Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 51


__ADS_3

" Sumi ... angkat koper - koper ini.


Panggil juga Tika sama yang lain." teriak Sisca dari kamarnya.


Kebetulan Felicie dan Elbert baru saja sampai di rumah ini.


Ia sengaja melarang Sumi dan yang lain untuk membantu Sisca


mengangkat koper - koper mereka yang berisi barang. Walau heran tapi Sumi dan yang lain menurut dengan perkataan Felicie.


Sumi bahkan melihat Elbert yang ikut datang bersama Felicie dengan tatapan penasaran.


" Siapa pria ini, Kenapa dia bisa ikut dengan Felicie ? " batin Sumi khawatir.


Tika yang sedang tidak berada


di rumah karena harus mengambil barang pesanannya tidak mengetahui kejadian saat ini.


Karena melihat Sumi dan yang lain tidak juga datang saat di panggilnya, Sisca kembali teriak


bahkan lebih kencang dari yang pertama.


" Sumi ....kamu tuli, ya .. ?.


Angkat koper dan barang - barang saya ! Lelet banget sih kerja kalian . Apa kalian mau aku pecat !".


" Wah, Ibu Sisca mau pindahan ya ... ?" sindir Felicie sambil melihat ke dalam kamar, ada Bagas dan Vina yang sedang duduk di atas sofa karena kelelahan.


Melihat kedatangan Felicie, mata


Sisca langsung melotot tajam.


Sisca langsung menghampiri Felicie dan ingin menamparnya.


Elbert yang mengikuti Felicie hingga ke depan kamar Sisca segera menangkap tangan Sisca dan menghempaskan nya dengan kasar. Padahal walaupun tanpa bantuan Elbert bisa mengatasinya.


Karena ini bukan yang pertama kali bagi Felicie menghadapi sikap Sisca yang kasar. Tapi demi menghargai Elbert, ia membiarkan El yang bertindak.


" Hei, J***** kamu pasti senang kan sekarang bisa memiliki rumah ini dan perusahaan. Gara - gara kamu anakku Vera menderita.


Entah bagaimana nasibnya sekarang. Sementara kamu belum


juga jadi janda sudah menggandeng pria lain datang ke rumah ini. Sayangnya Tuan William tidak melihat sifat asli dari menantu kesayangannya ini.


Kalau dia tahu kamu hanya seorang wanita j ***** pasti Tuan William tidak akan sudi memberikan kekayaannya sama kamu." kata Sisca dengan kata - kata kasar untuk Felicie.


Felicie tidak menanggapi omongan Sisca sedikitpun.


Baginya sekarang yang paling penting dan sangat menyenangkan adalah saat melihat Bagas dan keluarganya terusir dari rumah ini.


Hal ini sudah di nantikan Felicie sejak lama. Bukan karena Felicie kejam ataupun dendam tapi mereka memang tidak berhak sama sekali.


Jika saja selama ini, mereka bersikap baik padanya, mungkin mereka bisa hidup bersama dengan tenang. Karena selain Bagas, bik Sumi dan Tika, Felicie tidak memiliki saudara lagi.


Bahkan dulu ia pernah sempat berharap, Bagas akan memperlakukan Felicie sama dengan kedua anaknya, Vera dan Vina. Tapi kenyataannya, malah


sebaliknya. Bagas tidak pernah


menganggapnya sebagai keponakan.


Sikap Sisca pada Felicie membuat Elbert marah. Wanita tua ini mulutnya benar - benar sangat kasar.


" Hei, wanita tua ... mulutmu itu tidak pernah makan sekolahan ya ! Kamu kalau masih mau hidup dengan tenang, jangan pernah berani bersikap kasar lagi pada Felicie. " kata Elbert dengan dingin.


" Memangnya kamu siapa ? Kamu cuma selingkuhan gadis gatel ini jadi jangan ikut campur." ujar Sisca tak menganggap ancaman Elbert.


