Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 117


__ADS_3

Akhirnya bukan hanya kemeja Dave saja yang selesai, bahkan gaun Airin dan kemeja buat Devan juga di selesaikan Felicie sekaligus. Felicie melihat hasil kerjanya dengan hati bahagia.


Ia senang bisa memberikan sesuatu buat teman - teman yang selalu mendukung nya.


Felicie sengaja tidak tidur semalam demi menyelesaikan nya. Lagi pula hari ini ia tidak jadwal kuliah, jadi ia bisa istirahat setelah ini.


" Hmm ... mudah - mudahan mereka menyukainya !" gumam Felicie sembari menaruh pakaian buat Airin dan Devan ke dalam box khusus yang bertuliskan namanya.


Rencananya hari ini ia akan memberikan pada mereka, pulang dari kampus, ketika mereka main ke apartment nya. Ia pun mulai membersihkan ruangan di apartment yang seperti kapal pecah karena banyaknya kain yang berserakan di lantai.


Matanya melirik handphone yang tergeletak tak berdaya di atas nakas. Ia teringat kalau Elbert sudah mengetahui nomer barunya. Jadi ia berniat untuk segera mengganti nomer nya. Ia memang benar - benar ingin menghapus semua jejak mengenai pria itu.


Sembari menghela nafas panjang ia kembali mengaktifkan handphone itu. Karena bagaimanapun ia tidak ingin Nyonya Megan kesulitan saat menghubunginya.


Setelah semua kembali bersih dan rapi, kini giliran Felicie membersihkan dirinya. Ia ingin berendam pakai air hangat di bath up nya agar semua lelah di - tubuhnya hilang.


Tubuhnya begitu segar ketika selesai melakukan ritual mandinya. Tadi ia bahkan sempat tertidur selama beberapa menit di dalam bath up saking nyamannya.


Felicie mulai memakai pakaian kebangsaannya jika sedang sendirian, yaitu celana pendek dan kaos tak berlengan.


Setelah itu mulai memakai serangkaian produk perawatan kulit dan wajah. Ia terpaksa membelinya karena Airin terus mengomel, saat melihat Felicie masih tetap menggunakan bedak bayi sebagai pelengkap kesehariannya. Ternyata ada gunanya juga, wajahnya terlihat lebih sehat sekarang.


Baru saja ia merebahkan dirinya di tempat tidur untuk meluruskan pinggang, terdengar suara handphonenya berdering.


Jantung Felicie langsung berdegup kencang mendengar dering handphone itu. Ia khawatir Elbert kembali menghubunginya. Perlahan ia meraih handphone dan melihat nama yang tercetak di layar handphonenya dan ia bisa menarik nafas lega begitu melihat Jenny yang menghubunginya.


Anehnya ia jadi semakin dekat dengan Jenny setelah ia bekerja dari apartment, karena Jenny sering menghubunginya atas perintah nyonya Megan. Padahal waktu di butik, hanya sesekali saja mereka ngobrol.


" Halo kak Jen ... ada apa ? Apa nyonya Megan butuh sesuatu ?" buru - buru Felicie menjawab panggilan itu.


" Halo, Feli ... kakak cuma mau nyampein pesan dari nyonya Megan buat kamu sekalian kita ngobrol sebentar. Kamu bisa kan ?" tanya Jenny, asisten nyonya Megan.


" Oh, tentu aja bisa kak ! " sahut Felicie dengan senyum tipis di bibirnya seakan - akan Jenny ada di hadapannya.


" Sebenarnya kakak pengen kita ngobrol di cafe tapi kamu tahu sendiri kakak gak mungkin keluar dari butik. Kerjaan lagi banyak banget." keluh Jenny.


" Hee ... nanti aja kita nongkrong di cafe, saat weekend atau kalau kakak punya waktu lebih. Teringat nya Nyonya Megan bilang apa, kak ?" tanya Felicie.


" Oh, itu ... hampir aja kakak lupa. Claire kemarin datang ke butik bersama mama nya dan dia marah - marah ketika Nyonya Megan bilang kalau kamu sudah gak kerja lagi di sana. Dia gak percaya, lalu Claire memaksa untuk memeriksa setiap ruangan dan melihat semua pegawai yang ada di butik. Meskipun dia gak menemukan kamu tapi wanita sombong itu tetap memaksa nyonya Megan untuk menyuruh kamu yang membuatkan gaun pengantinnya. " suara Jenny terdengar sangat emosi ketika menceritakan hal ini.


