
Makan siang sederhana, hanya ada nasi, sayuran dan daging asap yang sempat dibeli di kota Minghua.
Namun dengan kreatifnya Yu-Cheng yang selalu melayani Yi-Feng, pemuda itu membuat sawi menjadi sayuran yang enak, daging asap juga dipanaskan oleh Zhou Yang.
"Bagikan pada beberapa keluarga, daging dan sayuran nya." ucap Yi-Feng tanpa penjelasan, hanya bisa dipatuhi oleh Yu-Cheng.
"Baik, Yang Mulia" balas Yu-Cheng.
"Dan untuk nasinya, ganti dengan kentang goreng. Ajari mereka membuat kentang goreng, itu akan lebih baik dari pada kentang kukus" sambung Yi-Feng lagi.
"Baik, Yang Mulia."
Yu-Cheng berbalik, ia segera mengumpulkan para wanita yang ada di sekitar.
"Panggil beberapa wanita lagi, aku akan mengajari kalian membuat sesuatu yang enak. Ini adalah resep dari Yang Mulia Pangeran Kekaisaran. Bawa juga kentang," ucap Yu-Cheng.
"Tuan, jika boleh saya bertanya, untuk apa anda membutuhkan kentang?" tanya Wanita itu dengan gugup, ia takut menyinggung Yu-Cheng yang adalah pelayan dari salah satu pangeran.
"Untuk membuat kentang goreng, ini lebih simpel dan cepat. Ambil saja," suara Yi-Feng terdengar dari belakang wanita itu, ia mendekat karena tak nyaman terus duduk santai sementara para bawahan nya sedang bekerja.
"Yang Mulia, mengapa Anda kemari?" tanya Yu-Cheng, bukankah tadi Yi-Feng hanya memberikan nya perintah? Mengapa tuannya ini juga ikut datang?
Dan lagi, dibelakang Yi-Feng ada Yi-Fang yang membuntuti nya, ditambah Kepala Desa yang juga ikut. Suasana menjadi tegang diantara semua orang.
"Kenapa? Aku tak boleh disini juga?" tanya Yi-Feng dengan sedikit kesal.
"Apa yang kalian tunggu? Pergi dan ambil kentangnya kemari, aku sudah lapar." ucapnya dengan sedikit kesal pada para wanita.
"Ayo, cepat-cepat... jangan lambat, ayo"
Dengan cepat, mereka mundur dan berlarian kembali ke rumah masing-masing, lalu membawa satu keranjang bambu dengan ukuran sedang.
Yi-Feng menatap pada beberapa pra yang sedang menonton dari jarak yang lumayan jauh, ia menggerakkan tangannya memanggil mereka. "Kemari."
Gerombolan pria yang sedang menonton saling pandang, "Apakah Pangeran Kekaisaran sedang memanggil kita?"
"Kurasa begitu, ayo kesana.. cepat"
Mereka mendekat, namun dengan kepala yang terus tertunduk.
"Kami menghadap, Yang Mulia Pangeran"
"Pangeran ini memiliki tugas untuk kalian, potong bambu lalu buat menjadi sumpit namun ujungnya harus runcing lalu bawa kemari. Cepat," perintahnya lagi.
Para pria langsung mengangguk, mereka segera pergi ke sungai yang terlalu jauh dari letak rumah kepala desa, memotong satu bambu yang panjangnya sekitar 20 meter, lalu mulai membuat tusuk sate.
Di sisi lain, Yi-Feng menyuruh para wanita untuk mencuci bersih semua kentang yang mereka bawa dari rumah masing-masing.
__ADS_1
"Mengapa kau malah turun tangan sendiri, kau tak merasa jijik pada mereka?" tanya Yi-Fang yang berdiri disamping saudaranya.
"Untuk apa merasa jijik? Mereka juga manusia, hanya berbeda golongan dari kita saja... Aku tak keberatan berinteraksi langsung dengan mereka, lagi pula ini sedikit menyenangkan." ucap Yi-Feng dengan santai.
Tak mengetahui jika Kepala Desa sedang menatap dengan kagum, Pangeran ini tak jijik pada orang rendahan seperti mereka?. ini hal yang baik!
Yi-Fang kagum dengan pikiran adiknya yang selalu positif ini.
Jujur saja, dia merasa sedikit jijik dengan orang-orang disini.
Yi-Feng tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Yi-Fang lalu berbisik.
"Meskipun mereka sedikit bau karena tak membersihkan tubuh dan pakaian, ini yang sedikit menyebalkan." ucapnya.
"Pfttt.. Kau benar." sepertinya mereka berdua sepemikiran, orang-orang disini akan tercium bau badannya jika mereka berada pada jarak yang dekat dengan keduanya.
Namun, masalah ini mudah diatasi. Mereka hanya perlu mandi dan mengganti pakaian dengan yang lebih bersih.
Ia harus menyuruh Zhou Yang untuk menyampaikan hal ini pada Kepala Desa.
Karena yang menjadi masalah disini adalah, mereka akan berada di desa ini selama beberapa hari kedepan, dan jika terus berinteraksi dengan masalah kecil ini setiap hari, hal ini akan sangat memuakkan baginya.
