Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 135


__ADS_3

" Feli ... kami besok akan pulang ke Indonesia. Lo beneran tetap gak mau ikut ?" tanya Airin dengan wajah memelas.


" Rin ... udah ya. Jangan bahas itu lagi. Dari pertama gue mutusin buat kuliah disini, elo tahu kalau gue gak akan pulang sebelum gue menyelesaikan kuliah atau gue terpaksa harus pulang karena hal yang mendesak. Lagi pula kemarin kita udah ngebahasnya. Jadi jangan bicarakan itu lagi. " ucap Felicie tegas.


" Tapi ... !" Airin masih berusaha membujuknya. Tapi Devan dengan cepat mencekal tangan Airin agar tidak meneruskan perkataannya lagi. Devan tidak ingin kekasih dan sahabatnya kembali bertengkar karena hal ini. Padahal mereka baru saja berbaikan. Apalagi mereka tahu bagaimana sifat Felicie. Jika dia sudah mengambil keputusan maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Setahu Devan hanya Elbert yang bisa membujuk Felicie. Elbert yang bisa membuat seorang Felicie dari wanita yang dingin bisa tersenyum lepas dan tidak kaku lagi. Tapi sekarang semua itu sudah tidak ada lagi. Sikap Felicie kembali seperti dulu. Meski dia sudah terlihat lebih manusiawi dengan mencoba tersenyum. Tapi tetap saja itu hanya di berikan pada teman - teman terdekat yang bisa membuatnya nyaman. Sedangkan pada yang lain, Felicie selalu membangun benteng yang kokoh dan tinggi.


Devan tahu walau Felicie mencoba menutupi darinya tapi hati Felicie sedang tidak baik - baik saja saat ini. Meski ia berusaha untuk bersikap seperti biasa di depan Devan dan Airin tapi Devan bisa melihat kilat sedih dan luka di mata Felicie. Hanya saja dia begitu pintar menyimpan rasa itu.


Devan yang lebih dulu kenal dan bersahabat dengan Felicie bisa melihat hal ini. Selama ini belum pernah ia melihat Felicie menyukai seseorang. Hingga Devan bisa melihat sinar di mata Felicie ketika ia bersama dengan Elbert. Tetapi sayangnya pria itu malah menyakitinya. Bahkan meski Dave berusaha mendekati dan memberi kenyamanan buat Felicie, Devan belum melihat cahaya di mata Felicie kembali. Ia hanya berusaha bersikap baik pada pria itu. Devan berharap semoga Dave bisa bersabar dan menyembuhkan luka yang ada di hati Felicie dan mereka bisa bersama. Walau ia sendiri belum begitu yakin, karena akan sulit bagi Felicie melupakan cinta pertamanya. Meski ia gadis yang kuat dan membalut dirinya dengan sikap dingin. Namun tetap saja ia hanyalah seorang gadis muda yang butuh cinta yang tulus dan itu pernah ia dapatkan dari Elbert.


Ia bisa melihat kalau Dave tulus dan benar - benar mencintai Felicie. Meski waktu itu ia juga pernah melihat tatapan penuh cinta itu di mata Elbert untuk Felicie. Tapi sekarang Elbert sudah menikah dan jadi milik orang lain. Walau sebenarnya dalam hati kecilnya Devan ingin sekali bisa bertemu dan menanyakan hal ini pada Elbert. Kenapa ia meninggalkan Felicie, padahal ia sudah berjanji pada Devan untuk menjaga dan menyayangi Felicie dengan sepenuh hati dan jangan menyakitinya. Selama ini dalam kehidupan Felicie sudah terlalu banyak di sakiti oleh orang - orang terdekat yang dianggapnya keluarga. Lamunan Devan terhenti ketika mendengar Airin, kekasihnya berbicara.


" Rin, kamu tenang saja. Ada aku disini. Aku yang akan menemani Feli selama musim liburan ini. " celetuk Dave yang ada bersama mereka.


" Tapi kamu kan juga harus pulang ke rumah saat natal. Selama kamu pulang, Felicie bakal sendirian. Itu yang buat aku khawatir meninggalkannya. " ujar Airin tetap kekeh.


Lamunan Devan terhenti ketika mendengar suara Airin, kekasihnya.


" Sayang, Dave sudah janji kalau dia pulang hanya sebentar. Setelah dia kumpul dengan keluarganya, Dave akan kembali menemani Feli. Iya, kan Dave ?" ujar Devan memberi pengertian pada wanitanya agar jangan terus memaksa Felicie.


" Iya, Rin. Aku kan sudah janji pada kalian. Lagi pula Felicie sudah janji denganku untuk pergi ke kota N, setelah ia menyelesaikan design terbarunya. Aku ingin membawanya ke beberapa tempat hiburan di sana. " ujar Dave.


