
Elbert yang berhasil mengejar taksi yang membawa Felicie pergi kini menghadang di depan. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan taksi Felicie.
Felicie hampir saja terjatuh karena supir taksi mendadak menginjak rem.
" Brengsek ... siapa orang gak waras yang berhenti tiba - tiba di depan mobil gue. ' umpat supir taksi marah.
Felicie yang juga terkejut langsung melototkan mata begitu melihat Elbert turun dari mobil sportnya lalu menghampiri taksi yang di dalamnya ada Felicie.
Elbert mengetuk kaca mobil dengan keras dan menyuruh Felicie turun.
Felicie yang sangat kesal melihat tingkah Elbert langsung turun.
Apalagi supir taksi tadi sempat berkata padanya " Sebaiknya nona turun saja, selesaikan baik - baik masalahnya dengan pacar anda."
Sok tahu banget kan. Hal inilah
yang membuat Felicie semakin kesal.
" Apa sih mau Lo ? " tanya Felicie dengan raut dingin.
" Gue mau ngomong sama Lo, Feli ... " Elbert menjawabnya dengan lembut. Ia tahu pasti Felicie marah karena ia menghentikan perjalanannya.
Tapi kalau gak melakukan ini, mungkin akan membuat Elbert tidak akan bisa tenang.
" Kayanya gak ada yang perlu kita omongin. Jadi sebaiknya Lo geser tuh mobil. Gue mau pulang." sahut Felicie dingin.
Elbert yang sangat merindukan gadis kecil di hadapannya ini langsung memeluk tubuh Felicie.
Ia gak perduli kalau setelah ini Felicie memukulinya.
Mereka berdua yang sedang berpelukan di jalanan menjadi pusat perhatian para pengendara.
Bahkan ada yang sampai berteriak, tepuk tangan dan mengambil foto mereka berdua.
" Udah, mas cium aja pacarnya biar gak marahan lagi." salah satu pengguna jalan dengan usil meneriaki mereka.
Hal ini membuat Felicie menjadi malu. Ia lalu buru - buru melepaskan pelukan Elbert.
Wajahnya sedikit memerah karena jadi perhatian orang banyak.
Sedang Elbert hanya tersenyum senang. Ia suka melihat pipi Felicie yang memerah.
" Udah, yuk ke mobil gue. Kalau gak Lo gue cium di sini. " Elbert sengaja mengatakan ini agar Felicie mau ikut dengannya.
Walau dengan perasaan terpaksa, Felicie mau gak mau mengikuti Elbert ke mobil nya. Ia gak mau semakin menjadi pusat perhatian.
Jalan jadi macet karena ulah Elbert.
Elbert menahan tawanya melihat wajah Felicie yang menahan kesal tapi dengan pipi memerah.
Felicie hanya diam ketika melihat Elbert kini duduk di sebelahnya setelah masuk ke dalam mobil.
" Udah, buruan jalan." ujar Felicie memerintah Elbert.
" Siap, Tuan Puteri ... " jawab Elbert semangat.
Elbert segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kencang.
Felicie gak menanggapi sama sekali ucapan pria di sampingnya ini.
Elbert membawa Felicie ke sebuah tempat yang agak jauh dari tempat tinggalnya.
" Lo mau bawa gue kemana ? " tanya Felicie dingin setelah melihat arah jalan mobil Elbert bukan menuju apartment nya.
" Kita cari tempat yang santai agar bisa ngobrol berdua tanpa ada gangguan dari orang lain." jelas Elbert.
" Ngomong di sini aja. Gak perlu jauh - jauh juga. Gue mau pulang." balas Felicie dengan wajah datar.
__ADS_1
Elbert kemudian menghentikan mobilnya setelah sampai di tempat yang ia inginkan.
Sebelum menyusul Felicie ke mall, ia sudah terlebih dulu menyuruh anak buahnya untuk memesan restoran mewah ini.
" Ngapain kesini ? Gue udah makan. " ujar Felicie begitu melihat mereka berhenti di depan sebuah restoran.
" Kalau gitu Lo temani gue makan.
Gue langsung menemui Lo setelah turun dari pesawat. " sahut Elbert.
" Ayo, turun Feli ... dengarkan dulu penjelasan dari gue, kenapa tiba - tiba gue gak ada ngasi kabar ke elo." ujar Elbert sambil membukakan seat belt Felicie.
" Mau Lo gak ngasi kabar atau gak, bukan urusan gue." Felicie keluar dari dalam mobil.
" Iya, gue tahu. Tapi gue cuma ingin elo dengerin cerita gue.
Biar Lo gak salah paham, karena tiba - tiba gue gak menemui Lo dalam beberapa hari ini." Elbert dengan sabar mengatakan hal ini.
Felicie mendengus pelan mendengar omongan Elbert, untuk menghilangkan rasa kesalnya.
Elbert mengukir senyum di bibirnya melihat wajah Felicie yang kesal.
" Bisa kita masuk sekarang ? " tanya Elbert dengan menatap lembut pada Felicie.
