
Pagi harinya sebelum Aurel terbangun, Dewa lebih dahalu bangun dari tidurnya. Ia takut jika Aurel akan tahu bahwa tadi malam ia masih tetap setia tidur di depan pintu kamar Junior.. Dan di dalam kamar, saat Aurel mendengar langkah Dewa menjauh. Ia lalu membuka pintu kamar, dan berlalu ke dapur untuk membuat sarapan..
Saat sedang sibuk berkutat di dapur, tiba tuba langkah kaki Dewa mendekat ke arah Aurel. Aurel yang sadar betul hanya berbalik melihat Dewa yang sudah tepat berdiri di belakang nya..
"Pagi sayang." Ucap Dewa sambil tersenyum. Dewa tidak ingin mencium Aurel, bukan tidak ingin hanya saja ia tidak mau jika Aurel akan marah dengan hal itu.. "Mau ku bantu.?" Tanya Dewa kembali.
"Tidak."
"Ouh baiklah kalau begitu biar aku di sini saja, melihat mu membuat sarapan.. Ouh ya sayang, kamu masak apa.?"
"Hanya nasi goreng dan omelet." Jawab Aurel yang masih saja cuek..
"Waaooo sepertinya enak.."
Aurel hanya diam dan tetap melanjutkan kegiatan nya.. Namum ia mulai risih dengan Dewa yang terus saja memandanginya.. Dewa yang tahu betul dengan sikap istrinya langsung mencoba mencairnya suasana.. "Baiklah sayang, teruskan pekerjaan mu, aku akan membangunkan Junior." Ucap Dewa lalu berjalan menginggalkan Aurel.
aAhhhhhuuuuuuuuuuu... Aurel menghempaskan napas panjang nya kala Dewa telal berlalu. Dan memengang dadanya.. "Apa yang harus ku lakukan dengan semua ini,. Kenapa harus ada cinta yang seperti ini." Gumam Aurel.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Dewa kembali ke dapur bersama dengan Junior. Namun tak melihat keberadaan Aurel.. Di meja makan semua menu sudah tertata dengan rapi.. Lalu di mana Aurel, pikir Dewa. Dan mencari keberadaan istrinya..
"Bi, apa bibi melihat istiku.?" Tanya Dewa pada salah satu art nya.
"Ouh bibi ada di kamar tamu tuan.."
"Ouh baik bi terima kasih."
"Sayang, daddy ke sana dulu panggil Mommy agar sarapan bersama kita.. Kamu tunggu di sini duly yah."
Dewa berjalan ke arah kamar tamu dan langsung membuka pintu yang memang tidak di kunci dari dalam. "Sayang,." Panggil Dewa. Namun tak ada sahutan sama sekali.
Tapi Dewa mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi.. Ia tahu pasti Aurel sedang berada di dalam sana. Jadi ia memutuskan untuk menunggu Aurel sambil duduk tepat di bibir ranjang.. Beberapa saat kemudia Aurel membuka pintu. Dengan keadaan yang baru sudah mandi, handuk yang hanya dililit di atas dadanya membuat nya terlihat sangat seksi.. Apalagi handuk yang ia kenakan sangat pendek. Hanya menutup sampai di atas lutut.. Dewa yang melihat nya pun hanya bisa menelan saliva nya secara kasar..
"Hhhhhmmmm" Dewa berhadem agar Aurel sadsr akan dirinya yang ada disitu..
"Dewa....." Teriak Aurel yang kaget melihat keberadaan Dewa di kamar.. Dan reflek langsung berlarih kembali kekamar mandi. namum karena terburu buru membuat nya terpeleset dan hampir saja jatuh. Untungnya ada tangan kekar yang memopang tubuhnya sehinggat tidak jatuh ke lantai..
__ADS_1
"Kau tidak apa apa sayang.?" Tanya Dewa yang telah berhasil menolong Aurel..
"Apa yang kau lakukan Dewa.?" Geram Aurel.
"Aku hanya menolong mu sayang."
"Tidak, kau bohong.. Kau pasti hanya mencari kesempatan kan.."
"Tidak, aku hanya menolongmu.."
"Lepaskan, kau bohong buktinya kau memelukku dengan erat.."
Dewa hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya yang memang benar adanya..
"Baiklah maafkan aku sayang.. Ouh yah aku dan Junior menunggu mu untuk sarapan bersama.." Ucap Dewa yang telah melepas pelukan nya. Dan berjalan meninggalkan Aurel yang masih mematung. Namum kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aurel.. " Kau seperti bayi yang baru lahir sayang, sana cepat pakai handuk mu kembali." Ucap nya sambil tersenyum.
"Dewaa........." Teriak Aurel, yang baru sadar jika handuknya ternyata sudah terlepas dari tubuhnya..
__ADS_1