The Second Prince

The Second Prince
Chapter 21


__ADS_3

Dalam ruangan terlihat mewah namun terkesan kuno, duduk tiga orang yang saat ini sedang membicarakan sesuatu.


"Yang Mulia, bagaimana bisa kita menerima tawaran itu? Ini tak masuk akal!" tolak ya g paling muda pada seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah seorang pemimpin kerajaan.


"Kita tak punya pilihan lain, bagaimana pun jika kita menolak, mereka akan mengibarkan bendera perang." ucap pria itu pada Putranya.


"Bertukar wilayah menjadi salah satu hal yang sangat penting. Bagaimana bisa kerajaan Wang ingin menukar wilayah terkutuk mereka dengan milik kita yang subur ini?" suara pria dengan usia lanjut itu juga bersuara.


Kini memang hanya mereka bertiga lah yang berada di dalam ruang kerja Kaisar. Lebih tepatnya, Kaisar terdahulu, Kaisar Xian dan Putra Mahkota Yi Fang. Membicarakan sesuatu yang penting, mereka akan berdiskusi sebentar lalu akan di bahas di keesokan harinya saat rapat dengan para menteri nanti.


"Huhh... memikirkan hal ini membuat ku lelah dan lapar saja. Dasar tak tahu terima kasih, seharusnya Mei'er dulu tak membantu mereka saja. Biarkan kerajaan mereka rata dengan tanah saja!" umpat Pensiunan Kaisar.


"Ayah, bagaimana kau bisa menyalahkan Mei'er. Dia bahkan tak tahu jika hal ini akan terjadi," ucap Kaisar Xian.


"Tapi ucapan kakek Kaisar memang benar, aku sudah lapar. Apakah Ini sudah saatnya makan malam?" ucap Yi Fang.


"Sepertinya begitu, kita lanjutkan setelah makan malam selesai. Ayo," ajak Kaisar Xian.


Ketiga pria berbeda generasi itu segera melangkah keluar dari sana, namun Yi Fang sepertinya mengingat sesuatu.


"Yang Mulia, Kakek. Aku mohon maaf, namun sepertinya aku tak bisa ikut dengan kalian malam ini." ucap Yi Fang.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya pensiunan Kaisar.


Yi Fang menggeleng, "Tidak, Kakek. Namun aku akan makan di Istana Bulan malam ini. Aku sudah berjanji pada Feng'er tadi," ucap Yi Fang memberitahu alasannya


"Baiklah, tak apa. Aku juga sepertinya tadi mendengar kabar jika kau dan adikmu itu berburu, apakah itu benar?" tanya Kaisar Xian.


"Benar, Yang Mulia. Kami keluar dan berburu, namun semua itu tidaklah lancar." balas Yi Fang.


"Tak lancar? Memangnya apa yang terjadi? Kalian diserang?" tanya pensiunan Kaisar sedikit khawatir.


"Tidak, Kakek. Kami hanya bertemu dengan beberapa orang pembunuh bayaran yang ingin menghabisi nyawa seorang anak kecil di hutan dan Feng'er membantunya. Setelah itu kami kembali karena kondisi anak itu sangat memperihatinkan," jelas Yi Fang.


"Lalu bagaimana keadaan kalian, apakah ada yang terluka?"

__ADS_1


"Kami baik-baik saja, Yang Mulia. Terima kasih telah mengkhawatirkan kami, namun anak itu yang terluka parah. Feng'er memintaku untuk mencari tahu siapa anak itu sebenarnya, dan orangku sedang mencari tahu latar belakang anak itu...." Yi Fang memberitahu apa yang di inginkan adik kembar nya kepada kedua pria berbeda generasi tersebut.


"Kami akan melihat anak itu, ayo pergi." Pensiunan Kaisar jalan terlebih dahulu, diikuti oleh keduanya dan dibelakang mereka ada Kasim dan beberapa pengawal yang menjaga mereka.


"Apa lagi yang ingin kalian bahas selain anak itu?" tanya Kaisar Xian ditengah-tengah kesunyian mereka.


"Hanya makan malam seperti biasanya, hanya saja kali ini sedikit berbeda, Yang Mulia." balas Yi Fang.


"Berbeda?" ulang Kaisar Xian.


"Ya, Yang Mulia. Makanan ini dimasak oleh Feng'er, dan aku telah mencoba masakannya beberapa kali. Tak ada yang bisa menyaingi keahlian memasak Feng'er, bahkan jika itu adalah koki istana."


Yi Fang terlihat sedikit bersemangat saat menceritakan keahlian memasak milik adik kembarnya, bahkan mereka tak menyadari jika telah tiba di Istana Bulan milik pangeran kedua.


Kedua pengawal yang menjaga gerbang istana bulan segera memberikan salam lalu membuka pintu gerbang, membersihkan ketiga pria berkuasa itu masuk kedalam sana.