Felicie langsung membuang wajahnya begitu menerima tatapan lembut Elbert, sambil berjalan mengikuti langkah Elbert yang mulai masuk ke dalam restoran. Mereka langsung di sambut oleh manajer restoran.
" Silahkan Tuan Elbert." ujar manajer sopan.
Elbert hanya menganggukkan kepalanya membalas sapaan itu.
Manajer restoran mengantarkan Elbert dan Felicie ke sebuah ruangan khusus.
" Sebentar saya keluar dulu, Tuan ... untuk segera mengantarkan pesanan Tuan."
ucap manajer sopan lalu berjalan keluar.
pandangan yang sulit di lukis kan.
Felicie yang melihat tatapan Elbert yang berbeda dari awal mereka ketemu, sedikit merasa gelisah. Tatapan El seperti ingin menyimpan sesuatu tapi Fekiciebgak mengerti itu apa.
Maklum aja Felicie belum pernah mengenal cinta hingga usianya sekarang. Jadi dia gak tahu, jika tatapan yang di berikan El itu adalah tatapan yang penuh kerinduan dan cinta yang dalam.
" Baiklah, sebelum gue cerita tentang kemana gue pergi dan gak ngasi kabar ke elo, ada hal yang lebih penting dari semua ini
yang ingin gue ceritakan." Elbert melihat reaksi Felicie sejenak sebelum meneruskan ceritanya.
Tapi ia melihat wajah Felicie terlihat biasa saja. Ia lalu meneruskan perkataannya.
"Hmm ... bolehkan kalau aku gak memakai kata Lo, gue lagi sama kamu Feli ? Aku mau kita lebih dekat setelah aku menceritakan hal ini. " ujar Elbert menatap penuh harap pada Felicie.
" Hmm ... " jawab Feli singkat.
" Baiklah aku akan mulai ceritanya. " jawab El senang walau hanya dijawab dengan singkat oleh Felicie.
Elbert sudah memutuskan untuk menceritakan pertemuannya dengan Felicie di waktu kecil. Ia tidak ingin berlama - lama lagi menyimpannya. El tahu resiko kehilangan Feli sangatlah besar, melihat Zico terlihat sangat menyukainya. Belum lagi suami palsu Felicie, bisa aja sewaktu -
waktu memanfaatkan kesempatan karena tinggal bersama. Walaupun El tahu, jika Aaron sudah memiliki seorang kekasih. Tapi bisa saja, karena Aaron dan Felicie tinggal bersama, mereka jatuh cinta.
Maka dari itu, saat ini ia akan menceritakan semua tentang dirinya. Ia tidak akan menutupi apapun lagi dari Felicie.
" Dulu, saat usiaku masih dua belas tahun, aku pernah ketemu dengan seorang gadis kecil yang cantik juga baik. Gadis kecil itu baru berumur lima tahun.
Saat itu aku baru saja kehilangan kedua orang tua ku, mereka meninggal. Karena aku merasa di tinggal sendirian tanpa ada keluarga sama sekali, aku menangis sedih di lokasi pemakaman orang tua ku. Tapi tiba - tiba seorang malaikat kecil, gadis imut mendatangiku. Lalu ia menghiburku dengan memberikan sebuah kaca mata hitam agar mata bengkakku tidak kelihatan. Lalu setelah itu ia memberikan sebuah pelukan yang hangat untuk menghiburku. Sejak saat itu aku menyukai gadis kecil itu dan tahukah kamu siapa gadis kecil itu,. Feli .... ? " kini Elbert menatap manik mata Felicie dengan dalam,
ia melihat mata itu terlihat bingung. Sepertinya ia telah melupakan tentang pertemuannya dengan Elbert dan ia memakluminya. Wajar saja Felicie masih kecil. Belum lagi semua masalah yang menimpanya. Hal ini mungkin yang membuatnya tidak ingat dengan Elbert.
Apalagi sejak pertemuan mereka, El langsung di bawa pergi oleh kakeknya ke London. Jadi mereka tidak pernah bertemu lagi.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka di pertemukan lagi. Elbert yakin ini adalah pertanda dari sang pencipta, bahwa mereka berdua di takdir kan untuk bersama.
Sedangkan Felicie yang mendengar cerita Elbert terlihat bingung. Ia seperti mengingat sesuatu tapi ia gak tahu apa.
Felicie merasa pernah mengalami hal yang di ceritakan oleh Elbert.
Tapi ia sendiri tidak yakin.
Ia hanya diam dan menunggu Elbert melanjutkan ceritanya.
" Gadis kecil yang sangat ku rindu kan itu adalah kamu Feli. " Elbert melanjutkan ucapannya.
Felicie langsung menatap tak percaya ke arah Elbert. Apa benar yang di ceritakan El ini adalah tentang dirinya.
" Ya, kamulah gadis itu, Feli ... aku sudah begitu lama mencari mu.
