Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 42


__ADS_3

Tommy yang sedari tadi hanya mendengar dalam diam interaksi antara Felicie dan Aaron, bangkit dari sofa mendekati Aaron.


" Apa Lo beneran akan menceraikan Felicie ? " tanya Tommy serius.


" Ya, gue sudah melakukan kesalahan besar padanya dan itu tidak sesuai dengan kontrak yang gue buat. Walaupun sebenarnya gue suami sahnya Felicie dan berhak atas dirinya. Tapi karena gue yang awalnya memaksa gadis kecil itu menanda - tanganinya.


Jadi tentu saja dia marah, karena


perbuatan gue sudah di luar perjanjian. Sekarang, untuk menebus semua itu, gue harus harus menyetujui keinginan Felicie." ujar Aaron gak semangat.


" Apa yang telah lo lakukan dengan Felicie hingga dia bisa sangat marah dan membuat Lo


babak belur kaya gini ? " tanya Tommy, walau dia sudah bisa


menduga apa yang telah dilakukan Aaron pada Felicie.


Karena bagaimanapun akan sangat sulit bagi Aaron sebagai pria dewasa dan suami Felicie,


untuk bisa menahan keinginannya


pada Felicie yang notabene isteri sahnya.


Aaron tertegun dengan pertanyaan Tommy. Ia gak mungkin menjawab karena nanti Felicie pasti akan semakin marah padanya, jika ia sampai tahu Aaron memberitahu Tommy, tentang kejadian itu.


Tommy mengerti, Aaron gak mau menjawab pertanyaannya, jadi sengaja ia mengalihkan pembicaraan mereka.


" Gimana cara Lo melarang 🦊


wanita itu agar mulai besok tidak


datang kesini lagi ? " tanya Tommy.


" Hmm ... ya, gue bilang aja kalau Daddy setiap hari akan kerumah


sakit. Toh, tadi Giselle juga tahu,


Daddy sudah pulang." ujar Aaron.


" Terus jadi Lo cerai sama dia ? ".


" Ya, tapi pasti akan sulit. Mungkin Giselle gak akan mau, karena kami baru saja menikah. Tapi karena kami cuma nikah siri, jadi


prosesnya lebih gampang.


Cuma masalahnya, gue masih dirumah sakit, dan Giselle gak mungkin datang kesini karena ada Daddy dan Felicie. Mungkin setelah, gue keluar dari rumah sakit, baru bisa menemui Giselle."


Aaron mengatakan dengan nada


berat.


" Sementara Lo nunggu keluar dari


rumah sakit, gimana kalau Tuan


William tahu tentang pernikahan


Lo dan j ***** itu ? Apa elo siap,


gak dapat apapun dari Daddy Lo ?" tanya Tommy serius.


" Karena itu gue mau minta tolong sama Lo dan Zico, untuk mencari


cara agar jangan sampai Daddy tahu. Temui semua yang jadi saksi pernikahan, suruh mereka tetap tutup mulut. Kalau perlu pindahkan mereka ke kota lain. Gue yakin tadi Rio, diperintah oleh Daddy untuk memeriksa cctv dirumah sakit ini.


Tapi untungnya, saat gue menikah dengan Giselle, seluruh cctv disini, dimatikan sama seseorang yang


gue bayar. Jadi, gak ada jejak sedikitpun. Tapi Lo, tahu sendiri


gimana cara kerja Daddy dan anak


buahnya. Mereka gak akan diam


saja sebelum mendapatkan bukti."


ujar Aaron menghela nafas berat.


" Okey ... nanti biar gue dan Zico


menemui mereka. " sahut Tommy.


" Hmm ... Thanks bro." uajr Aaron.


Zico yang keluar dari kamar Aaron, melihat Elbert berdiri di luar menunggu Felicie langsung emosi.


" Ngapain Lo disini ? Elo, sama sekali gak punya kepentingan ! "


ujar Zico dengan ekspresi kesal.


" Hah ... memangnya rumah sakit ini punya Lo ? Terserah gue mau

__ADS_1


ngapain disini." balas Elbert datar.


Zico semakin emosi mendengar jawaban Elbert. Ia mulai khawatir,


dengan kedekatan Felicie dengan


Elbert. Hal ini bisa menghalangi


niatnya untuk mendapatkan Felicie nanti setelah resmi bercerai dengan Aaron.


" Lo, jangan berharap Felicie bisa


keluar dengan cepat dari dalam.


Saat ini elo tahukan dia sedang


bersama Aaron, suaminya.


Jadi pasti banyak yang akan mereka bicarakan. Apalagi, sekarang Tuan William sudah kembali. Mereka berdua pasti akan bersikap agar pernikahan mereka terlihat baik - baik saja. " ujar Zico sengaja memanasi Elbert.


Elbert mengacuhkan omongan Zico. Ia tidak terpancing sama sekali.


Zico yang melihat sikap Elbert,


menjadi bertambah marah.


Tapi saat Zico hendak mengatakan sesuatu lagi pada Elbert, Felicie yang urusannya sudah selesai dengan Aaron kebetulan keluar. Hal ini membuat Zico membatalkan apa yang ingin


dikatakannya.


Sedangkan Elbert langsung menghampiri Felicie, yang terlihat bingung karena Elbert menunggunya di rumah sakit, padahal ia tadi sudah menyuruhnya pergi, tanpa perduli pada Zico.


" Kamu dari tadi nunggu disini, El ?" tanya Felicie gak percaya.


" Iya ... aku yakin kamu pasti cepat selesai, jadi kuputuskan untuk


menunggu aja." sahut Elbert dengan santai.


