Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 57


__ADS_3

Beberapa jam berlalu.. Semua yang ada di ruangan sudah keluar, tersisa Dewa dan sang istri tercinta.. Jika Aurel merasakan sakit nya mulai datang lagi, maka Aurel akan memengang lengan Dewa dan mencakarnya dengan sangat keras. Bahkan kadang Aurel menjambak rambut sang suami agar sakit yang ia rasakan sedikit berkurang..


"Auuuhhhh." Teriak Dewa, saat Aurel mencakar lengan Dewa.. "sayang sakit." Ringis Dewa..


"Diam. " Bentak Aurel, dan Dewa pun langsung diam seketika.


"Ternyata ini lah yang Roy maksud tadi.." Gumamnya...


Beberpa saat kemudian datang lah seorang dokter dan beberapa perawan untuk membantu persalinan Aurel.. Dewa yang berada di situ langsung gemetar melihat alat alat yang suster sediakan. Jujur Dewa sangat takut melihat pisau beda dan gunting..


"Tunggu dok, bukan kah istriku ingin melahirkan normal?" Tanya Dewa.


"Iya tuan."


"Lalu kenapa ada pisau beda di situ?" Tanya Dewa yang memandang ngeri ke arah pisau beda itu.


"Diamlah, tidak usah ikut campur." Timpal Aurel.


Saat Aurel kembali merasakan sakit, lagi lagi Dewa lah yang menerima amukan dari istri tercinta. Bahkan kini rambut Dewa sudah tidak tau berbentuk apa lagi, dan lengan Dewa pun sudah penuh dengan bekas cakaran sang itsri..


"Sayang, yang sabar yah!" Ucap Dewa sambil mengusap wajah sang istri yang sedang bercucuran keringat..

__ADS_1


Aurel hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Kau harus kuat sayang, berjuanglah, agar baby segerah keluar." Ucap Dewa kembali.


Dan lagi lagi Aurel hanya menganggukkan kepalanya..


Hingga terdengar suara tangis bayi. "Ngoekk, ngoekkk"


Dewa yang merasa sangat bahagia langsung mencium seluruh wajah sang istri penuh dengan cinta. "Makasih sayang, makasih," Ucap Dewa sambil menangis bahagia lalu tanpa sengaja mata Dewa menatap darah yang begitu banyak.


"Bruukkkhhh." Tubuh Dewa ambruk di lantai.. Membuat semua yang ada di dalam ruangan khawatir.


"Astaga, kau pingsan sayang." Ucap Aurel yang masih terbaring lemas.


Semua yang ada di ruangan tertawa terbahak bahak.. Melihat kondisi Dewa saat ini yang belum sadarkan diri..


Mey menghampiri Aurel sambil menggendong bayi yang baru lahir. "Bagaimana rasanya??" Tanya Mey pada Aurel.


"Luar biasa." Jawab Aurel.


"Kok aku ngeri sendiri yah, ngebayangin kamu melahirkan."

__ADS_1


"Santai aja Mey. Kamu lebih kuat dari aku. Jadi pasti kamu lebih bisa menahan rasa sakit nya di banding aku."


"Semoga saja. Tapi aku justru khawatir dengan Anzel jika aku melahirkan nantinya."


Aurel tersenyum mendengar ucapan Mey.. "Setidaknya tanya kan memang pada Anzel jika dia ingin pingsan lebih baik jangan menemani mu melahirkan karna bisa bisa Anzel akan jadi bahan ejekan dari Roy,. Lihat saja sih Roy sekarang mulutnya sekarang sudah berkomat kamit melihat Dewa yang pingsan dan belum sadarkan diri." Jelas Aurel.


"Hahah, ia kau benar juga Rel.. Ouh yah siapa nama bayi mu ini?" Tanya Mey


"Tunggu daddy nya sadar." Jawab Aurel


"Mommy, bagaimana jika namanya Dwi?" Timpal Junior


"Dwi? Nama yang bagus." Ucap Aurel


"Iya itu bagus." Timpal Mey.


"Tuan kau sudah sadar. Hahahahha." Teriak Roy sambil tertawa melihat Dewa yang mulai mengerjapkan mata nya.


"Dewa, kau baik baik saja kan?" Tanya Anzel.


"Dimana anak dan istriku?" Tanya Dewa yang baru saja bangun dari pingsan nya.

__ADS_1


"Dia baik baik saja. Itu di sana." Ucap Anzel.


"Hahahah benarkan apa yang ku bilang tadi." Ejek Roy. Namun Dewa tidak menggubris nya dan malah berjalan menuju sang istri


__ADS_2