" Hah ... dia berani melakukan itu !" Felicie sangat terkejut mendengarnya.


" Iya, pasti kamu gak menyangka, kan ... padahal waktu di televisi ngomongnya lembut banget. Gak tahunya itu cuma akting doang ! Pantas aja wajah Tuan Elbert kaya terpaksa gitu saat tunangan dengannya !" ujar Jenny dengan raut wajah kesal.


" Hmm ... maksud kak Jen, terpaksa gimana ?" Felicie mulai berdebar kembali mendengar perkataan Jenny. Ini seperti yang pernah di katakan Sarah dan teman - teman satu ruangan dengannya.


" Kamu lihat sendiri aja video waktu mereka tunangan. Pasti kamu bisa lihat Tuan Elbert kaya marah dan enggan gitu. Apalagi ketika mau memasangkan cincin tunangan ke jari si Claire itu ! Jelas banget kelihatan ! Claire nya aja yang terlihat bahagia. " Jenny dengan semangat menjelaskan pada Felicie.


Felicie terdiam mendengar omongan Jenny. Kenapa perkataan yang di ucapkan nya sama persis dengan yang di katakan Sarah dan yang lain.


Apa memang kenyataannya seperti itu. Felicie sendiri, sejak siaran langsung itu tidak pernah berniat untuk melihat kembali video itu. Apa dia harus menonton ulang ?


Felicie buru - buru mengenyahkan pikirannya yang sempat terpikir untuk melihat video itu kembali !


Itu bukan urusannya. Apapun alasannya, mau Elbert terpaksa atau tidak, toh mereka sudah tunangan dan akan menikah segera. Jadi buat apa dipikirkan lagi.

__ADS_1


" Hmm ... nanti aku lihat kak ! Terus ada kejadian apa lagi, kak ?" tanya Felicie berusaha mengalihkan pembicaraan


" Yang paling buat kesal, dia bahkan mengancam nyonya Megan. Jika kemauannya tidak


dituruti, wanita angkuh itu akan menggunakan kekuasaan Tuan Elbert untuk menutup butik nyonya Megan !" suara Jenny jelas sekali penuh emosi saat menyampaikan ini.


" Apa ! Jadi, gimana kak ? Apa yang akan di lakukan nyonya Megan ? Apa sebaiknya aku mengerjakan gaun wanita itu agar butik nyonya Megan tidak ditutup ?" Felicie terkejut, ia gak menyangka karena penolakan darinya membuat butik Nyonya Megan terancam di tutup.


Apakah Elbert sebegitu besar kekuasaannya hingga tunangannya bisa berkata seperti itu.


" Tidak ... kamu tidak perlu mengerjakannya. Nyonya Megan bahkan semakin mendukung keputusan mu untuk menolak buat mengerjakan gaun wanita angkuh itu." kata Jenny dengan tegas.


" Tapi, jika kita tetap berkeras menolaknya, bukankah itu akan menimbulkan kerugian besar buat nyonya Megan. Bagaimana nasib karyawan lain jika butik beneran akan di tutup." Felicie memikirkan nasib teman - temannya tidak punya kesalahan apapun dalam masalah ini.


" Nyonya Megan akan berusaha bicara dengan Tuan Elbert untuk


menjelaskan semuanya. Mudah - mudahan Tuan Elbert bisa mengerti dan membatalkan niatnya untuk menutup butik."


" Hmm ... apa setelah wanita itu mengancam untuk menutup butik, Tuan Elbert ada menghubungi nyonya Megan ?" entah kenapa Felicie ingin tahu.


" Tidak ... baik asisten nya maupun Tuan Elbert tidak pernah menghubungi nyonya Megan. Makanya aku yakin kalau Tuan Elbert sebenarnya tidak menyukai wanita sombong itu. Ancaman itu pasti cuma gertakan saja. Coba kamu pikir, jika seorang pria yang memutuskan bertunangan pasti karena dia mencintai pasangannya dan akan mendukung apapun yang diinginkan wanitanya. Tapi ini tidak sama sekali. Bahkan Tuan Elbert tidak ikut menemani saat datang ke butik. " Jenny mengatakannya dengan ketus.