" Kamu ya El ... tadi kan udah aku suruh pulang aja. Gimana kalau


tadi Tuan William tetap disini sampai sore, apa kamu mau menunggu terus ? " ujar Felicie


terharu melihat yang dilakukan Elbert.


" Hmm ... gak masalah. Paling aku tiduran dimobil sambil nungguin kamu." kata Elbert sambil nyengir.


" Kamu ini ... " Felicie gak habis pikir dengan tingkah Elbert.


" Felicie, besok kamu datang kerumah sakit bersama Tuan William, kan ? " Zico sengaja mengatakan hal ini agar Elbert kesal.


" Iya, ... Tuan William yang akan menjemput keapartment.


Emangnya kenapa ? " Felicie melihat Zico dengan heran atas pertanyaannya.


" Gak papa, aku hanya mengingatkan supaya orang yang tidak berkepentingan, besok tidak perlu ikut datang." dengan sinis


Zico menyindir Elbert.


Elbert hanya menyeringai mendengar perkataan Zico. Ia


tahu Zico sengaja melakukan ini


agar ia emosi, karena besok tidak


bisa bersama Felicie.


Felicie juga tahu Zico sedang menyindir Elbert. Tapi ia bersikap biasa saja. Ia yakin, Elbert juga pasti mengerti untuk tidak mendatanginya ke apartment lagi setelah tahu Tuan William yang akan menjemput Felicie.


" Oh, kirain ada apa. Kalau gak ada yang mau ditanyakan lagi, gue permisi pulang." ujar Felicie.


" Iya, sudah gak ada, paling nanti, aku cuma butuh tanda tangan


kamu aja buat berkas perceraian kalian. " sahut Zico cepat.


" Baiklah, katakan aja kalau berkasnya udah selesai biar gue tanda - tangan." ucap Felicie.


" Okey, sampai jumpa Feli ... " Zico


mencoba agar bersikap lebih santai.


" Ya ... " sahut Felicie lalu berjalan bersama Elbert meninggalkan Zico.


Walau Zico cemburu melihatnya


tapi saat ini ia gak bisa berbuat


apa - apa. Felicie selalu menjaga jarak dengannya. Mungkin karena ia sahabatnya Aaron. Tapi Zico gak akan pernah mundur untuk terus mendekati Felicie.


Sedangkan Giselle sangat marah

__ADS_1


pada William karena harus pergi meninggalkan Aaron. Ia melemparkan barang yang bisa terjangkau tangannya, dengan perasaan kesal, begitu sampai


di apartment.


" B******k , tua bangka sialan ...


kenapa gak mati aja, sih. " umpat


Giselle.


Ia terduduk lemas di sofa setelah puas melampiaskan emosinya.


Giselle baru melihat hasil perbuatannya tadi. Lantai penuh dengan pecahan kaca.


" Apa gue harus membayar seseorang untuk segera menyingkirkan orang tua sialan itu ... ? " ucap Giselle dengan jahat.


" Hmm ... tapi pasti akan sulit.


Si tua itu kemana - mana selalu


bersama dengan asistennya. Belum lagi bodyguardnya.


Gimana cara supaya dia bisa


keluar sendiri tanpa ada mereka?"


Giselle memikirkan dengan serius .


Ia sudah benar - benar muak dan marah pada Tuan William. Karena saat ini penghalang terbesarnya dalam mendekati dan menguasai


Aaron hanya Tuan William saja.


Jika ia sudah tidak ada lagi di dunia ini, hidupnya pasti akan sangat tenang. Giselle bisa bebas menguasai semua kekayaan Aaron. Kalau masalah Tommy dan


Zico, masih bisa di atasinya dengan mudah.


Karena Aaron pasti lebih memilih


mendengarkan Giselle dari pada mereka berdua seperti selama ini.


Ia tahu dimana letak kelemahan


Aaron.


Giselle segera menghubungi seseorang untuk membicarakan rencana jahatnya. Saat ini ia sangat butuh pendapat, agar bisa


menjalankan rencananya pada William.


" Hai honey ... kamu bisa datang ke apartment aku sekarang ? " tanya Giselle dengan suara manja.


" Kamu kog bisa di apartment, gak nemani suamimu yang bodoh itu ?" tanya suara pria di balik telfon.


" Makanya kamu ketempatku, ada yang ingin aku bicarakan serius dengan kamu, sayang." ujar Giselle.


" Kamu gak takut ketauan ? " tanya pria itu heran.


" Gak ... Aaron gak akan bisa datang kesini. Dia belum bisa berdiri dengan benar. " sahut Giselle gak peduli.


" Bagaimana dengan dua kacungnya ? " tanya pria itu lagi.


" Gak penting mikirin mereka,


saat ini pasti mereka sedang ketakutan karena William sudah


pulang."


" Oh, tua bangka itu sudah pulang ?".


" Ya, makanya cepetan datang kesini. "


" Okey ... aku akan datang."


Setelah sambungan telfon terputus, Giselle segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan


diri.


**********************************


Maaf, baru bisa up sekarang, karena ada kegiatan yang gak bisa ditinggalkan.


Tetap dukung " Mommy " terus ya,


dengan like, koment yang positif,


vote, favorit dan hadiah yang banyak. 😘😘😘


Buat yang udah setia membaca dan selalu memberikan like dan komentarnya, Mommy doakan


agar selalu diberi kesehatan yang baik, dijauhkan dari semua penyakit dan diberikan rezeki yang

__ADS_1


melimpah .... Aamiin.🙏🙏


__ADS_2