
...Happy Reading.......
..._____________________________________________...
Bangun dipagi hari yang terasa dingin, Yi Feng mengenakan jaket agar ia merasa lebih hangat.
Melihat kearah sang kakak yang masih terlelap, ia mulai melangkah meninggalkan kamar lalu memasuki bilik mandi dan membasuh wajahnya serta menggosok gigi.
Yi Fang yang sedang terlelap berbalik karena posisi yang tak nyaman lagi, namun telinganya sepertinya mendengar sesuatu, segera matanya yang tadi tertutup rapat mulai terbuka.
Dicarinya saudara kembarnya, namun tak menemukan pemuda cantik tersebut.
Langkah kaki terdengar lalu saat menoleh, ia mendapati kembarannya telah siap dengan wajah yang segar tanpa topeng yang menghalangi tertampan nya.
"Eh, kau sudah bangun?" Yi Feng
"Emm," balas Yi Fang.
"Ayo ikut aku, bantu aku melakukan beberapa hal." ajak Yi Feng, ia tak melupakan apa yang menjadi tujuannya.
Semalam, Yi Feng meminta Yu Cheng untuk menyiapkan buah apel, paling sedikit satu keranjang yang beratnya sekitar 10 kilogram lalu ada pula kentang yang akan diolah juga.
Tentulah, pelayannya itu segera menyanggupinya lalu dipagi-pagi hari saat matahari baru akan terbit, ia telah pergi untuk membelikan 2 keranjang apel yang segar dan manis, lalu ada dua karung kentang yang kemudian diangkut menggunakan kereta ke Istana Bulan.
Saat ini, sudah berada pada akhir musim semi, namun udaranya masih terasa dingin bagi kebanyakan orang dan lebih memilih untuk duduk didepan api untuk menghangatkan tubuh.
Tapi tidak bagi para pelayan yang bekerja di istana, dimana pun mereka ditempatkan mereka diwajibkan untuk bangun lebih awal dari para majikan. Tak peduli pada suhu diluar sana, mereka harus menahannya.
Bangun lebih awal, dan tidur lebih lambat. Itulah resikonya bekerja bagi seorang majikan yang Mulia.
Sudah saat nya Yi-Feng pergi ke dapur pribadi miliknya (yang digunakan untuk memasak semalam bagi ketiga pria berbeda generasi)
Bahan-bahan yang ia perlukan sudah disiapkan, saatnya membuat sesuatu yang berbeda bagi orang-orang kuno ini.
Menggulung lengan bajunya keatas, menampilkan tangan yang kecil dan sangat mulus seperti milik seorang wanita.
"Yu-Cheng, bantu aku mencuci dua keranjang apel ini, lalu kentangnya juga sekalian dicuci bersih. Aku harus menyiapkan beberapa hal lagi," ucap Yi-Feng.
Yu-Cheng segera bertindak, ia meminta dua pelayan untuk mencuci dua keranjang penuh apel lalu sekarung kentang yang akan diolah.
Beberapa kilogram gula, teh, lalu minyak goreng dan bahan lainnya disiapkan oleh Yu-Cheng.
__ADS_1
Pagi ini, mereka lebih sibuk dari hari biasanya karena harus membantu Tuan mereka melakukan beberapa hal.
Yi-Feng berencana membuat teh rasa apel, lalu jus apel sendiri, ada pula kentang goreng kesukaannya, dan nugget kentang.
Tak beberapa lama, pelayan yang bertugas mencuci apel dan kentang telah kembali. Melihat mereka, Yi-Feng tersenyum dan berterima kasih.
"Terima kasih, maaf merepotkan kalian."
Mendengar kata-kata ini, mereka terkejut. Segera menunduk, "ini adalah tugas kami, Yang Mulia Pangeran."
"Hehehee... kalau begitu, aku tak akan menahan diri lagi. Ayo bekerja, masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan pagi ini" ajaknya.
Tak diketahui olehnya, pemuda yang merupakan kembarannya sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
Melihat saudaranya yang tersenyum pada orang lain, ia merasa seperti sedang minum cuka, terasa asam sekali!
Yi-Fang mendekat, ia menarik adiknya agar menjauh dari mereka. "Apa yang harus kebantu?"
"Ehh?" Yi-Feng berpikir sejenak, "bantu aku potong apelnya."
Ia segera menyeret kembarannya ke sana, lalu memerintahkan Yu-Cheng untuk menghidupkan api di tungku, beruntung karena ada dua tungku disini sehingga tak terlalu merepotkan.
'Sepertinya, harus menambah satu atau dua tungku lagi di hari esok, aku harus melakukan banyak hal diwaktu yang bersamaan. Ini merepotkan' Keluh Yi-Feng.
