
Elbert dan Felicie baru saja
selesai mengambil visa.
Sejak jauh hari, Felicie sudah
mempersiapkan untuk mengurus
visa pendidikan buatnya.
Sebenarnya pertama kali ia ingin
kuliah di negara kelahiran Mamanya, Perancis tapi waktu itu karena ingin bersembunyi dari Bagas, maka ia lebih memilih mengambil kuliah di A****** aja.
Agar jika pun Bagas menyuruh orang untuk mencarinya, ia tidak akan menemukan Felicie.
Tapi ternyata kecemasannya waktu itu tidak terjadi. Semua
masalahnya susah selesai dengan
keluarga Bagas karena bantuan
Tuan William.
" Kamu senang ... ? " tanya Elbert
lembut.
" Ya ... akhirnya aku akan kuliah."
sahut Felicie.
" Apa William dan Aaron tahu, kamu akan berangkat ke. A****** ? " tanya Elbert menatap Felicie.
" Hmm ... tidak. " sahut Felicie singkat.
" Kamu gak berniat memberitahu
mereka ? " tanya Elbert dan kali ini ia benar - benar ingin tahu
jawaban Felicie.
" Sepertinya tidak." jawab Felicie
agak ragu, karena ia pernah berjanji pada Tuan William untuk
selalu berhubungan.
" Kelihatannya kamu masih ragu ?"
ucap Elbert lirih, karena ia merasa
Felicie akan sulit menjauh dari
William dan Aaron di sebabkan adanya keterikatan di antara mereka mengenai urusan saham perusahaan dan kekayaan Aaron
yang di berikan untuk Felicie.
" Bukan begitu, El ... aku hanya
merasa tidak enak dengan Daddy.
Daddy selalu bersikap baik padaku selama ini. Bahkan aku
pernah menyetujui perkataannya
untuk tetap berhubungan
ataupun memberi kabar di mana pun aku berada.
Elbert menghela nafas panjang
setelah mendengar perkataan
Felicie. Ternyata Felicie ragu karena memikirkan janjinya pada
Tuan William.
" Kenapa kamu harus ragu, kamu tetap bisa menghubunginya dari
sana." ujar Elbert berusaha bersikap dewasa.
" Benar, tapi aku tidak ingin Aaron
sampai mengetahui keberadaan ku." ucap Felicie berat.
" Kenapa kamu harus takut dia tahu ? Saat kamu pergi, kalian
kan sudah tidak ada ikatan lagi."
ujar Elbert menelisik wajah Felicie.
Felicie tercenung sejenak. Benar apa yang di katakan Elbert. Jadi,
apa yang harus di khawatirkan nya. Jika pun Aaron tahu tentang
keberadaannya, toh mereka tidak
ada sangkut pautnya lagi.
Felicie sudah jadi wanita bebas.
" Aku bukan takut, El ... aku hanya
ingin setelah bercerai, kami tidak
perlu bertemu lagi. Aku gak mau."
ucap Felicie karena dia gak ingin
jika masih tetap jumpa dengan
Aaron, ia akan teringat kembali
atas kejadian itu.
Sedangkan ia sudah hampir bisa
melupakan rasa traumanya.
Elbert ingin mengatakan sesuatu
tapi ia batalkan. Ia yakin ada alasan lain yang membuat Felicie
bersikap seperti ini. Elbert sudah
menduganya sejak lama, telah terjadi sesuatu yang buruk pada Felicie dan ini di lakukan oleh Aaron.
" Hmm ... baiklah. Aku akan
berusaha membantu agar Aaron tidak bisa menemukan keberadaan mu. Tapi dengan syarat kamu tidak boleh berhubungan dengan Tuan William. Karena jika kamu lakukan itu, akan sulit menyembunyikan dirimu. Kamu tahu sendiri, Tuan William juga memiliki perusahaan di A******.