Setelah kamu memberi pelukan itu, aku dibawa ke London oleh kakek. Ternyata ayah dari Daddy ku masih ada. Sejak saat itu hingga aku dewasa, aku menetap di sana. Hingga akhirnya, aku harus menjalankan perusahaan milik kakek. Aku mulai mencari kamu lagi. Dalam setahun aku beberapa kali datang ke sini, untuk mencari mu. Tapi tetap saja gak ketemu. Lalu entah kenapa, saat aku melihat seorang gadis di hotel, aku merasa sangat tertarik melihat sikapnya yang dingin dan seperti memiliki dunia sendiri.
Awalnya aku hanya ingin berkenalan dengannya tapi semakin lama aku merasa gadis itu seperti gadis kecilku yang hilang. Kemudian aku menyuruh orang untuk mencari tahu tentang siapa gadis itu. Di situlah aku mengetahui bahwa kamu lah gadis kecil itu yang bertemu dengan ku, di pemakaman. " Elbert menuntaskan ceritanya.
Felicie yang mendengar perkataan Elbert, bahwa dialah gadis kecil itu sangat terkejut. Bahkan matanya yang biasa dingin itu terbelalak dengan lebar.
Ia kini menatap Elbert, ia mencoba mencari di mata Elbert, apakah ia berbohong apa tidak.
Tapi ia tidak melihat kebohongan di sana. Bahkan ia melihat mata itu terlihat serius. Bahkan mata itu terlihat sedih, atau rindu ... Felicie gak bisa menjabarkannya.
" Kamu yakin aku gadis kecil yang kamu cari ? atau hanya tebakan mu saja. " Felicie akhirnya bersuara setelah terdiam beberapa saat.
" Ya, Feli ... aku sangat yakin. " jawab El dengan pasti.
" Dari mana kamu bisa tahu, jika gadis kecil itu adalah aku. Apakah waktu itu aku memberitahu namaku ? " tanya Felicie berusaha menampik keyakinan Elbert.
" Tidak, kamu memang tidak menyebutkan namamu waktu itu.
Tapi kamu menjatuhkan kalung dari lehermu saat kamu memelukku. Kalung itu bertuliskan nama kamu. Karena kalung inilah , aku bisa menemukan kamu." Elbert menjelaskan dengan matanya yang terus menatap Feli sambil
mengeluarkan sebuah kalung dari kantung celananya.
Felicie langsung matanya berkaca - kaca begitu melihat Elbert menunjukkan kalung masa kecilnya. Kalung ini mama dan papa Felicie yang membuatkan saat ia masih berusia dua tahun. Kalung ini adalah hadiah ulang tahun Felicie.
Di kalung ini memang dibuat nama lengkap Felicie, bahkan ada nama mama dan papanya juga tertulis di situ. Setiap hari, Felicie selalu memakainya. Hingga pada suatu hari ia kehilangan kalung ini. Tapi Felicie tidak mengingat dimana ia menghilangkan kalung ini.
" Benarkan kamu pemilik kalung ini, Feli ... kamu adalah Felicie Harsaka, anak dari Tuan Bimo Harsaka dan Nyonya Adele." El lalu memberikan kalung itu pada Felicie.
Felicie gak bisa menahan tangisannya begitu kalung ini sekarang sudah berada di tangannya kembali. Ia benar - benar tidak bisa menahan air matanya jatuh dengan deras. Felicie sudah tidak memikirkan lagi kalau ia kini terlihat lemah. Kalung ini adalah peninggalan dari kedua orang tuanya yang paling berharga.
Karena saat itu Felicie sangat bahagia. Ada mama dan papanya yang selalu menyayangi dan melindunginya. Tidak seperti sekarang, sejak kedua orang tuanya meninggal, ia harus bertahan hidup dengan cara yang keras. Ia harus bekerja, demi menutupi kecurigaan paman nya Bagas, agar ia tidak mengetahui apartment dan barang penting lainnya, yang di tinggalkan papanya pada Felicie.
Mungkin papa sudah bisa menduga hal ini pasti akan terjadi pada Felicie anak kesayangannya, jika ia sudah tidak ada.
Elbert langsung meraih tubuh Felicie, ia kemudian memeluknya dengan hangat. Elbert gak perduli kalau setelah ini, Feli akan marah padanya atau mungkin bisa saja malah menjauh darinya. Ia hanya ingin membuat gadis kecil yang di cintai nya ini merasa lebih tenang setelah mengeluarkan air matanya.
Felicie yang memang lagi membutuhkan sebuah tempat untuk bersandar, malah meletakkan kepalanya di bahu Elbert. Ia semakin melepaskan tangisannya di bahu kokoh milik Elbert.
Elbert semakin mengeratkan pelukannya. Ia bahkan mengelus punggung Felicie dengan lembut untuk menenangkannya.
**********************************
* Mohon maaf jika masih banyak kesalahan saya dalam menulis.
* Mohon dukung terus Author ya, agar lebih semangat dalam menulis cerita.
* Jangan lupa beri like, koment, vote dan hadiah yang banyak.
* Buat yang sudah mendukung mommy, saya ucapkan terima kasih banyak. Semoga rezekinya semakin berlimpah ... Aamiin.
* Makasih buat semuanya ... 🙏🙏😘🥰
__ADS_1