Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 70


__ADS_3

Giselle dan Vera saling berebut


untuk duduk di sebelah Aaron


begitu masuk ke apartment.


Aaron cuma melirik tanpa mencoba untuk memilih salah satu dari mereka.


" Sayang, kenapa gak tinggal


di apartment kamu yang di sana ?


Aku lebih suka model apartment kamu yang itu di bandingkan yang ini. Lokasinya juga bagus,


di tengah kota. Gak, kaya apartment ini, lumayan agak jauh dari mall." tanya Giselle heran, karena tidak sesuai dengan dugaannya.


Sementara Vera malah gak masalah sama sekali. Sekarang paling penting baginya adalah bisa hidup bebas, tidak seperti saat ia berada di mansion.


Bahkan keluar kamar aja harus


di awasi. Jika di apartment ini, ia bisa keluar masuk dengan mudah dan Vera sudah berniat untuk mengundang Mama dan adiknya untuk datang ke apartment ini.


" Apartment itu sudah aku jual.


Kamu kan tahu sendiri, aku sudah gak bekerja di perusahaan lagi.


Jadi aku butuh uang untuk beli


apartment baru ini." bohong Aaron.


Vera terkejut mendengar Aaron sudah tidak bekerja lagi. Berarti


sekarang Aaron hanya pengangguran. Berarti ancaman Tuan William kemarin di rumah sakit, bukan cuma sekedar gertakan saja.


" Apa itu berarti, juga benar kalau Felicie mendapatkan saham dari perusahaan Tuan William dan sebagian hartanya Aaron ?


Wah, kalau begitu Felicie semakin kaya aja. " batin Vera iri.


" Tapi hartanya pasti Aaron masih banyak, kalau gak sia - sia aja gue harus mengandung anaknya!"


ucap Vera kesal dalam hatinya.


" Kenapa harus di jual, kalau kamu ujungnya mau beli apartment ini.


Seharusnya apartment itu aja yang kamu pertahankan. " protes


Giselle, karena apartment baru ini meskipun lebih besar tapi tempatnya terlalu jauh.


" Kamu gak usah protes, terima aja. Bukankah kamu bilang mau tinggal bersamaku. Di sana kamarnya cuma sedikit, gak akan


cukup." kata Aaron memberi alasan.


" Kog gak cukup ... aku lihat sendiri kalau kamarnya ada tiga.


Ya, cukuplah, satu kamar buat kita, satu buat j****g ini dan sisanya buat pelayan." ujar Giselle


tetap gak menerima keputusan


Aaron.


" Selain kita, masih ada yang akan


ikut tinggal disini. Makanya aku bilang disana gak akan cukup."


" Loh, siapa lagi yang akan tinggal di sini ? Jangan bilang kalau kamu punya isteri lain selain aku dan wanita kampungan ini !" .


" Teman - temanku, mereka tidak


memiliki tempat tinggal di kota ini jadi aku suruh tinggal disini aja."


Vera hanya mendengar setiap


pembicaraan yang keluar dari


mulut Aaron dan Giselle tanpa berani bertanya sepatah katapun.


Karena ia masih belum bisa mengambil hatinya Aaron.


Lagi pula saingan di depannya ini, Giselle bukanlah lawan yang bisa di anggap ringan, selain ia kekasih Aaron, ia juga terlihat pintar dan licik.


" Loh, kalau ada teman kamu, nanti aku gak nyaman dong, masa


ada pria lain yang menetap disini bersama kita."


" Kenapa kalau kamu gak suka, kamu bisa kembali ke apartment kamu, biar aku dan Vera yang tinggal di apartment ini. Oh, ya ...


aku lupa bilang sama kamu ... apartment kamu juga udah jual."


" Apa ... ? Kog bisa kamu jual ?


Bukankah apartment itu kamu belikan atas namaku ?".


" Ya, memang awalnya atas nama kamu, tapi sudah aku ubah kembali ke namaku. Berhubung aku lagi butuh uang banget buat nambahin beli apartment ini, jadi


mau gak mau harus aku jual."


" Kamu kenapa gak bilang dulu sama aku. Itukan hadiah buatku.


Kenapa gak izin dulu, sih ... !".


" S*****n , ternyata wanita 🦊 ini


geraknya cepat banget. Belum apa - apa udah di belikan apartment aja. Aku harus mendapatkan lebih banyak dari dia." gumam Vera dalam hati.


" Kamu itu lucu ya ... kenapa Aaron mesti izin sama kamu.


Wajar dong, kalau Aaron menjualnya tanpa harus bilang dulu ke kamu, yang belikan juga Aaron. Terserah Aaron dong ... !".

__ADS_1


ujar Vera sengaja biar Aaron semakin kesal dengan Giselle.


" Diam kamu ... ! Kamu gak ada hak disini." bentak Giselle geram.


" Halo ... gak ada hak kamu bilang.


