Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 87


__ADS_3

Felicie terlihat begitu semangat mengingat dia akan mulai masuk kuliah hari ini. Meskipun


sebenarnya Felicie sangat ingin


kuliah di Prancis dan menjadi seorang designer, tapi karena rasa tanggung jawabnya pada perusahaan Papa, ia harus mengenyampingkan keinginannya dan mengambil jurusan sesuai yang dibutuhkan perusahaan.


Agar perusahaan bisa semakin besar dan berkembang ditangannya.


Ia tidak ingin saat menjalankan perusahaan tanpa memiliki keahlian sedikitpun.


Walau ia mengerti tapi pasti tidak akan semudah yang ia bayangkan.


" Kamu kenapa melamun Feli ?" tanya Elbert menatap Felicie.


Felicie tersentak saat mendengar suara Elbert.


" Hmm ... gak, aku nggak melamun, El ... hanya lagi berpikir akhirnya aku bisa kuliah juga meski harus tertunda untuk beberapa waktu." ujar Felicie tersenyum kecil.


" Kamu harus semangat dan jangan pernah memikirkan hal lain lagi. Fokus dan serius agar kamu bisa cepat selesai kuliahnya dan menjalankan keinginan almarhum Papa untuk memimpin perusahaan yang sudah beliau dirikan." ucap Elbert memberikan semangat pada Felicie.


" Ya, El ... aku juga gak mau main - main. Aku ingin cepat selesai dan kembali pulang agar bisa berkumpul kembali dengan bu Sumi dan mbak Tika." ujar Felicie sembari tersenyum kecil.


" Bagus, ini baru gadis kecilku, yang selalu ceria dan penuh dengan semangat. Tetaplah seperti ini, setiap harinya. Jangan pernah berubah lagi. Meski kamu tetap cantik dengan wajah kamu yang dingin kaya es itu ... hehehe." ucap Elbert.


Felicie tertawa kecil mendengar omongan Elbert. Apa yang dikatakan Elbert memang ada benarnya juga. Selama beberapa tahun ini ia selalu menampilkan ekspresi dingin karena terlalu banyak beban yang harus dijalaninya.


Tapi selain itu Felicie memang selalu bersikap begitu jika dengan orang yang tidak dikenal ataupun yang tidak terlalu dekat dengannya. Ia bukan tipe orang yang gampang dekat. Oleh karena itu ia cuma punya teman sedikit.


" Eh, tapi sikap aku memang seperti itu kalau sama orang asing. Apalagi kamu kan waktu itu nyebelin banget." ujar Felicie.


" Iya, juga sih ... tapi itu semua aku lakukan biar dapat perhatian dari kamu. Kalau gak, pasti kamu gak akan ingat dengan aku ketika kita ketemu lagi. Iya, kan ... !" ucap Elbert.


" Iya sih ... Oya, selama aku kuliah kamu nanti ngapain ? " tanya Felicie.


" Hmm ... mungkin jalan - jalan


disekitar kampus kamu, sekalian cari lokasi buat buka usaha, biar bisa ngumpulin uang buat melamar kamu ... hahaha." ujar Elbert tertawa lebar.


" Kamu ini kalau ditanya pasti jawabannya selalu gak serius.


Kalau kamu mau kembali


ke perusahaan tempat kamu bekerja, gak papa loh, El ... aku gak sendirian juga disini dan pasti akan baik - baik aja. Ada Airin dan Devan yang akan menemani. Dari pada kamu harus memulai usaha hanya karena aku. Lebih baik kamu kembali bekerja. Jadi kamu jangan khawatir kalau ingin pergi. Aku gak mau keberadaaan ku menghambat pekerjaan kamu." ujar Felicie kali ini dengan wajah serius.


" Hmm ... untuk ukuran gadis seusia kamu, pikiran dan cara bicara kamu sangat dewasa, Feli ... ini membuat aku semakin suka dengan kamu setiap harinya. Tapi kamu Tenang aja, gak usah cemas, aku akan tetap bekerja tapi bukan sekarang. Aku masih ingin disini menemani kamu. Nanti jika aku memang harus pergi, aku akan mengatakannya sama kamu. Tapi untuk sekarang, biarkan aku menjalani hari - hari yang sempat hilang diantara kita. " ucap Elbert gak kalah serius.


