
Elbert memasuki perusahan dengan wajah dinginnya bersama John. Kehadirannya tentu saja tidak di ketahui karyawan - karyawannya, karena John membawa Elbert melalui jalur khusus yang hanya diketahui olehnya dan Elbert.
Setelah kakek El meninggal sekarang hanya tinggal mereka berdua yang mengetahuinya. Dulu kakek El sengaja membuat jalur rahasia ini demi mempermudah dan mempercepat dirinya jika ingin keluar dari perusahaan tanpa harus di ketahui pihak lain.
Apalagi cucunya Elbert saat itu masih sulit berinteraksi dengan orang lain dan tidak ingin wajah nya di ketahui semua orang.
Jadi, kakek khusus membuat jalan rahasia ini yang langsung bisa menuju lantai atas. Begitu juga dengan ruangannya, Elbert membuat khusus terhubung dengan jalan menuju keluar tanpa harus turun ke lantai bawah lagi.
Bahkan para direksi sendiri belum pernah melihat wajah Elbert. Setiap hal yang penting dan memerlukan tanda - tangannya harus di berikan pada John terlebih dulu baru kemudian
di serahkan padanya.
Begitu pula dengan pemegang saham, hanya beberapa orang saja yang mengetahui wajahnya, itupun karena sebagian besar adalah teman - teman kakeknya yang terkadang mengunjungi mansion nya.
Tapi meski begitu, mungkin mereka tidak terlalu mengingat Elbert karena ketika mereka datang dia belum terlalu dewasa seperti sekarang.
Sebenarnya mereka bisa memiliki saham karena kakek gak tega menolak permintaan teman - temannya, untuk ikut menanam modal di perusahaannya. Meskipun hanya saham mereka hanya sebagian kecil saja. Sedangkan mayoritas saham adalah milik Elbert sekarang setelah kakeknya meninggal.
Tapi kali ini mau gak mau, Elbert harus memperlihatkan wajahnya di hadapan mereka akibat berita menggemparkan yang di buat oleh Claire. Pemegang saham meminta Elbert untuk mengklarifikasi mengenai masalah itu secara langsung di ruangan rapat.
" Hmm ... mereka semua sudah
disana ?" tanya Elbert pada John.
" Sebentar, saya lihat dulu ke ruangan rapat, Tuan . " ujar John kemudian pergi meninggalkan Elbert di ruangannya.
Biar tidak jenuh, karena harus menunggu John, Elbert melihat foto Felicie yang ada di handphonenya. Ia selalu merasa jauh lebih tenang jika memandang wajah gadis kecilnya ini.
" Tuan semuanya sudah hadir dan sedang menunggu anda !" ujar John yang sudah kembali.
" Hmm ... baiklah !" Elbert memasukkan handphone ke saku celana sembari bangkit dari kursi kebesarannya.
Elbert dan John berjalan menuju ruangan rapat. Sekretaris yang baru bekerja beberapa bulan ini bertugas di ruangan sendiri segera bangkit dari duduknya dan membuka kancing kemejanya bagian atas begitu melihat pria tampan yang berjalan di samping John.
" Siapa pria tampan ini ? Apa jangan - jangan ini Tuan Elbert ?
Wah, ganteng banget ... beruntung sekali aku bisa melihat wajahnya." gumamnya dalam hati.
Ia menganggukkan kepalanya ke arah mereka sembari menyapa. " Selamat pagi Tuan John ! Pagi Tuan .... !" ia sengaja menggantung kalimatnya berharap supaya Elbert menoleh ke arahnya.
Tapi Elbert sama sekali tidak memandang ke arahnya. Ia tetap dengan wajah dinginnya berjalan mengacuhkan sekretaris yang bernama Angel itu.
John hanya bisa menahan senyum melihat hal ini. Sudah hal biasa baginya melihat sikap dingin Elbert jika menyangkut dengan wanita.
