The Second Prince

The Second Prince
Melihat hantu Bandara


__ADS_3

...Dunia Modern....


...Shanghai, 08:37 Am...


"Semua barangmu telah siap?" suara bariton yang begitu menggoda terdengar dari belakang punggung pria muda.


"Ehh ..sudah, Kak" balasnya dengan tenang.


"Baguslah, kita akan pulang. Semoga saja ingatanmu cepat kembali, yah." ucapnya.


"Yah, semoga saja." balas pemuda itu.


"Sayang, kau melihat ponselku?" teriakan wanita lain terdengar dalam ruangan, ia memasuki ruang makan dimana kedua pria berbeda generasi sedang duduk dimeja makan.


"Tidak, dimana kau menyimpannya terakhir kali?" balas suaminya.


"Aku tak akan bertanya jika aku melihatnya, oke?" ucap Axila sedikit kesal. Ia merebut ponsel Levi kemudian menekan tombol panggil.


"But all I got is bad bad bad idea


난 두려워 this bad bad dream comes real "


Terdengar music yang menjadi nada dering ponselnya, Axila mengikuti asal suara dan menemukan ponselnya yang berada di sisi sofa yang tersembunyi.


Tatapan Azka terus mengikuti arah kemana sang kakak pergi, dia sudah mulai membiasakan dirinya di dunia yang baru ini.


Cara hidup di dunia ini sangatlah berbeda dengan dunianya sebelum ini, ditambah dengan ingatan tubuh yang separuhnya menghilang, ini sedikit membatasi dirinya.


Levi menggeleng kepalanya, melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin tak berbeda dari sebelumnya.


Jika beberapa tahun lalu Axila selalu berwajah datar dan tak berperasaan, sekarang wanita itu telah menunjukkan lebih banyak emosi, terlebih saat Axila mengandung anak sulungnya.


Harusnya dia bahagia, dan memang seperti itulah keinginannya terwujud. Axila menjadi lebih mencintainya, menyayangi keluarga, dan semakin manja padanya setiap hari.


Wanita itu bahkan bisa membuat beberapa lelucon yang akan membuatnya tertawa terbahak-bahak, menghabiskan waktu bersama adalah pilihan yang lebih baik.


Setelah sarapan selesai, semua orang meninggalkan hotel.


Menaiki mobil yang dikawal ketat oleh pra bodyguard, mereka meluncur ke bandara.


Azka sungguh menikmati perjalanan kali ini, dia (Yi-Feng) yang datang dari zaman kuno, benar-benar menikmati hal-hal baru ini.


Bukan hanya merasakan bagaimana nyamannya berada dalam mobil, yang berjalan tanpa ditarik oleh kuda

__ADS_1


Tapi jalanan yang juga mulus, hanya sedikit guncangan ketika mobil harus melambatkan kecepatan. Akan sangat berbeda dengan dunianya, dimana kereta akan ditarik oleh dua sampai empat ekor kuda yang perkasa, tapi jalanan yang juga sangat berbeda, akan ada batu-batu yang menggoncang kereta, membuat penumpang didalamnya akan merasa tak nyaman.


Kemudian, saat mereka tiba di bandara dan kembali dikawal ke jet pribadi, banyak tatapan mata yang mengarah pada mereka.


Axila berjalan dengan santai, hanya ada ransel kecil yang didalamnya terdapat kebutuhan putri nya, dan juga terdapat ponsel dan power Bank.


Disisi Levi, tangannya menggendong bayi perempuan yang sangat cantik, namun wajahnya ditutupi oleh kain untuk menyamarkan gadis mungil itu.


Bayi itu bahkan tak rewel, ia sedang memegang botol susunya dan dengan tenang sedang meneguk asi yang diperas oleh Axila untuk putrinya.


Disisi Azka, pemuda itu juga berjalan santai. Fashion nya juga santai, hanya ada baju kaos putih polos yang dipadukan dengan kemeja pink, Dilehernya terdapat headset yang sedang menggantung, namun karena berisik ia memutar musik dan mendengarkan sambil mengikuti kemana kedua kakaknya pergi. Lagi pula ia tak khawatir dengan keamanannya karena terdapat sepuluh bodyguard yang sedang mengawal mereka.



[Autif Azka di bandara]


Azka berjalan sambil mengamati sekitar, satu langkah disampingnya ada sang kakak ipar, Levi yang sedang menggendong bayi Adel, namun lebih sering dipanggil Rose karena ia merupakan bunga dalam keluarga.


