Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 22


__ADS_3

Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di Paris. Besok siang Gisella dan Aaron akan pulang ke tanah air. Walaupun selama di sini, ia sudah banyak mendapatkan hadiah dan barang - barang mahal yang dia inginkan dari Aaron tapi ia belum merasa puas. Giselle belum juga berhasil menjebak Aaron agar mau tidur dengannya.


Hal ini hampir membuatnya frustasi.


Padahal dia tahu, selama ia pergi Aaron sering tidur bersama wanita bayaran.


Tapi mengapa dengannya, Aaron gak mau melakukannya. Apa memang benar seperti yang di katakan Aaron, karena Aaron sangat mencintai Giselle makanya


ia ingin melakukan hal itu setelah mereka resmi menikah.


Tapi Giselle khawatir, kalau ia tidak berhasil hamil juga ... pasti nanti akan sulit untuk menikah dengan Aaron.


Apalagi jika Aaron sampai mengetahui apa yang di lakukan Giselle selama ini di luar negeri.


" Sayang ... kamu sedang memikirkan apa, sih ? " tanya Aaron mesra pada Giselle yang sedang berfikir keras.


Giselle langsung memasang muka sedihnya pada Aaron.


" Gimana gak sedih, besok kita sudah kembali ke Indonesia, tapi sampai detik ini kamu belum juga membuktikan rasa cinta kamu pada aku." ucap Giselle dengan nada dibuat sedih.


" Maksud kamu apa sayang ?


Apa masih ada yang kamu inginkan tapi belum aku belikan ? " tanya Aaron.


" Bukan, bukan itu maksudku ...


Aku tahu kita masih dua bulan lebih lagi baru bisa menikah, tapi aku ingin kamu membuktikannya sekarang. Agar aku yakin kamu benar - benar akan menikahi ku." Giselle langsung saja mengatakan keinginannya, ia ingin melihat reaksi Aaron.


Aaron langsung terdiam mendengar perkataan Giselle. Ia bingung harus mengatakan apa pada Giselle.


" Honey, sepertinya kamu sudah tidak menginginkan ku lagi. Bahkan pertanyaan ku tidak bisa kamu jawab. " ujar Giselle dengan lirih.


Aaron tersentak mendengar omongan Giselle. Wajah kekasih yang selama ini di nantikan kehadirannya terlihat sangat sedih.


" Bukan begitu, sayang. Aku sangat mencintai kamu. Tapi aku hanya ingin kita bisa menahannya hingga kita akhirnya menikah." Aaron memberikan alasan yang tepat agar Giselle tidak semakin bersedih.


Giselle berusaha keras supaya tidak melepaskan amarahnya begitu mendengar jawaban Aaron.


Sepertinya ia memang harus memaksa Aaron dengan cara lain.


" Terserahlah ... " sahut Giselle lirih lalu bangkit meninggalkan Aaron dengan wajah kecewa.


Aaron hanya bisa menghela nafas kasar melihat sikap Giselle.


Ia gak bisa melihat wajah Giselle yang kecewa. Tapi Aaron harus tetap melakukannya.


Ia tidak ingin, nanti masalah semakin sulit jika tiba - tiba Giselle hamil. Sementara waktu yang tersisa dari pernikahan kontraknya dengan Felicie masih lumayan panjang sekitar dua bulan lagi.


Sementara itu Felicie masih tetap melakukan aktivitasnya sehari - hari menunggu waktu kontrak pernikahannya selesai.


Tapi hari ini, ia sedikit gelisah karena masa tenangnya di apartment akan berakhir hari ini ...


karena besok Aaron akan pulang.


" Huh, males banget. Besok si bandot mesum akan pulang.


Kenapa dia gak lebih lama aja liburannya atau sekalian aja pulang setelah kontrak selesai.


Jadi gue gak perlu melihat wajahnya yang menyebalkan itu lagi. " gumam Felicie kesal.


Elbert dengan semangat turun dari private jet nya setelah ia kembali ke Indonesia.


Ia sudah sangat merindukan gadis kecilnya. Selama Elbert pergi sengaja ia tidak memberi kabar sedikitpun pada Felicie. Ia ingin gadis itu merasakan kerinduan seperti yang ia rasakan. Walaupun ia gak yakin. Karena tahu dengan sikap cueknya Felicie.


Memang awal Elbert pergi, Felicie sedikit kehilangan tapi ia kembali sadar bahwa ia harus terbiasa sendiri seperti biasanya.


Dengan cepat ia menyelesaikan pekerjaannya. Mulai hari ini hingga Minggu depan ia libur mengajar di sanggar karena anak anak sedang liburan sekolah jadi banyak yang pergi liburan bersama keluarganya.


