
" Benarkah, Kak ... ?" tanya Felicie tak percaya.
" Iya, Feli ... kemarin begitu kakak selesai teleponan sama kamu, asistennya Tuan Elbert menghubungi Nyonya Megan dan mengatakan kalau Tuan Elbert tidak berniat sedikitpun untuk menutup butik. Bahkan asistennya bilang kalau Tuan Elbert tidak tahu menahu masalah ini !" ujar Jenny dengan nada gembira.
" Oh, syukurlah kalau begitu kak !" sahut Felicie menarik nafas lega.
Ternyata tidak seperti dugaannya, Elbert mau juga mengabulkan permintaannya.
" Iya, nyonya Megan lega banget mendengarnya. Sekarang butik kita sudah aman. " ujar Jenny.
" Hmm ... iya, kak ! " kata Felicie singkat karena ia mulai memikirkan kembali semua isi pembicaraannya dengan Elbert.
Apakah memang benar seperti yang di katakan Elbert padanya kalau ia tidak tahu mengenai masalah ini sebelumnya karena mereka belum ada membahas tentang pernikahan mereka ?
Apa mungkin yang di katakan Jenny dan teman - teman kerjanya itu benar kalau Elbert hanya terpaksa menjalankan pertunangan mereka ?
" Felicie ... !" panggil Jenny yang tidak mendengar suara Felicie.
" Ah, ngapain juga aku perduli, itu sudah tidak penting lagi ! Yang jelas dia sudah bertunangan dengan wanita itu ! " batin Felicie.
" Hei, Felicie ... Felicie !" panggil Jenny sedikit keras karena Felicie tidak menjawab panggilannya.
" Hah, ya ... kenapa Kak Jen ?" sahut Felicie tersadar dari lamunannya begitu mendengar Jenny memanggilnya.
" Kog diam, kamu melamun ya ?" tanya Jenny heran.
" Oh, gak kak ... aku hanya terlalu senang setelah mendengar kalau butik tidak jadi di tutup. Aku lega sekarang !" jawab Felicie terpaksa berbohong.
" Iya, kamu benar ... kami disini juga sangat lega begitu nyonya Megan memberitahu mengenai hal ini. Ternyata Tuan Elbert itu meskipun kaya raya tapi dia tidak sombong seperti tunangannya itu, Feli ... !" ujar Jenny mencibir seakan - akan Felicie ada di - dekatnya.
" Maksud kak Jen, gimana ? " tanya Felicie sembari mengernyitkan dahi.
" Iya, melalui asistennya, Tuan Elbert meminta maaf pada nyonya Megan dan seluruh karyawan yang ada di butik karena harus mengalami hal seperti ini."
" Oh, baguslah !" kini rasa bersalah Felicie terhadap nyonya Megan dan rekan - rekan kerjanya sedikit berkurang karena mendengar hal ini.
" Iya, malah Tuan Elbert berjanji dan menjamin kalau wanita angkuh itu gak akan lagi berani mengancam atau melakukan hal yang buruk pada butik kita !" ujar Jenny semangat.
" Hmm .... ternyata masih ada juga
kebaikan di dirinya !" gumam Felicie lirih setelah mendengar kata - kata Jenny.
" Apa, Feli ... kamu ngomong apa ? Kakak gak dengar !" ujar Jenny.
" Hah ... oh, gak ada. Aku gak ada ngomong apa - apa kak ! " kilah Felicie.
" Oh, kakak pikir tadi kamu ngomong sesuatu. "
" Hee ... kak Jen salah dengar. Aku gak ada ngomong apapun. Terus nyonya Megan bilang apa, Kak ... apa sekarang aku sudah bisa masuk kembali ke butik ? "kata Felicie berusaha mengalihkan pembicaraan dengan cepat agar Jenny gak curiga.
