Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 132


__ADS_3

" Bro, untuk sementara kita harus tinggal di sini karena besok kita harus kembali ke perusahaan Elbert. Jika kita pulang ke kota B, akan memakan waktu. " ujar Tommy mengingatkan Aaron, karena ia tahu pasti Aaron tidak ingin melewatkan waktu untuk melihat Felicie.


" Ya, aku mengerti. Besok kita kembali kesana setelah selesai menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan Elbert.


Lagi pula aku juga masih ingin melihat reaksi Elbert jika aku bicara mengenai Felicie lagi. " ucap Aaron sembari tersenyum smirk.


Tommy hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala mendengar perkataan Aaron.


Pertarungan antara Aaron dan Elbert dalam memperebutkan hati Felicie ternyata akan semakin seru. Ia hanya akan duduk mansi dan melihat reaksi yang di - tunjukkan Elbert jika Aaron berhasil memancingnya.


Sebenarnya ia juga tadi melihat Elbert terlihat menahan amarahnya saat Aaron berbicara mengenai Felicie. Tapi yang herankan kenapa Elbert terlihat marah dan ada kilat cemburu di matanya, sementara ia sudah memiliki seorang istri. Lagipula sampai hari ini, Tommy belum bisa menebak apa yang telah terjadi antara Felicie dan Elbert.


Apakah mereka hanya murni berteman atau pernah ada rasa di antara mereka.


" Ah, ngapain juga aku pusing. Besok saja kita lihat apa yang terjadi ... hehehe." kekeh Tommy dalam hati.


" Leon mana, Tom ? Sejak mengantar kita ke sini, gue belom lihat dia lagi ?" tanya Aaron.


" Oh, dia tadi izin mau keluar sebentar. Mungkin mau nemuin kekasihnya. Secara selama beberapa hari ini Leon nemani kita di kota B." jawab Tommy santai.


" Hmm ... " sahut Aaron datar.


" Bro, gue lihat selama kita disini kedua 🦊 itu gak ada menghubungi Lo. Tumben mereka gak nyari Lo ?" tanya Tommy heran.


" Mereka pasti lagi senang karena gue bilang kalau gue disuruh Daddy buat mewakili Daddy mengurus pekerjaan perusahaan yang ada di sini. Bagi mereka yang penting gue bisa kembali menjadi CEO di perusahaan Daddy. " ucap Aaron dengan wajah meringis.


" Tumben lo jujur ?" tanya Tommy gak percaya.


" Mau gimana lagi. Kalau gak menggunakan alasan itu pasti sulit meyakinkan kedua 🦊 itu buat ngizinin gue pergi ke negara ini. Bisa - bisa mereka nanti minta ikut sama gue. Sedangkan gue juga mau pergi ke negara ini karena ingin tahu kabar Felicie. Lo tau sendirikan sejak kami berpisah, gue gak pernah ketemu lagi dengannya. " kata Aaron mendesah pelan.


" Btw, bro ... apa kedua j*l**g itu gak bertengkar secara gue tahu Giselle itu wanita egois." tanya Tommy sedikit penasaran.


"Hahaha ... Lo gak tahu aja gimana tingkah mereka berdua. Kalau lihat gue ada di apartment pasti mereka bertengkar karena memperebutkan gue buat tidur sama siapa. Padahal sebelumnya gue udah atur jadwal buat mereka. Tapi masih tetap aja ribut. Belum lagi belakangan ini mamanya Vera ikut menginap di - tempat gue. Pertengkaran mereka semakin besar. Mamanya selalu menghasut Vera buat mencari masalah dengan Giselle. Padahal dari yang gue lihat Giselle lumayan berubah dan mencoba untuk bersabar menghadapi Vera. Tapi mereka malah semakin menjadi. Ada saja cara Vera dan mamanya untuk memancing kemarahan Giselle. Mau pecah kepala gue rasanya. Untung aja gue masih bisa berpikir logis. Gue harus bertahan. Hanya tinggal sebentar lagi. Setelah itu gue bisa bebas dari mereka berdua. " ucap Aaron sembari menaikkan bahunya dengan tatapan cuek.


" Kalau dipikir - pikir ya, bro. Lo gila juga. Saat gue dan Zico masih mencari wanita buat jadi pasangan. Elo malah punya isteri dua di rumah. Andai mereka berdua bukan wanita j*****g, Lo termasuk pria beruntung karena dalam waktu singkat langsung nikah dengan dua orang ... hahaha ." Tommy tertawa lebar meledek Aaron.