Felicie ingin menikmati waktu santainya dengan pergi belanja baru setelah itu ia akan nonton film Thor di bioskop.

__ADS_1


Elbert yang sudah sangat tidak sabar karena ingin segera menjumpai Felicie segera memacu mobil menuju tempat kerja Felicie. Jam segini biasanya, Felicie sudah selesai bekerja.


Sementara Felicie karena gak ingin membuang waktu, memesan taksi online untuk mengantarkannya ke mall.


Begitu tiba di mall, ia dengan segera mencari beberapa kebutuhannya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Felicie menuju sebuah cafe untuk mengisi perut terlebih dahulu.


Ia baru saja akan menikmati makanan, ketika Zico dan Tommy menyapanya.


" Hai, Felicie ... apa kabar ? Kenapa selama beberapa hari ini kamu gak pernah membalas chat dari aku ? " tanya Zico langsung dan duduk di depan kursi Felicie.


" Hai Felicie ... makin cantik aja."


Tommy yang memang lebih frontal langsung memujinya.


" Hmm ... sorry, gue kalau lagi kerja suka gak melihat hand phone." jawab Felicie menjawab pertanyaan Zico. Sedangkan pujian dari Tommy dianggapnya angin lalu.


" Oh, tumben gak ke sanggar ? " tanya Zico lagi.


" Libur ... " balasnya singkat.


Zico langsung semangat mendengar kata libur dari mulut Felicie. Berarti hari ini dia punya waktu luang, hingga bisa berada di mall.


" Kamu habis ini gak ada kegiatan lagi kan ? Kami mau nonton, kamu mau ikut ? " Zico berharap Felicie mau menerima ajakannya.


" Hmm ... gue rencananya memang mau nonton film Thor.


Lo berdua .. ? " sahut Felicie.


" Sama ... kebetulan banget, kami juga mau nonton film itu." ucap Zico senang. Padahal tadi awal niatnya mau nonton film yang lain.


Tommy langsung menahan senyumnya mendengar jawaban Zico.


" Pintar juga Lo cari alasan ... "


batin Tommy kekeh.


" Nonton bareng kami aja, ya ... Felicie. " Zico harap - harap cemas mendengar jawaban Felicie.


Felicie tahu Zico orang yang baik.


Hampir setiap hari ia mengirimkan chat pada Felicie, mengingatkannya berhati - hati di apartment karena sendirian, menanyakan sudah makan apa belum, dan yang lainnya. Walau Felicie tidak membalas chat, tapi Zico gak pernah bosan memberi perhatian padanya.


" Yes ... " ujar Zico senang.


Tommy hanya menggelengkan kepala melihat sikap sahabatnya ini. Ternyata Felicie sudah membuat Zico menjadi seperti bocah ABG.


Elbert yang melihat kalau Felicie sudah pulang dari tempat kerjanya, segera menyuruh anak buahnya mencari dimana lokasi Felicie sekarang.


Ia kembali memacu mobil sportnya dengan kencang setelah mengetahui keberadaan Felicie.


Ia ingin secepatnya bertemu dengan Felicie. Tapi kali ini, wajahnya terlihat memerah karena emosi. Ia gak suka saat anak buahnya melaporkan bahwa Felicie saat ini sedang makan bersama Zico dan Tommy.


Ponsel Tommy terdengar berdering. Ia kesal begitu melihat nama Aaron yang tertera disana. Sejak berangkat baru kali ini ia menelepon Aaron. Wanita ular itu benar - benar telah menguasai nya. Sedangkan yang paling membuat Tommy kesal, selama


dua Minggu ini, ia harus kerja keras mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya di lakukan Aaron. Sementara Aaron enak berliburan ria dengan wanita ular itu. Ia sengaja gak membiarkan gak berniat mengangkat panggilan dari Aaron. Tapi walau sudah di biarkan, Aaron terus meneleponnya.


Dengan raut kesal, ia terpaksa menerima panggilan itu.


" Woi, kemana aja Lo ... gue teleponin dari tadi gak diangkat ? " seru Aaron begitu telepon tersambung.


" Sibuk ... emangnya Lo yang gak ada kerjaan. " sahut Tommy malas.


" Siapa, bro ... ? " tanya Zico pelan, melihat Tommy kesal.


" Siapa lagi, Aaron lah." jawab Tommy malas.


Felicie berhenti sejenak menikmati makanannya mendengar nama bandot mesum itu disebutkan oleh Tommy.


" Oh, ... pantes." sahut Zico

__ADS_1


" Eh, Lo lagi ngomong sama Zico ya ... Lo berdua lagi dimana ? " tanya Aaron.


" Ya, gue sama Zico lagi makan bareng Felicie. " jawab Tommy.