" Tapi bagaimana kalau omongan wanita itu beneran bukan sekedar ancaman ? " tanya Felicie menepis pikirannya yang sempat terpengaruh karena mendengar omongan Jenny yang terus mengatakan kalau Elbert tidak mencintai tunangannya.


" Untuk itulah demi mencegah agar itu tidak terjadi, nyonya Megan memutuskan untuk menghubungi Tuan Elbert melalui asistennya sekarang juga. Meskipun belum di jawab, tapi nyonya Megan terus menghubunginya. Kita bantu doa, supaya asistennya mau mengangkat telepon dari nyonya Megan dan Tuan Elbert tidak marah dan bisa menerima penjelasan nyonya Megan." ujar Jenny mulai kembali tenang, setelah tadi sikapnya berapi - api karena emosi.


" Hmm ... ya, kak Jen. Mudah - mudahan semuanya akan baik - baik saja. Tapi jika memang Tuan Elbert sepenting itu bagaimana cara nyonya Megan mendapatkan nomernya ?" tanya Felicie karena penasaran.


" Oh, itu yang seru dan butuh perjuangan. Nyonya Megan menghubungi semua klien yang pernah memakai rancangannya. Baik itu istri pejabat, pengusaha hingga artis dan akhirnya setelah hampir menyerah, nyonya Megan bisa mendapatkan nomer asisten Tuan Elbert dari salah - satu isteri pengusaha yang pernah memakai gaun rancangan kamu, Feli ... ! Itupun awalnya dia gak berani memberikan nomer asisten Tuan Elbert, karena takut berurusan dengannya. Tapi setelah nyonya Megan menjelaskan masalahnya, dan kebetulan istri pengusaha itu juga tidak menyukai Claire, akhirnya ia memberikan nomer asisten Tuan Elbert ! " Jenny menjelaskan sembari menarik nafas lega.


" Oh, jadi nyonya Megan belum berhasil bicara dengan asisten Tuan Elbert ? " Felicie sama sekali menyangka Elbert yang sering bersikap romantis meski terkadang mengeluarkan sikap angkuhnya saat bersama nya ternyata dia seseorang yang memiliki pengaruh begitu besar.


" Hmm ... bagaimana jika tetap gak di angkat, kak ? " Felicie merasa bersalah, karena perbuatannya jadi membuat nyonya Megan yang sudah begitu baik padanya harus mengalami kejadian yang menyedihkan seperti itu.


" Entahlah ... kakak belum tahu ! Nyonya Megan belum mengatakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. " suara Jenny mendadak berubah lirih.


Mungkin ia pun takut jika harus kehilangan pekerjaan akibat kejadian ini.


" Hmm ... bagaimana tanggapan dari yang lain, kak ? Apa mereka marah sama Felicie ?" tanya Felicie menanyakan sikap karyawan - karyawan butik.


" Ya, jelas mereka khawatir. walaupun mereka juga bisa mendesign pakaian tapi untuk saat ini mereka masih ingin tetap bekerja di butik demi meningkatkan bakat mereka. Bahkan sebagian dari mereka memang ingin tetap bertahan dan terus bekerja di butik Nyonya Megan. Walaupun memang ada beberapa orang yang marah juga sama kamu karena sudah menolak permintaan wanita sombong itu !" ujar Jenny dengan jujur.


" Hmm ... Maaf, kak ... ! Tolong, sampaikan kata maaf dari Feli buat nyonya Megan, ya kak ... ini semua terjadi karena ulah Feli." ucap Felicie dengan perasaan bersalah.


" Ya, nanti kakak sampaikan Feli.


Hmm ... ya, udah kakak tutup dulu. Kakak mau ke ruangan nyonya Megan. Kakak cuma pengen menyampaikan ini saja. Lain kali kita ngobrol lagi, ya Feli ....!".


" Ya, kak Jen ... makasih karena sudah ikut mendukung Feli dan sampaikan pada yang lain kalau semuanya akan baik - baik saja dan semoga Tuan Elbert tidak akan menutup butik nyonya Megan. " ucap Felicie sembari menarik nafas panjang.


Ia sudah mengambil keputusan, meski berat tapi Felicie harus menghubungi Elbert, setelah ini. Semua ini ia lakukan demi butik, nyonya Megan dan teman - teman kerjanya. Ia merasa sangat bersalah, karena perbuatannya mereka yang tidak tahu apa - apa harus terkena imbasnya.


