Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 58


__ADS_3

Elbert dan Felicie baru saja


selesai mengambil visa.


Sejak jauh hari, Felicie sudah


mempersiapkan untuk mengurus


visa pendidikan buatnya.


Sebenarnya pertama kali ia ingin


kuliah di negara kelahiran Mamanya, Perancis tapi waktu itu karena ingin bersembunyi dari Bagas, maka ia lebih memilih mengambil kuliah di A****** aja.


Agar jika pun Bagas menyuruh orang untuk mencarinya, ia tidak akan menemukan Felicie.


Tapi ternyata kecemasannya waktu itu tidak terjadi. Semua


masalahnya susah selesai dengan


keluarga Bagas karena bantuan


Tuan William.


" Kamu senang ... ? " tanya Elbert


lembut.


" Ya ... akhirnya aku akan kuliah."


sahut Felicie.


" Apa William dan Aaron tahu, kamu akan berangkat ke. A****** ? " tanya Elbert menatap Felicie.


" Hmm ... tidak. " sahut Felicie singkat.


" Kamu gak berniat memberitahu


mereka ? " tanya Elbert dan kali ini ia benar - benar ingin tahu


jawaban Felicie.


" Sepertinya tidak." jawab Felicie


agak ragu, karena ia pernah berjanji pada Tuan William untuk


selalu berhubungan.


" Kelihatannya kamu masih ragu ?"


ucap Elbert lirih, karena ia merasa


Felicie akan sulit menjauh dari


William dan Aaron di sebabkan adanya keterikatan di antara mereka mengenai urusan saham perusahaan dan kekayaan Aaron


yang di berikan untuk Felicie.


" Bukan begitu, El ... aku hanya


merasa tidak enak dengan Daddy.


Daddy selalu bersikap baik padaku selama ini. Bahkan aku


pernah menyetujui perkataannya


untuk tetap berhubungan


ataupun memberi kabar di mana pun aku berada.


Elbert menghela nafas panjang


setelah mendengar perkataan


Felicie. Ternyata Felicie ragu karena memikirkan janjinya pada


Tuan William.


" Kenapa kamu harus ragu, kamu tetap bisa menghubunginya dari


sana." ujar Elbert berusaha bersikap dewasa.


" Benar, tapi aku tidak ingin Aaron


sampai mengetahui keberadaan ku." ucap Felicie berat.


" Kenapa kamu harus takut dia tahu ? Saat kamu pergi, kalian


kan sudah tidak ada ikatan lagi."


ujar Elbert menelisik wajah Felicie.


Felicie tercenung sejenak. Benar apa yang di katakan Elbert. Jadi,


apa yang harus di khawatirkan nya. Jika pun Aaron tahu tentang


keberadaannya, toh mereka tidak


ada sangkut pautnya lagi.


Felicie sudah jadi wanita bebas.


" Aku bukan takut, El ... aku hanya


ingin setelah bercerai, kami tidak


perlu bertemu lagi. Aku gak mau."


ucap Felicie karena dia gak ingin


jika masih tetap jumpa dengan


Aaron, ia akan teringat kembali


atas kejadian itu.


Sedangkan ia sudah hampir bisa


melupakan rasa traumanya.


Elbert ingin mengatakan sesuatu


tapi ia batalkan. Ia yakin ada alasan lain yang membuat Felicie


bersikap seperti ini. Elbert sudah


menduganya sejak lama, telah terjadi sesuatu yang buruk pada Felicie dan ini di lakukan oleh Aaron.


" Hmm ... baiklah. Aku akan


berusaha membantu agar Aaron tidak bisa menemukan keberadaan mu. Tapi dengan syarat kamu tidak boleh berhubungan dengan Tuan William. Karena jika kamu lakukan itu, akan sulit menyembunyikan dirimu. Kamu tahu sendiri, Tuan William juga memiliki perusahaan di A******.