Terlebih, adiknya baru pertama kali keluar dari Istana selama lebih dari satu Minggu.
Setelah Yi-Fang mengatakan keberatan nya pada Zhou Yang, yang menjadi perantara, Kepala Desa segera menyuruh para warga untuk membersihkan diri agar terlihat lebih baik dihadapan para Pangeran.
Para pria membawa kembali bambu yang sudah dipotong, tusuk sate sudah siap. Para wanita juga telah kembali dari mencuci kentang.
"Kupas kulitnya lalu potong bundar seperti yang aku ajarkan. Jadi, perhatikan baik-baik karena aku hanya membuatnya sekali saja. Mengerti?!" suara Yi-Feng terdengar kembali diantara para warga.
"Ya, Yang Mulia!" jawab semua orang.
Yi-Feng mengambil satu kentang, menusuk nya dengan tusuk sate lalu potong dengan pisau dengan melingkar.
Kentang itu kemudian dimasukan kedalam minyak goreng yang sudah panas diatas tungku yang dibuat dari batu.
Setelah kentang berubah warna menjadi keemasan, ia mengeluarkan nya dari minyak panas lalu ditunjukkan pada semua orang.
"Ini hasilnya, silahkan dibuat." ucapnya lalu berbalik, membiarkan Yu-Cheng yang mengurusi sisanya.
Yi-Feng dengan santai berjalan kearah Yi-Fang yang sedang duduk dibawa pohon, ia mengeluarkan saus tomat dan memakan kentang dengan santai.
Yi-Fang tentu melihat jika adiknya sedang mendekat dengan kentang goreng ditangan kanan, sedangkan tangan kiri memegang botol saus.
Saat Yi-Feng duduk disampingnya, Yi-Fang menjulurkan tangannya dan memegang tangan kanan Yi-Feng, lalu mengarahkan kentang goreng kedepan mulutnya. Ia menggigit semua kentang doreng kedalam mulutnya seperti yang dilakukan adiknya, namun matanya segera bergeser untuk melihat wajah Yi-Feng yang sudah menghitam.
"XIAN YI-FANG!" pekiknya.
__ADS_1
Yi-Fang menampilkan senyum tak bersalah miliknya, lalu mengunyah kentang goreng dengan pelan-pelan.
Krukk.. krukk
"Aaa..aaa.. aaa" rengek Yi-Feng kakinya disentak dengan cepat, ia menggunakan tinju nya pada kembaran kurang ajar ini.
"Kau menyebalkan.. awas kau.. akan kubunuh!"
Yi-Fang sendiri sudah lompat dari tempat ia duduk, lalu menghindari saudaranya itu.
"Hahahahaa..."Yi-Fang tertawa saat melihat wajah kesal milik adiknya, ia terlihat seperti kelinci kecil yang menggemaskan. Keduanya malah main-main, tentu karena Yi-Fang senang melihat adiknya kesal.
"Tutup mata kalian dan jangan melihat!" perintah Komandan Bai saat matanya menangkap semua orang sedang menatap kedua.
Para wanita yang sedang bekerja langsung kembali fokus pada kentang, sementara para pria yang sedang menonton segera membalikkan tubuh agar tak melihat keduanya juga.
Yu-Cheng sendiri menggeleng kepalanya, namun menarik sudut bibirnya saat melihat keduanya sedang kejar-kejaran.
Yi-Fang tiba-tiba berada disamping Yu-Cheng, ia mengambil satu kentang goreng lalu berbalik dan langsung memasukkan nya kedalam mulut Yi-Feng yang masih mengejarnya karena kesal.
"Sudah, jangan marah lagi... Nah, ini masih banyak.. ayo makan." rayu Yi-Fang agar adiknya tenang
Krukk.. krukk... krukk...
Dengan kesal, Yi-Feng mengunyah kentang yang disodorkan oleh kembarannya.
Ia teringat Axila yang sering melakukan hal yang sama dengan yang baru saja ia alami ini.
Keduanya akan saling mengejar jika makanan yang mereka inginkan hanya tinggal satu, dan hal ini akan sering terjadi.
Yi-Fang tiba-tiba merasakan jika suasana hati adiknya tidak lagi baik, sepertinya ia sedang sedih hanya dalam waktu kurang dari beberapa detik.
"Kau baik-baik saja?"
..................
Note kecil Author.
Jika kalian berfikir di part ini seperti Boys Lover, maka kalian salah. Ini hanyalah pendekatan antar saudara yang selama ini hubungan nya tak baik-baik saja.
Ingatkan? Jika Yi-Fang selalu saja sibuk dengan urusannya, sedangkan Yi-Feng yang asli selalu mengurung diri. Tentu hubungan kedua saudara ini merenggang, jadi Author buat agar hubungan antar saudara ini kembali utuh.
Jadi, tolong jangan berfikir macam-macam hanya karena part ini sedikit berbelok.
Salam hangat, Author tersayang...
^^^Zero^-^^^^
__ADS_1