"Ada dua macam, yang satunya aku ingin membuat Jus dan satunya lagi permen apel. Jadi, potong dengan bulat untuk membuat jus apel seperti ini," Tangannya memegang pisau dan mencontohkan bagaimana bentuk yang ia maksud
"Lalu, yang satunya lagi Apel harus dipotong bagi delapan bagian. Kemudian tusuk kedalam bambu yang telah diruncing seperti membuat sate, lalu bagian terakhir masukkan kedalam karamel. Permen Apel selesai," jelas Yi-Feng.
Mereka saling pandang, tak ada yang mengerti apa yang dimaksud oleh Yi-Feng, namun tetap menurut saja.
Yi-Feng memotong apel untuk dibuat permen, sementara Yi-Fang memotong apel yang akan di buat jus dan teh.
Kentang, ia serahkan pada para pelayan untuk mengupas kulit nya. Semua orang memiliki perkejaan disini, tak ada yang bersantai
"Na-na-na-na...." Yi-Feng bersenandung sambil memotong apel, ia kemudian mengambil bambu yang sudah dibuat jadi tusuk sate, ia mulai menusuk empat potong apel seperti akan membuat sate. Ia terlihat sangat menikmatinya, benar-benar menikmati pekerjaannya saat ini.
Tatapan Yi-Fang jatuh pada kembarannya yang sedang bersenandung, meskipun wajahnya ditutupi oleh topeng, namun tak bisa menyembunyikan jika pemuda ini sedang dalam suasana hari yang baik.
"Awhh" keluh Yi-Fang saat tak sengaja jarinya teriris pisau yang tajam
Yi-Feng langsung menoleh, ia menatap kakaknya yang sedang menatapnya jari telunjuk yang terluka.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau ceroboh seperti ini? Sini jarimu, biar ku obati." omel Yi-Feng.
"Yu-Cheng, panggil beberapa orang untuk melanjutkan. Aku harus membantu kakakku dulu," pinta Yi-Feng, ia segera menarik kembarannya ke sudut ruangan.
Mengeluarkan kapas alkohol, Betadine dan plester luka. "Berikan tanganmu," ucap Yi-Feng
"Tak apa, ini hanya luka kecil saja," balas Yi-Fang.
"Luka kecil, tapi jika terinfeksi akan berbahaya. Kemarikan, ini tak akan lama." Dengan paksa, ia mengambil tangan Yi-Fang, lalu membersihkan jari yang terluka dengan kapas alkohol, kemudian meneteskan sedikit Betadine lalu menutupnya dengan plester luka.
"Selesai," ucap Yi-Feng.
Tatapan Yi-Fang tertuju pada jarinya yang sudah dirawat oleh saudaranya, padahal ini hanyalah luka kecil namun melihat reaksi Yi-Feng yang sepertinya khawatir padanya, perutnya terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang menari disana. Senyum tipis terlihat diwajahnya.
Yi-Feng setelah mengobati luka saudaranya, ia mengalihkan perhatian pada buah-buah apel yang sudah dipotong dan memenuhi satu baskom, tentu karena para pelayan bekerja dengan sangat cepat, hanya tinggal beberapa kilo lagi dan semua apel akan selesai dipotong.
"Yu-Cheng, bantu aku panaskan panci dan buat karamel seperti beberapa hari lalu. Aku akan mencontohkan bagaimana membuat permen, jadi perhatikan dengan baik. Oke?" Yi-Feng
"Baik, Yang Mulia." Yu-Cheng.
Tangannya dengan cekatan menghidupkan api, lalu setelah itu meletakkan panci diatas tungku. Yu-Cheng dengan hati-hati membuat karamel seperti yang dibuat oleh Kaisar beberapa hari lalu saat mereka membuat puding.
...*_*_*_*_*...
...Catatan kecil Author...
...__________________________________...
Hai raider ku tercinta...
Terima kasih banyak yah, yang sudah mensupport Author buat terus nulis cerita ini.
Jujur, author terharu banget saat baca komentar kalian semua... Ini benar-benar menambah semangat author buat nulis novel ini lagi, kalo kagak mah udah lewat ini novel. Hehehee😁
Kalian mungkin udah lupa sama alur novel ini saking lamanya kagak update lagi, jujur nih yah... Author juga udah lupa sama nama-nama tokoh yang udah Author tulis dan tentukan..
Jadi, maklum aja yah kalo namanya ada yang beda gitu.. hehehee
Semoga tetap betah yah baca novel ini, jangan lupa like, Komen dan Vote kalian. Boleh kok nge-share biar makin banyak orang yang baca. hehehee😁
Gomawo🥰
__ADS_1
Salam hangat, Author tercinta...
^^^Zero^-^^^^