Ia juga memiliki kekuasaan yang lumayan besar jadi ia pasti bisa menemukan keberadaan mu."
ucap Elbert berjanji.
" Benarkah ? " tanya Felicie.
" Ya ... " jawab Elbert.
Wajah Felicie terlihat bahagia mendengar perkataan Elbert.
" Terima kasih, El. Aku akan berusaha menolak keinginan
Daddy." kata Felicie.
" Bagus. " ucap Elbert senang.
Karena memang ini yang di inginkan Elbert. Bukan karena dia egois atau cemburu berlebihan. Tapi ini ia lakukan agar Felicie bisa lebih tenang
saat kuliah dan menata hidupnya kembali.
__ADS_1
" Okey, sekarang kita akan pergi
bersenang - senang hari ini." ujar
Elbert.
" Hah, benarkah ? Kita mau pergi
kemana, El ... ? " tanya Felicie
penasaran.
" Ke Taman bermain. Kita bisa mencoba semua permainan yang
memicu andrenalin ! Apa kamu
berani !! " tantang Elbert dengan tersenyum.
" Siapa takut !!! " jawab Felicie
cepat.
" Hahaha .... Go .... !!! " ajak Elbert
tertawa.
Felicie menganggukkan kepala
dengan semangat. Karena sudah
sejak lama ia tidak pernah masuk
ke tempat permainan seperti itu.
Hidupnya hanya di jalani dengan
belajar dan bekerja. Ia tidak punya
waktu dan teman yang bisa
di ajak ketempat itu.
Pernah ia mengajak Tika, tapi mbak nya itu menolak karena tidak berani.
Elbert segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju tempat
yang ia sebutkan pada Felicie.
* * * * *
Bagas sangat kewalahan untuk
menutupi kredit rumahnya.
Ia belum berhasil juga untuk
membuka usaha barunya.
Ternyata melakukan ini tidak semudah yang ia pikirkan.
Bahkan tabungannya sudah mulai
menipis akibat di pergunakan
untuk kebutuhan sehari - hari.
Belum lagi Sisca yang tidak bisa
merubah kelakuannya yang sudah
terbiasa hidup mewah.
Sisca masih tetap bergaul
dengan teman - teman arisan sosialitanya, yang kerjaannya
hanya menghambur - hambur kan
uang saja.
di tempati nya sekarang akan
di tarik oleh pihak bank jika
sampai bulan depan ia tidak juga
membayar kreditnya.
" Pa, mama minta uang." tiba - tiba
Sisca datang keruangan kerja
Bagas.
" Hah, uang ... Mama mau pergi
kemana lagi ? " tanya Bagas dengan kesal.
" Teman Mama ada yang mengadakan pesta ulang tahun nanti malam. Jadi sekarang Mama mau pergi cari hadiah buatnya." ujar Sisca tanpa beban.
Mendengar hal ini Bagas langsung bertambah emosi.
Sisca benar - benar tidak mau
tahu tentang kesulitan yang ia
alami.
" Uang ... Uang ... hanya itu saja
yang ada dalam kepalamu !!!
Apa Mama tahu jika terus bersikap seperti ini kita beneran
akan jadi gembel lagi. Apa Mama
mau, hah ... !!! " bentak Bagas keras.
" Gak usah pelit deh Pa ... Mama
tahu uang tabungan Papa masih
ada." ujar Sisca gak mau kalah.
" Tabungan ... hahahaha.
Kamu gak salah ? Bahkan Papa
tidak bisa membayar kredit rumah
ini. Mungkin sebentar lagi, kita tidak akan memiliki rumah lagi." kata Bagas tertawa sinis memandang Sisca.
Mata Sisca langsung melotot
mendengar perkataan Bagas.
Ia tidak percaya dengan yang
di katakan suaminya. Mana mungkin uang mereka sudah
mau habis.
" Papa jangan bohong ? Kita gak
mungkin kehabisan uang. " bantah Sisca tetap gak percaya.
