
...Happy Reading.......
..._____________________________________________...
Menggunakan kain untuk menjadi saringan, ini cukup efektif untuk mendapatkan sari apel.
Kain putih dengan ukuran 1 meter, dengan bantuan dua pelayan lagi yang memegang keempat sisi, mereka berhasil mengambil dari apel dengan baik. Lalu, ampasnya pun tak luput dan buang, lebih tepatnya Yi-Feng melarang mereka untuk membuangnya.
"Ampasnya bisa dibuat menjadi selai apel, ini sangat lezat jika dioleskan pada roti. Ayo simpan, kita membuatnya nanti," ajaknya.
Semua orang patuh, mereka berhasil mendapatkan dua kendi berisi sari apel dengan ukuran 10 liter.
"Tambahkan 1/2 kg gula batu kedalam 1 kendi sirup, lalu kendi lainnya ditambah daun teh dan 1/4 kg gula, biarkan keduanya terasa sedikit manis.... Jangan lupa, tetap memanaskan dengan bara api agar teh apel tetap panas saat disajikan nanti." Yi-Feng kembali mengarahkan apa yang harus dilakukan, ia bahkan mengukur sendiri berapa banyak gula dan daun teh kedalam kedua kendi.
Teh apel bisa dinikmati dalam keadaan panas atau dingin, akan nikmat jika ditambahkan es batu jika diminum disiang hari.
Mengambil satu cangkir teh apel, ia ingin memastikan bagaimana rasanya.
"Ini... rasa apel nya terlalu pekat, harus ditambahkan air lagi." gumamnya saat teh apel meluncurkan ditenggorokan nya, rasa yang pekat memang enak namun ini lebih dari itu.
Rasa teh apel masih sangat melekat di ingatannya. Teh apel merupakan salah satu hadiah pertama yang ia terima dari Noona nya sebelum transmigrasi ini.
Rasa yang ia buat saat ini sangat jelas berbeda, menambahkan dua liter air kedalam kendi yang kemudian kembali dididihkan diatas tungku.
"Sangat merepotkan! Tungku dalam dapur ini sangat sedikit, ini menyebalkan!" keluh Yi-Feng, tentunya karena dia juga ingin menggoreng kentang dan masih ada nugget kentang yang menunggu.
Yi-Fang tentu saja mendengar keluhan adiknya, ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk membuatkan tunggu setelah semua ini selesai agar adiknya bisa puas saat melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan.
Saat ini, permen apel, teh apel dan jus apel telah siap. Ada pula selai apel yang dibuat, hanya memerlukan gula dan sedikit tambahan air. Namun Yi-Feng mengganti air dengan jus apel yang sudah siap, ini akan semakin memberikan rasa apel yang kaya pada selai.
Pembuatan selai juga relatif singkat karena buah apelnya adalah ampas dari jus dan teh apel.
Yi-Feng benar-benar sibuk karena masih harus mengukur bumbu yang tepat untuk kentang, lalu ada pula apel yang kembali dibeli dan dicuci bersih.
Karena saudaranya yang lebih tua beberapa menit ini memintanya membuatkan Pie apel, dia harus melakukan nya sendiri.
__ADS_1
Pertama, ia menyuruh beberapa pelayan kembali memotong apel dengan ukuran yang lebih tipis. Kemudian mengeluarkan bahan-bahan lain yang tak bisa dibeli oleh pelayan Kakaknya saat pergi tadi
Diantaranya ada butter dan gula pasir, juga lemon, sisanya berada di sini dan sudah disiapkan.
Potongan apel yang kembali dipotong dimasukkan kedalam satu mangkuk yang dibuat dari keramik dengan ukuran yang besar, lalu ditambah 1/2 kg gula dan perasaan 1 buah lemon. Yi-Feng menutup pot dengan tutupan yang dibuat dari kayu, hal ini membuat apel memiliki penguapan dalam pot tertutup selama 20-30 menit yang kemudian potongan apel tersebut akan mengeluarkan air dengan sendirinya.
Dia juga membuat bahan kulit dari Pie, ia mencampurkan; tepung, butter, gula, dan garam sampai berbulir. Masukkan 5 kuning telur kuning telur dan air es dimana ia menggunakan kekuatannya untuk membuat air es yang sangat dingin, kemudian aduk menjadi adonan. Gilas dengan rolling pin, cetak ke loyang.
Satu tungku telah digunakan untuk menggoreng kentang, satunya lagi menggoreng nugget kentang, ada hal penting lainnya yang lupa ia tanyakan.... ini langkah penting untuk membuat Pie apel!
Tak ada Oven atau microwave di sini!
'Sial!... Bagaimana bisa aku lupa hal ini? Bagaimana bisa memanggang pie apel?' Batin Yi-Feng
Melihat kegelisahan yang tiba-tiba, Yi-Fang menjadi tak tenang.. "Apa yang terjadi? Mengalihkan kau jadi gelisah?"