Gak salah ... ? kita berdua sama - sama isterinya Aaron. Jadi hak dan kedudukannya sama. Lo jangan merasa yang paling harus diperhatikan ... dasar manja !"


balas Vera gak mau kalah.


Aaron tersenyum smirk melihat


pertengkaran Giselle dan Vera.


" Ini, baru awal ... kalian lihat aja nanti." batin Aaron.


" Benar apa yang di katakan Vera.


Harusnya kamu mendukung keputusanku bukannya protes.


Bagi ku wajar kalau aku menjual apartment kamu, karena kamu akan tinggal disini. Jadi dari pada


gak ditempati, lebih baik dijual."


ujar Aaron membenarkan omongan Vera.


Tentu saja Vera merasa senang mendengar Aaron setuju dengan


perkataannya.


" Jangan - jangan kamu punya


niat lain, makanya gak suka kalau apartment itu di jual ? " ujar Aaron datar.


" Gak mungkin dong, sayang ...


aku gak ada niat apapun. Aku hanya menghargai pemberian kamu aja. Makanya aku gak begitu rela apartment nya di jual."


jawab Giselle dengan licik.


" Hmm ... ya sudah. Aku akan tunjukkan kamar kita masing - masing." ucap Aaron lalu bangkit dari sofa.


" Maksudnya kamar masing - masing ?" tanya Giselle heran.


Baru aja Aaron akan menjawab


pertanyaan Giselle, suara bel apartment mereka berbunyi.


" Kamu, bukakan pintunya. Itu pasti temanku yang datang." Aaron menyuruh Vera untuk membukanya.


Vera mengembangkan senyum manisnya buat Aaron. Ia senang karena Aaron lebih banyak bicara dengannya saat ini dan masa bicaranya lebih lembut dibandingkan ketika ia masih


di mansion. Aaron selalu membentaknya dengan kasar.


Bergegas Vera berjalan menuju pintu apartment dan kemudian


Tapi ia langsung terkejut begitu


pintu terbuka dua pria berwajah menyeramkan sedang berdiri disana, bersama supir yang membawa mereka tadi kesini.


" Ca ... ca .. siapa ? " tanya Vera gugup.


" Tuan Aaron." sahut keduanya singkat.


" Hah ... Kalian siapa mau mencari suamiku ?" tanya Vera takut.


Tapi kedua pria ini tidak menjawab pertanyaan Vera. Mereka hanya diam sembari menatap wajah Vera dengan tatapan menyeramkan.


Hal ini membuat Vera semakin ketakutan, hingga dia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah supir.


" Bapak bawa sisa koper. Bawa masuk kedalam aja." ucap Vera.


" Baik, non ... " jawab supir lalu masuk membawa koper kedalam


apartment.


Kedua pria itu juga ingin melangkah masuk mengikuti langkah supir tapi Vera berusaha menahannya.


" Siapa yang datang ?" teriak Aaron.


" Itu ... anu ... katanya cari kamu."


ucap Vera, gak berani menatap mata pria di depannya.


" Oh, suruh masuk aja. Pasti itu temanku yang akan tinggal disini."


perintah Aaron.


" Tapi ... coba kamu lihat dulu, deh ... Apa benar mereka berdua ini teman kamu ?" ujar Vera ragu.


Mendengar omongan Vera, Aaron pun bangkit diikuti Giselle yang tidak ingin Vera memiliki kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Aaron.


" Hmm ... mereka temanku.


Biarkan mereka masuk." ucap Aaron begitu melihat kedua bodyguard yang sedang ditunggunya.


" Apa ... ? Kamu gak salah sayang.


Masa mereka teman kamu ?" tanya Giselle gak percaya dengan tatapan takut melihat tampang kedua pria yang kini sudah berjalan masuk ke dalam apartment.


" Udah, kamu diam saja.


Mereka memang teman yang aku ceritakan tadi." ujar Aaron datar.


" Gak mungkin ... mereka gak mungkin teman kamu." ucap Giselle gak percaya.


" Kenapa, kamu gak yakin kalau mereka ini temanku. Apa kamu pikir temanku hanya dari kalangan bisnis aja. Kamu salah, aku juga berteman dengan berbagai kalangan. Mereka ini mantan penjahat yang sudah tobat ... " ucap Aaron sengaja menakuti Giselle dan Vera.

__ADS_1


Padahal kedua pria ini adalah bodyguard yang disuruh Aaron untuk menjaga Giselle dan Vera agar tidak bisa kabur dari apartment nya.


" Apa ... ?" ucap Giselle dan Vera bersama dengan wajah kaget.


" Kenapa ... kalian kaget ? Oh, ya ... kenapa kalian masih berdiri disana ? Sebaiknya duduk dan gabung disini. Ada yang mau aku sampaikan pada kalaina berdua." ujar Aaron serius.