" Hahahaha ... terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi kamu
jangan terkejut jika suatu saat kita
akan miskin seperti dulu. " kata
__ADS_1
Bagas tak perduli.
" Pa, please deh ... kalau bercanda itu jangan kelewatan." ucap Sisca
menatap kesal Bagas.
" Siapa yang bercanda, aku serius.
Kita akan tinggal di emperan lagi."
ujar Bagas datar.
" Pa ... yang serius kalau ngomong. Ucapan itu doa, loh ... "
Sisca masih berusaha untuk tidak mempercayai omongan suaminya.
" Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapan Papa.
Tapi yang jelas, jika kamu masih
tetap mau hidup seperti dulu,
saat perusahaan masih milik kita,
kamu harus menjual semua barang - barang mewah milik kamu dan anak - anak. Karena uang Papa sudah tinggal sedikit."
ujar Bagas lalu bangkit meninggalkan Sisca sendirian
di ruangan itu.
Kaki Sisca mendadak lemas mendengar perkataan Bagas.
Ia hampir saja terjatuh jika tidak cepat duduk di kursi Bagas.
Sisca mencoba mencerna kembali semua ucapan Bagas
tadi padanya. Apakah yang
di dengarnya dari Bagas tadi benar ? Jika memang benar ia
tidak mau. Sisca tidak ingin hidup susah lagi seperti dulu.
Ia harus melakukan sesuatu jika
ingin tetap hidup mewah seperti
selama ini.
" Hmm ... ini gara - gara anak
si***** itu. Jika ia tidak menyuruh
Tuan William untuk mengambil perusahaan, aku tidak akan
mengalami ini !!! " umpat Sisca
menyalahkan Felicie.
" Aku harus melakukan sesuatu.
Aku tidak mau rumah yang sudah
ku idam - idamkan sejak lama
harus hilang di sita oleh bank. "
kata Sisca pada dirinya sendiri.
" Hmm ... aku harus berpura - pura
menyesali sikapku selama ini
pada Felicie, agar dia membolehkan kami untuk tinggal
kembali di rumahnya. Baru perlahan kami akan menguasai
semuanya kembali. Kali ini Tuan
William pasti tidak akan menolongnya lagi, karena dia
sudah bercerai dengan Aaron.
Wah, ide ku sangat bagus. Ternyata otakku sangat cerdas."
puji Sisca pada dirinya setelah
menemukan ide bagus.
Setelah berhasil menemukan ide
ini, Sisca lalu keluar dari ruangan
Bagas. Ia akan tetap pergi keluar.
Jika Bagas tidak mau memberikannya uang, ia akan
memakai uangnya sendiri hasil
dari menjual beberapa tas milik
Vera, anaknya. Toh, saat ini anaknya tidak membutuhkan karena masih belum bisa keluar
dari mansion Tuan William.
Begitulah Sisca, bahkan pada
anaknya sendiri ia bersikap egois.
Bukan miliknya yang ia jual, malah
punya Vera. Karena ia tidak mau
di pandang remeh oleh teman -
teman sosialitanya jika tidak memakai tas - tas bermerk nya.
Tanpa peduli dengan Bagas yang
sedang duduk di ruang tamu, Sisca melenggang keluar dari
rumah.
Melihat ini Bagas hanya bisa
mengusap kasar wajahnya.
Sulit untuk membuat Sisca berubah.
**********************************
Semangatttt ... !!!
Jangan bosan memberikan like,
koment, vote dan hadiah yang
banyak ... 😁😘😘
Jika masih banyak typo atau salah dalam penulisan, Mommy
minta maaf ya ... 🙏🙏🙏
Jangan lupa tetap terus jaga
kesehatan agar bisa tetap terus
beraktivitas.
Buat yang sudah mendukung
Mommy, Mommy ucapkan
__ADS_1
terima kasih ....🙏🙏😘
Love You All .... 😍😘🥰😘