
William hanya bisa menghela nafas dengan perasaan berat mendengar keputusan Felicie.
Ia sebenarnya kecewa, tapi ia juga mengerti. Felicie pasti sangat
tidak bisa menerima jika harus
berbagi suami dengan wanita lain.
Apalagi dengan saudaranya sendiri.
" Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusanmu, Daddy tidak akan
menghalangi. Meskipun Daddy berharap kalian bisa terus bersama. Karena bagi Daddy, cuma kamu yang pantas jadi isterinya Aaron." ucap William dengan lembut.
" Terima kasih, Dad ... Maafkan Felicie. " ujar Felicie merasa gak enak pada William, karena bagaimanapun ia sangat baik padanya.
" Tapi walaupun kamu nanti sudah berpisah, izinkan Daddy tetap
menganggap mu sebagai anak Daddy. Kamu boleh memutuskan
hubungan dengan Aaron, tapi tidak dengan Daddy." William mengatakan ini dengan nada penuh harap.
" Baiklah, Dad ... " sahut Felicie singkat.
" Rio, tolong urus perceraian mereka. " perintah William pada asistennya.
" Baik, Tuan ... " ujar Rio.
" Dad, Zico sudah mengambil berkas perceraian untuk kami. Karena Aaron sudah menduga,
Felicie pasti tidak akan mau mempertahankan pernikahan karena kejadian ini." kata Aaron
memberikan alasan yang tepat.
" Hmm ... baiklah. Urus semua dengan benar, berikan juga pada
Felicie sebagian kekayaan kamu. Karena cuma Felicie yang berhak menerimanya bukan wanita lain. Karena pernikahan kalian di sahkan oleh Negara. Bukan hanya sekedar menikah seperti yang kalian lakukan sekarang.
Daddy juga akan memberikan beberapa persen saham perusahaan padanya." kata William dengan tegas.
" Baik, Dad ... " Aaron menyetujui
perkataan Tuan William tanpa protes sedikitpun. Karena ia juga
merasa, Felicie memang berhak
mendapatkannya. Selama dalam
pernikahan, Aaron tidak pernah bersikap baik padanya. Bahkan,
ia malah menyakiti harga diri Felicie sebagai wanita.
Sisca dan Vera tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Felicie akan menjadi kaya - raya,
setelah bercerai dengan Aaron. Mereka benar - benar tidak bisa menerima hal ini dan ingin protes pada William dan Aaron. Tapi mereka tidak seberani itu. Melihat wajah menyeramkan Aaron saja Sisca dan Vera sudah ketakutan.
Apalagi kejahatan mereka berdua sudah terbongkar. Pasti Aaron gak akan segan untuk menghabisi mereka sekarang jika berani berbicara.
Harusnya mereka bisa senang,
karena akhirnya Felicie memilih bercerai dengan Aaron dan hidup menderita seperti keinginan mereka. Tapi kenyataannya malah mereka sekarang yang harus mengalaminya.
" Dad, maaf bukan Felicie gak mau menerima maksud baik dari Daddy dan Aaron ... tapi Felicie gak merasa berhak menerima semua pemberian itu. "
" Maksud kamu ? Kamu menolak
pemberian Daddy dan Aaron ? " tanya William gak percaya.
Aaron dan semua yang ada di ruangan ini juga tidak percaya dengan penolakan Felicie.
" Iya, Dad ... kami baru menikah
belum genap dua bulan jadi rasanya tidak pantas kalau Felicie
menerima semua ini. Kalaupun
Daddy ingin memberikan sesuatu pada Felicie, ada hal lain yang lebih penting dan sangat Felicie inginkan ? " kata Felicie setelah menolak pemberian William dan Aaron.
Kening William berkerut mendengar perkataan Felicie. Ia
mencoba memikirkan, hal penting apa yang diinginkan oleh Felicie sehingga menolak pemberiannya.
" Katakan apa yang kamu inginkan, nak ? " tanya William penasaran.
Begitu juga dengan Aaron dan yang lain. Kini semua mata mengarah pada Felicie.
__ADS_1
" Perusahaan Papa dan rumah peninggalan kedua orang tuaku yang selama ini dikuasai oleh Pak Bagas dan keluarganya. Bukankah
aku di paksa menikah dengan Aaron karena harus membayar hutang Pak Bagas pada Daddy.
Bukan seperti yang Pak Bagas katakan padaku bahwa
almarhum Papa yang berhutang, karena hal ini aku dipaksa untuk melunasinya dengan menerima
pernikahan ini. Jika tidak perusahaan dan rumah akan Daddy sita. Jadi, karena aku sudah menikah dengan Aaron,
aku minta semua peninggalan
orang tuaku kembali ke tanganku.
Sudah cukup lama mereka hidup enak dan menikmati semua ini.
Jadi sekarang, sudah waktunya
ini semua kembali kepada pemiliknya. Bagaimana Dad, apa
permintaanku terlalu berat ? " tanya Felicie dengan wajah serius,
setelah akhirnya memutuskan untuk mengatakan hal ini.
Padahal niat awal Felicie, ia ingin
memperjuangkannya sendiri.
Tapi setelah ia pikirkan, lebih baik menggunakan kekuasaan William
supaya prosesnya bisa jauh lebih cepat dan ia bisa kuliah dengan
tenang. Felicie berencana untuk
menyuruh Tika mengelola perusahaan selama ia pergi nanti.
Karena jurusan kuliah yang Tika ambil sesuai untuk bisa menjalankan perusahaan.
Bagas dan keluarganya benar -
benar terkejut mendengar apa yang di katakan Felicie. Ternyata
selama ini ia sudah mengetahui,
bahwa bukan almarhum Papa nya yang berhutang pada Tuan William, melainkan Bagas.
