
Setelah menempuh jarak yang panjang dan lama akhirnya Felicie dan Elbert tiba di kota B****n, di - bandara Lo**n Internasional.
Feli lumayan segar karena semalam tertidur dengan nyenyak
di pesawat. Beda dengan Elbert yang tidak bisa tidur karena terus memandangi wajah Felicie.
" Kamu gak tidur ya, El ... ? " tanya
Felicie saat melihat mata panda
Elbert.
" Ya ... aku gak bisa tidur." jawab Elbert tersenyum.
" Kenapa ? " tanya Feli heran.
" Gimana mau bisa tidur. Aku rasanya masih gak bisa percaya
bahwa kamu akan terus berada
di sampingku selama beberapa tahun ini." jawab Elbert jujur.
" Apaan sih ... ? " sahut Feli gugup.
" Loh, benarkan yang aku omongin . Setelah belasan tahun, akhirnya kita bisa bertemu dan
aku berharap bisa bersama kamu untuk selamanya dan tidak akan kehilangan kamu lagi seperti dulu." ujar Elbert dengan lembut.
" Mana sih dua kurcaci ini. Kog belum kelihatan ? ujar Felicie mengalihkan pembicaraan mereka ketika selesai menunggu bagasi.
" Hmm ... sahabat kamu yang kuliah disini itu ? " tanya Elbert mengerti kalau Felicie sengaja.
" Iya, El ... kemarin mereka bilang
akan datang sebelum kita nyampe. Tapi udah jam segini belum kelihatan batang hidung mereka. " ujar Felicie lega karena Elbert tidak membicarakan hal tadi.
" Mungkin bentar lagi, Feli ... kita tunggu aja. Tapi kalau kamu gak sabar, kita bisa ke rumah aku dulu. Nanti baru minta jemput." ucap Elbert.
" Hmm ... bukan aku gak mau, El ... tapi aku ingin langsung
ke apartment, ... mau lihat
apartment yang mereka carikan
buat aku, beneran dekat dengan
kampus gak." ucap Felicie menolak dengan halus.
" Ya, udah kalau begitu, kita tunggu aja teman kamu."
" Felicie .... ! " terdengar suara Airin berteriak memanggil namanya.
Airin dengan tergesa berlari menghampiri Felicie, diikuti Devan tunangannya. Kemudian setelah berada di dekat Felicie, Airin langsung memeluknya.
" Lama ya nunggunya ... ? Akhirnya kita bertiga berkumpul lagi seperti dulu." ujar Airin senang.
" Apa kabar, Fel ... Lo baik - baik ajakan ? " tanya Devan.
Felicie sengaja diam dan tidak menjawab pertanyaan mereka sembari memasang wajah dingin kearah kedua temannya.
" Sorry, Felicie ... Lo marah ya karena kami telat jemput Lo ? " tanya Airin dengan mata bersalah
karena melihat Felicie gak merespon pertanyaan nya.
Elbert yang berdiri di dekat Felicie bahkan tidak mendapat perhatian dari Airin, karena ia hanya fokus melihat wajah Felicie yang marah.
" Felicie ... maafin kita dong.
Bukannya kami sengaja telat, tapi tadi ada kecelakaan di jalan, jadinya macet terus telat deh ... !"
ujar Airin menjelaskan alasan keterlambatan Airin dan Devan.
" Feli, maafin gue dong. " mata Airin mulai berkaca - kaca karena tetap gak mendapat tanggapan dari Felicie.
" Felicie, lihat tuh pacar gue udah mau mewek itu. Kalau Lo gak maafin dia, bisa banjir nih airport."
ujar Devan santai karena tahu
kalau Felicie lagi mengerjai Airin,
tunangannya.
__ADS_1
" Feli ... hiks ... hiks." Airin mulai meneteskan air matanya.
Melihat Airin menangis, Felicie
tidak bisa menahan tawanya.
" Hahaha ... Lo gak pernah berubah ya, Rin ... cengeng.
Heran gue sama Lo, Dev ... kog bisa jatuh cinta sama cewek lemah kaya gini. " ujar Felicie tertawa lebar karena berhasil
mengerjai Airin.
" Ih, jahat Lo, ah ... sengaja Lo, ya ... ! " ucap Airin mencubit lengan Felicie dengan suara serak karena menangis.
" Hehehe ... udah hapus tuh air mata Lo, jelek muka Lo ... !" goda Felicie kemudian memeluk Airin.
" Feli ... !" teriak Airin gemas sembari memeluk Felicie.
Elbert tersenyum kecil melihat
Felicie yang terlihat begitu bahagia bertemu dengan kedua
sahabatnya.
" Udah ... basah nih baju gue.
Lap dulu ingus Lo yang meler." ujar Felicie melepaskan pelukannya kembali menggoda
Airin.