" Oh, kata nyonya Megan ... untuk sementara ini lakukan saja seperti yang kamu kerjakan sekarang demi mencegah hal - hal yang gak kita duga. Walaupun Tuan Elbert sudah berjanji dan minta maaf tapi bisa saja kan tiba - tiba wanita sombong itu datang lagi
ke butik dan nyonya Megan gak akan bisa mengelak lagi kalau dia melihat kehadiranmu di butik !" ujar Jenny menjelaskan.
" Hmm .... iya, kak !" sahut Felicie.
" Oke, deh Feli ... kakak tutup dulu, ya ... kakak mau pergi keluar dengan nyonya Megan !" ujar Jenny buru - buru ingin memutuskan sambungan telepon mereka.
" Okey, kak ... hati - hati dijalan dan makasih atas beritanya." sahut Felicie.
" Okey ... !" Jenny kemudian menutup teleponnya.
Begitu sambungan telepon mereka terputus, Felicie kembali terpikir akan semua yang telah terjadi.
" Hmm ... semoga dia menepati janjinya untuk tidak mengusik butik nyonya Megan lagi." Felicie tidak sadar saat dia bergumam, Dave sudah berdiri di dekatnya.
" Siapa maksud kamu yang mau mengusik butik nyonya Megan, Feli ... ?" tanya Dave sembari mengerutkan dahinya.
" Hah ... hei, kapan kamu datang Dave ? Katanya kemarin mau pulang tapi kog jadi !" kata Felicie dengan wajah terkejut.
Ia gak menyangka kalau Dave sudah pulang dan sekarang berdiri di sampingnya.
" Hee ... Iya, sorry Feli ! Sebenarnya aku jadi pulang kemarin tapi aku pulang ke rumah dulu karena orang tuaku ingin ketemu denganku. Setelah selesai, pagi aku langsung kesini !" ujar Dave tersenyum sembari menggaruk kepalanya meski tidak ada yang gatal.
" Oh, kenapa gak istirahat dulu. Kamu gak capek !" tanya Felicie.
" Gak ... aku udah gak sabar pengen ketemu sama kamu. Lagi pula aku sudah cukup istirahatnya." sahut Dave dengan wajah sumringah, karena akhirnya ia bisa melihat wajah gadis yang ia rindukan meski baru beberapa hari tidak melihatnya.
" Huh, mulai kumat lagi playboy nya !" cibir Felicie dengan wajah datar.
" Hahaha ... beneran aku memang kangen sama kamu. Kamu kangen juga kan ... ! Aku takut sangking kamu kangennya sama aku, kamu jadi malas pergi ke kampus ! Karena itu bergegas kesini." ujar Dave sembari tertawa lebar.
" Hahaha ... kog, ada ya orang yang kepedean kaya kamu ! Siapa juga yang kangen sama kamu !" ucap Felicie tertawa sembari mencibir mendengar omongan Dave.
" Jadi, beneran gak kangen, nih ?
Aduh ... teganya ! Sakit banget !" Dave memegang dadanya seakan - akan ia kesakitan.
" Hahaha ... gak usah lebay, Dave !" Felicie kembali tertawa melihat hal ini.
" Hehehe ... " Dave tertawa bahagia karena bisa membuat Felicie sedikit demi sedikit kembali ceria.
__ADS_1
" Kamu gak masuk kuliah tadi, Dave ?" tanya Felicie setelah mengehentikan tawanya.
" Ini baru keluar. Makanya aku langsung mencari kamu. Eh, gak taunya putri es lagi melamun. Tadi kamu lagi mikirin apa, sih ... ?" tanya Dave lalu duduk di sebelah Felicie.
" Oh, nanti aja aku ceritakan di -
apartment sekalian ada yang mau aku kasi ke kamu, Dave !" kata Felicie.
" Wow, apa tuh ! " sahut Dave sembari menggerakkan alisnya.
" Ntar aja, kamu lihat sendiri. Mudah - mudahan kamu suka, ya !" ucap Felicie tersenyum tipis.
Airin dan Devan yang baru saja keluar dari kelasnya melihat Dave dan Felicie duduk dengan santai di bawah pohon segera menghampiri mereka.
