Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 122


__ADS_3

Akhirnya setelah memikirkan dengan matang, Felicie memutuskan untuk berhenti dari butik nyonya Megan. Ia tidak ingin, konsentrasinya terbagi. Apalagi hal ini adalah hari yang paling ia tunggu - tunggu. Pakaian hasil rancangannya akan rilis besok, jadi ia harus fokus untuk itu.


Ujiannya sudah selesai, jadi libur semester ini akan ia gunakan untuk mempromosikan pakaiannya di media sosial dan butik kecilnya.


Langkah kaki Felicie mulai menapaki butik nyonya Megan. Orang yang telah berjasa padanya. Berkat ia diterima magang disini dan kemudian di berikan banyak kesempatan membuat kemampuan Felicie semakin terasah. Bukannya ia tidak tahu berterima kasih dengan mengundurkan diri, tapi Felicie ingin lebih bisa mengembangkan dirinya dengan bakat yang ia miliki. Felicie berharap, semoga nyonya Megan bisa mengerti dengan keputusan yang ia ambil sekarang.


" Hai, Feli ... kamu sudah masuk kerja hari ini, ya ?" tanya Jenny begitu melihat Felicie yang berjalan menghampirinya.


" Hmm ... bukan kak. Apa nyonya Megan sedang sibuk ?" tanya Felicie berusaha mengalihkan pertanyaan Jenny.


" Nyonya Megan sedang melihat koleksi terbaru yang akan di - keluarkan butik kita ! Oh, ya ... ada beberapa rancangan kamu yang terpilih juga, loh ... !" ujar Jenny sembari tersenyum.


" Benarkah ... ? " Felicie benar - benar gak menyangka kalau kali ini design buatannya terpilih lagi.


Tapi jika kejadian begini bagaimana dia bisa mengatakan pada nyonya Megan tentang niatnya untuk berhenti dari butik.


Nyonya Megan selalu mengapresiasi dengan baik design - design yang di buat oleh Felicie. Memikirkan ini, perasaan Felicie jadi gak enak.


" Saya bisa bertemu dengan nyonya Megan, kak ... Ada hal penting yang ingin saya sampaikan !" kata Felicie sembari menghela nafas berat.


" Oh, bentar kamu tunggu di sini biar kakak tanyakan dulu sama nyonya Megan. Serius amat, hal penting apa, sih ... !" ujar Jenny sembari mengernyitkan dahi nya.


" Hmm ... biar saya bicara dulu dengan nyonya Megan, kak .... nanti setelah selesai baru Felicie beritahu kak Jen ... !" ucap Felicie berusaha terlihat tenang, karena mendadak ia merasa keputusannya ini terlalu mendadak.


Ia gak yakin kalau nyonya Megan akan menerima permintaannya untuk mengundurkan diri dari butik ini. Apalagi, design buatannya kembali menjadi koleksi butik untuk bulan ini. Sebagai seorang yang merancang pakaian itu ia harus bertanggung - jawab hingga launching pakaian itu selesai, karena hanya ia yang tahu mengenai detail pakaian yang akan di buat.


" Oh, ya sudah ... kakak ke dalam dulu ya ... !" Jenny menatap wajah Felicie yang terlihat gelisah.


" Iya kak ... ! " sahut Felicie singkat.


Jenny meninggalkan Felicie dan melangkah masuk ke dalam ruangan nyonya Megan, setelah lebih dulu mengetuk pintu.


Felicie menunggu dengan harap - harap cemas. Ia berharap nyonya Megan menyetujui keinginannya untuk berhenti. Untungnya saat ia diangkat sebagai karyawan Felicie tidak menandatangani kontrak jangka panjang. Statusnya yang masih seorang mahasiswi membuatnya diberikan kemudahan dan tidak terikat.


" Feli ... kamu di suruh masuk, tuh ... !" ujar Jenny setelah keluar dari dalam ruangan.


" Eh, iya ... Makasih kak !" ucap Felicie dengan tersenyum tipis lalu melangkah masuk ke dalam.


