
"Bukan kah sudah ku katakan padamu. Jangan macam macam kepadaku." Bisik Mey di kuping Fadisah..
Fadisah yang mulutnya sudah di lakban, tidak bisa lagi berkata kata. Hanya bisa menggelengkan kepalanya.. "Dasar wanita bar bar." Batin Fadisah. "Ternyata dia tak selemah yang ku pikirkan." Batin nya lagi..
"Aku memang tak seperti yang kau bayangkan. Jadi stop mengangguku,. Jika kau berani macam macam lagi padaku. Maka aku tidak akan segan sengan membuat kepala mu gundul." Ancam Mey sambil memperlihat kan gunting di hadapan Fadisah. Membuat Fadisa membulatkan matanya, dan merasa takut. Takut jika sekarang Mey akan memotong rambut nya.. Fadisah terus saja menggelengkan kepalanya, berharap agar Mey tidak memotong rambut nya.
"Dasar bod*oh. Ini baru ancaman, tidak sekarang juga." Ucap Mey sambil tersenyum puas melihat Fadisah yang sudah mulai ketakutan di hadapan nya..
Lalu Mey berjalan ke arah jendela, melihat situasi, mungkin kah ia bisa kabur. Dan lagi lagi Mey tersenyum. Karna ternyata kamar yang Mey temlati berada di lantai satu, jadi tidak terlalu sulit untuk Mey kabur dari sana.. "Astaga, mereka ini menculikku tapi tidak berpikir sama sekali," Gumam Mey.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Ponsel Dewa berdering, dan yang menghubunginya adalah dad Ezra.
"Halo dad.." Ucap Dewa kala sambungan terbubung."
"Datang lah ke alamat xxx, mereka menyekap Mey di sana." Ucap dad Ezra.
__ADS_1
"Baiklah dad, terima kasih." Ucap Dewa lalu mematikan sambungan nya.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar tentang istriku.?" Tanya Anzel cemas.
"Sudah, kita akan ke alamat xxx. Mey di sekap di sana." Ucap Dewa. Dan mulai berjalan keluar dari ruangan Anzel.
"Tuan saya juga ingin ikut." Ucap Roy yang mulai ikut berjalan di belakang tuan nya..
"Jika ingin ikut jangan banyak bicara."Pinta Dewa.
Dewa dan Anzel sama sama menaiki mobil pribadi mereka dan masing masing di supiri oleh asisten mereka.. Di dalam perjalanan Anzel tak henti hentinya berdoa, agar sang istri tidak kenapa napa di sana. Roy yang tahu tentang ke khawatiran sang tuan nya, mencoba menghibur.. "Tuan tidak usah takut. Aku yakin nyonya baik baik saja."
"Tuan, aku yakin saat ini nyonya pasti sedang memberi pelajaran pada bibit di sana. Secara nyonya kan bukan wanita lemah seperti yang di novel novel itu." Jelas Roy, membuat Anzel memijat kening nya.
"Tuan percayalah padaku. Aku yakin nyonya saat ini..." Ucapan Roy terpotong kala Anzel menyela.
"Bisa tidak Roy, kau seperti asisten nya Dewa, sih Azraf itu.?" Tanya Anzel
__ADS_1
"Robot itu.?" Jawab Roy dengan sebuah pertanyaan.
"Siapa lagi sih, robot.?" Tanya Anzel.
"Itu sih asisten tuan Dewa. Dia kan robot. Yang kerjanya hanya bisa diam diam dan diam. Dia hanya bisa menganggukkan kepala jika di beri perintah, apa tidak capek yah seperti itu. Saya yang melihat nya kok saya yang pusing yah tuan." Jelas Roy membuat Anzel tidak bisa berkata kata lagi. Karna berbicara dengan Roy, pasti tidak akan ada habis nya, yang ada akan membuat kepala Anzel semakin pusing di buat Roy..
"Heran deh tuan. Itu orang makan apa yah.? Atau jangan jangan tuan Dewa membayar gajinya hanya sedikit, jadi dia hanya bicara seadanya saja, sesuiai gaji nya dia.? Aduh kasihan banget yah tuan sih robot itu. Kerja dengan upah yang sedikit. Tidak kaya saya tuan yang gajinya waooo, doubel lagi dari nyonya."
"Oke besok aku akan menjadikan Azraf asisten ku, dan kau menjadi asisten Dewa."
"Tidak" Teriak Roy...
YUK RAMAIKAN NOVEL BARUKU YANG BIKIN JANTUNG KALIAN SERASA NAIK ROLERCOSTER. DAN SERASA MAKAN PERMEN NANO NANO, MANIS ASEM ASIN RAME RASANYA๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
..."MY HUSBAND IS MY BROTHER"...
yang punya riwayat jantung jangan coba coba baca yah๐คญ๐คญ๐คญ..
__ADS_1
salam sayang untuk kalian semua๐ฅฐ๐ฅฐ. jangan lupa di like dan komen yah๐ค๐ค