" Kami duduk di kursi ini aja, sayang." tolak Giselle karena takut berdekatan dengan kedua teman Aaron.


Kali ini Vera setuju dengan omongan Giselle.


Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.


" Tidak, kalian berdua harus duduk disini denganku. Gak sopan ...


mereka ini termasuk teman dekatku. Selain Tommy dan Zico."


perintah Aaron tegas, gak menerima penolakan Giselle dan Vera.


" Tapi sayang ... " Giselle ingin protes.


" Sudah, sini cepat ... !" kata Aaron memandang dingin pada Giselle.


" Ya, baiklah ... !" Giselle pasrah, karena gak ingin Aaron membencinya.


Terpaksa Giselle dan diikuti Vera


berjalan mendekat ke arah Aaron dan kedua pria berwajah seram itu. Tanpa berani melihat kearah teman Aaron, mereka pun duduk bersebelahan.


" Dengarkan baik - baik omonganku. Kedua temanku ini akan menempati dua kamar yang


di bawah, sedangkan tiga kamar


di lantai atas akan masing - masing di tempati oleh kita.


Karena hari ini kita semua sudah lelah akibat pindahan, jadi malam ini aku ingin tidur sendiri tanpa ada gangguan dari siapapun. Baru besok aku akan memutuskan akan tidur dengan siapa diantara kalian berdua. Kalian mengerti !"


ujar Aaron datar.


Mata Giselle dan Vera langsung membelalak dengan lebar mendengar perkataan Aaron.


Giselle yang sudah berkhayal akan tidur sekamar dengan Aaron dan berniat akan membuatnya mencintai Giselle lagi seperti dulu merasa sangat tidak terima.


Begitu juga dengan Vera. Ia berharap dengan kepindahan keapartment , mereka akan


memulai awal yang baru dengan


indah. Ia akan berusaha keras membuat Aaron memperhatikan nya dan bisa secepatnya jatuh cinta pada Vera.


Jadi ia bisa segera menyingkirkan Giselle dari sisi Aaron dan ia akan menjadi satu - satunya isteri Aaron. Tapi untuk saat ini, ia belum berani protes seperti yang dilakukan Giselle.


" Sayang, gak bisa gitu dong ...


kita ini suami isteri, masa tidurnya harus pisah kamar kaya gitu. Lagipula aku sedang hamil ... bagaimana jika saat malam hari aku membutuhkan sesuatu, sedangkan kamu gak ada didekatku." protes Giselle dengan


suara manja.


" Hmm ... gak usah manja. Kamu


hamilnya juga masih kecil. Jadi bisa melakukan sendiri jika butuh sesuatu. " bantah Aaron.


Giselle ingin membantah lagi ucapan Aaron tapi terpaksa dia urungkan begitu melihat kedua pria itu sedang menatapnya tajam.


" Hmm ... karena aku lihat kalian sudah mengerti dengan keinginanku, sekarang cepat pergi ke dapur dan masakan makanan


buat kami. Malam ini, supir juga tidur disini karena ia pasti kelelahan harus bolak - balik dari tadi buat bawain semua koper itu." perintah Aaron dengan senyum smirk di bibirnya.


Aaron tahu kalau Giselle gak bisa masak. Ia memang sengaja ingin mengerjainya.


" Tapi sayang, kamu kan tahu aku gak bisa masak. Biar isteri keduamu aja yang masak ya ...


aku capek, pengen istirahat bentar." ujar Giselle tersenyum berusaha membujuk Aaron.


" Enak aja mau istirahat. Aku juga gak bisa masak. Harusnya kamu sebagai isteri pertama Aaron yang masakin buat kami semua." ucap


Vera gak mau kalah.


" Sayang, lihat isteri kamu yang norak ini. Dia kurang ajar banget sama aku. Masa dia gak mau bantu masak buat kita." ucap Giselle manja.


" Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang sebaiknya kalian berdua


pergi kedapur dan segera buat makanan untuk kami atau kalian mau teman - temanku ini turun tangan." ujar Aaron menakuti Giselle dan Vera.


Mendengar perkataan Aaron membuat Giselle dan Vera sangat ketakutan . Membayangkan wajah seram teman Aaron aja, sudah


membuat mereka cemas, apalagi jika sampai turun tangan.


" Baiklah ... " jawab Giselle lemah dan diangguki oleh Vera juga.


Terpaksa Giselle dan Vera segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk


memasak seperti yang dikatakan Aaron. Meski mereka juga bingung harus masak apa.


Sedangkan selama ini mereka gak pernah tahu caranya memasak.


**********************************


Selamat membaca ...


Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa like, komentar postifnya dan favorit ❤️


Buat yang sudah mendukung dan memberikan komentar yang baik,


mommy ucapkan terima kasih ya ... 🙏🙏😘😍


Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan ... 🙏🙏🙏

__ADS_1


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2