Ia juga memiliki kekuasaan yang lumayan besar jadi ia pasti bisa menemukan keberadaan mu."


ucap Elbert berjanji.


" Benarkah ? " tanya Felicie.


" Ya ... " jawab Elbert.


Wajah Felicie terlihat bahagia mendengar perkataan Elbert.


" Terima kasih, El. Aku akan berusaha menolak keinginan


Daddy." kata Felicie.


" Bagus. " ucap Elbert senang.


Karena memang ini yang di inginkan Elbert. Bukan karena dia egois atau cemburu berlebihan. Tapi ini ia lakukan agar Felicie bisa lebih tenang


saat kuliah dan menata hidupnya kembali.

__ADS_1


" Okey, sekarang kita akan pergi


bersenang - senang hari ini." ujar


Elbert.


" Hah, benarkah ? Kita mau pergi


kemana, El ... ? " tanya Felicie


penasaran.


" Ke Taman bermain. Kita bisa mencoba semua permainan yang


memicu andrenalin ! Apa kamu


berani !! " tantang Elbert dengan tersenyum.


" Siapa takut !!! " jawab Felicie


cepat.


" Hahaha .... Go .... !!! " ajak Elbert


tertawa.


Felicie menganggukkan kepala


dengan semangat. Karena sudah


sejak lama ia tidak pernah masuk


ke tempat permainan seperti itu.


Hidupnya hanya di jalani dengan


belajar dan bekerja. Ia tidak punya


waktu dan teman yang bisa


di ajak ketempat itu.


Pernah ia mengajak Tika, tapi mbak nya itu menolak karena tidak berani.


Elbert segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju tempat


yang ia sebutkan pada Felicie.


* * * * *


Bagas sangat kewalahan untuk


menutupi kredit rumahnya.


Ia belum berhasil juga untuk


membuka usaha barunya.


Ternyata melakukan ini tidak semudah yang ia pikirkan.


Bahkan tabungannya sudah mulai


menipis akibat di pergunakan


untuk kebutuhan sehari - hari.


Belum lagi Sisca yang tidak bisa


merubah kelakuannya yang sudah


terbiasa hidup mewah.


Sisca masih tetap bergaul


dengan teman - teman arisan sosialitanya, yang kerjaannya


hanya menghambur - hambur kan


uang saja.


di tempati nya sekarang akan


di tarik oleh pihak bank jika


sampai bulan depan ia tidak juga


membayar kreditnya.


" Pa, mama minta uang." tiba - tiba


Sisca datang keruangan kerja


Bagas.


" Hah, uang ... Mama mau pergi


kemana lagi ? " tanya Bagas dengan kesal.


" Teman Mama ada yang mengadakan pesta ulang tahun nanti malam. Jadi sekarang Mama mau pergi cari hadiah buatnya." ujar Sisca tanpa beban.


Mendengar hal ini Bagas langsung bertambah emosi.


Sisca benar - benar tidak mau


tahu tentang kesulitan yang ia


alami.


" Uang ... Uang ... hanya itu saja


yang ada dalam kepalamu !!!


Apa Mama tahu jika terus bersikap seperti ini kita beneran


akan jadi gembel lagi. Apa Mama


mau, hah ... !!! " bentak Bagas keras.


" Gak usah pelit deh Pa ... Mama


tahu uang tabungan Papa masih


ada." ujar Sisca gak mau kalah.


" Tabungan ... hahahaha.


Kamu gak salah ? Bahkan Papa


tidak bisa membayar kredit rumah


ini. Mungkin sebentar lagi, kita tidak akan memiliki rumah lagi." kata Bagas tertawa sinis memandang Sisca.


Mata Sisca langsung melotot


mendengar perkataan Bagas.


Ia tidak percaya dengan yang


di katakan suaminya. Mana mungkin uang mereka sudah


mau habis.


" Papa jangan bohong ? Kita gak


mungkin kehabisan uang. " bantah Sisca tetap gak percaya.


