
Sudah seminggu , Felicie hanya mengurung diri di apartment nya.
Bangun, makan dan tidur, itu hal yang di lakukan nya setiap hari.
Ia benar - benar kehilangan semangat dalam diri nya, karena kejadian itu. Felicie merasa dirinya
sudah tak berharga lagi. Walaupun Aaron belum sempat merenggut kesuciannya, tapi sebagian tubuh nya sudah di - jamah oleh bajingan itu.
Bahkan ia sengaja mematikan hand phone nya agar tidak ada seorang pun yang bisa menghubungi nya. Ia hanya keluar dari apartment jika ingin membeli bahan makanan. Itu pun dengan memakai hodie dan masker agar tidak ada yang mengenalinya. Felicie gak ingin, Elbert bisa menemui nya dalam
keadaan seperti ini.
Tapi hari ini, tepat seminggu sudah ... ia memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Ia akan menemui Aaron, dan meminta untuk segera menceraikan dirinya. Sudah cukup seminggu ini, ia menjadi pesakitan. Ia harus bangkit kembali. Untuk apa membuang waktu dengan terpuruk karena pria bajingan itu.
Elbert yang gelisah karena gak bisa menghubungi gadis kecilnya, selama beberapa hari ini merasa kacau. Padahal ketika ia mengantar Felicie pulang, semua baik - baik saja. Ia sudah memerintah anak buah nya untuk mencari tahu sejak hari pertama El gak bisa menghubungi Felicie.
Tapi sampai detik ini, mereka belum memberikan kabar pada nya.
" Kamu kemana honey ... ? Apa yang terjadi dengan mu ? " gumam El lirih.
Felicie yang sedang berbaring di tempat tidur, hanya menatap langit - langit kamarnya.
Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Gak mungkin ia melaporkan tindakan Aaron pada polisi karena pelecehan yang di lakukan nya ... sementara mereka berdua pasangan yang sah.
Jika ia menggugat cerai Aaron sekarang berarti ia harus merelakan perusahaan papa nya, karena Aaron sudah menetapkan waktu tiga bulan, untuk pernikahan mereka.
" Hah ... apa yang harus gue lakukan ? " ujar Felicie kesal.
Aaron yang sudah siuman sejak kemarin, hanya melamun memikirkan perbuatan nya pada Felicie. Ia sendirian di kamar ini. Tommy dan Zico belum datang karena harus bekerja terlebih dahulu. Sedangkan Giselle yang biasanya datang setiap pagi menemani nya sebelum Tommy ataupun Zico datang sepulang dari perusahaan, belum juga datang. Tubuh nya sudah mulai sedikit membaik, namun ia tetap harus berada di rumah sakit. Karena ada beberapa tulang nya yang patah karena pukulan dan bantingan yang di lakukan Felicie.
" Kemana gadis itu menghilang ?
Tommy dan Zico belum juga menemukannya. Apakah dia baik - baik saja ? Kenapa gue harus melakukan itu pada nya. Kenapa gue harus kesal melihat dia bersama pria asing itu ? Apa gue mulai menyukai gadis kecil itu ? Tapi gak mungkin, kami aja cuma bertemu beberapa kali setelah menikah, bantah Aaron.
Tapi dia memang sangat menarik, siapa saja pasti tertarik melihat kecantikannya. Bahkan di usia nya yang masih begitu muda, tubuh nya sudah terlihat sempurna.
Gue bahkan enggan melakukan itu dengan Giselle. Padahal jelas - jelas kami sudah berhubungan sangat lama dan gue mencintai nya. Namun kenapa ketika melihat Felicie, malah gue gak bisa menahannya.
" Hai, sayang ... lagi melamun kan, apa ? " tiba - tiba terdengar suara Giselle membuat Aaron menghentikan lamunan nya.
" Gak ada, sayang ... cuma mikirin kamu kenapa telat datang hari ini ? " bohong Aaron.
Giselle tidak menjawab perkataan Aaron, ia malah mencium bibir Aaron.
