The Second Prince

The Second Prince
Membuat Cokelat


__ADS_3

YI-Feng mandi tak lama seperti biasanya, ini dikarenakan dia akan kembali lagi ke dapur dan pasti akan terkena asap dapur lagi.


Dia hanya menggunakan piyama tidurnya saat ke dapur tadi. Bagi dia yang merupakan jiwa dari masa depan, tak mandi dipagi hari akan terasa ganjil. Oke? Karena merupakan rutinitas dipagi hari.


Saat keluar dari bilik mandi dan akan berganti pakaian, seseorang masuk kedalam kamarnya dengan tak sopan. Saat ia mengangkat wajahnya, ia bertemu dengan tatapan yang sudah sangat familiar.


Saat itu, dia hanya menggunakan baju alas pertama (pakaian d4lam). rambutnya juga berantakan, sehingga dia akan menggunakan pita untuk mengingat rambutnya yang berantakan, namun matanya saat ini sedang menatap orang yang berada di pintu kamar.



"Ada apa, Kak?" tanya Yi-Feng


Mata Yi-Fang tak bisa lepas dari wajah adiknya yang saat ini terlihat sangat mempesona, terlebih wajah itu tak sedang menggunakan topeng.


"Ti-tak ada... Aku dengar kau akan membuat sesuatu dengan biji buah itu. Jadi, aku datang untuk melihat," balas Yi-Fang dengan sedikit gugup.


'Mengapa wajahnya begitu cantik? Ini bahkan lebih cantik dari wanita. Ibu dan ayah benar-benar bias! Mereka memberikan begitu banyak kebaikan pada Feng'er!' batin Yi-Fang, sedikit rasa iri muncul dihatinya.


Bukan berarti dia benar-benar iri pada adik kembarnya ini, hanya saja dia menyesal. Mengapa adiknya bukan anak perempuan saja? Feng'er memiliki wajah yang cantik, oke? Lalu, mengapa jenis kelaminnya laki-laki? Ini tak adil!


Dia juga menginginkan adik perempuan yang imut dan patuh dari Ibu yang sama, bukan dari selir ayahnya. Tapi bukan berarti dia membenci Li-Fei, dia menyayangi anak itu hanya saja masih ada kekosongan didalam hatinya, oke?


"Ah, aku akan membuat cokelat. Kau mau melihatnya, kak?" ucapan Yi-Feng membuyarkan pikiran Yi-Fang yang sedang berantakan.


"Hmmt," balas Yi-Fang. Dia memperhatikan Yu-Cheng yang sedang membantu pemuda itu berpakaian. Yi-Feng menggunakan pakaian berwarna biru, dia terlihat elegan dan sangat tampan. Namun, ketampanannya akan kembali ditutupi oleh topeng lagi.


Mata Yi-Fang mengarah pada Yu-Cheng yang tak pernah melepaskan tatapan dari wajah adiknya itu, tatapan itu terlihat mengagumi wajah adik kembarnya.


Yu-Cheng membantu menata rambut Yi-Feng, pemuda itu mengikat rambut Yi-Feng diatas kepala, sebelum akhirnya pemuda itu berlalu dari kamar.


"Kau harum sekali, wewangian apa yang kau gunakan tadi?" tanya Yi-Fang saat pemuda itu baru saja melewatinya. Mereka berjalan kearah dapur


"Vanilla, wanginya lembut dan enak bukan?" tanya Yi-Feng


"Vanilla? Aku tak pernah mendengarnya," ucap Yi-Fang

__ADS_1


"Ini... guru memberikan nya padaku, dia bilang aku tak cocok dengan wangi Cendana, dan lebih cocok dengan vanilla yang lembut dan elegan" ucap Yi-Feng


[Bocah bau! Sejak kapan aku pernah memberikan nya padamu? Dewa ini tak pernah melakukan nya!] tiba-tiba suara Louis terdengar lagi di pikiran Yi-Feng


[Lalu, aku harus bilang mendapatkan parfum vanilla dari siapa? ..Apa harus mengatakan, aku membelinya di toko parfum di jalan xxv, begitu?] balas Yi-Feng pada Louis


"Hmmp.. teruslah berbohong! lihat bagaimana aku akan menghukum mu nanti, Hmpp] setelah itu, suara Louis kembali tak terdengar lagi.


"Lalu, Feng'er.. dari mana gurumu mendapatkan wewangian ini?" tanya Yi-Fang


"Dari toko parfum di jalan- di belahan benua barat," hampir saja dia mengatakan tempat itu, yang tak ada di dunia ini.


"Benua barat? bagaimana cara gurumu bisa sampai ke sana?


Gurumu terdengar seperti seseorang yang suka berpetualang, dia juga sepertinya sangat baik padamu, dia memberikan mu begitu banyak hal baru yang tidak kita miliki.. ckckck! Sungguh guru yang sangat baik," puji Yi-Fang. Dia membayangkan seperti apa karakter dari guru adiknya


Bepergian ke benua barat adalah salah satu keinginannya, dia ingin melihat seperti apa orang-orang disana. Dia hanya mendengar jika ada beberapa pedagang yang sangat berani untuk bepergian ke benua barat, mereka membawa banyak hal baru dari sana.


Dia mendengar jika orang-orang disana memiliki kulit putih seperti susu, rambut mereka berwarna kuning pucat (pirang), merah, dan cokelat. Begitu juga dengan mata yang berwarna biru atau hijau, mereka juga memiliki tinggi badan yang melebihi orang-orang benua utara. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dengan mata sendiri.