Ia melihat nyonya Megan sedang menunggunya dengan wajah ramah.


" Maaf, nyonya ... saya sudah mengganggu waktu nyonya !" kata Felicie dengan sopan.


Nyonya Megan hanya tersenyum


" Silahkan Duduk, Feli ... ! Selamat datang kembali. Kamu sudah selesai ujiannya ?" tanya nyonya Megan perhatian setelah mempersilahkan Felicie duduk.


" Terima kasih, nyonya ... !" Felicie pun duduk berhadapan dengan nyonya Megan.


" Tadi Jenny menyampaikan pada saya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan saya. Hal penting apa, tuh ... ? Oya, satu lagi, bisa gak mulai hari ini jangan panggil saya nyonya lagi, panggil Ibu saja." nyonya Megan meneliti wajah Felicie dengan seksama.


" Hah ... eh, maaf nyonya ! " Felicie terkejut mendengar perkataan nyonya Megan.


" Hmm, panggil saya Ibu. Bolehkan ? kenapa, kamu terkejut, ya ?" tanya nyonya Megan dengan lembut.


Lidah Felicie mendadak kelu, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat bingung.


" Sebenarnya dari saat kamu meminta magang di butik ini saya seperti melihat kembali sosok anak saya yang sudah pergi untuk selamanya. Saya sangat bahagia begitu melihat kamu. Wajahmu yang cantik ini sangat mirip dengan anak perempuan saya yang sudah meninggal !" ujar nyonya Megan menjelaskan kebingungan Felicie.


Tanpa sadar mulut Felicie terbuka begitu mendengar yang di katakan nyonya Megan. Ia benar - benar tidak menyangka, karena setahu Felicie dari cerita - cerita yang ia dapat dari rekan kerjanya disini saat ia pertama kali bergabung mereka mengatakan kalau nyonya Megan memang sudah menikah dan suaminya meninggal di saat usia pernikahan mereka yang ke lima tahun. Tapi tidak ada yang mengatakan kalau nyonya Megan memiliki seorang anak, apalagi anak perempuan.


" Hmm ... kamu pasti bingung, kan, karena kamu pasti tidak pernah mendengar kalau saya pernah memiliki seorang anak !" lanjut nyonya Megan sambil menatap sendu ke arah Felicie.


Felicie semakin gak tahu harus mengatakan apa. Hal ini di luar perkiraannya. Niat awalnya yang kesini untuk memberikan surat pengunduran dirinya, seakan tidak bisa keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Hatinya terenyuh melihat wajah nyonya Megan yang berubah menjadi sedih saat menceritakan tentang anaknya.


" Maaf, saya melantur ... Oya, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan pada saya ?" tanya nyonya Megan tiba - tiba terlihat serius.


Felicie semakin bingung melihat perubahan sikap nyonya Megan. Jelas sekali ia terlihat ingin mengalihkan pembicaraannya.


" Oh, ya ... Apa Jenny sudah menyampaikan pada kamu kalau ada lima design yang kamu buat akan keluar bulan ini untuk koleksi butik kita. Tebakan saya benarkan, kamu sangat berbakat. " ujar Nyonya Megan lagi dengan senyum di bibirnya.


" Ya, Bu ... terima kasih ! tadi kak Jenny sudah memberitahu saya." Felicie semakin bingung untuk menyampaikan maksudnya melihat sikap nyonya Megan.


" Hmm ... kenapa sejak masuk saya lihat kamu gelisah. Katakan yang ingin kamu sampaikan. Jangan takut, saya pasti mendengarkan. " ujar nyonya Megan.


Felicie berusaha menimbang, apakah ia memang harus mengatakannya saat ini mengingat wajah nyonya Megan yang meskipun tersenyum tetapi jelas sekali terlihat kalau matanya sedang menyimpan kesedihan.


" Katakan, Feli ... tidak usah ragu !" ujar nyonya Megan sembari menyentuh dengan lembut tangan Felicie layaknya seorang ibu pada anaknya.


