
Selesai makan siang yang begitu sederhana namun lezat tersebut, tentu saja mereka memiliki kekuatan yang lebih lagi untuk menuruni gunung barat.
Desa Dongsan merupakan desa dimana tempat Xin Yuan dan keluarga Zhang tinggal. Karena telah melihat desa diujung sana, tentu saja Xin Yuan menjadi senang, akhirnya dia pulang dan bisa memberikan nasi serta gading untuk adiknya makan nanti. Entah itu makan pagi atau makan siang beberapa jam lalu, ia masih menyimpan bagian untuk saudara perempuannya
"Itu desanya, Yang Mulia." ucap Xin Yuan dengan semangat
"Ehh, terlihat tenang yah." gumam Yi-Feng, ia terus berjalan didepan semua orang. Ia melihat kearah atap-atap rumah dibawah sana, terlihat memiliki jarak sehingga halaman mereka luas bisa ditanami sayuran ataupun untuk menjaga hewan peliharaan seperti ayam dan lainnya.
Lima pria berbeda generasi tersebut terus berjalan menuruni gunung, hingga mereka keluar tak jauh dari kediaman keluarga Zhang yang paling dekat dengan Gunung barat yang berbahaya.
Zhang Han melangkah lebih cepat kerumahnya, ia bahkan hampir berlari dengan hewan-hewan itu yang menggantung di bambu yang ia pikul "Kakek, kami kembali." ucap Zhang Han yang muncul di pintu rumah mereka
Ibunya yang sedang berada dihalaman sambil menjahit saputangan menoleh dan mendapati sang anak yang telah kembali, ia mendongak ke langit dan melihat matahari yang masih tinggi. "Apa yang kalian dapatkan, mengapa sangat awal pulangnya?" ini karena setiap kali suami dan putranya kembali, hari sudah hampir malam. Tentu saja dia merasa heran mengapa mereka pulang lebih awal hari ini
Zhang Han mendekati ibunya, "Ibu, dimana kakek?"
"Kakekmu sedang pergi ke rumah paman Dang, entah yang ia lakukan disana. Kau memerlukan sesuatu?" wanita itu melirik putranya dari sela kain yang berada ditangannya
"Ibu, aku akan cepat panggil kakek kembali. Aku tidak tahu harus melakukan apa tapi, sebentar lagi mereka akan tiba, kita harus menyambut mereka dengan baik. Ibu, ayo simpan dulu jarummu, cepatlah bersihkan tanganmu." remaja itu bicara dengan tidak sabar pada ibunya
Nyonya Liu menatap putranya dengan heran, apa yang membuat anak ini menjadi tidak sabaran? Lihatlah, bahkan dia datang dan mengambil kain serta jarum dari tangannya dan menyimpannya. "Siapa yang kau maksud? Aku tidak melihat Ayahmu, tapi kau malah ribut sendiri." omel wanita itu, tangannya akan mendarat diatas kain ketika ucapan putranya membuat ia berhenti
__ADS_1
"Ibu, kami memang pergi berburu dan melihat jebakan kemarin, namun tidak menyangka akan bertemu dengan beruang ganas. Beruntung, adik Xin datang dengan Pangeran Kekaisaran dan pengawalnya sehingga menolong kami. Ayo, mereka sedang mengangkut beruang dan hampir masuk kedalam desa, aku berlari lebih cepat agar kita bisa bersiap menyangka Pangeran dirumah. Ini adalah berkah, ah!" Zhang Han menjelaskannya dengan tidak sabar sebelum ia berlari keluar dari halaman rumah pergi ke tetangga mereka dan memanggil kakeknya.
Bagaimana pun, dulu nya sang kakek merupakan seorang Prajurit, dia tidak tahu harus melakukan apa namun pasti kakeknya tahu.
Kebetulan, rumah tetangga tidak jauh. Dia tiba di gerbang rumah keluarga Dang, lalu melihat bahwa kakeknya sedang bermain catur dengan kepala keluarga Dang.
Tuan tua itu langsung meninggalkan catur begitu dia mendengar apa yang diceritakan oleh cucunya, saat mereka tiba di pintu bertepatan dengan ayahnya yang sampai.