" Woi ... asyik banget ngobrolnya.
Ikutan dong ... !" Airin teriak kemudian ikutan duduk di dekat mereka.
" Dev ... tolong bilangin ke tunangan ini, kalau gue belum t**i jadi gak usah pake teriak - teriak segala !" omel Felicie sembari mengusap - usap telinganya.
Devan hanya tersenyum mendengar omongan Felicie.
" Dave, kamu pernah heran gak sih lihat hubungan mereka berdua ini, Kog, bisa ya cowok pendiam dan baik kaya Devan mau tunangan sama cewek gak jelas kaya Airin! Aku jadi kasihan lihat Devan !" menahan senyum Felicie sengaja mengatakan ini untuk menganggu Airin.
" Hmm ... benar juga ya, Feli. Sebenarnya aku heran juga sih, tapi gak berani ngomong ....!" Dave menimpali omongan Felicie sembari mengangguk - anggukkan kepalanya.
" Apa Lo bilang ... gue cewek gak jelas ! Sembarangan Lo, ya ... !" ujar Airin dengan wajah cemberut.
" Tuh, lihat Dave, tingkahnya juga kaya anak kecil. Tahu kaya gini harusnya dulu aku melarang Devan buat jadian sama dia !" Felicie semakin menggoda Airin.
Dave menahan agar tawanya jangan sampai keluar saat melihat wajah Airin yang cemberut.
" Sayang ... kamu kog diam aja sih , aku di bilang kaya gitu sama sahabat kamu yang resek ini !" ujar Airin makin cemberut karena Devan hanya diam tidak berniat membelanya.
" Felicie kan sahabat kamu juga, Rin ... !" sahut Devan ikut usil.
Melihat Devan bukannya membela dirinya membuat Airin jadi semakin kesal. Ia langsung mencubit lengan Devan dengan gemas.
" Kalau kamu gak belain aku, aku pulang, nih ... ! Kamu gak usah ikut !" ujar Airin merajuk sembari bangkit dan melangkah pura - pura ingin meninggalkan Devan.
" Yakin, mau sendirian di - apartment ? Emang berani ... kalau gitu hati - hati, ya ... ! Ya, udah Dev ... Lo malam ini nginap di tempat Dave aja sekalian aku mau ngasi sesuatu buat kamu.Yuk, kita pulang ... ?" ledek Felicie yang tahu Airin gak akan berani tinggal sendirian di apartment.
Mendengar hal ini, langkah Airin pun melambat. Perlahan ia berjalan kembali ke arah Devan.
Felicie, Dave dan Devan langsung tertawa melihat tingkah Airin.
Airin yang baru sadar kalau ia sudah di kerjai oleh mereka bertiga, seketika menekuk wajahnya menahan kesal.
" Lo, ya .... !" sahut Airin gemas tapi ia malah memeluk pinggang Felicie. Rasa kesalnya hilang dan Airin bahagia bisa melihat Felicie sudah sering tertawa belakangan ini.
Begitu juga dengan Devan dan Dave yang berjalan di belakang mereka. Mereka senang karena Felicie bisa bangkit kembali dan melupakan kesedihannya.
Karena apartemen Felicie dan Dave tidak begitu jauh dari kampus, mereka memutuskan untuk berjalan kaki dan meninggalkan mobil di parkiran.
" Masuk ....biar aku buat minuman
dulu." ucap Felicie setelah sampai di apartment nya, lalu berjalan ke arah dapur.
Dave, Airin dan Devan pun duduk
di sofa yang ada di ruang tamu Felicie.
Felicie segera membuat minuman dingin dan puding buat ketiga sahabatnya. Setelah selesai ia pun kembali berjalan ke ruang tamu.
" Nih, minum dulu ... aku mau ke kamar bentar buat ngambil sesuatu buat kalian !" ucap Felicie kembali melangkah meninggalkan ketiganya.