Alis Aaron menyatu mendengar omongan Tommy.


" Hmm ... beruntung ? Andai saja gue bisa memilih waktu itu, gue rela melepaskan mereka berdua jika Felicie mau memaafkan semua kesalahan dan menerima gue kembali sebagai suaminya. Jika itu benar terjadi, seumur hidup gue gak akan pernah melepaskannya lagi." ucap Aaron sembari menghela nafas berat.


Tommy terdiam dan gak tahu harus bicara apa lagi. Percuma juga jika dia mencoba menghibur Aaron karena kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Ia tahu Aaron sekarang sangat menyesali semua perbuatannya.

__ADS_1


" Udah, bro ... Lo harus sabar. Yakinlah, jika Lo memang berjodoh dengan Felicie, mau terpisah seberapa lama kalian bakal bisa bersatu kembali. Tapi jika memang kalian gak berjodoh, mau di paksakan bagaimanapun caranya tetap gak akan bisa. Jadi, sekarang lebih baik Lo selesaikan dulu semua masalah di sekitar Lo. Baru setelah itu elo bisa mengambil langkah apa yang akan Lo tempuh. " ujar Tommy bijak menasehati Aaron.


Tommy juga belajar dari kesalahan dan perjalanan hidup Aaron. Melihat apa yang di alami oleh Aaron, sahabatnya, membuat Tommy menyadari suatu hal ia harus berubah. Ia memutuskan untuk tidak bersenang - senang dengan banyak wanita di luar sana. Ia juga ingin memiliki seorang wanita yang bisa membawanya ke arah lebih baik dan bisa memberikan kebahagiaan dalam membina sebuah keluarga. Rasanya sudah cukup ia bermain - main selama ini. Tiba - tiba terbersit di ingatannya sebuah nama yang belakangan ini mencuri pikirannya. Seorang wanita yang keras - kepala, acuh dan tidak perduli dengan kehadirannya.


" Eh, kog malah gantian yang Lo melamun ! Lagi melamun kan apa, Lo ?" tanya Aaron dengan suara keras.


" Hee ... gak ada. Gue hanya berpikir buat berubah dan menjalankan hidup lebih baik dari sebelumnya. Gue gak mau merasakan apa yang Lo alami saat ini. Intinya gue juga pengen mendapatkan seorang wanita yang baik dan kami bisa saling mencintai satu sama lain." ujar Tommy serius.


" Hmm ... harus. Lo harus berubah , Tom. Jangan sampai Lo menyesal kaya gue. Saat sadar mencintainya tapi sudah terlambat. " ucap Aaron dengan wajah penuh penyesalan.


" Ah, udah bro ! Kita jangan bahas itu lagi. Sekarang, kita lebih baik membahas mengenai kerja sama buat besok. " ujar Tommy mengalihkan topik pembicaraan mereka agar Aaron tidak mengingat rasa sedih di hatinya.


" Hmm ... gue gak papa, Tom. Lo gak perlu mengalihkan pembicaraan kita. Justru gue mau membahas tentang Felicie sama Lo. " ucap Aaron.


" Hah ? hehehe ... " kekeh Tommy pelan karena Aaron mengetahui niatnya.


" Terus - terang sampai hari ini gue masih penasaran, siapa yang menutupi keberangkatan Felicie kenegara ini. Sehingga anak buah Daddy dan anak buah Lo kesulitan mencarinya. " ucap Aaron mengerutkan dahinya sambil berpikir.


" Benar juga Lo, bro. Siapa yang membantu kepergian Felicie ? Padahal kalau di pikir - pikir, semua anak buah Daddy Lo adalah orang yang kompeten dalam pekerjaannya. Begitu juga dengan anak buah dan Zico. Biasanya dalam waktu sebentar mereka sudah bisa menemukan seseorang yang ingin gue selidiki. Termasuk menyelidiki Giselle waktu itu. Tapi kenapa saat menyelidiki tentang Felicie, mereka gak menemukan apapun. Baru, setelah beberapa bulan anak buah Tuan William mengetahui keberadaannya. Bukankah ini aneh ?" ujar Tommy mengungkapkan penasaran nya selama ini.


" Hmm ... itu juga yang gue pikirkan, Tom. Kalau gak seseorang dengan kekuatan besar , gak akan mungkin kepergian dan keberadaan Felicie selama di sini tidak di ketahui. Apa menurut Lo, Elbert yang melakukannya ?" kata Aaron mengungkapkan kecurigaannya.


