Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 52


__ADS_3

Ke esokan harinya. Tak henti hentinya Mey menahan tawa melihat wajah sang suamin yang usdah seperti baju yang kusut.. Bagaimama tidak, jika hari ini Azraf asisten Dewa datang menjemputnya, bertujuan untuk mengantar Anzel ke perusahaan.


"Apa kau bisa lebih rileks sedikit Az?" Tanya Anzel.


"Iya tuan." Jawab Az singkat.


"Apa kau bisa tidak dingin Az?" Tanya Anzel lagi.


"Iya tuan." Jawab Az lagi,


Dan Anzel hanya bisa memijat kepalanya yang tiba tiba terasa pusing.. "Hufffff, kenapa sekarang aku justru merinduka Roy yah." Gumam Anzel.


Dengan keadaan yang sama, tapi di rumah yang berbeda, Dewa terus saja mengumpat melihat tingkah asisten Anzel yang terus saja berbicara tanpa hentinya, apa lagi Aurel juga merespon semua ucapan Roy, jadilah Dewa di buat pusing seketika.


"Roy, kamu lucu deh. Aku kok kepengen yah kamu jadi asisten suami ku selamanya." Ucap Aurel.


"Apa kamu bilang sayang? No, tidak, aku bisa gila jika Roy menjadi asisten ku selamanya." Ucap Dewa.


"Semua bisa di atur nyonya, asal gaji di sini lebih banyak dari nyonya Mey berikan maka aku akan memikir kan nya." Jelas Roy membuat Aurel tertawa.


"Hahahahah, kau sangat lucu. Jadi berapa yang Mey gaji kan padamu? Biar aku hitung dan mempertahan kan mu bekerja bersama dengan suamiku.

__ADS_1


"Sayang." Teriak Dewa, namun Aurel hanya terus saja tertawa, entah kenapa melihat suami nya menderita akibat Roy, membuat Aurel merasa bahagia..


"Tunggu dulu,." Ucap Roy, sambil menghitung jari nya..


"100juta." Ucap Dewa,. Dan dengan gerakan spontan mata Roy membulat menatap Dewa tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.. "Aku beri kamu 100 juta, tapi jangan menjadi asisten ku, kembali lah menjadi asisten Anzel." Pinta Dewa.


"Hahahahah, kau bisa saja sih sayang. Bagaimana bisa kau seperti itu? Bukan kah kita sudah sepakat bertukar untuk sementara, dan kalau bisa sih untuk selamanya." Ucap Aurel. Dewa hanya bisa menepuk jidatnya.


"Nyonya, apa benar nyonya menyukai ku menjadi asisten tuan.?" Tanya Roy,


"Iya."


"Kalau begitu nyonya bisa memberiku gaji sebanyak....... "Ucapan Roy terpotong, Dewa menyelah.


"Baiklah tuan." Ucap Roy,


Di perjalanan, Roy kembali membuat ulah nya.. Roy selaly saja bercerita ini itu kepada Dewa. Dan berhasil membuat tanduk Dewa keluar..


"Diam." Bentak Dewa, seketika Roy terdiam.


"Nah, begitu lebih bagus." Ucap Dewa kembali.

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di perjalanan, entah mengapa ada yang terasa berbeda berkurang saat ini. Entah kenapa perjalanan Anzel kali ini menuju perusahaan terasa sangat membosan kan.. Anzel terus berpikir apa yang berbeda kali ini, kenapa terasa tidak nyaman saja..


Seketika Anzel melihat ke arah sopir dan melihat sekretari Az yang mengemudikan mobil. "Pantas saja berbeda, ternyata mulut tanpa filter di gantikan dengan manusia batu." Gumam Anzel namun masih dapat di dengar oleh Azraf.


"Tidak tuan nya, tidak sekretarinya sama saja. Sama sama menyebalkan." Batin Az


"Az, kau mengumpat ku?" Tanya Anzel.


"Tidak."


"Jangan bohong.?"


"Tidak."


"Bisa tidak kalau kau bicara jangan cuman satu kata saja.? Kau ini manusia atau robot ?" Tanya Anzel geram.


"Tidak."


"Huuuuuufff" Anzel menghembuskan nafasnya secara perlahan.. "Sabar, sabar, sabar." Batin Anzel..

__ADS_1


"Tapi tunggu dulu, kenapa aku justru jadi rindu dengan Roy yah? Kira kira apa yang sekarang Roy lakukan di sana?" Gumam Anzel.


__ADS_2