" Emangnya mau ngambil apa, sih Feli ... ? " tanya Airin penasaran lalu bangkit berniat mengikuti Felicie ke kamarnya.
" Udah, Lo duduk aja, temani Devan biar gue sendiri aja yang ngambil !" kata Felicie.
" Huh, iya deh ... sok rahasia segala !" cibir Airin.
Felicie lalu mengambil kotak yang ada di kamarnya yang berisikan kemeja dan gaun buat ketiganya.
Ia tersenyum melihat hasil karyanya. Ia berharap semoga mereka senang melihat hadiah yang akan ia berikan buat mereka.
Felicie bergegas keluar dari kamar dan berjalan ke arah ke tiga sahabatnya yang selalu sabar menemaninya dan gak pernah bosan memberi semangat untuknya.
" Nih ... !" Felicie memberikan kotak itu satu - persatu ke tangan mereka.
" Wow ... apa nih ?" ujar Airin semangat.
" Iya, apa nih Fel ... ?" tanya Dave gak kalah semangat.
Sedangkan Devan seperti biasa hanya tersenyum tipis ke arah Felicie.
" Lihat aja sendiri dan aku harap kalian suka !" ucap Felicie tersenyum.
Airin, Dave dan Devan pun segera membuka kotak itu karena ingin melihat isi kotak yang di berikan Felicie.
Mata ketiganya terbelalak begitu melihat isi kotak.
__ADS_1
Airin mengeluarkan gaun indah buatan Felicie dengan mata berbinar dan menyampaikan
ke badannya.
" Wah ... bagus banget, Fel ... !" ujar Airin kagum.
Begitu juga dengan Dave dan Devan. Dave bahkan dengan gak sabar ingin mencoba kemeja itu.
" Eh, ganti di kamar mandi sana ! Aku gak mau mataku ternodai dengan tubuhmu, Dave. Mataku hanya khusus melihat tubuh Devan sayangku aja !" ujar Airin sembari memandang dengan tatapan mesra ke arah Devan kekasihnya.
" Huek .... !" Dave dan Felicie barengan pura - pura ingin muntah begitu mendengar perkataan Airin.
Devan tertawa kecil melihat nya sembari mengelus dengan sayang rambut Airin.
" Yuk, sayang kita cobain ... !" ajak Airin seraya menarik tangan Devan.
" Eh, kalian gak boleh ganti bajunya barengan. Harus terpisah !" kata Felicie seraya melotot.
" Ih, sirik Lo ... Wek !" ejek Airin, lalu bergegas berjalan ke kamar Felicie bersama Devan.
Felicie menunggu ketiganya mencoba pakaian yang ia buat
sembari menikmati puding buatannya.
Tak lama, Dave pun keluar dari kamar mandi kemudian di susul Airin dan Devan dengan mengenakan pakaian pemberian Felicie.
" Sayang ... sumpah, gaunnya cantik banget. Gue suka ! Mana warnanya samaan lagi sama my honey !" ujar Airin sembari memutar badannya, memperlihatkan keindahan gaun itu.
" Fel ... makasih atas hadiahnya.
Keren, aku suka kemejanya."kata Dave tersenyum.
" Thanks Cold ... !" ucap Devan tersenyum kembali memanggil julukan yang dulu pernah ia sematkan pada Felicie.
" Hmm ... aku senang karena kalian menyukainya. Ini hadiah pertama ku buat kalian. Terima kasih sudah jadi teman terbaik buatku selama ini. " kata Felicie dengan mata berkaca kaca karena terharu.
Meski ada rasa sedih terselip di - hati Dave setelah mendengar Felicie tetap menganggapnya sebagai sahabat tapi ia segera menepisnya. Ia memang mencintai Felicie, tapi ia tidak berniat untuk memaksakan perasaannya. Ia mengerti tidak akan mudah bagi Felicie untuk menerima cinta lain untuk saat ini. Dave sudah cukup bahagia bisa dekat dengan Felicie seperti sekarang.