" Sayang, hentikan ... sebentar lagi dokter akan datang ke ruangan ini buat visit. " Aaron menarik bibir nya dengan cepat sebelum ciuman itu menjadi semakin dalam.
__ADS_1
Giselle yang kecewa karena penolakan dari Aaron berusaha tetap tersenyum. Ia masih ingin tahu, siapa sebenarnya wanita yang keluar dari apartment Aaron.
Dari awal, Aaron siuman ... Giselle sudah menanyakannya tapi Aaron selalu mengalihkan pembicaraan jika menyangkut soal itu.
Kali ini, ia harus mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Aaron. Ia tidak ingin rencananya untuk menikah jadi batal hanya kehadiran gadis muda itu.
" Honey ... kamu beneran cinta kan sama aku ? " tanya Giselle lembut sambil menatap manik mata Aaron.
" Hmm ... kenapa kamu selalu menanyakan hal ini padaku ...
apa kau ragu akan perasaanku ? "
Aaron menjawab dengan perasaan gelisah. Ia sendiri gak tahu kenapa bisa gelisah ketika mengatakan hal ini pada Giselle.
Bukankah dia memang sangat mencintainya. Bahkan dia gak perduli, walau Daddy dan kedua sahabatnya tidak menyukai hubungan nya dengan Giselle.
" Kalau begitu, tolong jawab pertanyaan ku kali ini dengan jujur. " ujar Giselle serius.
Jantung Aaron berdebar kencang mendengar perkataan Giselle.
Sepertinya ia sudah bisa menduga pertanyaan apa yang akan di lontarkan Giselle pada nya. Pasti mengenai Felicie.
Karena sudah beberapa hari ini, hanya pertanyaan itu yang selalu di tanyakan Giselle.
" Siapa wanita muda yang aku lihat keluar dari apartment kamu, ketika kamu terluka ? Jangan pernah mengalihkan pertanyaan ku ini seperti yang sudah kamu lakukan selama beberapa hari ini.
Aaron terkejut mendengar ancaman yang di katakan Giselle.
Ia bingung harus melakukan apa saat ini. Di satu sisi, ia tidak ingin Giselle tahu kalau Felicie adalah isterinya lalu pergi meninggalkan nya, sedangkan di sisi lain ia juga belum rela melepaskan Felicie, bukan karena ancaman Daddy tapi ia sendiri pun tidak tahu sebab nya. Sejak kejadian kemarin , ia terus teringat pada Felicie. Bahkan masih terekam jelas di ingatan nya suara tangis Felicie yang waktu itu memohon untuk tidak melakukan hal itu pada nya. Apa yang harus di lakukan nya sekarang ? Apakah harus memberitahu Giselle bahwa Felicie adalah isteri yang terpaksa di nikahi nya karena ancaman Daddy atau tetap berbohong dan menyetujui permintaan Giselle untuk menikahi nya.
Aaron benar - benar frustasi. Dia bingung harus mengambil langkah apa sekarang.
" Jawab pertanyaan ku, Aaron ... atau kau memang ingin aku pergi dari hidupmu ! " bentak Giselle dengan suara keras.
Aaron terhenyak mendengar suara keras Giselle. Selama mereka berhubungan, belum pernah sekalipun ia berlaku seperti ini.
Giselle selalu bersikap lemah lembut dan manja pada nya.
" Baiklah, sepertinya kau memang tidak ingin menjawab pertanyaan atau pun pilihan yang ku berikan.
Jadi, sebaiknya aku pergi. Aku tidak ingin tetap disini dengan orang yang tidak mencintaiku." Giselle pun bangkit dari kursi yang di letakkan di samping tempat tidur Aaron.
Giselle melangkah perlahan. Ia sengaja melakukan agar Aaron menahan kepergiannya. Ia ingin tahu seberapa besar rasa cinta Aaron pada nya. Jika Aaron menahan nya, Giselle tidak akan memperdulikan mengenai gadis kecil itu, lagi. Ternyata dugaan nya benar, ketika tangan Giselle hendak meraih gagang pintu terdengar suara Aaron memanggil nya. Senyum licik terbit di wajah Giselle. Ia pun membalikkan badan nya dan menatap Aaron.