Aaron terdiam begitu nama Felicie keluar dari mulut Tommy.


" Kog bisa ? Apa gadis kecil itu sudah sering pergi bareng kalian ?" tanya Aaron penasaran.


Karena selama seminggu ini, ia sudah tidak pernah melihat Felicie lagi dari ponselnya. Giselle marah kalau Aaron lebih memperhatikan hand phone di bandingkan dirinya.


" Iyalah ... kami sudah bersahabat sekarang. " jawab Tommy sengaja berbohong.


Elbert yang sudah berada di cafe semakin tersulut emosi melihat Zico dan Tommy. Dengan cepat ia menghampiri meja Felicie dan langsung duduk di sebelahnya.


Mereka berdua langsung terkejut melihat kehadiran Elbert yang tiba - tiba sudah duduk di samping Felicie. Sementara Felicie hanya melirik dengan dingin. Ia merasa kesal, mengingat Elbert menghilang tanpa kabar selama ini.


" Hei ... Lo gak bisa seenaknya gitu langsung duduk di samping Felicie. " Zico langsung berseru dengan wajah gak suka.


Karena ia tahu Elbert adalah saingan dalam memperebutkan hati Felicie.


" Tom ... kenapa Zico teriak kaya gitu ? " tanya Aaron heran.


" Lo video call aja kalau penasaran. " sahut Tommy langsung mematikan sambungan telepon.


Aaron yang melihat teleponny di putuskan Tommy langsung penasaran. Ia segera menghubungi kembali dan menggunakan video.


Tommy tersenyum melihatnya.


Ia segera mengangkat panggilan Aaron. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan Aaron jika melihat Felicie duduk di samping pria. Walau ia tahu Aaron gak terlalu perduli, tapi mengingat sifat egois Aaron yang selalu merasa semua yang sudah menjadi miliknya tidak boleh di dekati orang lain sebelum Aaron sendiri yang melepasnya.


Tommy langsung mengarahkan ponselnya ke arah Felicie dan Elbert.


Aaron langsung melotot begitu melihat Felicie duduk bersebelahan dengan seorang pria.


Felicie yang melirik ke arah ponsel Tommy hanya menatap datar saja. Sedang Elbert tersenyum sinis begitu bertatapan dengan Aaron.


Aaron langsung mematikan sambungan teleponnya karena kesal. Ia lalu mengirim pesan pada Tommy dan menanyakan siapa pria yang bersama Felicie.


Tommy sengaja gak membalas chat Aaron, biar dia semakin penasaran. Lalu dengan cepat ia mematikan ponselnya.


" Feli ... gue minta maaf karena gak memberi kabar sama Lo. Gue mendadak harus pergi." ucap Elbert dengan serius sambil menatap wajah Felicie yang sangat dirindukannya.


" Gak masalah." sahut Felicie singkat tanpa menoleh pada Elbert.


Elbert gelisah melihat sikap dingin Felicie kembali. Padahal beberapa Minggu yang lalu sebelum ia pergi, Felicie sudah mulai bisa bersikap rileks padanya.


" Sebaiknya Lo pergi aja, deh ... Felicie jadi gak nyaman sejak Lo datang." usir Zico kesal.


" Siapa Lo, berani ngusir gue. Ini masalah gue dengan Felicie, gak ada hubungannya dengan Lo." sahut Elbert dengan mata tajam menatap Zico.


Sementara itu Aaron yang melihat ponsel Tommy gak bisa di hubungi lagi, mengumpat dengan kesal. Giselle yang baru saja selesai berpakaian langsung mendekatinya walau ia sebenarnya masih marah dengan Aaron.


" Ada apa, honey ? Kenapa kamu marah seperti ini ? " tanya Giselle.


Aaron menoleh pada Giselle, lalu ia mengatakan " Sebaiknya kita pulang hari ini juga. Ada masalah serius di perusahaan." bohong Aaron.


" Loh, gak bisa gitu dong, honey. Sekarang aku masih ingin ke toko perhiasan yang kamu janjikan.


Besok aja kita pulangnya sesuai jadwal." tolak Giselle gak terima.


Ia sedang mengincar kalung berlian yang baru saja rilis.


" Nanti kita bisa kembali ke sini. Tapi sekarang kita harus pulang.


Bereskan barang - barang mu segera. " kata Aaron serius lalu melangkah menuju lemari pakaian, ia segera memasukkan nya ke dalam koper.


Aaron lalu menghubungi pilot yang membawa private jet miliknya agar segera membawanya pulang ke Indonesia.


Giselle yang melihat Aaron gak perduli dengan perkataannya hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia juga mulai mengemasi semua barang - barangnya. Aaron gak mungkin bisa di rayu kalau sudah serius seperti tadi.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2