Mata bayi itu mulai tertutup, seperti ia mengantuk sehingga pegangan pada botol susunya juga mengendur dan akhirnya terlepas.


Prakkk!


Semua orang dalam kelompok menghentikan langkah mereka, karena Azka yang berada dekat dengan si bayi, ia menunduk untuk mengambil botol susu.


saat berjongkok lalu mengambil botol susu, matanya menangkap sepasang sepatu kets yang berdiri tepat didepannya.


Saat ia menengadah, tatapannya terkunci pada sosok pria tampan berwajah pucat yang juga sedang menatapnya dengan terkejut.


Bruggh!


Tubuh Azka merosot saat menyadari hal ini, yang berada dihadapannya bukanlah manusia namun hal yang lain.


"Azka?"


"Tuan muda!"


"Azka, kau baik-baik saja?" tanya Levi dan Axila dengan khawatir.


Axila melangkah kearah Azka, ia memeriksa kondisi adiknya yang terlihat tak baik-baik saja. Wajah Azka tiba-tiba pucat, padahal beberapa saat lalu masih baik-baik saja.


Namun, yang dilihat dari sudut pandang Azka tentu saja berbeda, ia melihat Axila yang menabrak pria tampan namun anehnya pria itu terasa transparan dan tak berada disana sehingga Axila menembusnya begitu saja.


"Hei, kau baik-baik saja? .... Bukankah dokter mengatakan dia sudah boleh berpergian kemarin, ada apa ini?" Axila menoleh dan bertanya pada Levi dengan bingung.

__ADS_1


Azka segera mengalihkan pandangannya pada Axila, ia dengan cepat memegang tangan kakaknya.


Melihat sesuatu yang tak beres, Axila coba untuk menerobos pikiran adiknya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Dalam pandangan Azka, pria tampan itu sedang bertanya padanya, apakah dia melihatnya.


"Hei, kau benar-benar bisa melihatku?"


"Bantu aku"


"Hei, kau mendengarkan ku kan?"


"Jangan pura-pura tak melihatku, aku tahu kau melihatku!"


"Jangan mengabaikan ku, hei!"


Axila mengalihkan pandangannya pada pria yang dilihat oleh Azka, namun ia tak melihat apapun disana. Tak ada siapapun itu selain orang-orang yang memperhatikan mereka dengan heran.


"Berikan aku air, dia mungkin kekurangan tidur semalam." ucap Axila pada salah satu bodyguard yang kemudian langsung diberikan satu botol air mineral, yang kemudian diberi pada Azka agar menenangkan diri


"Kau tak apa-apa, ayo pergi." ucap Axila, ia segera merangkul Azka dan menuntunnya pergi dari sana.


Sosok pria tampan berwajah pucat juga mengikuti, ia menghalangi jalan Azka namun diterobos oleh Axila yang masih membaca pikiran adiknya.


Satu hal yang harus diketahui, jika seseorang yang bisa melihat "Mereka" menerobos, orang tersebut akan merasakan perasaan yang sedang dialami oleh "Dia", lalu merasa mual, muntah bahkan ada yang langsung pingsan.


(Cuma imajinasi Author aja, bukan Real 'oke?)


Mereka masuk kedalam Jet, Azka langsung duduk bersandar di kursi penumpang, Pramugara juga dengan cepat menyiapkan obat-obatan yang merupakan milik Azka dari rumah sakit karena mereka pikir kesehatan pria muda itu tiba-tiba memburuk.


Azka kembali meneguk air hangat yang telah disediakan oleh Pramugara, ia menenangkan dirinya.


"Kau yakin mau melanjutkan perjalanan? ...Tak ingin mengganggu kesehatan Azka? ...Kita bisa pulang besok atau lusa, kesehatan Azka lebih penting sekarang" ucap Levi yang sedang bicara dengan Axila.


Axila mengangguk dengan mantap, "Ayo pergi. Semakin cepat semakin baik, lihat dia semakin tak nyaman disini"


"Apa tidak ke rumah sakit saja dulu?" tanya Levi lagi.


Axila mengangguk, lalu memberi isyarat pada Levi agar mereka tetap berangkat, ada hal lain yang membuat adiknya tak nyaman.


Levi menerima isyarat itu dengan cepat, "Baiklah, kita pulang."


Pramugara segera memberikan informasi pada pilot, lalu Jet perlahan mulai persiapan keberangkatan.

__ADS_1


Saat Jet mulai lepas landas, pria tampan berwajah pucat juga telah pergi dari sana.


Yang pada akhirnya membuat Azka kembali bisa bernafas dengan legah


__ADS_2