
Note: Chapter ini memang membingungkan, namun ini adalah cerita dari anak yang menolong Yi-Feng sebelumnya. Lanjut baca sampai akhir dan akan menemukan kebenarannya, jangan protes dan baca saja. Jika bingung bisa scrol sampai akhir dan baca bagian akhir saja. oke?
..._____________________________________...
Huo Chunhua tiba-tiba menjadi cemas dan mulai mengutuk, "Anak nakal! Kau coba membuat marah nenekmu ini? .. Bukankah aku melakukan ini demi kebaikan mu juga? .. Lihat, kau bahkan belum dewasa namun harus merawat anak haram yang bahkan kita tidak tahu siapa Ayahnya! Berapa banyak orang yang bergosip tentang Ibumu itu? Berapa banyak orang yang menertawakan keluarga Xin kita?.. Jika kau memberikan Xin Qian pada seseorang untuk diadopsi, itu akan memudahkan mu untuk hidup dimasa depan! Kamu masih muda, bagaimana istrimu akan mengatakan tentang adikmu?!"
Feng Xia juga menimpali, "Ya, keponakan. Ini adalah kebaikan untuk dirimu sendiri, orang yang menginginkan Xin Qian adalah keluarga kaya. Adikmu pasti menikmati berkat setelah pergi kesana, hidup bahagia dan dia juga akan menjadi nona muda dari keluarga kaya. Ini adalah kesempatan langka tetapi kau malah menolak untuk menjual anak haram ini?!"
Xin Yuan benar-benar merasa jijik melihat sikap ketiga orang ini, dan dia berkata dengan dingin. "Bibi kedua, jika itu masalahnya lebih baik mengirim anakmu saja untuk menikmati berkah. Adikku dan aku sudah terbiasa dengan masa-masa sulit dan tidak membutuhkan nya!" Usia anak bungsu bibi kedua seumuran dengan Xin Qian.
Feng Xia tidak tahu harus berkata apa untuk membalasnya, kapan anakini menjadi begitu pandai bicara?. Feng Xia mengeluh pada ibu mertuanya, "Ibu, Lihat anak nakal ini, dia tidak tahu apa yang baik dan buruk!"
Nyonya tua itu menyipitkan matanya, cahaya jahat bersinar dimatanya. Dia berfikir bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan Xin Yuan, dia harus menjual anak haram itu untuk mendapatkan 2 tel emas! Ini bisa membiayai pendidikan cucu kesayangan nya dan keluarga selama setahun penuh!
"Ibu, tidak ada gunanya kita bicara dengan baik pada anak nakal ini! Dia tidak akan mendengarkan kata-kata baikmu, jadi mari ambil saja anak itu! Ayo, ambil anak haram itu!" Ucap Li Ying tidak sabar, dia sangat membenci keluarga keponakannya sejak suaminya membela Ibu mereka dulu.
Melihat bahwa dirinya dalam bahaya, Xin Qian segera bersembunyi dan memeluk kakaknya dengan ketakutan, dia takut akan dipisahkan lalu dibawa pergi dari kakaknya selamanya. Tubuh gadis kecil itu gemetaran karena takut. Mata Xin Yuan menjadi lebih dingin lagi sehingga suhu disekitarnya menurun dengan drastis, ia menjaga adiknya dibelakang punggungnya.
Nyonya tua juga merasa hal yang sama, dia harus mengambil anak itu dan membawanya, dua koin emas menanti untuk masuk kedalam dompetnya!
Ibu mertua dan dua menantu saling lirik, mereka siap melakukan aksinya.
Xin Yuan baru akan menginjak 12 tahun, ia lebih muda dari pada tiga wanita ini. Meskipun begitu, dia memiliki pengalaman yang lebih baik dari pada mereka bertiga karena dia sering berburu di hutan gunung barat, ia sering menggunakan kekuatannya untuk menangkap buruan.
Tak lagi bersikap baik, Xin Yuan langsung mengangkat tangannya dan tanah dibawah kaki tiga wanita itu bergetar, dalam sekejap mata saja ada dinding didepan mereka lalu dari samping dan belakang jiga. Xin Yuan mengurung tiga wanita itu dalam kotak yang terbuat dari tanah menggunakan kekuatannya, ia memeluk adiknya dan melarikan diri.