Sejak mereka tumbuh dan besar bersama belum pernah sekalipun dia melihat Elbert mau menanggapi wanita. Bahkan terhadap Claire. Meski kakek dulu memaksanya untuk menemani Claire bermain tetap saja ia tidak mau melakukannya.
John hanya bisa melihat wajah bahagia dan senyum Elbert jika sudah menyangkut Felicie. Bahkan John gak percaya kalau Elbert bisa selembut itu jika sedang bicara dengan gadis itu.
Sehingga membuat John ingin bertemu dan melihat secara langsung wanita yang dicintai Elbert sejak kecil.
Ia memang pernah melihat dari foto, saat Elbert menyuruhnya untuk menyelidiki Felicie saat pertama kali ia bertemu dengannya setelah mereka dewasa. Tapi itu hanya melalui foto bukan bertemu langsung.
Angel yang tidak ditanggapi sama sekali merasa jengkel. Baru pertama kali ia diacuhkan seorang pria. Biasanya ia dapat dengan mudah mendapatkan perhatian dari sejumlah pria jika ia sudah menunjukkan wajah seksinya. Tapi ini malah tidak melirik sedikitpun.
" S**l ... dingin banget ! Pantes aja nona Claire tergila - gila melihat wajah tampannya. " kata
Angel dalam hati.
__ADS_1
" Pecat wanita itu !" perintah Elbert setelah melewati Angel.
John tidak terkejut mendengarnya
sudah sering Elbert melakukan ini.
Ia paling gak suka kalau melihat wanita yang mencoba mencari perhatian darinya.
" Kasihan Tuan , dia baru kerja disini. Biarlah dia bekerja beberapa bulan lagi. Lagi pula Tuan sering gak ada di perusahaan. Dia gak akan bisa menganggu Tuan." ujar John.
" Hmm ... kamu suka dengannya ?" tanya Elbert menatap John dengan dingin.
" Bukan begitu, Tuan ... saya sama sekali tidak suka dengannya. Tapi
jika kita memecatnya sekarang dia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan di tempat lain. " ujar John berusaha memberi pengertian pada Elbert.
" Itu bukan urusan saya. Saya tidak ingin melihat wanita yang bekerja mengandalkan tubuhnya bukan otaknya. " ucap Elbert tidak perduli.
" Saya dengar dia sebatang kara, sejak usia muda Tuan. Jadi dia kerja untuk menghidupi dirinya. Lagi pula dia melakukan pekerjaannya dengan baik sejauh ini. Mungkin, karena Tuan terlalu tampan membuatnya jadi lupa diri. Biasanya dia tidak begitu. " John masih berusaha membatalkan niat Elbert untuk memecat Angel.
Bukan karena dia tertarik padanya tapi karena dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia sebenarnya cerdas, tapi mungkin karena hidup sendiri tanpa adanya bimbingan orang tua membuatnya tidak mengerti cara bersikap yang pantas buat seorang wanita.
" Hmm ... Saya tidak perduli, pokoknya saya tidak mau melihatnya lagi." ujar Elbert datar.
" Tuan, dalam waktu yang singkat ini sudah berapa kali kita harus mengganti sekretaris. Saya sendiri sudah kesulitan mencari sekretaris yang cocok dengan selera anda. " jawab John menghela nafasnya dengan berat.
Ia memang benar - benar harus selalu mengganti sekretaris setiap saat, jika Elbert tidak menyukai sekretarisnya. Selama Elbert tidak ada di perusahaan, John lumayan tenang karena ia tidak harus kerepotan mencari sekretaris pengganti.
" Saya sudah pernah bilang untuk mencari sekretaris pria tapi kamu gak pernah mau mendengar. Lagi pula saya tidak butuh sekretaris, sudah ada kamu kan, John !" ucap Elbert menatap tajam pada John.