" Bisa jadi, Ron ! Gue juga awalnya berpikir hal yang sama kaya Lo pikirkan. Tapi yang buat gue bingung, jika Elbert yang membawa Felicie pergi, kenapa dia malah menikahi wanita lain. Padahal terus - terang aja, gue sempat mengira kalau Elbert mencintai Felicie melihat sikap yang ia tunjukkan di depan kita selama berada di Jakarta. Tadi, saat bertemu sama Elbert, gue juga sempat melihat kilat marah dan tatapan cemburu waktu elo membahas Felicie di depannya." ujar Tommy menjelaskan isi pikirannya.


" Hmm ... sepertinya Lo benar, Ron. Kayanya ada yang di - sembunyikan oleh Elbert. Apa mungkin dia terpaksa menjalani pernikahan dengan wanita yang jadi isterinya sekarang ?" gumam Tommy belum yakin.


" Hmm ... dugaan Lo benar, Tom.


Gue juga merasa kaya gitu. Ada hal besar yang terjadi sehingga membuat Elbert menikah dengan wanita itu dan dia harus bersikap acuh dan seakan tidak mengenal Felicie !" ucap Aaron menautkan kedua alisnya karena sedang memikirkan hal yang terjadi.


" Apa Lo tahu sesuatu, Ron ?" tanya Tommy melihat wajah Aaron yang terlihat begitu serius.


" Hmm ... semoga apa yang gue pikirkan benar dan bukan hanya sebuah dugaan belaka. " ucap Aaron.


" Maksud Lo ?" tanya Tommy penasaran.


" Nanti akan gue katakan sama Lo kalau gue udah menemukan kebenarannya. Lagi pula jika memang Elbert bersikap acuh dan tidak mengenal Felicie, bukankah itu jauh lebih bagus. Gue jadi punya kesempatan lebih besar dalam mendapatkan hati Felicie. Walaupun kami menikah karena terpaksa dan gue membuat perjanjian bodoh itu dengannya tapi kami pernah tinggal bersama, meski hanya sebentar. Gue harap, dengan berjalan nya waktu, rasa benci di hati Felicie sedikit demi sedikit menghilang dan ketika kami bertemu kembali, gue mempunyai kesempatan untuk mendekatinya dan menunjukkan pada Felicie kalau gue sudah benar - benar berubah dan mencintainya dengan segenap hati gue. Gue akan menunggu dan tidak akan memaksakan kehendak gue seenaknya lagi." Aaron terlihat semangat ketika mengatakan ini pada Tommy.


Tommy tersenyum miris dalam hati. Ia merasa iba melihat keadaan Aaron tapi ia sekaligus bahagia. Akhirnya Aaron bisa berubah setelah kehilangan Felicie. Seorang gadis kecil yang cantik dan pernah menjadi istrinya. Aaron sudah menjadi sosok yang lebih tenang dan dewasa. Tidak lagi bersikap gegabah seperti yang ia lakukan selama mereka berteman.


" Berdoalah. Gue harap Lo bisa menemukan kebahagiaan yang Lo inginkan, bro !" ujar Tommy sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


" Aamiin. Makasih Tom. Maaf, kalau selama ini gue bukan teman yang baik buat Lo dan Zico. Gue sadar kalau selama ini gue sering membuat Lo berdua marah karena keegoisan yang gue lakukan. Gue sering mengacuhkan dan tidak pernah mau mendengar semua masukan dari Lo berdua. Maafkan juga atas semua perbuatan gue yang membuat Lo dan Zico kesulitan, hingga kalian harus terkena imbas dan terkena amarah dari Daddy. Maafkan gue !" kata Aaron tulus dan penuh penyesalan.


Tommy terharu mendengar semua yang di katakan Aaron padanya. Ia tidak menyangka kalau Aaron bisa berubah menjadi bijaksana seperti ini. Ia bahkan mau meminta maaf padanya atas perbuatannya selama ini.


" Santai, bro ! Lo itu teman yang baik buat gue dan Zico. Baik banget malah. Jadi, Lo gak perlu sampai meminta maaf dari gue dan Zico. Tapi biar Lo tenang, gue maafkan. Maafkan juga sikap gue yang pernah berkata kasar sama Lo. Biar Lo tahu, Lo itu teman yang terbaik yang pernah kami temui. Lo selalu ada dan membantu kami jika dalam kesulitan. Hanya Lo yang mau menolong kami berdua tanpa mengenal pamrih. Tapi harus gue akui, Lo memang keras - kepala dan bodoh bila menyangkut tentang cinta dan wanita. Terutama wanita licik seperti Giselle. Lo di butakan olehnya. Makanya Lo gak mau mendengarkan perkataan gue. Meski banyak bukti yang sudah kami tunjukkan sama Lo. Tapi karena elo sahabat kami, mau gak mau gue dan Zico tetap melindungi Lo dari Tuan William agar dia tidak mengetahui semua yang Lo lakukan. Walaupun akhirnya ketahuan juga, hehehe." Tommy tertawa pelan.