" Ya, Feli ...bye !" Jenny mengakhiri obrolan mereka.


Setelah obrolan nya berakhir, Felicie pun menatap handphone nya dengan mata nanar. Ia berusaha menenangkan hatinya sejenak sebelum menghubungi Elbert.

__ADS_1


Felicie menghembuskan nafas dengan keras, lalu dengan cepat ia membuka tanda blokir pada nomer Elbert dan mulai menghubungi nomer handphonenya. Jantungnya terasa berdetak dengan kencang , selagi ia menunggu panggilan itu tersambung.


Elbert yang sedang berada di - ruang kerja nya seakan tak percaya dengan penglihatannya saat melihat Felicie menghubunginya.


" Apa Felicie meneleponku karena ia juga merindukan aku ? atau karena sekarang ia sudah percaya padaku ? Ah, tapi tidak mungkin ! Tapi kenapa ... ?" beberapa pertanyaan memenuhi batin Elbert yang gelisah.


Ia masih berusaha menenangkan hatinya yang berdebar dengan sangat cepat. Lalu dengan tangan gemetaran, Elbert menggeser tombol jawab.


" Halo, Feli .... !" sapa nya dengan suara bergetar karena menahan rasa gugupnya.


" Ya, halo ... langsung saja, aku malas basa - basi ! Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu untuk tidak menutup butik tempatku bekerja atas permintaan Claire tunangan kamu ! Aku tahu kamu pasti sulit untuk menolak permintaannya karena dia calon isteri kamu. Tapi kali ini aku mohon dan sungguh aku minta pengertian kamu untuk tidak memenuhi keinginannya. Aku tidak ingin karena kesalahanku pada calon isteri mu membuat butik nyonya Megan harus ditutup. Itu sangat tidak adil buatnya dan karyawan lain yang tidak tahu apapun ! Ini murni kesalahanku sendiri, karena aku sudah tidak bekerja di butik itu lagi ! Jadi, sekali lagi aku minta tolong jangan tutup butik nyonya Megan !" ucap Felicie dengan dingin dan setelah ia menyelesaikan perkataannya, ia baru bisa bernafas dengan lega karena telah berhasil mengeluarkan semua kata - kata yang ingin ia ucapkan.


Rasanya Elbert ingin sekali berteriak dan mengatakan pada Felicie kalau Claire bukanlah yang ia inginkan jadi calon isteri nya melainkan Felicie. Tapi mulutnya seperti ada yang mengunci. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Lagi pula ia tidak mengerti maksud Felicie, yang mengatakan kalau ia ingin menutup butik tempatnya bekerja. Apa yang sudah terjadi ? Kenapa Felicie memohon padanya untuk tidak menutup butik dan menolak permintaan Claire !


" Kamu dengarkan Tuan Elbert ! Anggap saja aku memohon pada Tuan, karena kita pernah menjadi teman. Aku tahu kamu pasti sangat mencintai tunangan kamu, sehingga akan mengabulkan semua permintaannya. Tapi tolong jangan gunakan kekuasaan mu untuk menekan nyonya Megan. Aku yang sudah menolak untuk membuatkan gaun pengantin buat calon isteri Tuan Lagi pula aku sudah berhenti bekerja di butik itu. Jadi ini gak ada sangkut paut nya sama sekali dengan nyonya Megan ! Kalau calon isteri mu mau marah dan menghukum seseorang. Harusnya aku saja yang ia hukum. Jangan orang lain, yang tidak punya salah apapun." Felicie menghirup udara sebanyak - banyaknya karena mendadak ia kesulitan untuk bernafas, ketika ia mengeluarkan semua rasa amarahnya yang terpendam beberapa bulan ini.


Ternyata tidak mudah untuk menahan rasa sakit ini. Meski ia sudah berusaha, tapi begitu mendengar Claire sengaja menggunakan nama Elbert untuk menekan nyonya Megan membuat Felicie gak bisa menyembunyikan lagi rasa marah dan kecewa yang ada di hatinya.


" Gaun pengantin ?" gumam Elbert sangat pelan. Ia beneran gak mengerti apa maksud Felicie.


Sementara itu detak jantungnya terus berdebar. Ia bisa mendengar suara Felicie dan merasakan ada amarah di setiap kata - katanya.


" Ya, calon istri Tuan meminta saya yang membuat gaun pengantin buat pernikahan kalian !" sahut Felicie sengaja bicara dengan formal.