"Bagaimana bisa tidak?.. Tak ada oven disini, bagaimana bisa kita memanggang Pie apel?" ucap Yi-Feng kesal karena dia telah melupakan ini.
"Oven?... Apa itu?" tanya Yi-Fang.
Oven merupakan sesuatu yang baru dia dengar, namun alat pemanggang sepertinya tidak asing.
"Yang Mulia, hamba ingin mengatakan sesuatu," ijin salah satu pelayan.
"Apa?" balas Yi-Feng santai
"Oven terdengar sangat asing, namun ada alat pemanggang yang dibangun di dapur kerajaan, hamba pernah melihatnya... untuk lebih detailnya, mungkin Yang Mulia bisa melihatnya sendiri." jelas pelayan itu
Yi-Feng mengangguk, "Baiklah. Aku akan melihatnya sendiri, jika tidak mari gunakan sesuatu yang bisa digunakan untuk memanggang Pie"
Karena keputusan adiknya seperti itu, keduanya pergi ke dapur kerajaan yang jaraknya 500 meter dari istana bulan.
Dengan penuh semangat harapan, Yi-Feng melangkahkan kakinya lebih cepat hingga tiba disana dengan 5 menit berjalan kaki.
Saat memasuki dapur kerajaan, semua pelayan dan koki yang sedang bekerja segera memberikan salam.
__ADS_1
"Salam kepada Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Yang Mulia Pangeran kedua." ucap semua orang sambil menundukkan kepala mereka, dengan tangan yang ditangkup didepan kepala mereka.
"Yah.. yah.. yah... Kembali bekerja.. Kepala Koki, kemarilah" panggil Yi-Feng
Pria yang dipanggil segera mendekat, ia kembali memberikan salam. "Hamba menghadap Yang Mulia Pangeran kedua. Apakah ada yang bisa rendahan ini bantu?"
"Aku dengar kau memiliki alat pemanggang di dapur mu. Aku ingin melihatnya," Yi-Feng
"Alat pemanggang?" keningnya keriput karena memikirkan sesuatu, ketika otaknya menangkap apa yang dituju oleh Sang Pangeran, ia segera membawanya.
"Mari ikut yang Rendahan ini, Yang Mulia. Hamba akan menunjukan nya,"
Yi-Feng dengan semangat segera mengikuti sang Kepala Koki, mereka berjalan ke belakang dapur kerajaan.
Tak jauh dari sana, hanya 20 langkah terlihat pemanggang yang dimaksud.
Apa yang terlintas dibenak Yi-Feng ketika melihatnya adalah Oven Pizza yang biasanya terlihat dalam film, yang juga muncul dalam beberapa animasi dengan latar belakang zaman Old (Tahun 1980-1990 an)
Oven yang menggunakan api dan bara sebagai pemanggang, dengan ruang sekitar 1 meter, lalu ada cerobong asap di atasnya yang berguna untuk mengeluarkan asap dari dalam oven akibat penggunakan api dan bara api
"Yu-Cheng, bawa semua adonan Pie yang sudah kubuat. Bawa juga apelnya, bawa semuanya kesini... Ayo cepat," dengan semangat ia menyuruh pelayan nya.
Yu-Cheng dengan cepat bergegas, ia berlari ke Istana Bulan lalu membawa empat pelayan yang membawa semua adonan Pie, ada juga loyang dan semua yang ada dalam pikiran Yu-Cheng.
Sementara Yi-Feng sendiri menyuruh beberapa pelayan dapur untuk memanaskan oven dengan api, disisi kiri dan kana ada api yang menyala, lalu dibagian bawahnya ada bara api yang sedang menyala juga, ada pula besi yang dibentuk seperti jari yang diletakkan didalam oven diatas bara sehingga bisa meletakkan loyang diatas bara api yang memisahkan.
Yi-Feng perkiraan, suhunya sekitar 130°c.
Ketika semua adonan datang, ia segera memasukan adonan yang siap kedalam oven. Lalu membiarkan sekitar 15-20 menit.
Mengambil loyang yang berbeda lagi, dengan tangannya kembali adonan Pie disiapkan. Apel yang sudah layu karena direndam dengan air lemon dan gula segera dibentuk dengan cantik, ia menggunakan bunga sebagai konsepnya.
Mengambil air apel dan lemon, tambahkan sedikit larutan tepung jagung, masak sampai mengental. Ambil separuh bagian saus apel, oleskan ke atas permukaan adonan. Panggang lagi selama 20 menit kemudian keluarkan lalu siram dengan sisa saus apel.
__ADS_1
Pie Mawar Apel telah siap, dengan harum yang menggoda membuat semua orang merasa lapar.