" Ya, sudah kalau itu mau kamu.


Aku ngomong kaya gini karena aku gak ingin jadi penghalang dari semua yang sudah kamu jalankan dengan susah - payah." ucap Felicie dengan bibir mengerucut.


Elbert menatap manik mata Felicie dengan tatapan lembut begitu mendengar perkataannya.


Ia memang tidak salah pilih.


Felicie seorang wanita yang pengertian, mandiri dan gak manja.


Bahkan ia tidak pernah berusaha memanfaatkan Elbert, meskipun ia tahu Elbert sangat mencintainya.

__ADS_1


Padahal jika saja Felicie menginginkan , Elbert tentu akan memberikan segalanya. Rasanya saat ini ingin sekali ia memeluk dan mencium Felicie.


" Kita kebawah sekarang, jangan sampai kamu telat di hari pertama kamu kuliah. " ujar Elbert berusaha meredakan keinginannya untuk mencium Felicie.


" Oh iya ... mana lagi si Airin sama Devan, kog udah jam segini belum datang juga ? Asal jangan masih ketiduran aja. Airin itu susah banget bangun paginya. Makanya Devan harus tinggal di satu apartment dengan Airin. Kalau gak bisa - bisa anak itu ketiduran sampai siang. Apalagi kita semalam keluyuran. " omel Felicie.


" Ya sudah ... kalaupun mereka terlambat, aku akan mengantarmu


ke kampus. Sekaligus memberitahu semua mahasiswa


ditempat kamu kuliah bahwa kamu sudah ada yang punya, tampan lagi. Jadi biar mereka gak berani deketin kamu ... hehehe. "


ucap Elbert sembari tertawa kecil.


" Ih, apaan sih kamu, El ... aku disini buat kuliah bukan mau pacaran. " bantah Felicie dengan wajah agak tersipu.


" Iya ... karena pacaran dan menikahnya cuma boleh sama aku doang." goda Elbert.


Felicie langsung melebarkan matanya mendengar omongan Elbert, tanpa mengomentari sedikitpun. Kemudian ia sengaja bergegas dan berjalan lebih cepat meninggalkan Elbert dibelakangnya. Hatinya kembali merasakan debaran yang tidak biasa.


Elbert tersenyum simpul melihat sikap Felicie yang salah tingkah. Ia lalu menyusul Felicie dengan cepat. Elbert yakin perlahan ia akan bisa masuk kedalam hati


Felicie.


Walaupun sebenarnya ia sudah ingin secepatnya bisa memiliki Felicie seutuhnya.


Ia tidak ingin kehilangan lagi. Felicie, wanita yang sudah begitu lama ia nantikan. Jadi ia tidak mau, ada celah buat pria lain untuk mendekati dan memilikinya lagi. Apalagi ia tahu kalau Aaron sekarang juga mencintai Felicie.


" Feli ... nanti pulang kuliah aku jemput ya. " ucap Elbert.


" Tapi ada Airin dan Devan, aku pulang bareng mereka aja. " ujar Felicie.


" El, kamu kenapa hari ini, sih ... dari tadi melantur terus omongannya !" ujar Felicie.


" Siapa yang ngelantur, semua yang aku ucapkan selalu serius.


Tinggal nunggu jawaban kamu aja. Aku berharap kamu bisa


mempertimbangkan dan memikirkan kembali semua


yang aku katakan ketika kita masih di Indonesia." ujar Elbert dengan santai.


Felicie memutar bola matanya saat mendengar perkataan Elbert.


Ia tahu, Elbert selalu serius dengan semua ucapannya. Hanya saja, ia masih harus menyiapkan dirinya.


Perjalanannya masih sangatlah panjang. Baik itu mengenai kuliah maupun masalah cinta. Ia gak mau gagal lagi dalam keduanya kali ini.


Meskipun ia tahu Elbert sangat mencintainya dan tidak akan pernah melarang apapun yang ingin ia lakukan. Bahkan ia yakin, Elbert akan selalu mendukungnya.