Dibelakang rumah mereka adalah hutan, tiga wanita itu meskipun mengejarnya mereka memiliki kekuatan yang lemah, hutan adalah tempat strategis untuk melarikan diri saat ini.
Tiga wanita yang dikurung tentu saja terkejut karena diserang secara tiba-tiba, ketika mereka membuka mata ternyata mereka dikurung didalam kotak tanah. "Anak sialan!" Mereka menggunakan kekuatan mereka untuk menghancurkan dinding tanah didepan, namun tidak bisa. Ini terlalu tebal, sial!
Xin Yuan melarikan diri dengan Xin Qian dipunggung nya, ia menggendong adiknya disana. Dia tidak bodoh untuk membuat dinding yang tipis bagi tiga wanita itu, ia dengan sengaja membuat dinding yang ketebalan nya berkali-kali lipat sehingga mereka berdua bisa melarikan diri jauh sebelum dinding itu hancur.
Saat melarikan diri, Xin Yuan tidak membawa senjata apapun di tangannya. Hari menginjak sore, perut mereka berdua juga berbunyi karena lapar.
Beruntung, ada sungai kecil di hutan belakang rumah, namun jaraknya memang jauh dari rumah. Ia menebak jika nenek dan dua bibinya tidak akan mau masuk kedalam hutan ini.
__ADS_1
Xin Yuan menangkap ikan kemudian dibakar, ikan itu berukuran besar dan cukup untuk mengganjal perut mereka. Xin Yuan mengambil ranting kayu, ia kemudian mengeluarkan pisau yang selalu diselipkan pada sepatunya, lalu membuat ranting memiliki ujung yang tajam.
Ia berkeliaran di sekitar sungai, melihat ada kelinci yang sedang minum air, Xin Yuan melemparkan ranting kearahnya.
Beberapa saat kemudian, Xin Yuan kembali ketempat dimana adiknya berada.
Melihat bahwa kakaknya membawa dua ekor kelinci dengan satu burung puyuh serta telur burung puyuh, Xin Qian sangat senang. "Kakak, mau benar-benar sangat hebat!" Ia memuji sang kakak dengan penuh kekaguman. Baginya, tidak ada yang lebih mengagumkan dari pada kakaknya
"Hahahaha... Terima kasih." Xin Yuan kemudian membersihkan satu ekor kelinci, lalu dipanggang setelah dicuci agar darahnya tidak ada darah yang tersisa pada daging lagi.
Xin Yuan juga memberikan pot dari tanah, ia kemudian menambahkan air didalamnya lalu merebus 7 telur puyuh yang ia dapatkan. Burung puyuh juga tidak lepas, itu dipanggang sehingga dia anak itu makan sampai kenyang.
Ketika malam hari tiba, Xin Yuan membawa satu ekor kelinci dan adiknya keluar dari hutan. Ia berjalan ke rumah teman ayahnya, Paman Liu Lei.
Keluarga Paman Liu sangat baik, istrinya juga merupakan wanita yang penyayang. Xin Yuan dan adiknya beristirahat disana, dia takut jika kembali ke rumah maka neneknya akan menangkap adiknya kemudian dijual.
Kelinci yang dia dapatkan sebelumnya digunakan untuk makan malam mereka bersama, anak paman Liu lebih muda 3 tahun darinya, anak laki-laki itu sangat aktif dan periang.
Dua bersaudara tidur dalam kamar putra paman Liu, sedangkan keluarga yang terdiri dari tiga orang tersebut tidur dalam satu kamar.
Istrinya juga sangat marah, "meskipun Xin Qian lahir dari orang lain, namun dia masih cucu perempuan nyonya tua Xin. Bagaimana dia bisa begitu tidak memiliki hati?"