" Giselle ... sayang, baiklah besok aku akan menikah dengan mu. Tapi apa kamu yakin ... ?
__ADS_1
Kamu tahu sendiri jika aku ketahuan menikah sebelum batas waktu yang di tetapkan Daddy, aku tidak akan pernah mendapatkan secuil pun dari aset daddy. Bahkan aku tidak akan bisa lagi memimpin perusahaan. Apalagi kondisi ku masih seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun.
Apakah kamu tidak bisa menunggu aku sampai keluar dari rumah sakit, baru setelah itu kita menikah ? " Aaron berusaha melunakkan hati Giselle. Ia berharap Giselle mau menunda keinginan nya untuk menikah besok.
Walaupun ia sendiri tidak yakin dengan keputusan yang ia buat.
Resiko nya terlalu besar. Ia akan kehilangan semua nya. Belum lagi masalah pernikahan nya dengan Felicie. Ia benar - benar pusing saat ini, kepala nya terasa mau pecah.
" Aku bisa merahasiakan pernikahan kita sampai batas waktu yang di tetapkan oleh Daddy mu.
Aku juga gak ingin kamu celaka karena permintaan ku. Jadi, kamu jangan khawatir, aku hanya ingin hubungan kita jelas dan di sahkan. Aku takut kehilangan kamu, sayang." kini Giselle kembali berkata dengan suara manjanya.
Aaron hanya bisa diam mendengar perkataan Giselle.
Ia benar - benar menemui jalan buntu kali ini. Giselle bahkan bersedia menyembunyikan pernikahan mereka. Ia menghela nafas dengan berat dan akhirnya mengambil keputusan untuk menyetujui perkataan Giselle.
Walau ia tahu setelah ini semuanya akan menjadi lebih sulit dari sebelumnya.
" Baiklah ... besok kita akan menikah. Tapi karena keadaan ku masih seperti ini, sebaiknya kita menikah di kamar ini saja dan jangan sampai ada yang mengetahuinya. Apalagi kedua sahabatku Tommy dan Zico.
Aku gak mau kabar pernikahan kita di ketahui oleh Daddy.
Dan satu lagi, kamu yang mengurus semua nya karena kondisi ku masih seperti ini. " suara Aaron terdengar bergetar ketika mengatakan ini.
" Tentu saja, sayang ... jangan khawatir. Aku juga gak mau mereka mengetahui pernikahan kita. Mereka pasti akan melarang kamu. Karena temanmu itu, tidak pernah suka melihatku. Aku akan mengurus semua hal mengenai pernikahan kita. Serahkan semuanya padaku." ujar Giselle
dengan wajah bahagia.
" Hmm ... baiklah." sahut Aaron dengan lirih.
" Ya, udah ... kalau gitu aku pergi sekarang, ya ... agar bisa menyelesaikan semua urusan buat pernikahan kita besok." pamit Giselle sambil mengecup pipi Aaron.
" Ya ... hati - hati." ucap Aaron pasrah.
Giselle lalu melangkah seperti terbang dari dalam kamar Aaron.
Ia sangat semangat, akhirnya bisa menjadi isteri sah dari Aaron William. Ia hanya butuh bersabar selama dua bulan ini untuk menutupi pernikahan mereka.
Setelah itu, Aaron akan menjadi pemilik semua kekayaan Tuan William yang pernah mengusirnya.
Ia sudah membayangkan kehidupan mewah yang menanti nya di masa depan.
Terbalik dengan Giselle yang sedang bahagia, Aaron malah terpuruk. Ia ingin berteriak keras saat ini. Kenapa ia harus terjerat masalah seperti ini.
Masalahnya dengan Felicie belum lagi selesai, datang lagi masalah baru, menikah dengan Giselle.
__ADS_1
Bagaimana jika semua ini terbongkar dan di ketahui oleh Daddy nya.
**********************************