
Anzel terus saja terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Roy. Dan Roy terus saja tersenyum penuh arti. Karna sudah membayangkan bulan depan gajinya akan doubel..
Karna keduanya sibuk dengan pikiran masing masing. Tak terasa kini mobil yang Roy kendarai telah tiba di rumah tuan nya.. "Tuan kita sudah sampai." Ucap Roy. Dan Anzel langsung tersadar..
"Ouh iya." Ucap Anzel.
Roy langsung turun dari mobil, dan memutari mobil lalu membuka pintu mobil untuk tuan nya.. Anzel langsung segerah turun, dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah, di susul dengan Roy yang berada di belakang nya.
"Tuan, bagaimana ini.?" Tanya Roy.
"Bagaimana apa nya.?" Ucap Anzel sambil terus saja berjalan.
"Tuan belum menjawab pertanyaan ku, itu artinya tuan akan menggaji ku doubel bulan depan." Ucap Roy.
__ADS_1
"Enak saja.. Kau memberiku pertanyaan tapi tidak memberiku waktu, jadi aku bebas untuk menjawab kapan saja." Jelas Anzel. Membuat Roy menghentikan langkah nya.
"Puukkkhh" Roy menupuk jidat nya, merasa prustasi, baru kali ini tuan nya berhasil lolos dari jebakan nya..
"Tuan tunggu. Tuan curang, tuan belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Roy, yang berlari pelan mengejar Anzel.
"Kan sudah ku katakan. Kamu salah memberi pertanyaan, karna tidak memberi batas waktu padaku. Jadi aku bebas menjawab nya kapan saja, mau besok lusa atau pun tahun depan, tidak jadi masalah bukan." Jelas Anzel.
Saat Anzel mulai melangkah masuk ke dalam rumah, langkah kaki Anzel terhenti kala melihat bayangan seseorang yang seperti istrinya berada di dapur.. Anzel mengucek mata nya. "Ini pasti karna aku sangat merindukan istriku." Gumam Anzel, dan kembali melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga.
Roy yang berjalan di belakang tuan nya ikut berhenti, saat Anzel berhenti melangkah. Dan saat Anzel mulai melangkah kembali, Roy malah diam di tempat dan kemudian berteriak histeris.. "Nyonya." Teriak Roy. Lalu berlari menghampiri Mey yang berada di dapur
"Astaga, nyonya kau baik baik saja.." Tanya Roy saat berhadapan dengan Mey. Mey hanya tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan Anzel yang mendengar teriakan Roy langsung menoleh dan melihat kini Roy sedang berjalan menuju dapur, terpaksa Anzel pun memutar kembali tubuhnya dan jalan mengikuti Roy ke dapur..
"Sudah ku katakan, nyonya ku ini pasti baik baik saja.. Nyonya memang hebat." Puji Roy,
"Sayang." Panggil Anzel, lalu menghampiri Mey dan langsung memeluk tubuh istrinya penuh dengan cinta penuh dengan rasa rindu, dan khawatir tentunya.. "Apa kau baik baik saja, hmm..??" Tanya Anzel lalu melepas pelukan nya. "Mana mu yang luka sayang, sini ku lihat." Tanya Anzel lagi, lalu melihat tangan dak kaki Mey..
"Aku baik baik saja Zel tidak perlu khawatir." Ucap Mey sambil tersenyum..
"Benar tuan. Nyonya baik baik saja. Kan sudah ku bilang sebelumnya, kalau bibit akan layu sebelum berkembang di tangan nyonya ku ini." Jelas Roy.
"Diam." Bentak Anzel, membuat Roy kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan nya..
"Kau baik baik saja kan sayang.?" Tanya Anzel kembali sambil memengang ke dua pipi Mey dengan ke dua tangan nya. Dan Mey pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1