Saat Zhang Han memanggil Kakek, bukan hanya ada dua orang tua ini saja yang berada di keluarga Dang, tentu mereka tidak tuli dan tahu jika ada Pangeran yang mampir ke rumah keluarga Zhang. Kabar dengan cepat menyebar di sekitar desa, semua orang merasa iri karena Pangeran mampir ke rumah keluarga Zhang yang kasar. Mereka berbondong-bondong pergi dan ingin melihat seperti apa Pangeran Kekaisaran ini, didekat pagar ada orang-orang yang mengintip kedalam halaman keluarga Zhang dan melihat apa yang terjadi
Tuan Zhang tua segera membungkuk lalu bersujud menyambut bangsawan ini, apa lagi ini merupakan seorang Pangeran dari Istana Kekaisaran di ibukota, "Selamat datang Pangeran muda, suatu kehormatan berjumpa dengan Anda. Yang rendah ini menyambut Anda di tempat yang kasar ini, mohon maafkan yang rendah ini karena tidak bisa menyambut Anda dengan layak."
Sekarang, salah satu Pangeran malah datang kerumah, dia tentu saja merasa sangat rendah.
Yi-Feng mengibaskan tangannya, "bangunlah Pak tua, tidak usah formal. Pangeran ini hanya lewat saja setelah berburu, maaf merepotkan Anda dan keluarga Anda." balas Yi-Feng
"Suatu kehormatan bisa menyambut Anda di gubuk yang rendah ini, Yang Mulia." balas Tuan Zhang Tua.
Yi-Feng disambut dengan baik, dia kemudian dibersihkan untuk masuk kedalam rumah namun pemuda cantik itu malah memilih untuk duduk di halaman, dibawah pohon persik yang rindang.
Keluarga Zhang menjadi gugup, melihat bahwa Pangeran Kekaisaran malah memilih halaman yang kasar dari pada berada dalam rumah, namun saat ini cuaca sedang panas jika dia masuk kedalam rumah batu bata itu, suhu didalamnya pasti tinggi sehingga malah membuatnya semakin gerah.
__ADS_1
Menantu keluarga Zhang hanya satu orang saja, ini adalah ibu dari Zhang Han. Dia dengan cepat pergi membuatkan teh, tak ada camilan atau kue didalam rumah, ia akan pergi membelinya ketika dihentikan oleh Yi-Feng
"Tidak perlu repot-repot, Pangeran ini sedang jalan-jalan saja. Teh saja sudah cukup, Pangeran ini masih kenyang. Kami sudah makan siang di gunung tadi," ucap Yi-Feng yang melihat bahwa ibu Zhang Han akan berlari keluar dari halaman rumah.
Pandangan nya malah tertuju pada buah persik yang ada diatas kepalanya, "Makan persik lebih baik, ini menyegarkan. Apa Pangeran ini boleh memintanya?" ia tersenyum sopan pada orang-orang yang berdiri didepannya
Zhang Tua tentunya langsung mengangguk cepat, "Apa yang Anda katakan Yang Mulia. Jika Anda menginginkan persik, yang rendah ini akan mengambilnya dengan segera." pria tua itu berlalu kedalam rumah kemudian keluar setelah beberapa menit.
Ada piring keramik yang diatasnya terdapat buah persik, terlihat basah mungkin saja baru saja di cuci dengan air.
"Yang Mulia, ini adalah persik yang saya cucu saya petik dipagi hari. Mereka matang dan memiliki rasa yang sangat manis dan enak, silahkan dicoba." Zhang Tua meletakan piring itu diatas meja batu yang ada dihalaman.
Yi-Feng mengambil satu, ia memakannya dengan santai. "Ini manis, sangat enak. Aku akan membawakan sebagai untuk Putriku, apa boleh?" kepalanya terangkat dan melihat kearah Zhang tua
Pria tua itu mengangguk, dia meminta Zhang Hai yang merupakan putranya untuk menyiapkan satu keranjang buah persik, lalu disimpan untuk dibawa Kembali oleh Yi-Feng
Mo Chen sedari tadi tidak membuka mulutnya, dia terdiam disamping Yi-Feng dan melihat pemuda itu makan persik dengan nikmat. Yi-Feng menyuruhnya untuk mencoba persik itu, sehingga ia juga memakannya
Xin Yuan ingin pergi ke rumah keluarga Lui, ia ingin memanggil adiknya namun dengan kondisi kakinya yang cidera tentu saja akan menghambat. Zhang Han menawarkan diri untuk memanggil Xin Qian di rumah keluarga Lui, namun bahkan setelah Pangeran Kekaisaran memakan beberapa buah persik, dua orang ini belum tiba.
Xin Yuan tidak bisa untuk tidak khawatir, ternyata kekhawatiran nya memang benar. Sesuatu terjadi, ada anak lain yang berlari dan memanggil Xin Yuan di keluarga Zhang.
__ADS_1