Felicie merasa tenang saat tangan itu menyentuh tangannya.


Ia seakan merasakan sentuhan dari mamanya yang sangat ia rindukan selama ini.


" Ayo, katakan, Feli ... Jangan takut ! " ujar nyonya Megan.


Melihat hal ini Felicie kembali teringat akan niat nya untuk datang ke butik ini. Felicie menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan pelan.


" Hmm ... maaf sebelumnya Bu Megan. Sebenarnya saya tidak enak untuk mengatakannya mengingat design saya terpilih kembali tapi sebelum saya tahu kalau design saya terpilih, saya memang sudah memutuskan hal ini. Hmm ... hari ini saya ingin mengundurkan diri dari butik. " Felicie menarik nafas lega setelah berhasil menyelesaikan perkataannya.


Wajah nyonya Megan sangat terkejut ketika mendengar apa yang di sampaikan oleh Felicie.


" Mengundurkan diri, tapi kenapa ? Apa ada yang membuat kamu tidak puas ?" tanya Megan menatap wajah Felicie, sembari menunggu penjelasan darinya.


" Tidak ada Bu, tidak ada yang membuat saya tidak puas disini. Terutama Bu Megan dan semua karyawan disini semuanya baik. Tapi ini semua karena saya lagi mencoba untuk memulai usaha saya sendiri." ucap Felicie tidak ingin nyonya Megan salah paham.


" Syukurlah ... " Megan menarik nafas lega. " Memulai usaha ? Maksud kamu, Feli ... ?" tanya nyonya Megan dengan dahi berkerut.


Nyonya Megan menatap kagum Felicie setelah ia selesai mendengar semua penjelasan dari Felicie dan karena alasan inilah, Felicie memilih untuk berhenti bekerja di butik nya.


" Saya kagum dengan kamu. Masih muda tapi sudah berpikir untuk maju. Kamu jangan khawatir saya akan mendukung agar kamu bisa lebih maju dan berkembang. Tapi, saya rasa meskipun kamu sudah memiliki butik sendiri bukan berarti kamu harus berhenti dari butik saya. Sebenarnya kamu masih bisa tetap bekerja disini, asalkan kamu bisa membagi waktu dengan benar." ujar nyonya Megan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


" Maaf, Bu ... itu yang saya khawatirkan. Saya takut gak bisa membagi waktu. Bu Megan kan tahu selain bekerja saya juga masih kuliah. Jadi saya takut membuat Bu Megan kecewa nantinya."


" Hmm ... saya yakin kamu bisa !


Kamu tidak akan membuat saya kecewa. Bukankah kamu selagi membuat design buat butik saya, kamu juga membuat design buat butik mu sendiri, dan semuanya berjalan lancar tanpa ada masalah sampai hari ini. Jadi kenapa kamu harus sampai mengundurkan diri. " ujar Nyonya Megan masih berusaha menahan Felicie.


" Hmm ... ya, kemarin saya memang bisa mengerjakan keduanya tapi yang saya takutkan jika saya tetap mengambil pekerjaan dari butik Ibu, saya tidak lagi bisa bekerja dengan maksimal, karena saya juga lagi konsentrasi di butik saya." Felicie masih berusaha agar nyonya Megan menerima keputusannya.


" Hmm ... saya mengerti dengan kekhawatiran kamu. Tapi saya memiliki solusi untuk itu !" ujar nyonya Megan tetap kekeh dengan perkataannya.


" Maksud nyonya ... ?" tanya Felicie dengan dahi yang berkerut.


" Begini, kamu tidak harus datang ke butik saya tapi kamu masih bisa memberikan design kamu seperti biasanya, dan waktunya bebas kapan saja kamu ada waktu. Jadi, kamu bisa fokus dengan butik kamu. Apa kamu gak merasa sayang jika berhenti. Sudah banyak yang mengenal dan menyukai gaun yang kamu rancang dan mereka selalu menantikan rancangan kamu yang terbaru. Ini saja sudah ada beberapa artis yang minta di design sama kamu buat acara besar. Mereka ingin ketemu dengan kamu, Feli ... ! Apa kamu tidak ingin di kenal sebagai seorang designer handal ! Hmm ... bukankah kamu buka butik biar namamu bisa dikenal ?" ujar nyonya Megan mencoba mempengaruhi Felicie.


