
Yongxi, anak manis yang ceria dan menggemaskan itu saat ini sedang duduk terdiam dalam kamarnya, Xiao Qian yang menjadi teman bermain nya juga saat ini sedang berada dalam kamar yang sama dengan Yongxi, ia berusaha untuk membuat Yongxi kembali tertawa.
Hari-hari sudah berlalu sejak Xiao Qian datang ke Istana Bulan, Karena kakaknya merupakan pelayan di Istana Bulan, tentu saja Xiao Qian juga otomatis mengikuti kakaknya tersebut.
Beruntung, pekerjaan remaja itu tidaklah sulit karena dia selalu menemani pelayan yang bertanggung jawab atas bahan makanan pergi ke pasar dan membeli semua kebutuhan setiap hari. Yi-Feng menuntut agar semua bahan Ir fresh, jadi jika menginginkan bahan yang masih segar maka hanya bisa pergi ke pasar dan membelinya.
Xiao Qian masih kecil, namun dia sudah begitu pintar, dia tak menangis saat kakaknya pergi dan malah menunggu dengan patuh di kamar mereka.
Tentu saja, rumah para pelayan itu luas, dan Xiao Qian mendapatkan kamar yang sama dengan Kakaknya, itu karena mereka masih kecil dan Xiao Qian juga harus di perhatikan oleh saudaranya.
Xiao Qian kini menatap Yongxi yang masih terdiam, anak itu sudah berhenti menangis namun matanya membengkak sehingga tak terlihat dan malah seperti tertutup.
'Papa benar-benar akan menghukum ku. Bibi itu, dia orang jahat.... Apakah Papa akan mempercayainya? .. Apakah hukuman ku akan sangat berat? ..Tapi, apapun hukuman nya Xixi akan tetap menerimanya ...Lalu, bagaimana jika hukuman nya Xixi malah dibuang oleh Papa?' Anak itu ketakutan dalam hatinya, terlebih pada hukuman paling akhir.
Dia tak takut akan kemarahan Yi-Feng, yang dia takuti adalah di buang dan tak disayang lagi oleh Ayah baptisnya itu.
"Xiao Qian, kau boleh kembali. Sebentar lagi akan malam, jadi pulanglah. Aku ingin menunggu Papa," ucap Yongxi.
"Tapi Putri-"
"Kembalilah, Putri akan baik-baik saja." pelayan tingkat satu yang ditugaskan untuk berada di samping Yongxi segera menyuruh Xiao Qian untuk kembali, bahkan mengatakan pada pelayan lainnya untuk mengantarkan anak itu kembali ke kediaman para pelayan.
"Putri Muda, mari bersihkan tubuh Anda. Yang Mulia akan marah jika Anda belum mandi dan bersiap untuk makan malam," pelayan yang bernama Lanlan itu segera mengingatkan Yongxi.
"Kalau begitu, aku mau mandi." balas Yongxi lemas
Lanlan merasa sangat sedih dalam hatinya, melihat nina nya begitu tak bersemangat. 'Sudah sejak tadi Xiao Qian menghibur Putri muda, kamu juga sudah melakukan nya, namun sepertinya tak berguna. Semoga saja, hukuman yang diberikan oleh Yang Mulia tidak buruk, Putri yang malang.'
Lanlan pergi dan membantu Yongxi melepaskan pakaian anak itu, pelayan lain yang sudah menyiapkan air mandi sehingga lebih muda.
Sebelum masuk kedalam bak mandi, tubuhnya dibilas terlebih dahulu untuk menghilangkan keringat yang akan bercampur dengan air dalam bak. Lalu, ketika berendam dalam air, kepalanya di beri shampoo lalu telah tubuhnya juga dibersihkan dengan sabun.
__ADS_1
Lanlan merawat Yongxi dengan lembut, menyentuh rambut yang begitu lembut membuatnya berfantasi akan memandikan anak nya sendiri suatu hari nanti. Dia menantikan hari itu, yang entah kapan namun jika Tuannya mengijinkan maka dia akan melihat baik-baik pria yang akan menikah dengannya.
Yongxi duduk didepan cermin, melihat bayangan dirinya disana namun tatapannya kosong. Ketakutan dalam hatinya tak bisa di hilangkan, jangan sampai ia dibuang dan tak disayang lagi oleh Ayah baptisnya, itu sangat mengerikan.
Dia tak ingin kehilangan orang tuannya lagi, dia tak ingin kembali seperti dulu lagi.
Tanpa dia tahu, hari di luar sana sudah gelap. Tang Jingmi juga telah kembali sebelum hari gelap.