" Lo dengar sendirikan, Rin. Dave akan menemani gue. Selagi dia pulang ke rumah orang tuanya, gue akan mengerjakan design baru dan meski gak banyak, gue masih punya teman. Gue bisa main ke tempat mereka. Sekarang, Lo jangan khawatir lagi. Lo bisa pulang dengan tenang. Lo kan kangen banget sama orang tua Lo, Rin !" ucap Felicie sembari tersenyum tipis.


" Lo, yakin ? Lo beneran gak papa ?" tanya Airin masih belum ikhlas.


" Gue yakin. Udah, Lo tenang aja. Nikmati liburan Lo sepuasnya dengan om, tante dan Devan. Tapi ingat, jangan lupa bawa oleh - oleh dari Indonesia buat gue !" kata Felicie dengan wajah serius buat meyakinkan Airin.


" Okey, kalau gitu. Gue akan bawakan semua oleh - oleh yang elo inginkan. Tapi dengan catatan Lo harus senang - senang juga di sini. Jangan kerja terus. Tubuh dan mata Lo juga butuh istirahat dan refreshing biar gak bosan. " ujar Airin akhirnya sambil mengomel.


" Hee ... okey. Gue pasti istirahat. " ucap Felicie cepat biar Airin senang agar tidak memaksanya pulang lagi.


" Bagus .. bagus. Kalau gini kan senang gue !" ujar Airin semangat.


" Udah selesaikan ngomongnya ? Gimana kalau kita jalan ke mall. Temani aku cari hadiah buat orang tuaku. " ujar Dave segera mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


" Kamu dan Felicie saja, Dave yang pergi. Kami harus pergi ke - tempat lain. Orang tua ku dan orang tua Airin minta di bawakan sesuatu. " Ujar Devan menolak dengan halus agar Felicie bisa pergi berdua dengan Dave. Lagi pula ia dan Airin memang ingin membelikan barang yang di pesan oleh kedua orang tua mereka.


" Baiklah kalau begitu. Kami jalan sekarang ya. Yuk, Feli ... ! " ujar Dave penuh semangat.


" Okey ...Rin, Dev gue pergi nemenin Dave. Ntar malam kita ketemuan lagi. Gue yang datang ke apartemen kalian. " ucap Felicie.


" Okey, okey ... Lo juga harus belanja bukan cuma nemenin Dave. Lo, bilang parfum elo udah mau abis. Sekalian aja beli di - sana. " ujar Airin mengingatkan Felicie.


" Untung Lo ingatin, Rin. Thanks ya. Kita pergi sekarang, Dave !" kata Felicie.


" Okey, Dev, Rin .. kami jalan duluan. " ujar Dave.


Airin mengacungkan jempolnya. Sedangkan Devan hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis.


Setelah Felicie dan Dave masuk ke dalam mobil, Dave segera memacu kendaraannya di jalanan yang sudah ramai dengan berbagai hiasan meriah dan indah. Hampir di sepanjang jalan yang mereka lalui penuh dengan lampu hias warna - warni.


" Dave, nanti setelah kamu dapat yang ingin kamu beli. Kamu temani aku ke supermarket nya, ya. Aku mau nyetok buah dan beberapa kebutuhan buat di - apartment. Soalnya aku pasti malas keluar dari apartment kalau udah mendesign baju. " ucap Felicie begitu mereka sampai di - mall.


" Okey, Feli ... kita beli yang banyak biar kamu gak kelaparan. Jadi nanti saat kamu membuat design hasilnya biar spektakuler. Agar pundi - pundi uang kita semakin bertambah ... hahaha. " canda Dave.


ke dalam jajaran orang kaya yang ada di majalah F***es !" sahut Felicie.


" Aamiin. Aku yakin kamu pasti bisa, Feli. Sekarang aja sudah banyak yang menunggu design terbaru kamu. Apalagi jika kamu mau membuat gaun - gaun pesta seperti yang kamu kerjakan di butik nyonya Megan. Aku yakin tidak butuh waktu yang lama kamu akan jadi designer terkenal." ujar Dave menatap Felicie dengan mata kagum.


" Hmm ... itu berkat kamu juga, Dave. Kalau kamu tidak membantu ku. Aku tidak yakin bisa mengatasinya sendiri. Terima kasih. " ucap Felicie tulus.


" Ah, aku hanya membantumu di - awal dengan sedikit uang tabunganku dan semua itu telah kembali. Kamu yang bekerja keras selama ini. " ujar Dave.


