memang paling suka sinar matahari pagi langsung menyentuh tempat tidurnya. Makanya waktu itu ia meminta Airin dan Devan mencarikan apartemen buatnya, hal itulah yang jadi syarat utamanya. Kalau masalah lain bisa di toleransi.
Setelah melihat kamar yang satunya lagi, Felicie memutuskan untuk mengambil apartment ini.
" Bagaimana nona ... apa anda jadi mengambilnya ?" tanya petugas yang membawa mereka.
" Hmm ... ya, saya akan mengambilnya." jawab Felicie cepat.
Dave langsung tersenyum mendengar Felicie jadi pindah ke apartment ini. Berarti mereka tinggal bersebelahan, karena Dave sudah lebih dulu meminta petugas tersebut untuk memberikan unit sebelah untuknya, jika Felicie jadi tinggal disini.
Setelah sedikit melakukan negosiasi untuk pengurangan harga unit ini, akhirnya Felicie menandatangani surat serah terima kepemilikan apartment.
Felicie menarik nafas lega setelah semua ini selesai dengan cepat.
" Kamu senang, Feli ... ?" tanya Dave begitu mereka tinggal berdua.
" Ya, terima kasih Dave. Tempat ini sangat bagus. Kenapa aku bisa gak memperhatikan apartment ini, padahal aku setiap hari melewatinya." ucap Felicie sembari memandangi apartment barunya.
" Itu karena kamu terlalu fokus dengan semua masalahmu. Jadi, sekitarmu tidak terlihat ... hehehe." sahut Dave tertawa.
" Hmm .... kamu benar, Dave ! Aku terlalu fokus kuliah, karena ingin cepat selesai. Aku fokus bekerja karena ingin cepat bisa memiliki keahlian dan aku terlalu fokus pada rasa kecewaku ... padahal tidak seharusnya begitu. Tapi kamu jangan khawatir, aku sudah tidak begitu lagi. Bukankah kamu bisa lihat aku jauh lebih santai sekarang." ucap Felicie sembari mengembangkan senyumnya.
" Hmm ... kalau masalah fokus belajar, kamu masih. Begitu juga dengan masalah pekerjaan, kamu itu workaholic ... aku saja sampai bingung melihat kamu lembur setiap hari. Tapi kalau masalah kecewa, sepertinya kamu sudah membaik, meskipun yang paling tahu tentang sebenarnya hanya kamu. Apakah kamu memang sudah lebih baik atau berusaha terlihat baik. Tapi itu gak masalah, aku yakin dengan perlahan hatimu akan jauh lebih baik dari sebelumnya." ujar Dave panjang mengatakan pendapatnya.
Felicie tersenyum tipis dan berusaha mengatasi rasa berdebar di jantungnya. Ia tidak ingin sampai Dave tahu kalau ia sedang menutup dengan rapi perasaan sedih dan kecewa nya terhadap Elbert, dan di sisi yang lain di sudut hatinya nama Elbert masih tersimpan dengan rapi.
Tapi ia berupaya untuk menekannya agar tidak bisa terlihat olehnya dan kedua sahabat lainnya, Airin dan Devan.
Felicie tidak ingin mereka terus merasa khawatir jika melihat ia masih tetap bersedih.
Lagi pula ia yakin setelah nanti pindah ke apartment baru ini ia tidak akan lagi menemukan bayangan Elbert seperti yang sering ia lihat di apartment nya sekarang. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk tetap kuat dan menghapus semua kenangan tentang Elbert.
Sekarang pun sebenarnya ia sudah berhasil. Tapi ia akan teringat kembali jika sedang berada di apartment nya.
Maka keputusan yang ia ambil sekarang sudah sangat benar.
__ADS_1
Dengan pindah dari tempat itu, pasti bayangan pria yang membohonginya tidak akan mengikutinya lagi.
**********************************