" Kita ini udah bukan teman lagi sayang, tapi saudara !" ujar Airin lalu memeluk Felicie dengan hangat.
Dave dan Devan ingin ikutan memeluk Felicie tapi segera di - tepis oleh Airin.
" Hei, kalian jangan cari - cari kesempatan ya, ...! Apalagi kamu, honey ! " omel Airin dengan mata melotot ke arah Devan.
Dave dan Devan tertawa lebar melihat sikap Airin.
" Eh, tapi kenapa Lo cuma buat untuk kami aja, Fel ... harusnya Lo buat juga gaun yang sama warnanya dengan Dave, biar nanti kita pakai barengan." ujar Airin.
" Hmm ... udah gue buat, kog !" kata Felicie. Ya, ia memang membuat gaun buat dirinya dan sengaja memilih warna yang sama dengan Dave agar Dave senang.
Inilah cara Felicie membalas perhatian dan kebaikan Dave padanya. Karena Felicie tahu, ia tidak akan mungkin bisa memberikan yang lain, seperti yang diinginkan Dave.
" Wah ... tuh, dengar Dave ! Felicie juga buat gaun yang samaan warnanya dengan kamu." Airin mengedipkan mata ke arah Dave saat mengatakan ini.
Dave hampir saja tidak bisa menahan perasaan senang di hatinya setelah mendengar Felicie mengatakan kalau ia juga membuat pakaian yang senada warnanya dengan kemeja miliknya.
" Udah, lepas ... sesak gue !" kata Felicie sembari melepaskan tangan Airin yang masih memeluknya.
" Hehehe ... sorry ! Hmm ... gimana kalau Sabtu ini kita pergi jalan dan memakai baju yang di buat Felicie ini." Airin mengusulkan ide nya yang ingin membuat Felicie dan Dave jadi lebih dekat.
" Boleh ... aku setuju !" sahut Dave dengan cepat.
" Okey, kalau gitu ! Lo juga setuju kan, Feli ... ? " tanya Airin menatap Felicie.
" Hmm ... " Felicie menganggukkan kepalanya.
" Bagus ....Ya, udah, karena gue pengen nonton sama my honey, jadi kami pergi dulu, ya ... sampai jumpa besok !" ujar Airin segera menarik tangan Devan.
" Oh, aku juga mau menemui dosen sebentar, Fel ... tadi karena melihat kamu duduk sendirian aku jadi lupa buat nyerahin tugas selama aku pergi kemarin ke dosen. Nanti setelah selesai aku datang lagi ke apartment kamu. Tadi kamu belum jadi cerita sama aku." ucap Dave dengan suara berbisik pelan.
" Hmm .... " sahut Felicie cepat.
" Hei ... kalian bisik - bisik apa itu ?" tanya Airin pengen tahu.
" Hee .. aku cuma minta buatin. puding tiramisu sama Feli !" sahut Dave berbohong.
" Eh, Lo gak ganti baju dulu, Rin ... ?" kata Felicie sengaja mengalihkan pembicaraan.
" Ntar aja di apartment gue ... gue kan harus mandi dulu biar wangi jadi Devan makin klepek - klepek sama gue !" sahut Airin dan memberikan senyum terbaiknya buat Devan, tunangannya.
" Ya, udah buruan sana pulang.
Gue juga mau ngelanjutin kerjaan gue !" kata Felicie sembari membuat gerakan mengusir Airin.
" Ya ... ya, kami pulang !" Airin dan Devan lalu melangkah keluar dari apartemen Felicie.
" Feli ... aku ke kampus bentar, ya ... jangan lupa janji kamu buat cerita !" kata Dave sebelum melangkahkan kakinya keluar dari apartment Felicie.
" Ya, aku gak mungkin lupa !" ucap Felicie.
Setelah mendengar omongan Felicie, Dave pun segera pergi dari apartment Felicie dengan senyum tipis di wajahnya.
__ADS_1
**********************************