" Gak ada, ya ... eh, btw pria tampan tapi gak setampan Devan suami gue, Elbert yang elo ceritakan sama gue, ya Feli ... ? "
tanya Airin langsung menghentikan tangisnya karena
baru menyadari keberadaan Elbert.
Devan, kekasihnya cuma bisa
tersenyum melihat tingkah Airin.
Sikap Airin yang manja dan kekanakan inilah yang akhirnya
membuat Devan yang dingin jatuh cinta padanya.
El, kenalin ini Airin dan Devan." ucap Felicie mengenalkan mereka.
Elbert menyodorkan tangannya pada mereka. Begitu juga dengan
Airin dan Devan.
" Elbert ... ! " ucapnya singkat.
" Gue Airin dan suami gue yang tampan ini Devan. Kenalkan, kami sahabatnya Airin ... kekasih Lo."
ujar Airin sengaja menggoda Felicie.
" Rin ... apaan sih, Lo ! Mau gue
banting Lo, hah ... !" ucap Felicie
sembari melotot ke arah Airin.
Elbert menahan tawa melihat pertengkaran Felicie dan Airin.
Ternyata Felicie bisa bersikap kekanakan juga jika berada dekat dengan teman seusianya.
" Sayang ... dengar tuh ! masa kamu biarin aku mau di banting
sama cewek jadi - jadian ini. " adu Airin dengan suara manja pada Devan sembari memeletkan lidah ke arah Felicie.
" Apa ... ? Enak aja gue cewek jadi - jadian, beneran gue banting juga Lo nih ... " ucap Felicie malu karena Elbert mendengarnya
" Ye, emang benar kog ... kalo elo itu cewek beneran gak mungkin
hobby nya mukulin orang ... Wek !" ejek Airin lalu sembunyi
di belakang badan Devan.
" Airin .... ! " teriak Felicie dengan muka memerah karena malu.
" Felicie maafin Airin, ... Airin cuma bercanda doang. Jangan buat dia takut kaya gini. " ujar Devan membela Airin.
__ADS_1
" Oh, Lo belain deh tunangan Lo yang manja itu. " sahut Felicie
pura - pura kesal.
" Bukan, Felicie ... kasihan Airin."
ujar Devan sembari memeluk
Airin.
" Oh, gitu ya ... elo lebih belain tunangan Lo yang cengeng ini
di bandingkan gue teman Lo yang
lebih dulu kenal dengan Lo." ucap Felicie mengejek Airin.
" Gak gitu, Feli ... elo berdua itu
sama artinya buat gue. Elo sahabat yang gue sayangi sedangkan Airin wanita yang gue cintai." ujar Devan santai, karena ia tahu memang selalu seperti ini kejadiannya jika Felicie bertemu dengan Airin.
" Udah, sekarang antarkan gue
ke apartment, biar gue gak lihat
drama yang di buat tunangan Lo ini." ucap Felicie.
" Ayo ... Lo, pasti suka apartment yang kami pilihkan buat Lo. " ujar
Airin meraih tangan Felicie.
Seperti gak ada yang terjadi sebelumnya, Felicie dan Airin jalan sambil berpegangan tangan.
Elbert dan Devan bertatapan lalu tertawa kecil melihat tingkah mereka.
" Mereka berdua memang selalu
seperti itu kalau ketemu. Jadi
harap maklum aja. " ujar Devan pada Elbert.
" Ya ... tapi aku suka melihatnya.
Aku senang melihat Felicie bisa bersikap lepas kaya gadis seusianya. " ucap Elbert sembari melihat Felicie yang jalan
di depannya.
" Hmm ... apa kau benar - benar
mencintai Felicie ?" tanya Devan
menghentikan langkahnya sembari menatap serius wajah
Elbert.
" Ya, aku mencintainya sudah sejak lama. " jawab Elbert juga serius.
" Baiklah, kalau begitu aku minta padamu sebagai sahabatnya Felicie ... tolong, jangan pernah
kecewakan dia. Bahagiakan dia
dengan sepenuh hati kamu.
Jika kamu tidak yakin bisa membuat Felicie bahagia, jangan
memberi harapan padanya. " ujar Devan dingin.
" Hmm ... kamu tidak perlu khawatir. Aku pria pertama yang
paling ingin membuatnya bahagia
di dunia ini." ucap Elbert dengan
wajah sangat serius.
Devan menghela nafas lega setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Elbert.
Sekarang ia yakin, Elbert adakah pria yang tepat buat Felicie.
Sebagai sahabat yang sudah mengenal Felicie, ia sangat tahu
apa yang pernah di alami Felicie
__ADS_1
salam hidupnya. Meski Felicie berusaha menutupi dengan sikap dinginnya, tapi Devan bisa melihat kesedihan di matanya.
**********************************