Elbert terdiam, apa maksudnya wanita j****g itu memesan gaun pengantin pada Felicie.


" Baiklah, karena sepertinya ingatan Tuan Elbert sedang bermasalah jadi biar saya mencoba untuk mengingatkan anda kembali !" Felicie kemudian menceritakan semuanya dari awal. Ia benar - benar mengira kalau Elbert hanya menutupi kebohongannya saja.


Elbert terhenyak, ia tidak percaya dan benar - benar gak menyangka kalau Claire berani menjual namanya untuk mengancam butik tempat Felicie bekerja.


Apalagi ia belum pernah sekalipun membicarakan pernikahan dengannya. Tapi kenapa ia begitu yakin untuk memesan gaun pengantin.


" Maaf, Maaf Feli ... aku gak tahu kalau dia memesan gaun pengantin dengan kamu ! Kami belum pernah membicarakan tentang pernikahan. Itu hanya keinginan nya saja !" ujar Elbert dengan suara penuh penyesalan.


" Maaf, itu bukan urusan saya kalau anda belum ataupun sudah


membicarakan mengenai pernikahan kalian. Tapi tolong jangan ganggu saya. Saya sudah dengan tegas menolak ! Saya sudah berhenti dan tidak bekerja lagi di bidang itu ! Lagi pula masih banyak designer lain yang lebih terkenal dan handal. Mereka pasti bisa membuat sesuai keinginan tunangan anda. Jadi, saya mohon dengan sangat atas nama persahabatan yang pernah terjadi di antara kita untuk tidak memakai kekuasaan anda untuk menutup butik nyonya Megan. Felicie sengaja mengeraskan hatinya agar tidak lagi terkena tipuan dari Elbert.


" Baik ... baik ! Kamu jangan khawatir, Felicie ... aku tidak akan pernah menutup butik itu. Tapi sungguh, aku berani bersumpah aku tidak tahu menahu mengenai masalah ini sebelumnya ! " ujar Elbert berusaha meyakinkan Felicie.


" Hmm ... Terima kasih kalau begitu. Untuk kali ini saya mencoba untuk percaya pada kata - kata anda. Tapi agar saya lebih percaya, tolong suruh asisten anda untuk menghubungi nyonya Megan. Nyonya Megan sudah mencoba menghubungi asisten anda, tapi dia tidak berminat menjawabnya. Oya, satu lagi anda tidak perlu sampai bersumpah ! Okey, selamat siang !" kata Felicie segera ingin memutuskan pembicaraan mereka, tapi Elbert memotongnya.


" Felicie ... tolong jangan di tutup dulu. Izinkan aku menjelaskan sesuatu ! Sebenarnya aku ... " belum sempat Elbert melanjutkan perkataannya, Felicie buru - buru menutup handphonenya.


Ia tidak ingin lagi mendengar apa yang akan di katakan Elbert.


Elbert langsung terhenyak begitu melihat Felicie mengakhiri sambungan telepon mereka.


Elbert segera menghubungi nomer Felicie kembali, tapi handphonenya sudah tidak aktif.


" Begitu benci kah kamu sekarang padaku, Feli ... bahkan untuk mendengar penjelasan dariku pun kamu sudah gak mau !" gumam Elbert dengan raut wajah tertekan.


Sementara Felicie berusaha untuk menenangkan hatinya kembali karena setelah sekian lama ia terpaksa harus mendengar suara Elbert lagi.

__ADS_1


" Baiklah, Feli ... aku akan menyuruh Jhon untuk menghubungi nyonya Megan dan mengatakan seperti yang kamu inginkan. Jangan takut, tidak akan ada yang berani mengancam mu lagi ! Mulai hari ini, aku berjanji tidak akan pernah menganggu mu lagi sebelum aku bisa menyelesaikan semua masalahku ! Maaf, jika aku sudah sangat menyakitimu. Tapi, izinkan aku kembali padamu jika aku sudah bisa membuktikan padamu kalau aku tidak salah ! Aku yang selalu mencintaimu ... Elbert." meskipun tahu handphone Felicie tidak aktif, karena nomer nya sudah di blokir seperti kemarin tapi Elbert tetap mengirimkan pesan ini pada Felicie. Berharap pada suatu saat Felicie membuka blokiran nya Felicie menerima pesannya dan membacanya.


**********************************


__ADS_2