Tapi yang membuat Bagas heran, kenapa walaupun sudah tahu Felicie tetap menyetujui pernikahan nya dengan Bagas ?
matang tanpa sepengetahuan
Bagas.
Kali ini Bagas benar - benar takut,
William akan memenuhi keinginan
Felicie. Walaupun sebenarnya selama ia mengelola perusahaan,
ia sudah mengambil keuntungan dan menyimpannya. Bahkan ia sudah membeli rumah belakangan ini, walau masih kredit. Karena Sisca tidak mau rumah yang kecil. Ia ingin memiliki rumah yang jauh lebih besar dari milik nya Felicie. Tapi tetap saja itu tidak sebanding, jika harus kehilangan perusahaan. Apalagi perusahaan sekarang
sedang maju dengan pesat karena ia sering memakai nama William sebagai besannya, dalam mendapatkan proyek - proyek besar.
Sementara itu William, Aaron dan
kedua sahabatnya Tommy dan
Zico semakin merasa kagum pada Felicie. Ia benar - benar wanita yang pintar, sehingga susah ditebak apa yang ada dalam pikirannya dan yang jelas tidak gila harta.
Jika ia seperti Giselle ataupun wanita lain jelas lebih memilih yang ditawarkan Tuan William dan Aaron karena jumlahnya jauh lebih fantastis dibandingkan dengan yang diinginkan Felicie. Ia lebih menghargai peninggalan dari kedua orang tuanya yang memang
merupakan haknya di bandingkan
menerima kompensasi atas perceraiannya dengan Aaron.
William mendekati Aaron dan membisikkan sesuatu
di telinganya.
" Kau benar - benar bodoh karena telah melepaskan gadis istimewa ini. Bukan hanya memiliki wajah yang cantik, tapi ia juga gadis yang cerdas. Harusnya gadis ini bisa jadi isteri yang sempurna untuk mendukung semua kegiatanmu. Tapi sayang, kamu
lebih memilih wanita - wanita
j***** dari pada mempertahankan
dirinya. Jangan pernah menyesal,
jika nanti Felicie menjadi milik orang lain." William pun kembali duduk di atas sofa setelah selesai
__ADS_1
mengatakan hal ini pada Aaron.
Benar kata Daddy, Aaron akan menyesal tapi bukan nanti. Saat ini pun ia sudah menyesalinya.
Kenapa ia tidak pernah mau mendengarkan perkataan Daddy dan kedua sahabatnya untuk
menjauh dari Giselle yang hanya
mencintai kekayaannya. Bahkan
ia tidak pernah mau melihat semua bukti yang ingin di tunjukkan Tommy. Ia tetap saja menikahi Giselle meski tahu akan
membuat Daddy nya marah.
Kenapa ia begitu mudah goyah dengan rayuan yang di lakukan
Giselle ? Tapi semua sudah terlambat, ia tidak mungkin lagi bisa menggapai hatinya Felicie setelah yang ia lakukan.
" Baik, Daddy akan memenuhi
permintaanmu. Perusahaan itu akan kembali menjadi milikmu.
Begitu juga dengan rumah yang
ditempati Bagas dan keluarganya.
Tapi dengan syarat, kamu akan tetap menerima keinginan Daddy untuk tetap mengalihkan sebagian kekayaan Aaron dan saham perusahaan atas nama kamu. Karena Daddy tidak ingin,
jika terjadi sesuatu yang buruk pada Daddy atau pun Aaron semua jerih payah Daddy selama ini akan hilang begitu saja jika berada di tangan yang salah.
Daddy yakin, jika di buat atas namamu ... tidak akan ada yang bisa berhasil mengambilnya, karena Daddy akan melegalkannya di beberapa pengacara handal ibukota, agar tidak ada yang berani meragukan keabsahannya. Bagaimana ?
Jika kamu setuju dengan syarat
yang Daddy berikan, Daddy segera
mewujudkan impianmu untuk
mengambil alih kembali semua
peninggalan orang tuamu." William memang benar seorang pebisnis handal. Ia masih sempat bernegosiasi dengan Felicie mengenai hal ini. Karena William sangat yakin, Felicie tidak akan
bisa menolak kali ini.
Aaron senang mendengar perkataan Daddynya. Jika Felicie
menerima syarat dari Daddy,
berarti masih ada kemungkinan
baginya untuk tetap bertemu dengan Felicie. Karena sebagai
pemilik saham, Felicie harus menghadiri rapat perusahaan.
Bagas berharap Felicie akan menolak syarat yang diajukan Tuan William, agar ia masih bisa
tetap menjadi pemilik perusahaan. Walaupun sebenarnya, perusahaan memang
telah di buat atas nama Felicie, sebelum Papa nya Felicie meninggal. Tapi karena pengacara Papa Felicie telah meninggal karena Bagas menyuruh orang untuk melenyapkan nya. Maka Bagas bisa memalsukan perusahaan itu beralih menjadi miliknya.
Tapi harapan Bagas langsung
hancur berantakan begitu mendengar perkataan Felicie.
" Baiklah, Dad ... Aku setuju.
Tapi Felicie minta, jika Felicie sedang tidak bisa menghadiri rapat, maka Felicie berhak untuk
mengirimkan seseorang
ke perusahaan mewakili Felicie."
akhirnya Felicie setuju dengan syarat yang ditetapkan William
demi mendapatkan perusahaan
Papa nya kembali.
" Okey, Daddy setuju. " William tersenyum mendengar jawaban Felicie.
Jantung Bagas dan keluarganya
seakan lepas dari tempatnya.
Ia benar - benar hancur kali ini.
Sisca langsung jatuh pingsan
__ADS_1
begitu mendengarnya. Sedangkan Vera dan Vina hanya bisa menangis.
**********************************