Elbert yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi langsung menghampiri Sisca dan mencekik leher nya sambil berkata,


" Mulut Lo ini akan gue robek jika berani mengatai Felicie lagi.


Ingat itu ... !! Kalian ini memang manusia yang gak tahu diri. Sudah diberi tumpangan malah mau menguasai. Apa kamu gak punya malu ? Oh, tentu saja gak punya, buktinya anak Lo yang j***** malah ngatain Feli yang seperti itu. Anak Lo memang pantas menderita. Sudah tahu suami orang masih juga di rebut.

__ADS_1


Kalian itu cuma pengemis gembel. Ingat baik - baik status itu. jika Felicie tidak bersedia memberi tempat tinggal, lo dan keluarga akan tidur di jalanan. Jadi orang harus sadar diri. Apa kamu pikir karena sekarang bisa hidup enak dan memakai pakaian yang bagus, status kamu berubah .... hahaha.


Salah besar ....kelakuan dan sikapmu tetap sama seperti pengemis. Karena yang Lo dan keluarga Lo pake untuk membelinya itu semua uangnya Felicie. Terus apa tadi Lo bilang, aku selingkuhannya Felicie ?


Kalau Felicie mau menjadikan aku selingkuhannya, aku pasti dengan senang hati menerimanya. Tapi sayangnya dia wanita yang baik dan punya harga diri jadi Felicie tidak bersedia menerimaku.


Bukan seperti anakmu itu, wanita murahan yang bersedia melakukan hal menjijikkan demi


mendapatkan keinginannya.


Jadi, sekali lagi aku ingatkan ... jaga bicaramu kalau masih ingin hidup panjang." Elbert seperti kesetanan saat mengatakan hal ini pada Sisca. Matanya yang dingin berubah jadi sangat menyeramkan. Elbert dengan kasar melepaskan tangannya dari leher Sisca.


Felicie yang tidak pernah melihat Elbert seperti ini begitu terkejut.


Ternyata, Elbert kalau marah menakutkan juga.


" El, sabar ... kamu bisa di penjara karena membunuh orang. Lagian buat apa kamu mengotori tangan


hanya demi manusia seperti ini."


Felicie berusaha menenangkan Elbert yang masih terlihat emosi.


" Maaf, Feli ... aku membuatmu takut, ya .. ? " tanya Elbert menyesal.


" Kamu gak perlu minta maaf, mungkin aku juga akan bersikap seperti kamu jika baru pertama kali mengenal dan mendengar kata - kata dari nek lampir ini." kata Felicie santai.


Sisca yang tidak bisa bernafas karena cekikan di lehernya, terjatuh lemas di lantai setelah Elbert melepaskan tangannya.


Tapi masih sempat ia melotot


pada Felicie, ketika ia dijuluki nek lampir.


Sementara Bagas hanya melihat tanpa berusaha menolong Sisca.


Ia sudah mulai muak melihat kelakuan isterinya ini. Sudah di bilang jangan cari perkara lagi dengan Felicie, masih saja keras


kepala. Makanya Bagas tadi tidak perduli saat Elbert mencekik Sisca.


" Aku mau bawa koper ke bawah, kamu bisa mengurusnya sendiri." ujar Bagas acuh.


Sementara Vina mengikuti langkah Papanya keluar dari kamar, meninggalkan Sisca sendirian.


Melihat hal ini, bukannya sadar Sisca malah semakin membenci Felicie dan berniat membalas dendam. Ia menyalahkan Felicie


atas semua yang terjadi.


" Oya, Bu Sisca yang terhormat , tolong tinggalkan semua perhiasan Mama yang pernah Ibu curi dari ku." ujar Felicie menatap Sisca dengan tajam.


Sisca gak menyangka Felicie


mengatakan hal ini. Padahal tadi ia udah berharap, Felicie lupa akan perhiasan Mama nya.


Karena perhiasan itu pasti harganya mahal jika di jual.


" Sudah saya jual sejak lama." bohong Sisca.


" Oh, kalau begitu tolong buka semua koper Bu Sisca biar aku cari sendiri."