Bahkan pangeran mereka sendiri lah yang mengatakan untuk mempersilakan jika Putra Mahkota datang kemari malam ini.


Saat melangkah lebih dekat lagi, mereka mencium aroma makanan yang dibawa oleh angin.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku bahkan tak tahu apa yang dimasak oleh Feng'er," balas Yi Fang.


Mereka lebih dekat lagi, dan dituntun oleh seorang pelayan menuju tempat dimana Pangeran kedua berada, yah ruang makan.


Saat pintu dibuka, terlihat empat orang yang berbeda. Diantaranya ada tiga orang pelayan, dimana salah satu dari mereka adalah pelayan pribadi Pangeran kedua, dan sisanya hanya pelayan rendahan biasa.


Mereka segera memberikan salam dan akan segera berlutut namun dihentikan oleh Kaisar yang melihat Putranya itu sedang asik dengan dunianya, bahkan tak menyadari kedatangan mereka.


Tak ingin mengganggu kesenangan cucunya, Pensiunan Kaisar segera melangkah dengan sangat tenang masuk kedalam ruangan itu, ia duduk dimeja makan sambil terus memperhatikan cucunya tersebut.


Melihat bagaimana reaksi dari sang Kakek, Putra Mahkota dan Kaisar Xian juga duduk disana, memperhatikan Yi Feng yang asik memasak.


Bahkan mereka terheran-heran dengan perubahan Yi Feng yang terlihat sedikit mendadak, dan semua ini kurang dari satu bulan.


Yi Feng yang sepertinya merasakan kesunyian yang ada segera menoleh, ia sangat terkejut dengan kehadiran mereka.

__ADS_1


Lihat, bahkan dia mengomeli ketiganya seperti seorang ibu yang dikejutkan oleh anak-anaknya.


Bukan merasa kesal dan marah, Kaisar Xian malah tersenyum tipis. Dia sangat ingin melihat Putranya yang ini sedikit aktif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat baginya.


Bahkan jika tidak dengan keduanya, setidaknya dia tak mengurung diri dan menutupi dirinya dari dunia luar.


Reaksi Yi Feng yang seperti ini terlihat menggemaskan bagi Kaisar Xian sendiri.


Mereka juga merasa bersalah karena membuat Yi Feng kesal, hampir saja masakannya gosong. Tapi bukankah ini bukan salah mereka? Yi Feng sendiri lah yang bahkan terlalu bersemangat dengan dunianya sendiri sampai tak menyadari kehadiran mereka.


Apa mereka yang salah? atau sebaiknya? Ini sedikit membingungkan.


"Ada yang ku bantu?" Kesunyian itu dipecahkan oleh Yi Fang.


"Tidak, jangan menggangguku. Jika tidak, kakak tak boleh makan makanan ku." ucap Yi Feng yang sedang menyelesaikan masakannya yang terakhir.


Pemuda cantik itu bahkan menata makanan diatas piring dengan hati-hati, membuat Yi Fang mengurungkan niatnya dan kembali duduk dan diam. Sama seperti seorang anak yang patuh pada ibunya.


Setelah mengambil bagian mereka, Yi Feng menyisahkan masakannya untuk tiga orang itu mencicipi hasil masakannya.


Padahal tadinya dia berencana untuk memberikan bagian yang sedikit lebih banyak, namun sepertinya ia urungkan melihat ketiga orang pria yang sudah duduk di meja makan miliknya.


"Ini bagian kalian bertiga, bagi rata dan rasakan nikmatnya masakan ku." Ucapnya sambil menunjuk beberapa mangkuk yang berisi olahan daging kelinci.


"Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran pada yang rendah ini," ucap ketiganya dengan serempak.


"Kalian oleh pergi, namun sebelum itu tolong siapkan nasi untuk kami berempat." pinta Yi Feng. Bagaimana pun, mereka bertiga telah menemaninya memasak sejak tadi, bukankah mereka harus merasakan hasil masakan mereka? Meskipun hanya sedikit membantu saat ia memasak?


Yi Feng tak melupakan mereka dan menikmati sendiri.


"Baik, Yang Mulia. Akan hamba siapkan," salah satu dari mereka segera menyiapkan empat mangkuk nasi yang banyak, setelah itu meninggalkan ruang makan.


Yi Feng sendiri yang melayani ketiganya, ia membawa nasi dan beberapa hasil masakannya, meletakan diatas meja dengan pelan lalu kembali berbalik dan mengambil sisanya lagi karena nampan yang dipegangnya tak muat untuk sekali angkut.


Setelah bolak-balik tiga kali, kini semuanya telah tersedia diatas meja makan. Yi Feng juga telah duduk manis disamping kembarannya itu.

__ADS_1


__ADS_2