Tetapi Felicie ingin seperti kedua orang tuanya, yang bahagia dalam pernikahannya. Walaupun mama hanya ada sebentar di dalam kehidupan Felicie.


Meskipun mama sudah lama meninggal tapi Papa tidak pernah


ada keinginan untuk menikah lagi dan menggantikan kedudukan mamanya.


Bagi papa, mama adalah cinta satu - satunya, wanita cantik, baik, sabar dan terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


Jadi papa merasa gak akan ada


wanita, yang bisa menggantikan sosok mama yang begitu sempurna.


Hal inilah yang selalu jadi acuan dalam hidup Felicie. Ia ingin hanya jatuh cinta dan menikah sekali dalam hidupnya. Tapi itu sudah gagal, karena ia harus menikah dan berpisah dengan Aaron dalam waktu yang singkat. Meski ia sadar pernikahannya bukanlah karena ia yang menginginkannya.


Tapi tetap saja, ia pernah menyandang status isteri dalam pernikahan yang sah.


Oleh karena itu, kali ini Felicie ingin memikirkannya dengan sangat matang agar ia tidak harus mengalami kegagalan dalam cinta maupun pernikahannya nanti.


" Feli ... !" teriak Airin menghentikan lamunannya.


Felicie langsung melihat kearah suara. Ternyata Airin sudah berdiri di tempat yang tidak terlalu jauh darinya dengan wajah cengengesan.


Felicie senang karena kehadiran Airin dan Devan akan mengalihkan obrolan Elbert yang mulai menganggu perasaannya.


" Apa ! Lo sengaja yang bangun telat biar gue terlambat hari ini !" omel Felicie pura - pura marah.


" Hehehe ... Sorry ! " ujar Airin dengan wajah dibuat memelas.


" Udah, Feli ... nanti aja marahnya.


Sekarang kita berangkat, biar gak telat." ujar Devan mengalihkan perhatian Felicie yang tertuju pada Airin.


" Lo berdua pasti asik pacaran lagi setelah kita pulang tadi malam, makanya bisa telat bangun kaya gini. Iya, kan ... ngaku Lo !" ujar Felicie masih mengomeli Airin.


Ia tidak teralihkan meski Devan sudah berusaha.


" Udah, jangan ngomel terus Lo !" ujar Airin sembari menggamit lengan Felicie dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


" Sorry, bro ... kami pergi kuliah dulu !" ucap Devan pada Elbert.


" Okey, tolong lihatin Felicie


di kampus, Dev ... Jangan sampai ada yang gangguin dia di kampus." ujar Elbert.


" Kalau masalah itu, kamu gak usah khawatir. Felicie bukan wanita yang mudah untuk diganggu. Kamu pasti sudah tahu gimana dia. Apalagi nanti pasti wajahnya akan kembali menjadi dingin seperti es jika sudah di lingkungan asing. Jadi kamu jangan terlalu mikirin dia. Dia akan baik - baik aja. Sebaiknya yang harus kamu pikirkan, gimana cara agar kamu bisa secepatnya mendapatkan hatinya Felicie. Agar aku sebagai sahabatnya bisa merasa lebih tenang jika udah ada pria yang mendampingi dan mencintainya dengan tulus. Sama seperti dia yang mendekatkan aku dengan Airin dan akhirnya kami bersama. Aku pun ingin Felicie mengalami hal yang sama seperti aku. " ujar Devan tersenyum kecil.


" Thanks, Dev atas supportnya.


Doakan agar aku bisa meluluhkan hati Felicie secepatnya." ucap Elbert.


" Okey, bro ... kalau begitu kami berangkat sekarang ya ... !" ucap


Devan.


" Okey ... !" sahut Elbert.


Elbert melihat Felicie yang sedang berada di dalam mobil sedang


menatap ke arahnya, El segera melambaikan tangannya dengan bibir tersenyum.


Felicie membalas lambaian El,


dengan senyum di bibirnya juga.


Entah mengapa, hatinya merasa senang karena baru pertama kali ia mengalami hal ini. Ia merasa ada orang yang sedang menunggu kepulangannya kali ini.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2