" Hahahaha ... terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi kamu


jangan terkejut jika suatu saat kita


akan miskin seperti dulu. " kata

__ADS_1


Bagas tak perduli.


" Pa, please deh ... kalau bercanda itu jangan kelewatan." ucap Sisca


menatap kesal Bagas.


" Siapa yang bercanda, aku serius.


Kita akan tinggal di emperan lagi."


ujar Bagas datar.


" Pa ... yang serius kalau ngomong. Ucapan itu doa, loh ... "


Sisca masih berusaha untuk tidak mempercayai omongan suaminya.


" Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapan Papa.


Tapi yang jelas, jika kamu masih


tetap mau hidup seperti dulu,


saat perusahaan masih milik kita,


kamu harus menjual semua barang - barang mewah milik kamu dan anak - anak. Karena uang Papa sudah tinggal sedikit."


ujar Bagas lalu bangkit meninggalkan Sisca sendirian


di ruangan itu.


Kaki Sisca mendadak lemas mendengar perkataan Bagas.


Ia hampir saja terjatuh jika tidak cepat duduk di kursi Bagas.


Sisca mencoba mencerna kembali semua ucapan Bagas


tadi padanya. Apakah yang


di dengarnya dari Bagas tadi benar ? Jika memang benar ia


tidak mau. Sisca tidak ingin hidup susah lagi seperti dulu.


Ia harus melakukan sesuatu jika


ingin tetap hidup mewah seperti


selama ini.


" Hmm ... ini gara - gara anak


si***** itu. Jika ia tidak menyuruh


Tuan William untuk mengambil perusahaan, aku tidak akan


mengalami ini !!! " umpat Sisca


menyalahkan Felicie.


" Aku harus melakukan sesuatu.


Aku tidak mau rumah yang sudah


ku idam - idamkan sejak lama


harus hilang di sita oleh bank. "


kata Sisca pada dirinya sendiri.


" Hmm ... aku harus berpura - pura


menyesali sikapku selama ini


pada Felicie, agar dia membolehkan kami untuk tinggal


kembali di rumahnya. Baru perlahan kami akan menguasai


semuanya kembali. Kali ini Tuan


William pasti tidak akan menolongnya lagi, karena dia


sudah bercerai dengan Aaron.


Wah, ide ku sangat bagus. Ternyata otakku sangat cerdas."


puji Sisca pada dirinya setelah


menemukan ide bagus.


Setelah berhasil menemukan ide


ini, Sisca lalu keluar dari ruangan


Bagas. Ia akan tetap pergi keluar.


Jika Bagas tidak mau memberikannya uang, ia akan


memakai uangnya sendiri hasil


dari menjual beberapa tas milik


Vera, anaknya. Toh, saat ini anaknya tidak membutuhkan karena masih belum bisa keluar


dari mansion Tuan William.


Begitulah Sisca, bahkan pada


anaknya sendiri ia bersikap egois.


Bukan miliknya yang ia jual, malah


punya Vera. Karena ia tidak mau


di pandang remeh oleh teman -


teman sosialitanya jika tidak memakai tas - tas bermerk nya.


Tanpa peduli dengan Bagas yang


sedang duduk di ruang tamu, Sisca melenggang keluar dari


rumah.


Melihat ini Bagas hanya bisa


mengusap kasar wajahnya.


Sulit untuk membuat Sisca berubah.


**********************************


Semangatttt ... !!!


Jangan bosan memberikan like,


koment, vote dan hadiah yang


banyak ... 😁😘😘


Jika masih banyak typo atau salah dalam penulisan, Mommy


minta maaf ya ... 🙏🙏🙏


Jangan lupa tetap terus jaga


kesehatan agar bisa tetap terus


beraktivitas.


Buat yang sudah mendukung


Mommy, Mommy ucapkan

__ADS_1


terima kasih ....🙏🙏😘


Love You All .... 😍😘🥰😘


__ADS_2