
Mey tersadar dari lamunan nya kala mendengar suara mobil Anzel yang kini sudah melaju.."Astaga, kenapa aku harus sebodoh ini di pagi hari sih..? Ini jg otak ku, kenapa kamy harus berpikira mesum.?" Tanya Mey pada diri sendiri..
"Nyonya.." Panggil bibi.
"Iya ada apa bi.?"
"Nyonya, seperti nya tuan lupa membawa handpone nya." Ucap bibi sambil memberikan handpone Anzel pada Mey..
"Bibi ambi handpone ini di mana.?" Tanya Mey.
"Di meja makan nyonya. Tuan mungkin lupa.." Jelas bibi.
"Baiklah bi, kalau begitu aku akan membawa handpone ini ke perusahaan Anzel." Ucap Mey lalu melangkah kan kaki nya menuju kamar berniat untuk menggati pakaian nya, agar bisa terlihat sesempurnah mungkin.
πππππππ
Di mobil, Anzel terus saja senyam senyum sendiri, membuat Roy, yang berada di depan nya sambil mengemudi mobil di buat merinding.. Karna penasaran Roy akhirnya memberani kan diri untuk bertanya.. "Tuan, maaf. Tapi apa yang terjadi.? Apa tuan kelebihan vitamin senyum? "
"Vitamin senyum.? Apa maksud mu Roy.?" Tanya Anzel penasaran.
__ADS_1
"Itu tuan. Sedari tadi aku perhatikan tua terus saja tersenyum. Itu artinya saat ini Vitamon senyum anda jumlahnya sangat banyak." Ucap Roy dengan polosnya.
"Hahahahah, kau benar Roy.."
"Maaf tuan, kalau saya lancang.. Apa boleh tau, apa yang bisa membuat tuan sampai senyam senyum sendiri seperti ini..??" Tanya Roy penasaran..
"Kau lihat saja nanti di perusahaan, pasti akan ada perang dunia.." Ucap Anzel sambil tertawa.
"Maksud tuan..??" Tanya Roy.
"Kau lihat saja.. Pkokonya hari ini, entah apa lagi yang akan pecah di ruangan ku.."
"Kau diam saja. Kau akan mengerti saat istriku datang ke perusahaan nantinya."
Sejam sebelum berangkat untuk bekerja. Anzel memikirkan sesuatu, bagaimana bisa agar Mey datang ke perusahaan nya dan Melihat bahwa Indah masih menjadi sekretaris Anzel. Anzel sengaja melakukan itu, agar Mey kembali merasa cemburu.. Entah kenapa Anzel sangat suka melihat Mey jika cemburu, apa lagi jika melihat Mey mengamuk. Itu hal yang paling Anzel sukai..
Dan benar saja. Anzel mendapatkan ide, ia sengaja meletakan ponselnya dan sengaja tidak membawa ponselnya.. Dan akhirnya Mey masuk ke dalam perangkap..
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
__ADS_1
Beberapa saat kemudian. Mey yang sudah berpenampilan dan cantik,. Kini melangkah kan kaki nya turun dari mobil saat sopir pribadinya membuka kan pintu mobil pas di depan pintu perusahaan.. "Silahkan nyonya." Ucap sopir sambil menunduk..
"Santai aja pak jarwo,. Tidak usah membungkuk segala." Ucap Mey, sambil tersenyum..
Inilah sifaf Mey sebenarnya, dia sangat baik dan hormat kepada yang lebih tua. Hanya saja belakangan ini mood nya sering kacau, apabila jika ada seorang wanita mendekati Anzel sahabat nya, atau lebih tepat suaminya.
Semua pengawai serentak menunduk kala melihat Mey, nyonya besar pemilik perusahan berjalan ke arah lift..
Ting. bunyi suara lift terbuka, Mey sengaja menaiki lift khusus pengawai, karna ingin berkenalan langsung kepada pengawai suaminya.
"Nyonya." Ucap salah satu pengawai yang berada di dalam lift sambil menunduk. Dan serentak pegawai lain pun berucap kata yang sama dan menundukkan kepalanya..
"Santai saja. Jangan tegang seperti itu." Ucap Mey sambil tersenyum. "Ouh yah, apa kalian tahu siapa sekretaris baru suamiku..?" Tanya Mey kemudian..
Salah satu pengawai menjawab pertanyaan Mey. "Ibu Indah, dia sekretaris tuan Anzel, nyonya."
"Indah..??" Tanya Mey yang penasaran.
"Iya nyonya,. Ibu Indah sudah lama menjadi sekretaris tuan Anzel."
__ADS_1
"Iya aku tahu itu." Ucap Mey sambil tersenyum. Tapi dalam hati, ia terus saja berucap. "Awas saja kamu Roy, lihat apa yang akan ku lakukan padamu nanti."