
Semakin Yi-Feng berjalan mendekat, semakin keras pula suara anak itu menangis, ada juga suara Ayah Kaisar nya, Ibu Permaisuri dan suara-suara lainnya. Terdengar juga suara iba dari para pelayan yang merasa kasihan dengan sang Putri Kekaisaran ini.
"ayah Kaisar, Feife tak mau minum obat.. itu pahit, aku tak mau!"
"Fei'er, bagaimana kau bisa sembuh jika tidak minum obat?" terdengar suara wanita, yang sepertinya milik Selir Kehormatan, Mo. Dia terdengar sedikit marah
"Adik Mo, bagaimana anda bisa memarahi anak ini. Fei'er sangat lembut, obatnya juga pahit bagi anak-anak," suara lain terdengar, yang merupakan milik Permaisuri
"Tapi Yang Mulia, Feife tidak boleh terlalu dimanja. Ini lah akibatnya dia sangat di manjakan oleh semua orang," ucap Selir Mo
"Ayah Kaisar, tidak bisakah aku minum pil saja? Aku mohon, obat itu sangat pahit.. hikss... hikss.." rengek Li-Fei.
"Kau tidak bisa minum pil, obat itu hanya untuk menguatkan tubuh yang lemah dan luka-luka, sedangkan kau masih sangat muda untuk menerima pil penyembuh ...Maaf Fei'er, kau harus minum obat agar cepat sembuh." ucap Lio-Guan dengan nada menyesal.
"Tapi kapan aku sembuh, aku sudah minum obat tapi tidak sembuh juga! ...Ayah Kaisar, aku mohon.." suara anak itu terdengar paruh.
"Yang Mulia, Pangeran Kekaisaran Yi-Feng datang berkunjung." ucap pelayan pribadi Selir Mo menyampaikan kedatangan Yi-Feng dengan suara yang rendah.
"Biarkan dia masuk," ucap Kaisar mengijinkan.
"Baik, Baginda." Pelayan itu membungkuk, ia dengan perlahan menjauh dari kamar dan menyambut Yi-Feng didepan pintu.
"Yang Mulia, Baginda menginjikan Anda masuk."
Pintu dibelakang pelayan itu terbuka, lalu menampilkan Ayah Kaisar, dan yang lainnya. Mereka semua melingkari gadis kecil yang terbaring diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Salam hormat Pangeran ini pada Ayah Kaisar, Ibu Permaisuri dan selir Mo." ucap Yi-Feng saat tiba didalam kamar
"Kemari," panggil Lio-Guan. Yi-Feng segera mendekat seperti yang dikatakan oleh ayahnya ini.
"Huaaa... Kakak, lihat bagaimana mereka memaksaku minum obat pahit itu... Aku tak suka... Huaa..." tangisan Li-Fei kembali lagi dengan kencang saat melihat Yi-Feng.
Yi-Feng menatap Li-Fei dengan seksama, gadis itu memiliki kulit yang putih sehingga saat demam seperti ini, wajahnya terlihat memerah. Dia juga memiliki sedikit ruam diwajahnya, dia terlihat sedikit lebih kurus dari terakhir kali Yi-Feng melihat gadis ini.
"Biar kulihat, apa yang membuatmu sakit seperti ini." ucap Yi-Feng, tangannya sudah terulur dan memegang kening Li-Fei dengan punggung tangannya.
'Panas sekali, pantas saja wajahnya jadi merah seperti ini.' Batin Yi-Feng
Sementara itu, para orang dewasa yang berada disana melihat tindakan Yi-Feng sebagai sebuah perhatian, namun kening mereka mengerut saat melihat tindakan Yi-Feng selanjutnya, pemuda itu memegang tangan Li-Fei dan merasakan denyut nadinya.
"Ini telah memasuki hari ketiga, Yang Mulia." balas Selir Mo saat tatapan Yi-Feng langsung pada matanya.
"Ada apa Feng'er, apakah kau mengetahui ilmu medis?" tanya Permaisuri
"Jika dibilang mengetahui ilmu medis, bisa Ya, bisa tidak." balas Yi-Feng menatap pada Ibu Permaisuri nya.
"Apa maksudnya itu?" tanya Lio-Guan.
"Aku mengetahui 'sedikit' ilmu medis, yang diajarkan oleh seseorang. Namun, bukan berarti aku tahu ilmu kedokteran dan bisa menyembuhkan Feife seperti para tabib." jelas Yi-Feng
Semua orang menatapnya dengan sedikit heran, sejak kapan dia memiliki seseorang yang mengajarinya tentang medis? ... Apakah seorang tabib telah mengajari anak ini sedikit? .. Begitulah yang ada dalam pikiran semua orang.
__ADS_1
Tentu karena bukan rahasia lagi jika Pangeran Kekaisaran Yi-Feng merupakan seseorang yang sangat tertutup dan anti sosial. Jika dia mengatakan :seseorang mengajarinya' mungkin saja hal ini memang terjadi, namun siapa yang bisa diajak bicara oleh anak ini?
Diamnya semua orang, membuat kedatangan Yi-Fang mengalihkan perhatian mereka.
Saat pemuda tampan itu memasuki kamar Li-Fei, ia melihat semua orang terdiam. Ini membuatnya sedikit heran, apa yang terjadi sebelum kedatangan nya?
Setelah memberikan salam hormat, dia berada disamping Ibu Permaisuri nya.
"Kakak.." panggil Li-Fei,
Yi-Feng kembali menatap anak itu, yang wajahnya merah. "Siapa diluar, ambilkan air dingin dan kain," ucap Yi-Feng pada pelayan dibalik dinding kamar.
"Baik, Yang Mulia." setelah suara sahutan itu, terdengar langkah kaki yang menjauh.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Yi-Fang.
"Kompres, suhu tubuhnya terlalu tinggi sehingga harus dinormalkan. Lalu-"
"Kau benar-benar tahu ilmu medis?" potong Yi-Fang.
"Ini merupakan hal yang diketahui oleh banyak orang, menurunkan demam dengan cara kompres dengan air dingin atau hangat." dia menoleh ke arah Li-Fei, "Kau tidak perlu minum obat pahit jika kau bisa bekerja sama dengan ku. Kau mau?" tanya Yi-Feng
"He'em, apapun itu... Aku benar-benar tak mau minum obat itu, kakak Pangeran." jawab Li-Fei
Yi-Feng, "Kalau begitu, jawan saja pertanyaan ku, mengerti? ... Bagaimanapun, aku bisa disebut setengah dokter, jadi mari bekerja sama. Oke?"
__ADS_1