Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 62


__ADS_3

"Ayo, kalian berdua masuklah." Panggil Aurel kepada Roy dan Azraf.


"Baik nyonya." Ucap keduanya serentak, lalu berjalan masuk kedalam kamar inap Mey.


"Ada lagi." Gumam Dewa sambil menepuk jidat nya melihat Roy yang kini sudah berjalan ke arah nya.


Anzel yang mendengar gumaman Dewa hanya bisa tersenyum lali berbisik di dekat kuping Dewa. "Mampus loh di mulutnya Roy."


"Sialan kamu Zel." Geram Dewa mendengar ejekan Anzel.


"Tuan." Sapa Roy lalu mendekat ke arah Anzel. "Wahhhh, putrimu cantik sekali tuan." Ucap nya kemudian. "Boleh kah aku menggendong nya?" Pinta Roy.


"Dihh, kamu baru masuk dan langsung ingin menggendongnya? Aku saja yang dari tadi di sini belum menggendongnya sama sekali." Cercah Dewa.


"Itu salah nya tuan kenapa tidak meminta nya." Balas Anzel.


"Wah, mulai kumat jiwa kamu yah Roy. Sudah berani melawan ku." Ucap Dewa.


"Kamu ingin menggendongnya Roy??" Tanya Anzel.


"Iya tuan." Jwab Roy sambil tersenyum.


Lalu Anzel memberikan putrinya ke dalam dekapan Roy. Roy dengan hati hati dan teliti menggendong purti tuan nya.. "Halo calon mantuku." Ucap Roy spontan, dan semua yang ada di ruangan lanhsung membulatkan mata mendengar ucapan Roy.


"Haaa????? Calon mantu???" Ucap Semua nya serentak.

__ADS_1


"Kamu ngak lagi mimpi kan Roy?" Tanya Dewa.


"Pasti kamu lagi mimpi, iya kan?" Tanya Anzel.


Sedangkan Azraf hanya tersenyum, memerhatikan mereka. Aurel dan Mey pun sibuk bercerita tidak mau memusingkan para cowok cowok yang jika sudah berkumpul mengalahkan ibu ibu arisan.


"Iya ini calon mantuku tuan Dewa.. Maaf yah, tuan Dewa lambat, aku duluan yg sudah mendaftar."


"Wahahahahah." Tawa Anzel.


"Wahhh, ngak beres nih otak mu Roy. Kudu di rendam dan di cuci pakai sabun, biar bersih." Sindir Dewa.


"Haahah, tuan bisa aja!!" Tawa Roy. "Ouh yah tuan Anzel selamat yah atas kelahiran putri pertama tuan. Senang deh dapat bos yang luar biasa, udah kaya baik, terus dampingin istri melahirkan ngak pake acara pingsan lagi, luar biasa banget tuan ku ini."


"Kamu lagi menyindir aku yah Roy??" Tanya Dewa.


"Ngak tuan. Saya kan cuman bilang kenyataan, kalau tuan Anzel memang tidak pinsan saat mendampingin nyonya Mey."


"Hhhmm. " Ucap Dewa.


"Azraf! Bagaimana dengan tuan mu? Apa tuan mu pingsan saat mendampingi nyonya mu melahirkan?" Tanya Roy sambil tersenyum penuh arti.


"Roy, kok kamu tanya aku?" Jawab Azraf.


"Kan kamu asisten nya, pasti kamu tahu semuanya."

__ADS_1


"Stooopppp." Teriak Dewa. "Okey aku akui, aku pingsan saat istriku melahirkan. Stop deh kamu Roy ngejek aku, itu kejadian sudah lama sekali."


"Hahaha, maaf tuan. Abisnya ada kesenangan tersendiri jika ingat tuan Dewa pingsan."


"Mulai sekarang stop mengingat semuanya, kalau tidak, maka gajimu akan ku potong." Ancam Dewa.


"Teruskan Roy. Yang gaji kamu kan aku bukan Dewa." Balas Anzel.


"Terima kasih calon besan." Jawab Roy sambil tersenyum.


"Wahhh, untung anak ku cowok semua. Karna klau cewek apa jadinya jika mempunyai mertua kaya Roy." Ucap Dewa.


"Untung anak ku juga cowok. Karna apa jadinya jika anak ku cewek terus melahirkan dan suaminya pingsan." Ejek Roy


"Diam." bentak Dewa.


"Huuttsss, tuan jangan ngomong yang keras keras nanti calon mantuku bangun." Ucap Roy.


"Berbicara dengan mu tidak akan ada habis nya Roy,. Selalu ada ada saja yang kau bahas. Sudahlah aku pusing."


"Maaf tuan." Ucap Roy. "Ouh yah Azraf, kamu kapan menikah? Ngak malu yah kamu,?"


"Aku?? Menikah? Terus kenapa harus malu?"


"Secara kita semua udah punya anak. Lah kamu masih setia jomblo. Ntar punya mu kadaluarsa Az, ngak bisa nyetak lagi."

__ADS_1


Dewa dan Anzel tertawa mendengar ucapan Roy. Sedangkan Azraf hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2