" Bu Megan ... saya tahu maksud Bu Megan baik. Ini semua untuk masa depan saya. Tapi justru itulah yang tidak saya inginkan. Mengenai design saya yang terpilih untuk bulan ini saya akan tetap bertanggung - jawab, hingga selesai. Untuk saat ini saya tidak suka menampilkan wajah di - depan publik. Tidak tahu nanti ke depannya. Saya tidak ingin sampai mengalami seperti kejadian kemarin. Karena merasa berkuasa mereka bisa berbuat sesuka hatinya saja. Bahkan butik Ibu sampai di ancam mau di - tutup. Padahal mereka saja tidak pernah bertemu dengan saya. Saya tidak suka bekerja jika dalam paksaan seseorang. Saya hanya mengerjakan apa yang membuat saya senang. Makanya saat saya dan teman saya memutuskan untuk membuka butik, kami sudah membagi tugas masing - masing. Dia yang bagian promosi atau yang berada di garda terdepan sedangkan saya bekerja di belakang layar. Saya hanya ingin pakaian yang saya buat di pakai orang dan mereka bahagia ketika memakainya. Maafkan saya jika kata - kata saya ini menyinggung perasaan Bu Megan. Tapi tolong di mengerti alasan saya melakukan ini. " kata Felicie panjang dengan wajah serius.


Nyonya Megan menghela nafas berat mendengar semua perkataan Felicie. Ia sebenarnya juga merasakan apa yang Felicie rasakan, sebuah tekanan.


Padahal awalnya ia melakukan pekerjaan ini karena ia ingin menyalurkan bakatnya dan bisa melihat orang yang memakai pakaian yang di rancang nya merasa bahagia.


Tapi semakin lama ambisinya semakin besar setiap harinya. Hingga hal inilah yang akhirnya membuat ia sampai kehilangan anaknya.


Nyonya Megan hanya menuntut anaknya harus berprestasi bagus di sekolah, tanpa memberikan waktu walau hanya sekedar untuk bercerita.


Sehingga membuat anak satu - satu nya itu kesepian karena setiap hari harus ia tinggal dengan alasan kesibukan. Ia tidak punya tempat bercerita tentang masalah yang sedang ia hadapi.

__ADS_1


Ia tidak tahu kalau anaknya mengalami pelecehan di sekolah dan membuatnya depresi berat dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Megan menyesal dan menderita setiap ini karena rasa bersalahnya. Tapi ia mencoba menutupinya dengan terus bekerja setiap hari.


Tapi kenapa ia belum juga sadar dan malah memaksakan kehendaknya pada Felicie yang usianya tidak jauh beda dengan anak perempuannya yang sudah tiada. Bahkan salah satu alasan ia menerima Felicie di butiknya, karena melihat wajah anaknya di mata Felicie, selain ia memang berbakat.


Padahal jelas - jelas Felicie sudah menolak dan memilih mengundurkan diri, dari pada harus mengalami tekanan karena tidak ingin melakukan pekerjaan yang membebaninya.


" Bu Megan ... maaf !" ucap Felicie lirih melihat wajah nyonya Megan yang terlihat sangat terluka begitu mendengar omongannya.


Nyonya Megan langsung tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Felicie.


" Tidak Felicie ... kamu tidak salah, nak ! Harusnya saya yang minta maaf karena terus memaksa kamu untuk melakukan pekerjaan yang tidak kamu sukai !" ujar Megan dengan tatapan penuh penyesalan.