Saat kedua saudara masuk kedalam dapur, aroma yang begitu enak menghantam indera penciuman mereka.


"Hmmtt,,, cokelat." gumam Yi-Feng dengan semangat, dia segera mendekati dua pelayan yang sedang mengaduk pasir yang bercampur dengan biji kakao.


"Yang Mulia," mereka menoleh dan melihat Yi-Feng yang sudah berada dibelakang keduanya. Pemuda itu menatap kearah kuali yang sedang beroperasi dan tak memperhatikan jika dipintu dapur terdapat seorang pemuda berkharisma dan pelayan nya.


"Ini hampir matang, lanjutkan." ucap Yi-Feng, matanya terus tertuju pada biji kakao yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan.


"Baik, Yang Mulia." jawab keduanya semakin semangat meski lengan mereka mulai sedikit pegal.


Terdapat dua tungku yang sedang digunakan, jadi Yi-Feng berjalan kearah meja yang menyimpan beberapa kendi keramik.


Dia mengambil satu teko lalu mengisinya dengan teh apel, lalu menggunakan kekuatannya untuk membuat beberapa es batu, dipecahkan menjadi lebih kecil lalu dimasukkan kedalam satu mangkuk.


"Kalian pasti lelah, ayo ambil ini dan minumlah," ucap Yi-Feng dengan menunjuk pada dua cangkir teh apel yang sudah dicampur es batu yang sedang melayang diatas teh.

__ADS_1


"Terima kasih, Yang Mulia!" keduanya sangat tersentuh, saat menyimpan spatula dan mengambil satu langkah, mereka dihentikan oleh tatapan tajam dari orang yang hanya memperhatikan sejak tadi.


"Mengapa disana? Ayo ambil, kalian pasti kepanasan berada didepan tungku terus menerus," ucap Yi-Feng tanpa menyadari jika kakak kembarnya sedang menatap tajam pada kedua pelayan yang tak sopan itu.


Yi-Feng menatap mereka dengan heran, tiba-tiba ada tangan yang melayang didepannya lalu 'mencuri' teh apel yang dia sajikan.


"Eh.. eh.." ia melihat siapa pelakunya, "Kenapa diambil? ..Ini untuk mereka berdua" protes Yi-Feng


"Hmmpp!" Yi-Fang tak peduli, dia mengambil kedua cangkir itu dan meneguk semua isinya.


"Kakak!" protes Yi-Feng karena kakak kembarnya ini tak berhenti minum.


"Aku datang kemari dan kau tak melayaniku, tapi malah menuangkan teh secara pribadi untuk mereka. Hmmpp, pangeran ini marah!" ucap Yi-Fang


"Ayiaahh... mengapa kau marah? Masih ada teh apel disini, aku melihat mereka seperti kepanasan jadi memberikannya pada mereka, kau tak bisa marah karena ini" omel Yi-Feng, dia berpikir bahwa pemuda dihadapannya ini sangat tidak masuk akal.


Yi-Fang semakin kesal, adik kembarnya malah membela kedua pelayan rendahan ini dari pada memihaknya? Ini tak masuk akal! Dia semakin marah!


"Hmpp.. kau melawanku karena mereka? ...Xian Yi-Feng, aku memperingatkan mu. Aku kakakmu, Kat tak bisa melawan ucapan ku!" keduanya mulai berdebat, Yi-Fang sangat kesal sehingga membuat orang-orang disana takut, tak terkecuali adik kembarnya ini.


Zhou Yang yang berada di belakang Yi-Fang menggigil, mengapa Pangeran Kekaisaran malah melawan Pangeran Mahkota, tidak sadarkah Ia kalau Pangeran Mahkota sangat tak suka dibantah?


Yu-Cheng yang tahu apa yang kemungkinan akan terjadi segera maju, dia membisikkan beberapa kata dan menjelaskan situasi pada Yi-Feng, kemudian barulah pemuda cantik itu menyadari sesuatu.


Bagi seorang Tuan, sangat baik jika ia juga memperlakukan para pelayan nya dengan baik dan memberikan mereka beberapa hal baik. Biasa bagi pelayan untuk menuangkan teh bagi Tuannya, namun sangat bias jika Tuannya yang menuangkan teh bagi pelayan.


Seseorang yang memiliki kasta dibawah tak boleh dilayani oleh bangsawan, inilah hukum dari zaman ini!


'Ini tak masuk akal, oke?' batin Yi-Feng, dia sudah terbiasa dengan hidup zaman modern. Dimana dia bisa mengobrol dengan para pelayan di rumah, bermain kartu atau melakukan hal-hal bersama, mereka juga akan makan dimeja yang sama disaat-saat tertentu seperti sedang barbeque bersama.


Raut wajah Yi-Feng tiba-tiba menjadi sayu, seseorang tak akan memperhatikan wajahnya karena tertutupi oleh topeng. Namun, perubahan Yi-Feng terlihat jelas dari matanya yang tak lagi bersemangat.


"Baiklah, aku minta maaf, Kak. Aku tak akan melakukan nya lagi, oke?" ucap Yi-Feng, matanya malah tertuju pada kaki Yi-Fang dan tak menatap wajahnya.


Kedua pelayan itu juga segera bersujud dan meminta maaf pada Pangeran Kekaisaran dan Pangeran Mahkota, minta maaf karena telah membuat Pangeran Kekaisaran menuangkan teh untuk keduanya.

__ADS_1


Suasana setelah itu menjadi canggung, Yi-Feng tak lagi bersemangat seperti sebelumnya dan malah menjauhkan diri dari sana.


__ADS_2