" Jika Tuan lebih sering berada disini, mungkin kita tidak butuh sekretaris. Saya bisa menghandle pekerjaannya. Tapi sayangnya Tuan tidak suka berlama - lama
" Hmm ... Okey, saya terima alasan kamu. Tapi saya tidak mau ruangannya dekat dengan ruangan saya. Selama saya berada disini, jangan izinkan dia masuk ke ruangan saya. " perintah Elbert akhirnya mengalah karena mengerti dengan alasan yang diberikan John.
Elbert tahu, John pasti kesulitan jika harus mengerjakan sendiri pekerjaannya tanpa ada yang membantunya, karena itu ia terpaksa mengalah. Meskipun setiap ada pekerjaan, hampir setiap hari John selalu melapor padanya dan Elbert yang mengatur apa saja yang harus ia lakukan dan kerjakan. Tapi tetap saja ia harus menangani sendiri jika sedang berada di perusahaan
atau di proyek yang sedang di kerjakan.
" Baik, saya akan melarangnya masuk ke ruangan Tuan dan segera memindahkan ruangannya agar Tuan tidak harus melihatnya." ujar John menarik nafas lega.
" Hmm ... !" sahut Elbert singkat.
John segera membuka pintu ruangan tempat di adakan rapat hari ini. Semua yang sudah hadir disana langsung berdiri begitu melihat kehadiran John bersama seorang pria tampan tapi berwajah dingin.
Mereka sangat bersyukur karena pemberitaan yang di lakukan Claire membuat mereka akhirnya bisa melihat secara langsung sosok pria pemilik dari perusahan ini.
Selama ini mereka hanya tahu kalau penerus dari pemilik perusahaan ini sebelumnya hanyalah seorang anak muda yang tidak suka berada di perusahaan terlalu lama. Ia lebih senang mengerjakan pekerjaannya dari tempat yang tidak di ketahui semua orang.
" Pagi, Tuan ... !" sapa mereka serentak.
" Pagi ... !" balas Elbert dingin kemudian duduk di kursinya.
Mereka pun kembali duduk di kursi masing - masing setelah melihat Elbert duduk terlebih dahulu.
" Apa yang ingin kalian bicarakan dengan saya !" suara Elbert terdengar dingin hingga mengintimidasi semua yang ada di ruangan ini.
Tadinya mereka yang begitu semangat ingin menyampaikan keinginannya mendadak lidahnya
__ADS_1
terasa kelu. Suasana yang awalnya riuh sebelum Elbert datang jadi sangat hening. Karisma Elbert membuat mereka kehilangan kata - kata.
" Kenapa kalian diam ? Bukankah kemarin kalian bilang pada saya ada yang mau kalian sampaikan pada Tuan Elbert !" ujar John memecahkan keheningan yang ada.
Akhirnya salah satu pemilik saham, yang merupakan temannya kakek Elbert berdiri dan mulai menyampaikan keinginannya.
" Bagaimana saya harus memanggil anda, Tuan atau Nak Elbert, karena anda cucu teman saya !" ujar salah satu teman kakeknya dengan percaya diri.
John terkejut dan tidak menyangka kalau Tuan Richard berani berkata seperti ini, pada Elbert. John tahu pasti Elbert sangat tidak suka mendengarnya.
Ia paling benci jika urusan pekerjaan di campur aduk dengan urusan pribadi.
" Hmm ... Ini perusahaan bukan di rumah ! Lagi pula anda berteman dengan kakek saya bukan dengan saya !" ujar Elbert dengan dingin.
Wajah Richard langsung memerah karena malu dan kesal begitu mendengar perkataan Elbert yang jelas tidak menghargainya.
" Kalau begitu saya minta maaf, Tuan. Saya hanya berpikir kalau Tuan akan sama baiknya dengan kakek Tuan." ujar Richard menyindir Elbert.
" Tentu saja tidak sama. Kakek saya terlalu baik hingga terkadang dibodohi oleh orang - orang yang memanfaatkan kebaikannya !" ucap Elbert menatap tajam ke arah Richard dan lainnya.