" Tidak bu, saya tahu dan mengerti niat ibu baik. Ibu ingin saya menjadi designer besar. Saya sangat menyukai pekerjaan ini. Sejak kecil saya sudah ingin menjadi seorang designer. Bahkan awalnya saya ingin kuliah di bidang itu tapi karena sesuatu hal saya memilih mengambil jurusan yang lain. Makanya saya magang di butik Bu Megan buat belajar. Tapi yang tidak saya sukai, jika saya harus mengerjakan sesuatu karena tekanan seseorang. " kata Felicie.


" Ya, saya mengerti nak ... saya mengerti alasan dari keberatan kamu ! Saya minta maaf ... !" ujar Megan dengan mata berkaca - kaca, karena ia melihat wajah anaknya di mata Felicie.


" Bu Megan ... !" Felicie menyentuh tangan nya.


" Hmm ... saya tidak apa - apa. Jangan khawatir, nak ... ! Ibu menerima keinginan kamu untuk mengundurkan diri. Maafkan atas sikap Ibu tadi." Megan berusaha ?menahan air matanya yang ingin mendesak untuk keluar.


" Bu ... maaf jika saya membuat Ibu bersedih ! Maafkan saya Bu ... !" ucap Felicie menyesal.


" Tidak, nak ... kamu tidak salah apapun. Tapi bolehkah ibu meminta padamu untuk bertemu sesekali meskipun kamu sudah tidak lagi bekerja di sini. "ujar Megan penuh harap.


" Ya, tentu saja Bu ... ! Saya akan datang jika Ibu ingin ketemu dengan saya." jawab Felicie.


" Terima kasih, nak ... Tetaplah bahagia. Masa depan kamu masih panjang." Megan mengatakannya dengan tulus.


" Terima kasih, Bu ... " sahut Felicie.


" Boleh saya memeluk kamu, nak ... ?" ujar nyonya Megan penuh harap.


" Tentu saja Bu ... " Felicie bangkit dan menghampiri nyonya Megan lalu memeluk nya dengan hangat.


Megan membalas pelukan Felicie dengan perasaan yang tidak bisa ia lukisan dengan kata - kata. Hal yang tidak pernah ia lakukan dengan anaknya, kini ia bisa merasakannya dengan Felicie. Megan seperti merasakan kehadiran anaknya.


" Terima kasih, nak ... Terima kasih !" ujar Megan terbata - bata, sembari mengelus rambut Felicie dengan lembut.


" Saya juga terima kasih, Bu, karena saya sudah lama ingin merasakan sebuah pelukan hangat dari seorang ibu. " kata Felicie dengan suara serak, karena ia juga sangat merindukan sosok mama nya.


Nyonya Megan terhenyak mendengar nya. Ternyata, ia dan Felicie merasakan kerinduan yang sama.


" Nak, mulai sekarang jika kamu lagi merindukan ibu mu, kamu bisa memelukku." ujar Megan lembut.


" Ya, Bu ... terima kasih !" sahut Felicie merasa bahagia.


" Sekarang, pulanglah ... wujudkan impianmu ! Ibu yakin kamu akan jadi orang yang sukses. " ujar Megan.


" Terima kasih, Bu ... kalau begitu saya permisi. Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia." pamit Felicie.


Megan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Perlahan Felicie keluar dari dalam ruangan nyonya Megan. Hatinya kini terasa lega, karena akhirnya ia bisa berhenti tanpa harus menyakiti hati nyonya Megan.


Tapi meski merasa bahagia, ada yang sedikit mengganjal di - hatinya mengenai perkataan nyonya Megan mengenai anaknya. Matanya terlihat sangat terluka begitu membicarakan tentang anaknya.


Walaupun nyonya Megan berusaha untuk mengalihkannya. Felicie yakin ada kisah sedih di balik mata nyonya Megan yang penuh dengan kesedihan. Hal ini membuat Felicie ingin menghibur nyonya Megan agar bisa kembali merasakan kebahagiaan.


Mungkin karena ia juga merasakan kesakitan yang sama. Felicie bisa mengetahui hal ini meski nyonya Megan tidak menuntaskan ceritanya.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2