" Jangan lancang kamu. Ini semua barang - barang pribadi saya."


" Begitu ya ... bagaimana jika aku tidak mengijinkan Bu Sisca untuk membawanya, karena ini semua di beli dengan menggunakan uang


dari perusahaan Papa."


Sisca langsung pucat mendengar ancaman Felicie. Tentu saja ia tidak mau semua barang branded


nya harus ditinggalkan disini.


Suatu saat jika ia butuh uang, bisa


menjualnya segera. Dengan perasaan terpaksa dan gak rela, Sisca membuka tas yang berisi perhiasannya dan perhiasan Mama Felicie.

__ADS_1


Ia lalu mengambilnya dan mencampakkan ke lantai.


Felicie hanya tersenyum melihat sikap Sisca.


" Tolong Ibu Sisca ambil perhiasan itu dan berikan langsung ke tangan ku."


Sisca menatap dengan emosi


ke arah Felicie. Tapi begitu melihat ke arah Elbert, ia ketakutan karena saat ini Elbert seperti hendak menerkamnya.


Sisca pun dengan berat hati mengambil kembali perhiasan - perhiasan itu dari lantai dan


menyerahkannya pada Felicie.


" Terima kasih. " ucap Felicie lalu melangkah keluar dari kamar ini.


Sisca hanya bisa mengumpat dalam hati melihat sikap Felicie.


" Awas saja, aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang." ucap Sisca penuh dendam.


Kini Felicie dan Elbert sedang duduk di ruang tamu menunggu Sisca turun dari kamarnya.


Sementara Bagas dan Vina sudah selesai menaruh barang - barang mereka ke dalam mobil.


Anak buah yang ditugaskan Tuan William masih tetap setia menunggu hingga Bagas dan keluarganya pergi dari rumah ini.


" Oh, ya Pak Bagas ... hampir saja aku lupa, serahkan surat rumah orang tua saya. " ujar Felicie menatap Bagas yang langsung


salah tingkah.


" Tapi suratnya sudah Om agunkan keBank untuk mengambil pinjaman. Nanti setelah Om sudah selesai melunasi pinjaman,


surat rumah ini akan segera Om kembalikan." ucap Bagas berbohong. Tapi ia memang berencana menjadikan surat rumah Felicie sebagai jaminan pinjaman ke bank untuk mendapatkan modal buat usaha


yang akan dirintisnya. Karen jika mengandalkan uang simpanannya di bank mungkin tidak akan bisa bertahan lama. Apalagi ia harus membayar kredit rumahnya tiap bulan.


" Oh, kalau begitu biar anak buah Tuan William saja yang mengambil suratnya ke Bank, jadi Pak Bagas tidak perlu repot lagi


menunggu hingga pinjamannya selesai." ucap Felicie yang tahu ini cuma akal - akalan Bagas saja.


Elbert tersenyum kecil mendengar


perkataan Felicie yang cerdas.


" Eh, oh ... tidak usah, sepertinya


Om lupa kalau sudah menebusnya . Biar Om lihat dulu di dalam tas." kata Bagas dengan gugup.


" Baik, aku akan menunggu." sahut Felicie.


Sisca yang terseok - Seok karena kesusahan membawa koper - kopernya menatap ke arah Sumi dan yang lain dengan marah.


Karena mereka tidak mau membantunya membawa semua ini.


" Ini dia suratnya Feli, ternyata di dalam tas kerja Om." kata Bagas tanpa tahu malu.


" Ya, terima kasih." sahut Felicie menerima surat rumah orang tuanya.


Bik Sumi dan pelayan yang lain,


hanya menahan senyum melihat ini. Walaupun saat ini mereka belum mengerti apa yang terjadi,


sehingga Bagas dan keluarganya


bisa keluar dari rumah ini.


Tapi mereka merasa ikut bahagia, karena akhirnya Felicie bisa mendapatkan kembali rumah


peninggalan kedua orang tuanya.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2