Aaron ikut tertawa mendengar omongan Tommy.


" Jujur gue dan Zico sempat ketakutan saat Tuan William marah setelah ia tahu kami ikut terlibat menutupi semua perbuatan Lo. Kami siap mendapatkan hukuman dari Tuan William. Lo tahu sendiri gimana mengerikannya wajah Daddy Lo jika dalam mode marah. Tapi kami berdua gak perduli meski kesal dengan lo. Itu semua kami lakukan karena gue dan Zico menyayangi lo. Kita bertiga bukan lagi hanya sekedar bersahabat tapi sudah seperti saudara. Jadi, jangan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Jika Lo memang mencintai Felicie, kejarlah. Tapi lepaskan kalau ia tetap tidak bisa membalas perasaan Lo. Cinta yang tulus bukan harus memiliki, bro. Melihat orang yang Lo cintai bahagia, hati Lo juga akan ikut bahagia. Walaupun sakit tapi cobalah buat ikhlas !" Tommy melanjutkan perkataannya dengan kalimat panjang dan penuh kalimat bijaksana. Kini ia lega karena bisa mengeluarkan isi dalam pikirannya. Walau setelah itu ia heran, ternyata bisa juga ia mengatakan kalimat yang bagus, hahaha.


" Hmm ... Makasih, Tom. Gue bahagia punya sahabat kaya Lo berdua. Gue akan mencoba untuk melakukan saran yang Lo katakan. Gue harap kita bertiga bisa menemukan cinta sejati dan kebahagiaan buat selamanya. " ucap Aaron dengan wajah terharu mendengar semua perkataan Tommy.


" Aamiin. Ya, kita bertiga harus bahagia. " sahut Tommy cepat.


" Sekarang bagaimana kalau kita jalan keluar. Mumpung masih disini. Lo harus mencari oleh - oleh buat wanita yang pengen Lo dekati. Gue juga mau membelikan sesuatu buat Felicie. " ajak Aaron.


" Okey ! Gue memang lagi cari sesuatu. Sekalian cari buat Zico. Sekarang dia pasti lagi kesal karena gak bisa ikut kemari. Padahal dia juga pengen melihat Felicie ... hahaha. Sorry, bro ... !" ujar Tommy tanpa merasa bersalah.


" Gak masalah. Felicie memang cantik dan mempesona. Jadi, wajar banyak yang menyukainya. Termasuk Lo juga ! Tapi tetap gue pemenangnya, karena meski singkat dia pernah jadi istri gue ... hehehe. " ucap Aaron dengan santai.


" Si**an ! Menikah karena dipaksa aja bangga !" ejek Tommy.


" Hahahaha ... gak masalah. Tapi yang jelas Felicie adalah jandanya dari Aaron William. " ucap Aaron gak mau kalah.


" Huek ... mual gue. " Tommy bersikap seakan - akan mau muntah mendengar omongan Aaron.


" Hahaha ... itu kenyataannya, bro ! Gak ada yang bisa menyangkalnya. Jadi walau Felicie masih virgin tapi minimal gue pernah menyentuh tubuhnya meski secara paksa. " Aaron semakin menggoda Tommy.


" Huh .. Jadi pergi gak nih ? " ujar Tommy kesal.


" Jadi dong !" sahut Aaron cepat.


" Lo gak membelikan oleh - oleh buat kedua 🦊 itu, bro ? " tanya Tommy.


" Gampang itu. Gak penting juga dipikirin. Nanti gue bilang aja kalau gue gak sempat shopping karena selama gue disini sibuk mengurus perusahaan !" ucap Aaron cuek.


" Hee, kejam juga Lo, bro !" ujar Tommy sembari nyengir.


" Baru tahu, Lo ! Yuk, pergi ... !" ucap Aaron lalu melangkah keluar.


Tommy tersenyum melihat sikap Aaron. Ia kemudian mengikuti langkah sahabatnya yang sudah bisa berpikir dengan waras.

__ADS_1


" Semoga semua masalah Lo cepat selesai dan Lo bisa mengejar cinta Felicie, Ron !" Tommy mendoakan Aaron dalam hati.


**********************************


__ADS_2