Anak itu tersadar saat Lanlang mengatakan jika sudah tiba jam makan malam, dia harus pergi ke ruang makan.
Yongxi bangun dan pergi dari kamarnya, langkahnya terasa sangat berat. Ketika pintu ruang makan di dorong, dia terkejut karena melihat Yi-Feng sudah berada disana.
"Apa yang kau lakukan disana, duduk." panggil Yi-Feng
Yongxi merasa kakinya terasa keram dan tak bisa berjalan lagi. "Xixi?" panggil Yi-Feng lagi
"Ba-baik, Papa." dengan berat hati, anak itu maju dan duduk, meja makan yang berbentuk bundar sudah tersedia berbagai jenis hidangan sekali lihat saja Yongxi langsung tahu jika ini bukanlah masakan Ayah baptisnya, namun koki di Istana Bulan.
Yi-Feng menatap Yongxi yang terdiam tidak seperti biasanya, "Apa ada sesuatu yang salah?"
Yongxi mengangkat kepalanya, "Tidak ada, semuanya baik-baik saja, Papa." jawab Yongxi
Yi-Feng tidak mempermasalahkan hal itu, dia melanjutkan makannya dengan tenang. Karena sebelumnya dia makan kudapan dan meneguk beberapa cangkir teh, Yi-Feng masih kenyang sehingga dia meletakkan sumpitnya di meja.
Yongxi yang selalu memperhatikan dengan tenang merasa sangat ketakutan, apakah sudah waktunya dia menerima hukuman?
Namun, Yi-Feng malah menoleh pada Yu-Cheng, "Aku akan kembali ke kamar. Xixi, habiskan makanan mu. Papa kembali ke kamar lebih dulu," setelah itu Yi-Feng meninggalkan ruang makan.
Yu-Cheng sejak tadi terus memperhatikan raut wajah Yongxi, "Putri, jangan khawatir. Yang Mulia sangat menyayangi An-"
"Paman Yu-Cheng, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan Xixi. Tapi, ini adalah salah Xixi. Paman bisa kembali dan menemani Papa, Xixi baik-baik saja." ucapnya sambil tersenyum manis
__ADS_1
"Putri, saya akan berjuang untuk Anda. Saya permisi," ucap Yu-Cheng setelah itu meninggalkan ruang makan.
Mendengar langkah kaki yang sudah menjauh, Yongxi langsung meletakkan sumpitnya. "Aku kenyang. Lanlan, ayo kembali." Anak itu juga meninggalkan ruang makan
Gosip tentu saja sudah menyebar di Istana Bulan yang tidak luas itu, semua orang sangat menyayangkan hal itu terjadi.
Yongxi adalah anak yang ceria dan cerdas, sehingga dia mendapatkan cinta semua orang. Mereka itu bersedih untuk hal ini
Di sisi lain, Yi-Feng sebenarnya telah melupakan jika dia menyuruh Yongxi menunggu hukuman. Setelah tiba di kamarnya, pemuda cantik itu segera masuk kedalam bilik mandi dan membersihkan tubuhnya
Rasa lelah menyerangnya, lelah berhadapan dengan Tang Jingmi. Rasa lelah ini lebih menyebalkan ketimbang lelah saat syuting dulu.
'Berakting adalah keahlian ku, namun jika berhadapan dengan orang menyebalkan seperti dia, aku merasa lelah saat syuting lebih ringan dari pada akting saat ini.'
Sambil berendam, dia mendengarkan jika sepertinya seseorang berada dalam kamarnya dan saat ini sudah berada di depan pintu belakang Lil mandi. Tapi Yi-Feng sudah tahu siapa itu, siapa lagi jika bukan pelayan pribadinya, Yu-Cheng?
Tak berendam terlalu lama, Yi-Feng keluar dengan jubah yang melekat di tubuhnya. Setelah Yu-Cheng menyiapkan pakaiannya, pria itu berdiri membelakangi Yi-Feng yang sedang berganti pakaian
Jantungnya saat ini sedang berdetak cepat, ini karena dia sedang mencari kata yang baik untuk membela Yongxi
"Ada apa, kau ingin mengatakan sesuatu?" suara Yi-Feng yang terdengar di telinga nya malah membuat dia semakin gugup
"Itu, Yang Mulia. Tentang Putri-"
"Ada apa dengan Xixi?" Yi-Feng merasa jika anak itu baik-baik saja
"Tentang hukuman Putri, Yang Mulia. Saya harap, Putri tida-"
"Hukuman? Siapa yang memberiku dia hukuman?" suara Yi-Feng malah menjadi serius
"Ehh? Bukankah sebelumnya-"
__ADS_1
"Ah, yang tadi. Aku melupakan nya"