Richard dan yang lain langsung merasa tersindir mendengar kata -
kata Elbert. Mereka sebenarnya paham, akhirnya bisa memiliki saham di sini karena kebaikan dari kakeknya Elbert, sahabat mereka. Itupun karena mereka terus memaksanya.
" Hmm ... saya tidak bisa berlama - lama disini. Sekarang katakan dengan jelas apa yang ingin kalian sampaikan !" ucap Elbert tanpa memperdulikan wajah Richard yang pucat.
" Baiklah, sebenarnya begini Tuan Elbert ... karena pemberitaan dari nona Claire yang mengatakan bahwa Tuan dan Nona Claire sudah bertunangan dan akan segera menikah membuat harga saham kita semakin meningkat dari sebelumnya. Nona Claire juga mengatakan Tuan akan memperlihatkan wajah Tuan di publik untuk menjawab tantangan darinya. Lagi pula sebagai tunangan dari nona Claire, Tuan memang harus memperlihatkan wajah Tuan ke publik. Jadi, kami semua yang berada disini meminta agar Tuan melakukan apa yang di minta nona Claire agar saham kita terus meningkat. " ujar Richard kini dengan percaya diri, karena ia yakin Elbert akan menyetujui keinginan mereka.
Padahal mereka para pemilik saham hanya ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari peristiwa ini.
John tahu Elbert pasti sangat emosi mendengarnya. Tuan Richard benar - benar sudah membangunkan sifat kejam Elbert yang sudah lama tidak keluar karena rasa cintanya pada Felicie.
Benar saja dugaannya, ia melihat mata Elbert langsung menatap dengan bengis ke arah mereka semua yang ada di ruangan rapat ini.
" Siapa anda hingga berani mengatur apa yang harus saya lakukan ! Saya tegaskan, saya tidak pernah bertunangan dengan wanita itu apalagi untuk menikah, tidak ada sama sekali. Wanita gila itu hanya mencari sensasi, karena saya menolaknya. Jadi, saya tidak perduli dengan harga saham naik ataupun turun. Jika kalian ingin mendapatkan keuntungan, kenapa bukan kalian saja yang menikah dengannya !" ucap Elbert dengan penuh kemarahan, lalu ia pun bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan, meninggalkan rapat yang tidak penting baginya.
" Maaf, semuanya ... rapat kita bubarkan, karena Tuan Elbert sudah tidak ingin melanjutkan rapat ini lagi. Buat semua yang ada disini, saya katakan, lain kali kalau mau membicarakan sesuatu tolong dipikirkan dengan matang dan cari informasi yang benar terlebih dahulu.Terima kasih ... !" ujar John sebelum keluar menyusul Elbert.
Begitu John keluar, ruangan rapat ini langsung berisik. Tuan Richard dan tiga orang temannya yang juga memiliki saham yang sama nilainya dengan dirinya merasa sangat kesal dan terhina atas perlakuan Elbert tadi. Mereka benar - benar tidak terima namun mereka tahu tidak bisa berbuat apa - apa saat ini karena saham yang mereka miliki hanya sedikit.
Sedangkan direktur setiap bagian sangat terkejut dan tidak menyangka kalau berita yang disebarkan nona Claire tidak benar sama sekali. Terutama direktur keuangan. Padahal mereka sengaja sudah bersikap baik padanya begitu mendengar berita itu, agar jabatan mereka tetap aman jika mereka membantu Claire untuk bisa masuk dengan mudah ke perusahaan.
**********************************
Hai, semua ... !
Selamat membaca lanjutan episodenya. Semoga kalian suka, ya .... 😍😍
Jangan lupa like, vote dan komentarnya yang positif.
Buat yang sudah dan tetap terus mendukung cerita Mommy ini,
Terima kasih banyak ... 🙏🙏😘
Semoga kalian selalu sehat dan
diberikan rezeki yang melimpah ... Aamiin.
__ADS_1
Love You All ❤️❤️❤️