" Kamu salah, Dave ! Jika gak ada kamu, aku gak akan mungkin bisa membuka butik itu meski aku memiliki bakat. Aku tidak memiliki waktu yang banyak buat mempromosikan semua kreasiku. Kamu percaya dan membantuku makanya ini bisa terjadi. " bantah Felicie, karena Dave memang berjasa untuknya.


" Ya, ya ... terserah kamu aja, Feli. Padahal jika kamu tahu, begitu aku melihat bakatmu yang menakjubkan. Aku langsung memperalat kamu dengan sengaja menawarkan kerja sama. Karena aku tahu, kamu akan menghasilkan uang yang banyak buat kita .... hahaha. " ujar Dave tertawa lebar.


" Kamu gak pernah serius ... !" Felicie memukul bahu Dave pelan.


" Hmm ... Aku serius, Fel. Bahkan aku sangat serius selama ini sama kamu. " ujar Dave dengan kalimat ambigu.

__ADS_1


" Hehehe ... " Felicie mencoba tertawa mendengar perkataan Dave.


Ia mengerti arti dari kata itu tapi ia sengaja bersikap seakan - akan tidak tahu. Felicie tidak ingin memberi harapan yang berlebih pada Dave. Saat ini ia hanya ingin fokus pada semua tujuannya.


Masalah hati bisa belakangan.


Jika memang sudah waktunya ia membuka hati kembali mungkin Dave adalah orang pertama yang akan ia berikan kesempatan untuk itu. Felicie tahu Dave pria yang baik. Ia selalu ada dan siap membantu Felicie di setiap kesempatan. Bahkan pada saat - saat tersulit di hidupnya yang harus terluka melihat pernikahan Elbert.


Ia menghibur Felicie dengan caranya sendiri. Dave tidak pernah memaksakan perasaannya pada Felicie. Ia hanya menjadikan dirinya sebagai teman dan pendengar yang baik buat Feli. Tapi sayangnya hati Felicie belum bisa menerima cinta yang baru.


Ia masih dalam tahap penyembuhan. Sehingga ia tidak akan dengan mudah memberikan hatinya lagi buat pria.


Felicie benar - benar mendapat pelajaran dari kisahnya dengan Elbert. Elbert juga selalu ada dan memberikan perhatian yang berlebih buatnya tapi dengan tanpa rasa bersalah ia menghilang tanpa memberikan kabar sedikitpun padanya.


Sekalinya Felicie bisa melihat wajah Elbert , itupun melalui media saat ia tunangan dan menikah dengan wanita lain.


Awalnya Felicie masih menunggu penjelasan seperti yang pernah Elbert katakan padanya. Tapi hingga hari ini, ia tidak juga mendapatkan hal itu. Makanya Felicie sudah bertekad untuk tidak pernah berharap dan menunggu Elbert lagi. Sudah cukup waktu yang ia berikan padanya.


Sekarang waktunya ia bergerak maju. Ia ingin jadi designer besar. Felicie mau semua design yang ia buat bisa di sukai dan di nikmati semua orang.


Jika suatu saat hatinya kembali terbuka. Maka, ia akan memberikannya pada Dave.


" Hey, kog malah melamun. Kamu lagi mikirin apa, Feli ? Tenang aja, aku hanya sebentar pulang ke - rumah. Aku tahu kamu pasti kangen denganku kalau aku gak ada di dekat kamu ! Hahaha ... " ujar Dave tertawa lepas dengan percaya diri menggoda Felicie.


" Huh ... dasar playboy cap kapak ! Siapa juga yang kangen. Urus aja semua wanita penggemar kamu yang matanya selalu melotot keluar ketika melihatku ! Seakan - akan aku ini yang makhluk yang menjijikkan karena sudah berani dekat dengan pria kesayangan mereka !" ucap Felicie pura - pura marah.


" Hahaha ... itu bukan salahku, Feli. Aku tidak pernah menanggapi mereka. Mereka aja yang terlalu kepedean. Aku sudah memiliki seorang wanita yang aku suka dalam hatiku. Jadi, jangan pernah peduli dengan sikap dan perkataan mereka !" lagi - lagi Dave mengatakan kalimat yang ambigu, seakan - akan ia sengaja agar Felicie mengerti maksudnya.


" Hmm ... " sahut Felicie singkat.


Ia terdiam dan tidak ingin memancing Dave lagi. Ia belum siap jika Dave mengatakan perasaannya. Ia takut Dave kecewa atas penolakan darinya.


Sekarang ia hanya ingin mereka tetap seperti saat ini. Berteman dekat, bisa tertawa lepas bersama. Tanpa ada embel - embel cinta. Tapi tidak tahu ke - depannya.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2