
"Ting". Bunyi suara pintu lift yang terbuka.. Mey yang berada di dalam lift langsung berjalan keluar dari lift.. Beberapa langkah Mey berjalan, ia melihat Indah dari jarak jauh, yang sedang duduk di kursi sekretaris yang berada di depan ruangan sang sahabat, atau sang suami.. Muka Mey, kini sudah berubah menjadi masam. Tangan nya ia kepal, karna menahan marah, atau lebih tepatnya menahan cemburu mungkin.? "Roy, dimana kamu.?" Batin Mey, sambil berjalan ke arah meja Indah..
Indah yang sedang fokus, melihat ke layar laptop tidak menyadari sama sekali jika di hadapan nya kini sedang ada nyonya pemilik perusahaan. Mey yang merasa di abaikan, menjadi tambah geram..
"Hhmm,." Mey berhadem membuat Indah menoleh ke hadapan nya..
Dengan sangat lincah, Indah berdiri dari duduk nya, dan langsung menundukkan kepalanya, memberi hormat pada nyonya pemilik perusahaan.. "Selamat pagi nyonya." Sapa Indah..
"Tidak becus." Ucap Mey sinis.
"Maaf." Ucap Indah.
"Harus nya kau sadar jika sedari tadi aku berdiri di sini, di hadapan mu."
"Maaf nyonya. Saya karna saya kurang fokus."
"Sudah cukup. Karna kau telah melakukan kesalahan, mulai hari ini kau ku pindahkan ke ruangan lain."
"Tapi nyonya..." Tanya Indah terputus kala Mey menyelah..
"Mau di pecat atau mau di pindahkan.? Tinggal pilih saja." Tanya Mey.
"Di pindahkan nyonya." Jawab Indah dengan cepat.
"Pilihan mu tepat." Ucap Mey, lalu kembali melangkah ke ruangan suaminya.. Namun sebelum itu ia kembali berhenti pas tepat di depan pintu, dan menoleh ke arah Indah.. "Indah,." Panggil nya.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu..?" Tanya Indah.
"Apa kau sudah menikah.?" Tanya Mey kembali.
__ADS_1
"Iya nyonya. Dan saya sudah memiliki anak satu."
"Baiklah kalau begitu, kau tetap bisa menjadi sekretaris suamiku. Tapi dengan syarat, kau harua menelpon ku jika suami ku mendapat tamu seorang perempuan." Jelas Mey.
"Baik nyonya. Terima kasih."
"Ouh ia Indah." Ucap Mey lagi.
"Iya nyonya.."
"Apa penampilan ku sudah menarik.? Maksud ku, apa aku sudah terlihat cantik.?" Tanya Mey, sambil memutar tubuhnya..
"Sempurnah." Ucap Indah singkat.
"Aku tahu itu." Ucap Mey lalu membuka pintu ruangan sahabat sekaligus suaminya..
Di dalam ruangan. Anzel yang sedari tadi sudah tahu jika sang istri telah berada di depan pintu ruangan nya, kini sedang tertawa, sambil bergumam dalam hati.." Aku menunggu kejadian lagkah ini, dimana dia berubah menjadi hulk versi wanita."
"Tuan, kenapa sedari tadi tuan tidak berhenti tersenyum...? Apa tuan sedang kemasukan setan senyum.?" Tanya sih Roy.
"Sebentar lagi." Jawab Anzel sambil tersenyum.
"Maksud tuan.???" Tanya Roy penasaran..
"Tunggu dan lihat saja, sebentar lagi akan ada pertunjukan di ruangan ini.. Kau harus menyiapkan mental dan fisik mu." Ucap Anzel sambil tersenyum.
Roy, yang merasa aneh dengan tingkah tuan nya pagi ini, justru menggelengkan kepalanya, sambil mengusap lengannya yang mulai merinding.."Tuan, apa kah akan ada hantu yang akan muncul di pagi ini..? Kenapa bulu kudu ku sepertinya merinding.." Ucap Roy, yang mulai merasa ketakutan. Namun Anzel malah sibuk menghitung.
"Satu."
__ADS_1
"Dua."
"Tiga."
"Tuan, stop.... Jangan membuat ku takut.." Ucap Roy, namun tak di gubris sama sekali dari Anzel.
"Empat."
"Lima."
"Enam."
"Tuan.. Istri dan anak ku butuh makan, jika tuan membuat ku terkena serangan jantung, siapa yang memberi nafkah pada anak istriku."
"Tujuh."
"Delapan."
"Sembilan."
"Tuan." Teriak Roy.
"Sepuluh. Pertunjukan di mulai." Ucap Anzel.
Dan benar saja, pas pada hitungan ke sepuluh Mey telah membuka pintu.. Dan tanpa di duga sama sekali, ekspektasi yang Anzel banyangkan kini berubah 100%..
Selamat bermalam minggu semuanya..🥰🥰🥰
Ayooo tebak, apa yang akan Mey, lakukan kepada Anzel dan Roy...?????
__ADS_1