Xin Yuan sangat bersyukur karena masih ada orang baik yang mau menolong mereka, "Paman, Bibi. Aku juga tidak akan membiarkan nenekku mengambil Qian'er, dia adalah saudara ku, hanya kami yang tersisa. Paman, aku berencana untuk berburu dengan saudara Zhang besok, aku titip adikku pada kalian," ucap Xin Yuan
"Anak baik, bagaimana bisa kau mengalami penderita ini sekarang? ..Tenang saja, bibi akan menjaga adikmu saat kau berburu besok." Ucap istri paman Liu
"Yah.. yah, bagaimanapun kau adalah putra temanku, jika bukan karena Ayahmu, aku juga tidak akan hidup sekarang! Jangan khawatir, kami akan menjaga adikmu." Ucap paman Liu
Liu Lei mengingat kejadian 7 tahun lalu, saat itu putranya akan memasuki 2 tahun, dia dan ayah Xin Yuan serta putra ketiga keluarga Xin pergi melaut. Ayah Xin Yuan sudah seperti saudaranya sendiri. Namun, kejadian itu malah mengambil nyawa sahabatnya hanya untuk menyelamatkan dua saudaranya.
.....
Keesokkan harinya, Xin Yuan pergi ke rumah saudara Zhang yang merupakan keturunan pemburu, mereka benar-benar memiliki pemburu hebat disetip generasi. Xin Yuan belajar berburu dari Kakek Zhang dan bersahabat sejak kecil dengan saudara Zhang.
Namun, saat ia tiba, bibi Yang mengatakan jika saudara Zhang telah pergi bersama paman Zhang, hanya kakek dan menantunya yang masih tersisa.
__ADS_1
"Ambil peralatan mu dan susul mereka. Kau mungkin bisa mendapati mereka dijalan, namun jangan lupa untuk berhati-hati. Ini pertama kalinya kau memasuki hutan gunung barat sendiri, kau selalu bersaman paman dan saudara Han mu itu." Ucap kakek tua Zhang.
"Terima kasih, Kakek. Kalau begitu, aku akan menyusul mereka." Xin Yuan mengambil peralatan berburunya dari halaman belakang keluarga Zhang, ia selalu menyimpan peralatannya disana karena merasa jika menyimpannya dirumah maka tidak aman.
Xin Yuan berjalan selama hampir dua jam, namun belum menemukan tanda-tanda paman dan saudara Zhang. Ia menghentikan langkahnya karena merasa lelah dan lapar, ini karena dia pergi sebelum keluarga Paman Lui membuat sarapan, dia harus keluar dengan perut kosong, tapi bukankah hutan memiliki banyak hewan yang menjadi makanan?
Ketika Xin Yuan bangkit dan akan berburu permainan kecil untuk menjadi sarapannya, ada aroma daging yang dibawa oleh angin kearahnya. "Apakah saudara Han dan Paman Zhang ada didepan sana?" Dengan pemikiran ini, tentu saja Xin Yuan menyimpan niatnya untuk berburu hewan kecil.
Dia berjalan kearah datangnya bau daging ini, namun telinganya malah mendengar suara pertarungan. Dia tidak bisa berfikir bahwa saudara Han dan Paman Zhang bertemu orang jahat, ia mempercepat langkahnya kearah dimana asal pertarungan itu datang.
Dari kejauhan, ia melihat bahwa sepertinya itu adalah kumpulan pembunuh bayaran. 'Apa yang terjadi pada Paman dan saudara Han?'
Ketika ia berada pada jarak yang lebih dekat lagi, matanya menangkap seorang pria berpakaian bagus yang melarikan diri dan diikuti oleh banyak orang berpakaian hitam.
Xin Yuan merasa batu yang berada dalam hatinya telah terangkat, ternyata itu bukan Saudara Han dan Paman Zhang melainkan orang lain.
..............,....
Yi-Feng mendengarkan cerita anak itu dengan tenang, ternyata anak ini memasuki hutan untuk berburu. Hidupnya pasti sulit selama ini
Xin Yuan ini harusnya datang dengan dua orang lain, namun ia malah tertinggal karena mereka tidak membuat rencana sebelumnya. Sebelumnya, Yi-Feng bertanya-tanya bagaimana bisa ada anak laki-laki didalam hutan yang berbahaya ini sendirian tanpa orang dewasa
"Baiklah, istirahat agar lukamu cepat pulih. Kami akan membantumu mencari dua orang lainnya, kita bisa berburu bersama." ucap Yi-Feng sambil tersenyum
Demi menolongnya, anak yang masih lemah ini rela terluka. Kakinya juga retak karena terpental dengan serangan kuat dari Ketua kelompok tadi
Hayahhh... dia harus membalas budi
.
.
.
.
__ADS_1